“Tunggu, tablet apa ini? Aku sepertinya tidak asing dengan obat-obatan ini.”
Ketika Arini sedang mengganti seprai milik Baskara, wanita itu melihat butiran tablet yang tampak tidak asing di bagian bawah tempat tidur. Kalau tidak salah bentuknya seperti obat dan vitamin yang biasa pria itu minum selama tiga hari wanita itu bekerja.
Astaga, rupanya selama ini Arini dibohongi oleh pria itu. Padahal selama ini dirinya sudah menuruti pria itu untuk memberikan es krim setiap Baskara mau makan dan meminum obatnya.
“Sungguh pria ini sama seperti Astara kelakuannya malah lebih parah dari putraku.”
Arini merasa sangat kesal karena sudah percaya jika pria itu akan menuruti permintaannya. Pantas saja ketika pertama kali dirinya bekerja Adi ingin sekali memastikan putranya meminum obat dan vitamin itu.
“Arini,” teriak Baskara dari dalam kamar mandi.
Wanita itu menyimpan semua tablet di dalam kantung seragamnya. Setelah itu, ia segera menghampiri Baskara yang ada di kamar mandi tapi tidak mengatakan apa pun.
“Arini, sebaiknya kau siapkan pakaian lain saja karena hari ini aku janji temu bersama Dokter Hanum untuk melakukan fisioterapi,” titah Baskara yang dijawab anggukan kepala.
Baskara merasa heran dengan sikap Arini yang terlihat berubah namun pria itu tidak mempermasalahkan.
***
“Bagaimana, Dokter? Apakah Baskara menunjukkan perubahan yang signifikan? Apa putra saya bisa kembali normal?” tanya Adi kepada dokter Hanum.
Ketiganya termasuk Arini tengah memperhatikan sosok Baskara yang saat ini sedang berada di ruang fisioterapi bersama perawat rumah sakit. Adi terlihat sangat berharap kalau sang dokter mengatakan hal baik hari ini.
“Sepertinya sejauh ini belum ada perubahan yang terjadi pada Tuan Baskara karena seperti yang kita lihat sekarang kaki Tuan Baskara sama sekali tidak bisa bergerak bahkan bisa menopang tubuhnya nanti.”
Adi melepaskan kacamata yang digunakannya sambil membuang napas berat. Pandangan matanya tertuju kepada putranya yang masih berada di ruang fisioterapi.
Arini bisa merasakan kalau ada rasa kecewa bercampur sedih yang terpancar di wajah Adi dari pantulan jendela. Wanita itu sangat yakin kalau sebenarnya perlahan-lahan beliau mulai dilanda kecemasan serta rasa putus asa.
Haruskah Arini mengatakan yang sebenarnya kalau Baskara sampai saat ini sama sekali belum mengkonsumi obat dan vitamin yang diberikan? Tapi rasanya itu tidak tepat tapi haruskah Arini berbohong namun sampai kapan?
“Tapi Pak Adi, maaf saya mau bertanya apakah Tuan Baskara sudah kembali mengkonsumsi obat serta vitamin yang resep, kan?” tanya dokter Hanum.
“Arini bilang selama beberapa hari ini Baskara sudah mulai mengkonsumsi kembali obat dan vitamin sesuai anjuran Dokter, iya kan, Arini?”
Adi menyakinkan kembali jawabannya sambil menatap Arini yang tersenyum tipis.
“Iya Pak benar, Tuan Baskara selama ini sudah kembali mengkonsumsi obat serta vitaminnya,” jawab Arini yang terpaksa berbohong.
“Ya tuhan maafkan aku karena sudah berbohong karena aku baru mengetahui kebenarannya hari ini.”
“Kalau begitu mari kita lihat perkembangannya selama satu bulan ke depan, saya rasa masih ada harapan untuk Tuan Baskara untuk kembali normal dan mungkin kedepannya jadwal fisioterapi serta rehabilitasi medik akan saya tambahkan,” kata dokter Hanum.
“Baik Dokter, terima kasih.”
“Kalau begitu saya permisi dulu ya, Pak Adi, Mbak Arini,” pamit dokter Hanum.
“Arini, setelah hari ini tolong selalu pastikan kembali Baskara meminum obat serta vitaminnya,” titah Adi kepada Arini.
“Baik, Pak.”
“Selain itu, jika saya tidak ada atau pun tidak sempat menemani Baskara untuk pergi fisioterapi dan rehabilitasi medik, tolong temani dia dan pastikan kalau Baskara melakukannya,” tambah Adi lagi.
“Baik Pak, saya akan melakukan semua yang Bapak perintahkan kepada saya,” jawab Arini.
“Kalau begitu sekarang temani Baskara, aku akan menunggu di mobil.”
Adi pergi lebih dulu lalu Arini menghampiri Baskara yang sudah selesai melakukan fisioterapi di ruangannya.
“Apakah Dokter mengatakan kalau ada perkembangan baik tentang diriku?” tanya Baskara yang terlihat biasa saja ketika Arini menghampirinya dan kini keduanya sedang berjalan menuju area parkir.
Arini terkejut mendengar pertanyaan Baskara yang seolah dia sudah tahu jawabannya. Wanita itu merasa kesal kepada Baksara yang menurutnya sangat egois karena hanya memikirkan dirinya sendiri.
“Aku yakin kau sudah tahu jawaban apa yang Dokter berikan.”
“Pasti Dokter mengatakan kalau hasilnya sama saja dan memberikan harapan palsu lagi kepada kau dan Papa,” kata Baskara saat Arini tidak menjawab pertanyaannya.
Arini yang berada di belakang Baskara mengepalkan kedua tangannya untuk menahan emosinya. Ingin sekali Arini memukul kepala pria menyebalkan itu.
Dia yang terlihat seolah patut dikasihani tapi tidak bisa mengkasihani dirinya sendiri. Setidaknya ada perjuangan dari pria itu untuk kembali sembuh bukan malah menyia-nyiakan kesempatan yang ada.
“Apakah kau tidak sadar kalau Papamu merasa kecewa akibat perbuatanmu, Bas? Andai saja tadi kau bisa melihat wajah Pak Adi yang terlihat putus asa mungkin kau tidak akan seperti ini.”
“Arini, kenapa kau sejak tadi diam saja? Apa kau tidak mendengar ucapanku?” tanya Baskara menghentikan langkahnya secara tiba.
Arini hampir saja menabrak kursi roda milik Baskara ketika wanita itu melamun saat mengingat obrolan Adi dengan dokter Hanum tadi.
“Maafkan saja Tuan Baskara tapi sebaiknya kita segera pergi ke mobil karena Pak Adi sudah menunggu kita di sana,” kata Arini tanpa menatap wajah Basakara.
Kali ini Arini memilih jalan lebih dulu meninggalkan Baskara karena dirinya masih menyimpan rasa kesal kepada pria itu. Baskara sendiri merasa bingung dengan sikap Arini yang lebih banyak diam.
“Arini setidaknya jangan tinggalkan aku karena Papa tidak akan meninggalkan kita,” teriak Baskara yang mengira kalau Arini takut ditinggalkan oleh sang papa.
***
Baskara merasa sikap Arini perlahan berubah menjadi semakin aneh dan lebih banyak diam. Pria itu berpikir kalau Arini mungkin sedang ada masalah dengan keluarganya atau pun kekasihnya sehingga ia berinisiatif untuk memberikan es krim miliknya.
“Arini, ambilah ini dan makanlah karena aku perhatikan kalau sejak tadi sikapmu terlihat berbeda dari sebelumnya,” kata Baskara memberikan es krim miliknya.
Arini menatap Baskara yang terlihat berusaha bersikap baik kepadanya. Kali ini sorotan mata Arini terlihat lebih tajam dari sebelumnya.
“Apa kau pikir aku sedang mengejekmu karena memberikan es krim milikku? Atau kau tidak menyukai rasanya?”
Baskara merasa kalau tatapan Arini saat ini kepada dirinya seperti menunjukkan jika wanita itu merasa tidak senang sama sekali.
Arini bergeming dengan mulutnya yang sengaja ia tutup rapat-rapat. Hanya kedua matanya yang saat ini terlihat sedang berbicara kepada Baskara yang ada di hadapannya.
“Sudahlah ambil ini, mau kau makan atau kau buang itu menjadi urusanmu karena aku hanya ingin berbuat baik kepadamu.”
Baskara menarik tangan Arini lalu meletakan es krim tersebut tangan wanita itu karena ia merasa tidak nyaman dengan tatapan tajam Arini. Pria itu memilih untuk segera menjauh dari Arini.
“Haruskah aku bertanya langsung tentang alasannya yang tidak ingin meminum obat dan vitamin yang diresepkan Dokter kepadanya?”
“Tuan Baskara....”