Prolog
"Ummi!" rengek bocah kecil bernama Fadli Alamsyah pada sang ibu yang sedang memotong wortel di dapur.
"Ada apa, sayang?" Sahut Hanna Annisa sambil menghampiri anak laki-lakinya yang sedang berdiri, berjinjit di depan kulkas.
Fadli memeluk ibunya. "Aku ingin apel, tapi ada benda menjijikan di sampingnya," katanya sambil menunjuk ke arah buah jeruk. Ya, Fadli mirip dengan ayahnya-Jinata dalam banyak hal, termasuk anti pada Jeruk.
Hanna tersenyum kecil. "Kamu tinggal mengambilnya. Jeruk itu nggak busuk kok, jadi nggak menjijikan."
"Ummi!" Rengek bocah empat tahun itu.
"Iyah. Iyah.." Hanna mengambil buah apel dan memberikannya pada Fadli. Fadli menerimanya.
"Fadli, tolong ke Abi. Kata Ummi cepet ganti baju, lalu sarapan."
Fadli hanya mengangguk dan melangkah menuju kamar orangtuanya.
Hanna menyiapkan sarapan di atas meja. Tak lama kemudian, Jinata keluar dari kamar sambil menggendong Fadli.
"Fadli maunya ke rumah Tante Tia, bosen ke rumah Nenek Abi terus," kesal Fadli sambil menggelayut manja pada Jinata.
"Tapi Tante Tia nya kan kerja. Jadi nggak akan ada di rumah. Jadi Fadli ke rumah nenek Abi," kata Jinata.
"Ya udah, kalau gitu Fadli mau ke rumah sakit, ikut Abi. Fadli kangen sama Tante Tia." Fadli tetap besih keras ingin bertemu dengan Tia.
Hanna menghela nafasnya mendengar itu. Dia sebenarnya cemburu dengan Tia. Tak suaminya dan anaknya. Mereka sama-sama menyukai Tia.