Sesekali Fairuz mencuri pandang dan mengamati lekat dari kejauhan. Otaknya berpikir keras mengingatnya. Wajah pria ini sangat familiar baginya.
“Mas Dirga, wonten pecahan (Mas Dirga, ada uang kecil untuk kembalian)?” tanya seorang barberman.
“Ketoke wonten, Mas (sepertinya ada, mas),” sahut Dirga. Menyerahkan beberapa uang lima ribuan dari buku kas kecil.
Hmm.. Dirga, Dirga, kayaknya pernah ketemu. Tapi dimana ya, bathinnya. Fairuz masih berusaha mengingat pria itu.
“Weey.. Ente napa sih diem aja, soq mikir, nggak kayak biasanya,” protes Machmud.
“Ane lagi nahan laper, Cipruuuuutt,” sahut Fairuz dengan giginya yang merapat. Dia sengaja berkilah agar teman kerjanya itu tidak curiga.
Pria itu terkekeh geli, kenapa dia bisa begitu akrab sekali dengan wanita yang terkadang membuatnya sedikit gila. Sejak 3 tahun ia bergabung menjadi customer service, mereka memang sudah terlihat dekat. Hanya sebatas teman, karena Machmud sudah memiliki kekasih di kampung halamannya.
Sepulang menemani rekan kerjanya, ia langsung pulang ke kosannya. Hingga larut malam, kedua netranya sulit terpejam. Fairuz memilih untuk beranjak dari tempat tidurnya dan keluar rumah sendirian malam itu juga.
Dia akan menuju ke suatu tempat seperti biasanya di kursi taman titik nol kilometer. Malam ini ia hanya menggunakan jeans skiny, ditutupi jacket dan masker.
Sepertinya menikmati alunan musik jalanan lebih membuatnya rileks dan lelahnya berkurang. Lagian malam ini juga belum terlalu larut untuk duduk sendirian di bangku taman favoritnya ini, pikirnya. Wanita itu pun bergegas berjalan mencari tempat duduk favoritnya.
Langkahnya sedikit diperlambat, dia melihat seseorang sedang duduk di sana sendirian. Kedua matanya membeliak mengenali pria yang dulu pernah menasehatinya. Ternyata dia adalah karyawan yang bekerja di barbershop tadi.
“Permisi Mas, saya numpang duduk ya,” tuturnya.
“Oh ya Mbak, silahkan. Ini kan tempat umum, bukan punya saya,” sahutnya santai. Dirga mengulum senyum geli.
Fairuz terkekeh seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal sama sekali. Lalu ia duduk tepat di sampingnya. Kenapa pria ini sekarang jadi ikut kesepian seperti dirinya, batinnya.
“Saya lupa, dulu kita pernah ketemu di sini juga ya, Mas?” tanyanya ragu.
“Mbak namanya Alecya, kan? Saya aja masih inget,” timpal Dirga enteng.
“Oh iya ya, saya lupa namanya Mas--
“Dirga,” lanjut pria itu.
“Maaf ya Mas ... Mas Dirga,” ucapnya ramah. Sebenarnya Fairuz sudah mengenalnya, cuma dia sengaja memastikan bahwa orang yang ditemuinya di barbershop tadi adalah orang yang sama.
“Ya.. Ya.. Mbak, tak maafin (saya maafkan)” ledeknya. Kemudian mereka tertawa renyah.
Ternyata Dirga bisa juga bercanda bersamanya. Setidaknya malam ini mereka tidak merasa kesepian. Pria itu sengaja menunda kepulangannya ke rumah. Dia lebih menyukai suasana malam di tempat ini ketimbang menemui isterinya yang posesif itu.
“Koq sering ke sini malem-malem sendiri sih, Mbak?” selidiknya.
“Nggak sering koq Mas, kalo pas saya lagi nggak bisa tidur. Baru main ke sini,” jelas Fairuz.
Dirga manggut-manggut memahaminya. Memang suasana di titik nol kilometer ini selalu hidup. Wisatawan selalu memenuhi di pinggiran jalan ini. Ada yang sibuk berselfie ria, sekedar nongkrong, bahkan ada yang dengan sengaja mengusir kejenuhan seperti mereka berdua.
“Mbak Alecya besok nggak ada aktifitas, kerja atau kuliah gitu?” Dirga mulai mengulik tentang wanita yang selalu bermasker itu.
“Saya kul ... Kuliah, iya besok kuliah masuk siang, Mas. Jadi agak santai,” jawab Fairuz sedikit kikuk. Dia tergagap karena hampir saja keceplosan mengatakan bahwa dia bekerja.
“Maaf Mbak, saya mau pulang duluan ya. Besok saya kerja pagi. Oh ya boleh tukar nomer ponsel, nggak? Sapa tahu di jalan perlu bantuan,” pinta Dirga.
Mereka saling bertukar nomer ponsel. Mungkin saja benar katanya, suatu saat dia perlu bantuan kepadanya atau juga sebaliknya. Lalu Dirga pamit dan meninggalkannya sendirian di sana.
Ceklek..
Pintu rumah berukiran bunga tulip itu dibuka olehnya. Kemudian ia masuk ke dalam kamar yang telah ditunggu kehadirannya oleh seorang wanita dengan mimik wajah masam. Sepertinya sebentar lagi akan ada adegan semi perang dunia ketiga, batin Dirga pasti.
“Kamu dari mana aja sih, Mas? Pergi subuh, pulang dini hari,” omel Vanessa. Dia melipat kedua tanggannya di d**a dengan emosinya yang hampir menggelegak.
“Ya kerja too,” jawab Dirga to the point.
Vanessa merampas ponsel yang sedang digenggam Dirga. Dia memeriksa setiap isi aplikasi yang ada di dalamnya. Pria itu meremas rambutnya kasar, ingin rasanya ia prites dan memberontak atas ulah isterinya itu.
Tiba-tiba saja wanita hamil itu membaca nomer Fairuz yang baru saja tadi disimpannya. Vanessa tersenyum licik, dia mencabut kartu ponsel tersebut lalu mematahkannya. Kemudian ia membuang asal.
Spontan Dirga terbeliak, dia kecewa akan sikap isterinya yang tidak dewasa itu. “Kowe ojo ngawur, iki nomer dinggo kerjo (kamu jangan ngawur, ini nomer buat kerja),” ujarnya tegas.
“Sak karepku (Suka -sukaku),” sahut Vanessa singkat.
Dirga mulai tersulut emosinya, ia mengepalkan telapak tangannya dan terlihat buku-buku jarinya kini mulai memutih. Ingin rasanya pria itu melayangkan satu bogem mentah ke wajah wanita yang akhir-akhir ini membuat hidupnya frustasi.
Dari pada emosinya semakin menggelegak, lebih baik ia meninggalkan kamar itu. Dirga memungut patahan kartu ponselnya yang tercecer tersebut. Lalu ia keluar dan memilih tidur di ruang keluarga.
***
Keesokan harinya..
Sebelum semua penghuni rumah bangun, Dirga sudah lebih awal berangkat kerja. Pria itu akan meneruskan tidurnya di gerai nantinya. Tidak ada seorangpun yang tahu ia pergi di pagi itu termasuk Hartini, ibu mertuanya.
Sudah jam 7.30 kenapa Dirga belum bangun juga, batiin Hartini. Lalu ia mengecek kamar Vanessa yang pintunya tidak terkunci. Wanita paruh baya itu semakin penasaran ingin membukanya.
Tok.. Tok.. Tok..
“Ga, kowe arep kerjo ora (Kamu mau kerja nggak)?” serunya. Tidak mendengar sahutan dari dalam kamar, Hartini mengulanginya kembali mengetuk pintu dan memanggil menantunya itu.
Hingga panggilan ketiga tak kunjung ada yang membuka pintu kamar tersebut, akhirnya Hartini nekat membukanya. Dia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya saja melihat Vanessa masih terlelap dengan damai.
“Yongalaaah.. Piye bojomu arep betah nek kowe keset ngene, Ness (Astagaaaa.. Gimana suamimu mau betah kalau kamu malas gini, Ness,” omel wanita paruh baya itu.
Dia menarik gorden berwarna cokelat muda itu. Sinar mentari menerjang masuk ke dalam ruang kamar tersebut seketika. Vanessa menangkis sinaran tersebut dengan telapaknya.
Lalu ia mengerjap-ngerjapkan matanya karena terusik oleh cahaya yang menyilaukan itu. Wanita hamil tersebut menatap datar, menangkap bayangan ibunya berdiri seraya melipat kedua lengannya di d**a.
“Ngopo too, Ma. Isuk-isuk wis uring-uring wae (Ada apa sih, Ma. Pagi-pagi sudah marah-marah saja).” Hartini hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sembari mendengkus kesal.
“Mau nyampe kapan kamu seperti ini. Kamu bukan masih lajang, tapi kamu sudah menikah sekarang. Layani suamimu dengan baik,” titahnya.
Vanessa hanya merotasikan bola matanya bosan. Gara-gara Dirga, hampir setiap hari ia harus mendengar omelan hingga telinganya panas. Apalagi menghadapi sikap suaminya yang belum genap dari 3x24 jam itu sangat menguras emosinya.
Hartini meninggalkan kamar tersebut. Sedangkan Vanessa masih bergeming, dia mengelus perutnya yang semakin hari semakin membesar. Rasanya ia ingin sekali pergi ke suatu tempat menikmati hari indahnya. Kemudian dia melempar selimutnya asal. Lalu melangkahkan kakinya mencari keberadaan seseorang.
Sampai kapan suaminya itu bisa memahami dirinya. Berbeda jauh dengan sikap seorang pria yang pernah dekat dengannya. Pria dewasa yang terpaut jauh umurnya itu begitu memanjakannya dengan gelimpangan harta miliknya.
Namun, setelah ia merasa bosan dengan dirinya, dengan mudahnya ia meninggalkan tanpa kata-kata. Begitu mudahnya pria ini memainkan perasaanya, bathin Vanessa.
Karena frustasi ditinggal pria tersebut, Vanessa memilih mendekati Dirga yang ketika itu dikenal sebagai pria labil. Awalnya mereka bertemu di sebuah hiburan club malam. Mereka sama-sama mabuk dan sampai akhirnya mereka melakukan hubungan yang terlarang itu.