Pria Yang Pernah Ditemuinya

1233 Words
Kokokan ayam jantan di samping kamar berukuran 3x4 itu membuat seisi rumah terbangun dalam lelapnya. Telapak tangannya menjelajah di sekitar kepalanya. Akhirnya, benda pipih kesayangannya itu di dapatnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 5 pagi. Ini masih terlalu dini menurutnya. Biasanya ia terbangun jam 8 pagi dan satu jam kemudian ia sudah hadir membuka gerai barbershop mas Panca. Tapi pagi ini, ia bingung harus berbuat apa. Sedangkan ia masih sangat mengantuk. Dirga membalikkan tubuhnya, sontak ia terkesiap melihat seorang wanita ada di sampingnya. Dia mengusap wajahnya kasar, dalam waktu semalam ia telah lupa bahwa statusnya sekarang adalah seorang suami. Wajar saja ia terlupa karena ia tak pernah memikirkan hidupnya sendiri. Terlihat wanita hamil yang terlelap dengan damai itu sama sekali tidak terusik oleh suara ayam yang berkokok berkali-kali. Isteri macam apa ini, seharusnya ia sudah terbangun dan mempersiapkan kebutuhannya di pagi hari, pikirnya. Mungkin karena ia terlalu dimanjakan oleh orang tuanya sehingga mengerjakan hal-hal sepele tidak mampu dilakukannya dengan baik. Bagaimana ia bisa belajar mencintai isterinya, apabila semakin hari rasa jenuhnya semakin memuncak. Sampai kapan pernikahan ini akan bertahan, batinnya. Pagi itu juga ia meninggalkan rumah tersebut, lalu pergi ke gerai lebih awal. Dia merasa lebih nyaman berlama-lama di gerai dibandingkan kembali menemui isterinya. Kebetulan jarak antara rumahnya dengan barbershop tersebut hanya memakan waktu 15 menit. “Ness, ayo tangi. Dirga ndi (Ness, ayo bangun. Driga dimana)?” tanya Hartini heran. Vanessa clingak clinguk setengah sadar mencari keberadaan suaminya itu. “Mbuh Ma, wislah aku ngantuk (Nggak tahu Ma, udahlah aku ngantuk).” Menarik selimutnya kembali. “E.. e.. eeeeh.. Kowe ki wis dhuwe bojo. Ojo sak enake dhewe tangi awan (Kamu ini sudah bersuami. Jangan seenaknya sendiri bangun siang),” omel Hartini. Mencekal pergelangan tangan anaknya dan menariknya untuk bangun. “Duh, Ma. Aku ojo digugah sik too, Ma (Aku jangan dibangunkan dulu donk, Ma),” protesnya kesal. Biasanya juga ia bangun siang tidak pernah mendapat perlakuan seperti itu dari ibunya. Pagi-pagi saja, putrinya itu sudah membuat emosinya hampir tersulut. Hartini meninggalkan kamar itu, lebih baik ia mempersiapkan keberangkatan dirinya bekerja hari ini. Kini ia menyesal dengan cara didikannya yang salah, hingga anaknya dewasa kini tidak bisa mandiri dan bertindak semaunya sendiri. Kreeek.. Decitan suara pintu kaca itu membuat Dirga terkesiap. Siapa sepagi ini sudah hadir ke gerai, pikirnya. Dia melangkah menuju depan dan mendapati mas Panca sedang tersenyum hangat menyapanya. “Wah, pengantin anyar wis tekan isuk-isuk (pengantin baru sudah datang pagi-pagi),” ledeknya. Dirga hanya terkekeh geli mendengar ucapan menggelitik dari kakak sepupunya itu. “Ngopoe Mas, tak kiro sopo mau? (Ada apa Mas, ku kira tadi siapa)?” “Aku arep dandani clipper, mumpung iseh isuk (Aku mau perbaiki alat cukur rambut, mumpung masih pagi),” ungkapnya. Terlihat pria itu masih menggunakan pakaian olah raga, mungkin ia mampir setelah melakukan aktifitas paginya hari ini. “Cubo Mas, tak cek sikik. Sopo ngerti iso tak dandani dhewe (Coba nanti ku periksa dulu. Siapa tahu bisa ku perbaiki sendiri),” tuturnya. Menawarkan bantuan kepada Panca, dia memang tidak terlalu ahli di bidang listrik tapi ia cukup paham untuk mencari komponen elektrik yang bermasalah pada suatu perangkat. Panca mengangguk setuju, pria itu lalu pamit meninggalkan gerai tersebut. Dia sangat salut akan kegigihan Panca, kakak sepupunya itu begitu menginspirasinya. Padahal dulu ia hanya bekerja sebagai marketing obat, kini ia bisa memiliki beberapa gerai barbershop di kota Jogja ini. “Nomer antrian ... Dua puluh tiga, menuju loket customer service satu.” Bunyi mesin antrian memanggil seorang pria bertubuh gempal menghampiri loket yang dituju. Raut wajahnya tampak tidak bersahabat pagi ini. “Semangat pagi, Pak. Selamat datang di xxx Center. Silahkan duduk, Pak,” sapa seorang customer service bername tag Fairuz yang berdiri anggun dan tersenyum dengan ramah. Dia tetap mengembangkan senyum duchenne, walaupun ia tahu sebentar lagi pria yang ada di depannya ini akan meluapkan kekesalannya. “Mbak, ini gimana sih? Saya baru aja isi pulsa, tiba-tiba hilang gitu aja,” protesnya dengan suara yang agak meninggi. “Baik, bisa disebutkan nomernya, Pak?” tuturnya. “08587654**** atas nama Mario Devano,” sebutnya. Karena sering komplain di kantor itu, ia sudah hafal alur pertanyaan yang akan diberikan oleh customer service kepadanya. Fairuz mengecek pada sistem nomer customer tersebut dan permasalahannya. Senyum tulusnya tidak pernah surut dari wajahnya yang ayu. “Baik Pak Mario, sebelumnya saya mau menanyakan apakah ponsel Bapak aktif internetnya?” Pria itu mengernyit, dia tidak tahu menahu dimana pengaturan internet pada ponselnya itu. Benda pipih tersebut di serahkan kepada Fairuz. “Coba cek sendiri nih, Mbak,” ujarnya ketus. Sebenarnya dari sistem sudah terbaca bahwa pulsa pelanggan tersebut digunakan untuk aktifitas internet. Fairuz hanya ingin memastikannya dengan mengecek ponsel pria itu secara langsung. “Jadi gini, Pak. Ponsel Bapak aktif beberapa aplikasi yang terhubung dengan internet. Sewaktu paket internet nonaktif, otomatis pulsa akan digunakan untuk aplikasi tersebut,” jelasnya halus. “Wah, rugi donk saya,” sesalnya. Mario menepuk dahinya. “Bapak mau nggak kalo saya bantu daftarin paket internet?” tawar Fairuz. Pria bertubuh tambun itu mengernyit, kemudian ia manggut-manggut setuju. “Ya udah tolong didaftarin ya, Mbak, ” sahutnya melunak. Fairuz lalu menawarkan paket internet yang dibutuhkan Mario. Kemudian mengaktifkannya melalui sistem. “Baik Pak Mario, ada lagi yang bisa saya bantu?” “Makasih banyak ya, Mbak,” ucapnya. Fairuz berdiri dan memberikan salam kepadanya seraya tersenyum tulus. Sementara di sampingnya ada seorang pria yang sedari tadi menahan tawanya. Dia adalah Machmud rekan kerjanya sesama customer service. “Fa’i.. Fa’i.. Pagi-pagi dah kena semprot,” ledeknya. Mengulum senyum geli. “Apaan sih ciprut, ente kan dah pernah kena semprot juga,” cibirnya. Sebagai customer service, sebuah komplain sudah menjadi makanan mereka sehari-hari. Suka duka mengahadapi karakter seseorang yang berbeda setiap harinya akan menjadi pelajaran sekaligus hiburan bagi mereka. “Fa’i.. Tar pulang kerja anterin ane ngerapiin rambut ya,” ajak Machmud. “Tapi ente traktirin ane ya, bro,” pintanya kepada pria keturunan Arab itu. Sementara mereka bisa bercanda sejenak karena keadaan kantor saat itu sedang lengah. Langit senja berwarna jingga menghiasi kota Jogja. Fairuz melihat jam kulit berwarna navy yang melekat di pergelangan tangannya. Masih setengah jam lagi mereka akan meninggalkan kantor itu. “Ciprut, cepetan nyicil closing. Tinggal beberapa menit lagi nih,” titahnya. Machmud merotasikan bola matanya malas. Teman seprofesinya ini memang terkenal bawel soal pekerjaan. Semua harus tepat waktu. “Sabaaaarr.. Fa’i jones,” cibirnya. “Fa’i.. Fa’i..!! ... Nama ane Fairuz and no embel jomblo ngenes,” sanggahnya ketus. Machmud dan security yang mendengarnya tertawa renyah mendengar ucapan wanita yang sedang mencebikkan bibirnya kesal itu. Akhirnya mereka telah menyelesaikan tugas yang menguras kesabaran hari ini. Fairuz dan Machmud pergi ke sebuah barbershop yang tak jauh dari kantor mereka. Dengan motor sport milik Machmud, mereka membelah jalanan yang padat merayap. Sampailah mereka di sebuah gerai berwarna hijau itu. Ada 2 orang sedang mengantri di dalam. Barbershop ini sangat digandrungi oleh kaum adam terutama pekerja kantoran dan mahasiswa. “Ente ambil nomer antriannya dulu gih, ane tunggu di luar.” Fairuz sengaja duduk di teras gerai tersebut sambil mengeksplor penjaja makanan keliling yang lewat. “Sini Fa’i.. Di dalem ada kursi kosong tuh,” ajak Machmud. Wanita itu pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam barbershop tersebut. Netranya yang cendrung sipit bergerak seperti radar yang mengamati setiap sudut ruangan itu. Hingga manik matanya terhenti pada sebuah objek yang kini menjadi fokusnya. Dia mengernyit ketika menangkap bayangan seseorang yang pernah ditemuinya. Tapi dimana, pastinya ia terlupa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD