Penuh Rencana

1212 Words
Cuaca pagi ini terasa begitu syahdu, mendung gelap menyelimuti langit di setiap sudut kota. Sepertinya alam ikut menumpahkan kesedihannya di hari ini. Tepatnya pukul 10 pagi ini, Dirga dan Vanessa akan melangsungkan ijab kabul. Terlihat dua mobil mini van datang beriringan dan berhenti tepat di halaman Kantor Urusan Agama tersebut. Di sana telah hadir keluarga dari calon pengantin pria dan wanita. Terlihat Dirga menggunakan setelan jas hitam dan Vanessa menggunakan kebaya berwarna fanta. Mereka sengaja melakukan acara akad di kantor ini agar menghindari dari desas desus omongan warga. Kini mereka telah melangsungkan ijab kabul yang tak berlangsung lama dan khidmat. Semua mendoakan agar nantinya mereka menjadi keluarga yang sakinah mawadah dan warahmah. “Jaga dirimu baik-baik yo, le. Sayangi dan lindungi isterimu, inget pesen bapak,” titah Supardi diikuti anggukan Dirga. Beliau tidak bisa memberikan wejangan panjang lebar lagi kepada putranya. “Yo wis, le. Bapak karo Ibu pamit (Ya sudah, nak. Bapak dan Ibu pamit),” ujar Sri. Dirga menyalaminya dan memeluk kedua orang tuanya tersebut. Kini mereka berpisah sementara waktu, karena Dirga langsung menuju ke rumah mertuanya. Di sepanjang jalan, pria itu hanya bergeming. Entah mengapa dia sepertinya tidak yakin akan pernikahan ini berjalan dengan baik ke depannya. Hujan turun deras mengguyur sepanjang jalan mengantarkan rombongan pengantin itu pulang ke rumah. Hingga akhirnya mereka turun dengan berteduhkan sebuah payung menuju teras minimalis bernuansa asri itu. Sebuah kamar telah disiapkan untuk mereka berdua oleh Hartini. “Buk, saya bisa tidur di ruang tengah aja?” pinta Dirga halus. Hartini mengernyit mendengar permintaan nyeleneh menantunya tersebut. Tapi dia harus menjaga sikapnya agar terlihat tidak mencurigakan di depan Dirga. “Ya silahkan, nanti kalo pingin pindah ke kamar juga nggak pa-pa,” izinnya. Lalu meninggalkan ruang itu. Vanessa mencekal tangan Dirga, lalu menariknya ke dalam kamar. Sepertinya ia ingin meluapkan kekesalannya saat ini juga. “Kowe piye too (Kamu gimana sih). Kita udah sah, kenapa harus pisah ranjang,” protesnya. Sepertinya hormon kehamilannya membuat wanita itu tidak bisa mengontrol gejolak emosinya. “Aku lebih nyaman tidur di luar sambil nonton TV,” jawab Dirga datar. Malas menghadapi wanita posesif yang sekarang menjadi isterinya itu. Vanessa masih belum mendapatkan jawaban yang memuaskan tentang alasan suaminya itu menghindar tidur sekamar dengannya. Selama keinginannya belum tercapai, dia akan terus memaksa Dirga agar menurutinya. “Aduuuuhh, perutku ... Perutku sakit,” keluhnya. Memegang perut buncit yang masih berbalut kebaya fanta itu. Dia sengaja melakukan sandiwara itu agar mencari perhatian suaminya. “Kenapa.. Kenapa dengan perutmu?” tanya Dirga panik. Sepertinya aktingnya berhasil dan ini akan menjadi kunci kelemahan Dirga agar ia mau menuruti keinginannya. “Perutku kram, Mas?” “Ayo tiduran dulu,” sarannya. Membopong isterinya ke atas ranjang. Vanessa tersenyum kemenangan. Begitu mudahnya ia membohongi Dirga. Setelah ini pasti mereka akan menikmati malam pertama, batinnya. “Kamu ganti bajumu dulu, aku ambilkan air minum sebentar ke dapur,” ujarnya. Sebenarnya Dirga hanya mengkhawatirkan bayi yang ada di kandungan Vanessa itu, bukan ibunya. “Tapi Mas, ak-- Belum sempat wanita hamil itu meneruskan kalimatnya, dia sudah ditinggal pergi oleh suaminya. Vanessa mendengkus kesal, dia menghentak-hentakkan kasur itu dengan kepalan tangannya secara bergantian. Lalu ia melucuti kebayanya yang membuat gerah tubuhnya sedari tadi. Hampir setengah jam, Dirga tak kunjung kembali ke kamarnya. Ternyata suaminya itu tak semudah untuk ditaklukkan olehnya. Dari awal perkenalannya dengan Dirga, wanita itu telah menyadari bahwa dia adalah pria yang jauh dari kata romantis. “Ini minumnya.” Dirga menyerahkan segelas air putih hangat. “Kamu ngambilin air putih atau pergi kemana. Koq suwi men (koq lama banget),” omel Vanessa. Dia mencebikkan bibirnya kesal. “Ning mburi ra ono banyu anget. Wis tak masak sekalian (Di belakang nggak ada air hangat. Jadi sekalian ku masakin),” kilahnya. Padahal proses memasaknya tidak lama, Dirga malah mengobrol bersama Bernard. “Kowe arep ndi (Kamu mau kemana)?” tanya Vanessa curiga. Menangkap Dirga yang akan meninggalkannya lagi sendirian di kamar. “Nonton balap,” jawabnya singkat. Dia meninggalkan isterinya yang terlihat baik-baik saja. Sementara Bernard sudah menunggunya di ruang keluarga. Mereka akan menonton siaran langsung motor GP sebentar lagi. Di luar dugaan Bernard yang pada awalnya dia sangat antusias menuruti rencana terselubung kedua orang tuanya untuk memisahkannya dengan adiknya. Mereka pernah bertemu saat terjadi perseteruan antar geng di sekolah. Saat itu Dirga membantunya. “Piye Nard, wis mulai (Gimana Nard, udah mulai)?” tanya Dirga. “Wis meh rampung (Udah mau habis),” sahutnya. “Weeeh.. Koq iso? Ketoke ono siaran ulanganne (Koq bisa. Kayaknya ada siaran ulangannya,” timpal Dirga pasti. Bernard mengangkat bahunya tak tahu. Akhirnya mereka pindah ke teras depan. Terlihat Waluyo dan Hartini mengamati gerak gerik mereka dengan seksama. Bagaimana bisa putra mereka seakrab itu dengan menantunya. “Pa, rencana kita bisa gagal kalo Bernard tahu,” ujar Hartini takut. “Mama wis pesimis sik, rung dicubo yo rung ngerti (Mama udah pesimis duluan, belum dicoba ya belum tahu),” timpal Waluyo santai. Wanita paru baya itu manggut-manggut mengerti. Rencananya dia akan melakukan aksinya setelah seminggu ini Dirga tinggal di rumahnya. Mereka juga harus lebih waspada karena putera mereka sepertinya berpihak kepada Dirga. Sementara itu Vanessa sedang menyusun rencana apa yang membuatnya bisa mendapat perhatian lebih oleh suaminya itu. Dia teringat akan brosur pengajuan kartu kredit. Sempat waktu beberapa bulan yang lalu, ia melamar sebagai marketing di bank tersebut. Nantinya ia akan mengajarkan Dirga menjadi marketing untuk menhandle nasabah baru yang telah berhasil direkrut oleh Vanessa sebelumnya. Mengingat kehamilannya yang sudah semakin besar, sulit untuk beraktifitas seperti biasanya. “Kamu kenapa belum tidur?” tanya Dirga yang tiba-tiba masuk ke kamarnya yang tidak tertutup. “Aku ya lagi nungguin kamu, lali po aku ki bojomu (lupa ya aku ini isterimu)?” sahutnya ketus. Malas melayani sikap Vanessa yang menyebalkan itu, Dirga memilih diam. Dia mengambil cepat bantal dan guling yang tersusun rapi di sebelah wanita hamil itu, lalu keluar meninggalkannya. Sedangkan Vanessa berkali-kali menggerutu tak jelas. “Aduuuuhh, sakit maaaaaasss,” serunya seraya merintih. Dirga yang mendengar suara isterinya memanggilnya, spontan kembali masuk ke dalam kamarnya. Ternyata Hartini mendengar suara anaknya sedang merintih kesakitan. “Kamu kenapa lagi? Jangan suka akting gitu,” protesnya. Sepertinya Dirga sudah membaca gelagat isterinya itu. “Ono opo iki (Ada apa ini)?” tanya Hartini khawatir. “Perutku rodo loro, Ma. Kram (Perutku agak sakit, Ma. Kram),” lirihnya. Memasang ekpresi orang kesakitan. Dirga yang melihatnya sedang berakting itu merespon dengan merotasikan bola matanya malas. Baru sehari ia menjadi suami Vanessa, rasanya seperti sudah belasan tahun. “Kowe turu ning kene wae, Ga. Kancani bojomu (Kamu tidur di sini aja, Ga. Temeni isterimu),” titahnya. Diikuti anggukan pasrah oleh Dirga. Hartini kembali ke kamarnya sedangkan menantunya mengambil bantal dan guling di ruang keluarga, lalu kembali ke bilik peraduan mereka. Yeeess.. Batin Vanessa bergemuruh ria. Malam ini ia terbantu aktingnya dengan kehadiran ibunya. Dirga merebahkan tubuhnya dan membelakangi isterinya itu. Dia berharap malam ini cepat berlalu dan berganti pagi menyising. “Mas, kamu koq ngadep sana sih?” protesnya. “Kenapa, kalo kamu nggak suka nggak pa-pa. Aku tidur di luar aja lagi,” jawabnya to the point. Dari pada dirinya ditinggalkan sendirian di kamar, mending ia manut. Vanessa mendesah lelah, mimpi apa dia bisa terjebak menikah dengan pria yang sedingin kutub utara ini. Kalaupun ia berakting kembali, pastinya sudah membuat Dirga benar-benar tidak menghargainya lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD