Sementara di tempat lain, dua rekan kerja terlihat sibuk menutup laporan harian mereka. Jari jemari Fairuz dan Machmud bergerak cepat di atas keyboard komputer itu.
“Fa’i, ente hari Minggu ikut ane latihan mau, nggak?”
“Emang latihan apa ente hari Minggu?” timpal Fairuz.
“Ane mau latihan sepeda. Dari pada ente galau di kosan, mending ikut ane,” sahut Machmud.
Wanita itu mengangguk setuju dengan syarat di sana harus ada tempat makannya. Tidak mungkin ia menunggu tanpa melakukan aktifitas apapun. Dengan makan, Fairuz bisa menghilangkan rasa jenuhnya saat menunggu pria keturunan Arab itu.
Seperti biasanya, Machmud menjemputnya di kosan. Kali ini ia menggunakan mobil dengan sepeda yang terikat di belakangnya. Mereka akan menuju Klangon, sebuah track downhill di bawah kaki Gunung Merapi.
Fairuz sangat menyukai keindahan pemandangan gunung. Makanya Machmud sengaja mengajaknya ke sana. Beberapa warung makan juga terluhat di sana.
“Whei Bro, sini!” seru seseorang memanggil Machmud.
Mereka berdua menemui sekumpulan pria yang menggunakan helm cross. Terlihat juga beberapa pria dari berbagai kalangan umur. Ternyata olah raga ini tak mengenal usia, bathin Fairuz.
“Siapa nih, Bro?” tanya salah seorang dari mereka.
“Biasaaa,” jawab Machmud enteng. Mendekatkan dirinya kepada Fairuz. Wanita itu mendelik, namun malah dibalas senyuman smrik oleh rekan kerjanya itu. Sepertinya ada sandiwara yang akan dimainkan oleh mereka.
“Ente manut aja ya, akting jadi pacar ane,” bisiknya.
Fairuz menautkan kedua alisnya menatap Machmud. Mungkin pria ini memiliki maksud agar ia tidak digoda oleh teman-temannya yang lain. Akhirnya ia setuju berakting layaknya sepasang kekasih di mata mereka.
Panas terik yang menyinari kawasan wisata Klangon itu tak terasa menyengat di kulit halus wanita berparas ayu itu. Udara pegunungan yang dingin membuat suasana hatinya menjadi tenang dan damai. Fairuz tengah asyik mengabadikan foto alam yang ada di sekitar kaki Merapi tersebut. Sepasang mata mengamatinya sedari tadi dari kejauhan.
“Lagi lihatin apa Mas Dirga?” tanya Mario.
“Saya lihat mbak yang di sana itu, Pak. Kayaknya saya kenal.” Menunjuk ke arah Fairuz dari kejauhan.
“Oh, itu kan mbak-mbak yang customer service itu. Dia sama pacarnya di sini, anak downhill juga,” ungkap pria bertubuh gempal itu.
Dirga mengangguk mengerti. Kemudian dia kembali menuntun sepedanya dan mulai menaiki titik loading bersama teamnya. Mereka menaiki sebuah mobil pick up menyusuri jalanan mendaki itu. Begitu juga yang dilakukan oleh Machmud dan teamnya.
Drrrrttt.. Drrrttt..
Fairuz : Ya Ciprut..
Machmud : Ente dimana Fa’i?
Fairuz : Ane di bawah spot foto jembatan itu.
Machmud : Jangan jauh-jauh, nanti ane susah nyari ente.
Fairuz : Iya.. Iya.. Entar lagi ane ke sana.
Wanita itu terpaksa menghentikan aktifitasnya, padahal ia masih ingin menikmati pemandangan hijau nan asri di sana. Kemudian ia berjalan menuruni anak tangga dan kembali ke pos dimana Machmud dan teman-temannya berkumpul.
Di tengah perjalanannnya, ia merasa seseorang mendekatinya. Tapi Fairuz tak menghiraukannya dan terus berjalan.
“Mbak Fairuz,” sapa seseorang dari arah belakangnya. Kemudian ia menoleh, karena sedari tadi ia penasaran dan ingin tahu siapa yang telah mengikutinya.
Fairuz terbeliak, dia tak menyangka akan bertemu dengan Dirga di sini. Kemudian ia mengubah mimik wajahnya agar tidak diketahui bahwa ia sangat mengenali pria itu. “Iya ... Maaf dengan Mas siapa ya, saya lupa?”
“Saya Dirga, dulu pernah dibantu Mbaknya pas kartu saya patah,” tuturnya seraya tersenyum hangat.
“Oh, ya. Maaf ya Mas, saya lupa. Soalnya tiap hari banyak customer yang dihandle,” ucapnya sedikit kikuk.
“Nggak pa-pa Mbak. Ke sini dengan siapa Mbak?” selidiknya.
“Saya lagi nemenin temen, itu di pos sana, Mas.” Fairuz menunjuk ke arah tempat yang dijadikan pos itu.
Sama temannya, bukannya pacarnya. Jadi penasaran dengan siapa di ke sini, bathin pria itu bertanya-tanya.
“Yuk ke sana barengan, pos saya juga di sebelahnya,” ajaknya. Wanita ayu itu mengangguk setuju. Lalu mereka bersama menuju ke pos masing-masing.
“Sering ke sini juga ya Mbak?” Dirga mulai mengulik tentang wanita itu.
“Baru sekali ini Mas, kebetulan temenku itu ngajakin,” sahut Fairuz jujur.
Akhirnya mereka berpisah di pos itu. Fairuz menemui Machmud yang sedari tadi menunggunya gelisah. Sesekali Dirga mencuri pandang mengamati mereka. Dia mengenali pria yang bersamanya, ternyata adalah rekan kerjanya.
“Duh, Fa’i.. Ente dari gunung nemu biker lagi. Ane di sini tuh khawatir kalo ente hilang,” protesnya.
“Yaelah Ciprut, ane bukannya anak kecil nyampe segitunya,” protesnya. Fairuz mencebikkan bibirnya kesal.
“Ente kalo gitu lucu tahuuu.”
Machmud terkekeh geli melihat gelagat partner kerjanya itu. Dia mengacak-acak rambut Fairuz gemas.
Kedua netra Dirga tak luput dari menatap wanita itu. Mario tersenyum menangkapnya sedang memperhatikan wanita yang ada di seberang pos mereka.
“Itu Mas, pacarnya mbak Fairuz. Mereka sekantor ya kalo nggak salah,” ujar Mario.
Dirga tersentak mendengar suara Mario yang mendekatinya. “Njih Pak, saya pernah lihat juga,” sahutnya.
“Mas, kita ada event nih bulan depan. Ikutan race ya, Mas?” tawar Mario.
“Tapi Pak, saya baru nyoba ini belum punya pengalaman.”
“Nggak pa-pa Mas, nanti saya daftarin ya di team. Bisa ikut latihan sama kita seminggu sekali.”
Dirga menyetujuinya, ini akan menjadi kesempatan baginya untuk menemukan dunia barunya. Mario sangat senang mengajaknya. Selain supel, Dirga juga memiliki bakat yang potensial.
***
Siang itu terlihat seorang pria paruh baya dengan wajah yang tak bersahabat berkunjung ke gerai provider berbendera biru itu. Fairuz dan Machmud bersiap menghadapi customer baru mereka saat ini dengan tingkat kesabaran level up.
Setelah nomer antrian memanggilnya. Fairuz berdiri menyambut pelanggan tersebut dengan senyuman hangatnya. “Semangat pagi, silahkan duduk Bapak.”
“Mbak, nomer saya 0817645**** atas nama Subiantoro. Ini kenapa nomer saya nggak bisa nelepon keluar, padahal tiap bulan udah auto debit?” tanyanya dengan wajah yang menekuk.
“Baik Pak Subiantoro, ditunggu ya Pak. Saya cek dulu di sistem,” tuturnya. Dengan sigap Fairuz membaca permasalahan customer tersebut.
“Saya jadi susah Mbak, kalo ada jadwal dari rumah sakit yang dadakan. Saya mau nelepon harus pake nomer isteri saya,” keluhnya.
“Jadi gini Pak Subiantoro, kebetulan limit kartu pasca bayar Bapak sudah melewati batas, sebelum tanggal periodenya.”
“Terus gimana Mbak, biar saya bisa telepon lagi,” pungkas pria paruh baya yang berprofesi sebagai dokter itu.
“Bagaimana misalnya kalo limitnya dinaikkan Pak, kira-kira Bapak keberatan, tidak?” tawarnya seraya tersenyum simpul.
“Ya udah Mbak, saya setuju.”
Kemudian wanita itu menjelaskan prosedur yang diminta oleh dokter tersebut. Setelah semua jelas, ia meminta persetujuan kepada dokter itu dengan menandatangani selembar formulir persyaratan. Kemudian ia memprosesnya melalui sistem.
“Sekarang sudah bisa digunakan kembali ya Pak Subiantoro. Setiap bulannya akan terdebit sesuai pemakaian Bapak hingga tiga ratus ribu rupiah maksimal pemakaiannya,” jelas Fairuz.
“Baik Mbak, terima kasih ya,” ucapnya seraya tersenyum lega.
Begitulah keseharian Fairuz dan Machmud. Membuat customer kembali tersenyum adalah tantangan bagi kedua partner kerja itu. Pantang menyerah sebelum senyum terbit di wajah customer mereka, itulah slogannya.
Setelah Fairuz selesai menghandle. Dia merasakan sesuatu berdenyut hebat di lehernya. Wanita itu memegangnya, sesekali ia menekan-nekan pelan. Seperti ada benjolan kecil di antara kelenjar getah beningnya.
“Ente kenapa Fa’i?” tanya Machmud penasaran.
“Nggak tahu nih, koq tiba-tiba leher ane terasa sakit,” sahutnya heran.
“Makanya ente kalo tidur yang sopan biar nggak salah bantal,” ledeknya.
“Asem.. sembarangan aja kalo nyeplos,” ujar Fairuz geram. Dia mengibaskan buku ke arah Machmud.
Security yang melihat ulah mereka hanya bisa terkekeh geli. Mereka tidak tahu kalau gelagatnya selalu diperhatikan oleh leader mereka.
“Hayo, jaga sikap!” tegur seorang pria mendekati mereka.
“Machmud nih Mas, suka banget nyebelin,” protesnya.
“Mumpung lagi nggak ada customer, Mas,” bela pria keturunan Arab itu. Kemudian ia mengulum senyum gelinya.
Sang leader yang akrab disapa Mas Bowo itu menggeleng-gelengkan kepalanya saja. Dia tidak mempermasalahkan mereka bersenda gurau sewaktu keadaan ruangan itu tanpa kehadiran pelanggan.
“Oh ya, bulan depan kita ikut promosi ke acara event downhill ya,” ujarnya.
“Terus kami ikut jaga stand di sana ya, Mas?”
“Iya, nanti kalo misalnya bisa handle dikit-dikit komplain customer juga nggak pa-pa.”
“Wokeh, Mas Bowo,” sahut mereka serempak. Pria itu lagi-lagi dibuat heran karena kekompakan mereka berdua.
Sepulang dari kerja, wanita bermata semi sipit itu menghempaskan tubuhnya yang lelah di atas kasur ke sayangannya itu. Dia menyentuh kembali lehernya, ia merasakan sesuatu di dalamnya.
Kemudian ia berdiri di depan kaca. Dagunya sedikit diangkatnya, lalu ia melihat sesuatu menonjol di leher kanannya. Dia merasakan benjolan itu sedikit nyeri ketika ditekan pelan. Sedangkan dibagian kirinya, ia tidak melihat sesuatu di sana.
Hatinya mulai gelisah. Dia mencari di aplikasi mesin pencarian informasi global tentang penyebab benjolan tersebut. Sepertinya ini adalah penyakit keturunan dari nenek dan ibunya, pikirnya. Rencananya Fairuz akan memeriksakan keluhannya ini ke rumah sakit minggu depan. Dia berharap akan baik-baik saja dengan hasil diagnosa dokter nantinya.
***
Tok.. Tok.. Tok..
“Kulonuwun (Permisi),” seru seseorang seraya mengetuk pintu berwarna cokelat itu.
Sri yang sedang meracik makanan langsung menemui tamu tersebut. Dia membukakan pintu dan melihat seorang kurir membawa sebuah amplop cokelat.
“Buk, wonten pak Dirga (Bu, ada pak Dirga)?” tanya kurir tersebut.
“Taksih nyambut damel, Pak (Masih kerja, Pak),” sahutnya.
Pria itu mengangguk jelas, lalu ia menyerahkan amplop cokelat tersebut kepada beliau. Kemudian Sri menandatangani sebagai bukti penerima surat resmi dari pengadilan agama itu. Tepat sekali, Dirga kini telah resmi secara agama dan negara statusnya sebagai seorang duda.
Hak asuh Diva jatuh ditangan Vanessa. Tentunya wanita itu tak merasa terbebani akan statusnya sebagai single parent. Selama ini ibunya selalu ikut andil dalam urusan pribadinya.
Sejam berlalu, Dirga pulang ke rumahnya karena ada sesuatu berkas yang tertinggal di sana. Sri memberikan surat itu kepadanya. Dia terperangah menangkap gelagat putranya yang tersenyum bahagia.
“Aku bebas Buk, sekarang waktunya aku memperbaiki diriku sendiri,” ujarnya yakin.
Sri tersenyum bahagia mendengar tekat kuat yang diutarakan oleh anak semata wayangnya itu. Semoga dengan peristiwa kelam yang dialaminya akan menjadi pelajaran hidup berharga baginya.
“Kowe arep lungo ndi, Le (Kamu mau pergi kemana, Nak)?” tanya Sri.
“Rumah sakit, koncoku bar tibo seko latihan mau isuk (Rumah sakit, temanku barusan jatuh dari latihan tadi pagi),” sahutnya. Kemudian ia pamit meninggalkan rumah itu.
Sesampai di rumah sakit, Dirga langsung menuju kamar tempat Mario di rawat. Sewaktu latihan, Mario terperosok ke keluar jalur yang sangat terjal. Tangannya mengalami patah tulang. Hal ini sudah menjadi resiko bagi pesepeda downhill.
Cklek..
Seorang pria, teman dalam satu team mereka juga ikut menilik pria bertubuh tambun itu. Dia menyambut kedatangan Dirga dengan tawanya yang khas.
“Pak Bos kangen rumah sakit, bro,” ledek pria itu.
“Koq bisa, Pak? Saya kira udah break dari ngetrack?” tanya Dirga heran.
“Saya tadi mau nyoba ikutan latihan. Eh, lama nggak turun malah njungkel (terjungkal),” sahutnya seraya merenges.
Sejam berlalu..
Dirga pamit meninggalkan mitra sekaligus teman pesepedanya itu. Kebetulan kamar inap Mario melewati ruang tunggu. Kedua netranya yang tak sengaja menangkap tepat bayangan wanita yang selalu menjadi impiannya.
Entah mengapa semenjak ia bertemu dengannya kala itu, senyum manis Fairuz selalu terngiang-ngiang di dalam pikiran dan hatinya. Kaki jenjangnya melangkah cepat mendekati wanita tersebut. Dirga tak mau kehilangan kesempatan emas ini.