Kehidupan Baru

1881 Words
Hari ini, Dirga sengaja meminta izin kepada mas Panca untuk libur sehari. Rencananya ia akan menguntit Vanessa di kampusnya tanpa sepengatahuannya. Pagi-pagi sekali ia telah mempersiapkan dirinya. Ini adalah langkah awalnya membebaskannya dari ikatan pernikahan yang tak waras baginya. Kampus megah berwarna kuning itu dipadati oleh mahasiswa baru. Gedung fakultas ekonomi inilah tempat isterinya menuntut ilmu. Dia sempat kebingungan mencari-cari keberadaan wanita itu. Seharusnya ia sudah melihatnya. Sejam berlalu, Dirga merasa frustasi tidak menemukan isterinya itu. Akhirnya dia memilih mendinginkan pikirannya di sebuah kantin. Di sana ia akan menikmati segelas es kopi. Netranya yang sayu cendrung tajam itu bergerak bagaikan radar. Pria itu mengeksplor semua yang ada di kantin itu. Sampai pada akhirnya ia menangkap dua insan sedang bercanda mesra di meja sudut kantin tersebut. Dirga hanya tersenyum smirk. Segala rencananya berjalan mulus hari ini. Setelah ini, ia akan kembali menemui mertuanya. “Assalamualaikum.” “Waalaikum salam,” jawab Waluyo. Dirga mengambil alih Diva dari gendongan kakeknya. Pria paruh baya itu mengernyit heran, tak biasanya menantunya itu datang di sore hari. Tapi ia mencoba untuk biasa saja di depan Dirga. “Kamu koq tumben ke sini?” tanya Vanessa yang tiba-tiba muncul dari dalam. “Kebetulan sekali, ibu udah pulang Pak?” tanya Dirga tanpa menjawab pertanyaan isterinya sebelumnya. “Ada, sebentar ya.” Waluyo lalu memanggil isterinya itu untuk bergabung bersama mereka. Tak lama kemudian Hartini keluar dengan tanda tanya yang besar. Rencana apa lagi yang akan diajukan oleh menantunya itu. Sementara saat ini dia telah berhasil memisahkan antara Vanessa dengan suaminya. “Ono opo, Ga (Ada apa, Ga)?” tanya Hartini. “Jadi begini Pak, Bu. Saya hari ini akan mengembalikan Vanessa kepada Bapak dan Ibu. Saya sudah tidak sanggup lagi menjadi suami dari putri Bapak dan Ibu?” ungkap Dirga to the point. “Alasannya apa, Nak Dirga?” tanya Waluyo. Dirga lalu mengeluarkan ponselnya. Dia menunjukkan beberapa video kedekatan Vanessa bersama Rudi bermula setahun yang lalu saat ia kerja di butik hingga ia mendapati sendiri saat mereka berada di kampus. Waluyo dan Hartini mengenyit, ternyata Dirga telah mengetahuinya, bathin mereka. “Saya juga udah tahu, sepertinya ini sudah direncanakan dengan matang sekali. Saya malah berterima kasih atas semua ini.” Dirga menyunggingkan senyum tipis tanpa ditutup-tutupinya lagi. Vanessa tertunduk malu atas perbuatannya. Seharusnya ia merasa bahagia bahwa ia akan terbebas dari ikatan tanpa cinta. Dia terlihat bodoh di mata pria itu. Inikah makna yang pernah ia tangkap dari ucapan suaminya itu. Dirga pernah memberikannya kesempatan sekali lagi. Sementara dia tidak mengetahui kesalahan apa yang dimaksud pria itu. “Segera urus gugatan cerai kita. Dan hari ini, di depan Bapak dan Ibumu, kau bukan isteriku lagi. Vanessa, aku talak kamu!” ucap Dirga lugas. Langit jingga nan indah itu menjadi saksi bisu akhir kisah pernikahan antara Dirga dan Vanessa. Rumah tangga mereka telah kandas seumur jagung. Pria itu telah gagal menjadi nakhoda dalam menghadapi ombak yang menerjang kapal mereka. Waluyo dan Hartini tidak berkutik sama sekali atas keputusan akhir Dirga. Pria itu mencium putri kecilnya yang terlelap di gendongannya. Dia tidak sama sekali menyesali akan tindakannya itu. “Kamu jaga Diva baik-baik ya. Baik buruknya semua tergantung pola asuhmu. Satu lagi ... Aku pasti akan mendapatkan pengganti yang jauh lebih baik darimu,” jelasnya di depan kedua orang tua Vanessa. Pria itu pamit kepada mertuanya tersebut. Ini adalah terakhir kalinya ia menginjakkan kakinya di rumah itu, janjinya. Walaupun barang-barangnya masih ada yang tertinggal di sana, ia tidak memperdulikannya lagi. Kini ia menjadi pria yang bebas. Saatnya ia menentukan jalan hidupnya sendiri. Sekarang ia bisa fokus menjalani hari-harinya tanpa beban perasaan yang mengikatnya selama ini. Malam itu, Dirga mengunjungi kursi taman seperti biasanya. Namun sayangnya, dia tidak mendapati wanita bermasker yang selalu menjadi teman curhatnya. Akhirnya ia menghubungi teman sekolahnya waktu dulu. Tak lama datanglah seorang pria mengenakan jacket cokelat kulit. Terlihat dari kejauhan ia melemparkan kekehan kecil kepadanya. “Ngopo koe, ra iso move on po (Kenapa kamu, nggak bisa move on ya)?” ledeknya. “Koe koq ra tahu ketok. Ndi wae, Nes ( Kamu nggak pernah kelihatan. Kemana aja, Nes)?” tanya Dirga menyapa temannya. Yohanes hanya terkekeh geli saja. Dia sudah menduga bahwa temannya itu selalu menyendiri di kursi titik nol kilometer, hanya untuk menghilangkan kegundahan hatinya saja. Makanya dia selalu meledeknya. “Gimana kabarmu, Ga?” tanya pria itu. “Lebih baik dari setahun yang lalu,” sahutnya singkat. Mengebulkan asap rokoknya ke wajah pria itu. “Gimana kabar keluargamu? Udah lama aku nggak lewat rumahmu.” “Wis bubar, Nes,” timpalnya santai. Pria berkulit putih itu membeliakkan netranya. Dia tak menyangka sahabatnya itu berkata sangat lugas. “Ah, kowe ojo ngawur (Ah kamu jangan ngawur).” Dirga tertawa renyah menangkap mimik wajah Yohanes yang menatapnya heran bercampur bingung. Lalu ia menceritakan kisah perjalanan pernikahannya itu. Ini adalah pelajaran berharga baginya dan ia tidak akan salah lagi melangkah ke depannya. “Jadi rencanamu ke depan gimana, Ga?” “Membangun masa depan bersama orang pilihan,” timpalnya santai. Sahabatnya itu hanya terkekeh geli mendengar ucapan yang tak jelas dari pria bertubuh kurus itu. Mungkin saja benar, Dirga akan menjalani kehidupannya kelak bersama orang yang benar-benar terpilih di hatinya. Wanita yang bersedia menerima segala kekurangannya dengan gelar sebagai duda yang menyandangnya. Tidak semua wanita akan bersedia mencintai seorang pria yang memiliki masa lalu yang kelam. Apalagi dia tidak memiliki apa-apa yang dapat ia banggakan. Seperti pandangan ibu mertuanya kala itu. Tiga bulan setelah ucapan talak itu, Vanessa mengajukan gugatan cerainya ke pengadilan agama. Alasan bercerai yang sangat familiar bagi pasangan muda adalah tidak tercukupinya nafkah untuk keluarga. Masalah ekonomi inilah yang menjadi landasan wanita itu menggugat Dirga. Setiap panggilan mediasi dari pengadilan agama tersebut, pria itu tidak pernah memenuhinya. Dia sengaja melakukannya karena tidak ada lagi keinginannya untuk bersatu kembali dengan Vanessa. Pengadilanpun akhirnya mengeluarkan akta cerai sesuai permintaan mereka. Kini Dirga hidup bebas dengan status duda yang tersemat di kehidupannya. Hari-harinya terasa lebih indah dan tanpa beban. Kebebasannya ini tidak akan ia gunakan untuk kembali ke masa lalunya yang kelam. Dirga hanya fokus merawat ibunya, kesehariannya ia hanya mengisi kesibukannya dengan bekerja. Panca melihat perkembangan kinerja sepupunya itu semakin baik. Sepertinya ia layak untuk dipromosikan sebagai manager. “Ga, saya mau bicara sebentar. Ke ruangan sebentar ya, kalo udah selesai nyapunya,” pinta Panca. “Nggih, Mas.” Pria itu menyelesaikan pekerjaannya yang hampir selesai. Kemudian dia menyusul Panca ke ruangannya. “Duduk Ga, kita ngobrol santai aja,” ujarnya. Dirga duduk dengan santai seperti biasanya ia mengobrol bersama kakak sepupunya itu. Terlihat Panca mengeluarkan beberapa dokumen dari dalam nakasnya. Lalu dia mengambil selembar berkas yang ada di sana. “Coba kamu lihat ini,” tunjuk Panca. Dirga mengamati berkas tersebut. Dia mengerti isi data-data yang ada di dalam itu. Lalu untuk apa Mas Panca memintanya untuk melihatnya, pikirnya. “Ini data nama mitra yang kerja sama kita, kan Mas?” tanyanya memastikan. “Iya bener. Jadi aku tantang kamu sekarang. Bisa nggak kamu handle karyawan kita yang kerja sama dengan mereka? Dirga mengernyit, dia masih bingung apa yang diutarakan oleh Panca. Sedangkan ia belum berpengalaman dalam memenejemen karyawan. “Saya harus gimana, Mas?” tanya Dirga. Kemudian Panca menjelaskan bagaimana kelanjutannya Dirga akan menjalankan pekerjaannya yang baru. Sebuah tantangan unik baginya. Dia harus bisa mengadaptasikan kepada beberapa karakter manusia untuk membentuk kinerja karyawan agar berjalan dengan baik. “Jadi gimana, Ga? Kira-kira kamu sanggup, kan?” “InshaAllah, saya coba, Mas,” sahutnya pasti. Panca sangat senang mendengar jawaban darinya. Dia menyalami Dirga dan mengucapkan selamat atas jabatannya yang baru. Pria itu kembali bekerja seperti biasanya. Panca tersenyum hangat melihat perubahan pada diri Dirga. Dia berlalu meninggalkan gerai tersebut dan menemui temannnya yang menunggunya di depan barbershop tersebut. Sepulang dari bekerja, Dirga menceritakan tentang kenaikan jabatan yang baru diberikan kepada Panca kepada ibunya. Sri sangat terharu mendengar kabar bahagia itu. Doa-doanya kini telah dikabulkan oleh Yang Maha Berkehendak. “Buk, ono kelambi bapak sik ra dinggo, ora (Bu, ada baju bapak yang nggak dipake, nggak)?” tanyanya. “Ono ketoke, sik tak delokke sikik (Ada sepertinya, sebentar ku lihatin dulu),” ujar Sri. Kemudian ia membuka lemari jati tua pemberian mbah buyut Dirga. Di sana ia mengambil beberapa lembar pakaian kerja almarhum suaminya dulu. “Ini kayaknya pas buatku kerja besok, buk.” Menempelkan pakaian tersebut ke tubuhnya. Sebenarnya pakaiannya banyak yang tertinggal di rumah Vanessa. Namun, ia tidak akan menjilat ludahnya kembali. Mulai hari ini ia akan mengatur waktunya sebaik mungkin. Besok adalah hari pertamanya ia bekerja sebagai manager operasional. Jadwalnya ia akan berkunjung ke gerai mitra dan menilik beberapa aspek yang sudah dijelaskan oleh Panca sebelumnya. *** Pagi itu cerahnya sinaran matahari menyambutnya dengan hangat. Dirga telah menyiapkan dirinya untuk menemui beberapa barberman. Dia membelah jalan raya menuju gerai bernuansa hijau hitam itu. Sudah jam 9 pagi, kenapa gerai milik mitranya ini belum dibuka, bathinnya bertanya-tanya. Pria itu turun dari motornya dan menunggu hingga karyawan yang masuk pagi ini datang. Hampir satu jam dia menunggunya, akhirnya barberman tersebut datang. Mereka saling menyapa dan berkenalan. Lalu Dirga masuk dan membantu pria itu membuka gerai tersebut. Di sana banyak sekali yang perlu dibenahi, pantas saja mas Panca selalu terlihat kelelahan setelah kembali dari beberapa cabang. “Mas Dirga, saya minta maaf nggih, Mas. Tadi saya kesiangan,” sesal pria bernama Harry itu. “Kenapa Mas, bisa kesiangan?” tanya Dirga ramah. “Anu, Mas. Saya itu harus ngurus anak saya dulu,” jawabnya kikuk. Kenapa tidak isterinya yang mengurusi anaknya. Apa Harry seorang duda juga sepertinya, pikirnya. Dia mencoba menepis semua asumsi miringnya itu. “Anaknya Mas Harry sama siapa sekarang kalo ditinggal kerja gini?” timpalnya. “Saya titipin ke ibu saya, Mas.” Harry menjawab tertunduk malu, sesekali dia menggaruk tengkuknya yang tak gatal sama sekali. Dirga memahami status yang disandang pria tersebut. Lalu ia memberikan pendekatan dan solusi kepada barberman tersebut. Intinya agar Harry lebih disiplin dengan kinerjanya yang baik. Sehari ini ia sengaja mempelajari karakter karyawan yang ada di barber milik mitra mas Panca. Sistem yang telah mereka jalani diubahnya semua setelah mendapat persetujuan kakak sepupunya itu. Setelah mereka mengerti, Dirga pamit meninggalkan gerai tersebut. “Mas Dirga!” panggil seorang pria bertubuh tambun itu. Dirga menoleh dan kembali melangkah masuk ke dalam ruangan tersebut. Dia menyapa seraya tersenyum ramah kepada customer itu. “Wah, saya kira tadi siapa, Pak,” sapanya. “Mau kemana, Mas? Koq tumben di sini?” cecarnya. “Saya diminta mas Panca visit ke gerai ini, Pak,” jelasnya. Pria itu manggut-manggut mengerti. Dilihat dari penampilannya sepertinya Dirga sudah tidak lagi menjadi office boy. Dia ikut senang melihat perubahan pada diri sepupu temannya itu. “Mas, kamu suka sepedaan, nggak?” “Sepeda yang gimana, Pak Mario?” tanya Dirga ingin tahu. “Sepeda downhill, Mas. Kalo mau hari Minggu bisa ikutan latihan sama komunitas kita,” ungkap Mario. “Tapi saya nggak punya sepedanya, Pak?” tuturnya. “Nggak pa-pa, Mas. Saya ada satu yang nganggur. Nanti Mas Dirga bisa pake aja dulu,” tawarnya. Dengan senang hati Dirga menerima ajakan Mario. Mereka akan bertemu hari Minggu di tempat yang sudah ditentukan oleh team mereka. Ini adalah kesempatannya untuk mengisi kekosongan hatinya. Waktu luangnya kini ia gunakan untuk hal yang positif. Semua teman yang membuatnya terjerembab ke kehidupan kelam satu persatu ditinggalkannya. Siapa lagi yang bisa ngubah hidupnya selain dirinya sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD