Kesempatan Terakhir

1819 Words
20 tahun Sri telah menjalani hidup bersama pria yang selalu bersamanya dalam suka maupun duka. Kini ia hanya bisa hidup bergantung kepada anaknya, Dirga saja. “Pak, udah nggak sakit lagi, kan? Ibuk selalu mendoakan Bapak sembuh ... ini baru aja mau ajakin Bapak makan,” lirihnya. Wanita paruh baya itu sesegukan dengan kata yang terbata-bata. Istuti yang mendengar ucapan Sri semakin menangis meraung-raung. Suaminya mengelus punggungnya pelan memberinya kekuatan. “Sik sabar yo, Sri,” tutur suami Istuti. Wanita itu mengangguk pasrah. Dia telah kehilangan semangat hidupnya. Tak lama Dirga datang. Dia memeluk erat ayahnya yang telah terbaring kaku di atas dipan jati tua itu. Cairan bening satu persatu dengan pasti terjun bebas di pipinya. Pria itu tak mampu lagi membendung air matanya sedari tadi. Padahal ia akan berubah dan ingin membahagiakan kedua orang tuanya. Dirga telah membuktikan bahwa ia mampu untuk menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya. Namun, Supardi telah meninggalkan mereka ketika anaknya sedang dalam proses pembenahan kepribadiannya. Suasana menjadi hening, hanya terdengar suara azan berkumandang di dalam liang lahat itu. Inilah seruan terakhir yang mengantarkan Supardi untuk kepergiannya selama-lamanya. Dirga turut serta mengantarkannya di peristirahatan terakhirnya. Rumah duka juga telah terlihat lengah, hanya tinggal Sri dan beberapa orang saja. Di sana terlihat besannya yang akan pulang. “Kami permisi dulu nggih, Bu Sri. Yang tabah nggih, Bu,” pamit Waluyo. “Matur nuwun njih, Pak, Buk,” ucapnya tulus. Kemudian Sri mengantarkan mereka hingga ke teras rumah. Bukannya tinggal di rumah menemani Sri, tetapi Vanessa malah ikut pulang bersama orang tuanya. Istuti yang melihatnya hanya menggelengkan kepalanya heran. Sungguh tidak memiliki perasaan iba, bathinnya. Dirga pulang setelah menyelesaikan tugasnya yang terakhir mengantarkan ayahnya. Dia ikut bergabung bersama keluarga lainnya di rumah itu. Pria itu tidak tega meninggalkan ibunya seorang diri di rumah. “Isterimu luar biasa, Le.” Istuti blak-blakan mengungkapkan isi hatinya. Wanita paruh baya itu mendengkus kesal. "Angel dhe, dikon mrene (Susah budhe, disuruh ke sini),” ungkap pria itu. Sementara ini Dirga akan menemani ibunya, sesekali ia akan berkunjung menemui anak dan isterinya. Pria itu hanya ingin menjalani hidup bahagia. Namun, jalan kebahagiannya penuh liku dan rintangan. Malam itu setelah ibunya tertidur lelap, Dirga memutuskan untuk menenangkan pikirannya di tempat biasanya. Dia akan duduk menikmati suasana malam dengan alunan musik angklung. “Udah dari tadi, mbak?” tanyanya kepada wanita bermasker itu. “Baru sejam yang lalu, Mas.” Fairuz menangkap gelagatnya yang tak biasanya. Dirga bergeming, pandangannya hampa. Dia masih diluput kesedihan kepergian ayahnya. Kehilangan sosok yang dicintainya, sebelum ia berhasil menunjukkan bahwa ia akan mengubah jalan hidupnya. “Mas baik-baik aja, kan?” tanya Fairuz ragu. Menatap lekat pria yang sedang dirudung kesedihan itu. “Saya nggak pa-pa koq, Mbak. Saya hanya sedang menyesali, kenapa baru sekarang saya menyadari betapa besarnya pengorbanan orang tua kepada saya,” lirihnya. Dirga mengusap kasar cairan bening yang keluar dari pelupuk matanya. Fairuz merasa iba, lalu ia mengelus lembut punggung pria bertubuh kurus itu. “Yang sabar ya, Mas. Nggak ada kata terlambat untuk mengubah semua di dunia ini untuk hal yang lebih baik,” tuturnya. Pria itu memeluknya erat, sontak Fairuz terkesiap dengan kedua bola matanya yang membeliak. Dia membeku, kenapa pria ini tiba-tiba memeluknya. “Saya mau berubah, Mbak. Tapi bapak saya telah pergi selamanya hari ini,” ucap Dirga. Suaranya tercekat seraya menahan tangisnya. Aroma parfum Fairuz menyeruak menenangkannya. Lalu ia melepaskan pelukan itu karena tersadar akan ulah yang barusan ia lakukan. Sementara Fairuz masih terpaku, bibirnya sangat kelu untuk berbicara. “Maaf, Mbak. Saya terlalu lancang.” Dirga mendunduk lesu. “Ii.. Iya Mas, nggak pa-pa,” sahut Fairuz tergagap. Kedua netranya menatap jalanan yang sepi itu. Untung saja tidak ada yang melihatnya dipeluk oleh Dirga tadi. Pria yang sedang berduka itu mengutarakan niatnya akan berubah dan membahagiakan kedua orang tuanya. Dia tidak malu menceritakan semua kisah kelamnya di masa lalu. Termasuk kehidupannya bersama Vanessa. Fairuz mendengarkan semua ceritanya dengan setia. Dia tidak ingin berkomentar sebelum Dirga menanyakan sesuatu hal dan meminta pendapatnya. Malam itu Dirga sedikit lega mengeluarkan segala keluh kesahnya yang dipendam selama ini. “Mbak nggak akan menjauh, kan? Setelah tahu seperti apa saya dulu?” tanyanya. Netranya yang sendu menatap penuh harap. “Ya nggaklah, Mas. Masa lalu seseorang bukan menjadi tolak ukur bagi saya untuk berteman. Asalkan Mas Dirga bener-bener ingin berubah.” Fairuz tersenyum hangat di balik maskernya, menyemangatinya. Dirga membalas dengan senyum simpulnya. Dia bisa menyesampingkan perasaan dukanya saat ini. Wanita bermasker putih ini selalu membuatnya merasakan tentram di hatinya. “Oh ya Mas, saya punya cokelat nih. Biasanya saya makan cokelat bikin mood bahagia dan mengurangi stress,” jelasnya. Menyerahkan sebatang cokelat kepadanya. “Makasih ya, Mbak,” ucapnya. Membuka kemasan cokelat tersebut, lalu memakannya. Hampir pukul 1 malam mereka meninggalkan taman itu. Selama ini Dirga tidak pernah menghubunginya via ponsel. Mereka saling menyapa saat bertemu di kursi taman itu saja. Sampai saat ini, Dirga masih menghargai Vanessa sebagai isterinya. Tidak seperti Vanessa yang bermain di belakangnya. Dia masih saja menghubungi Rudi. Apalagi saat ia tinggal di rumah orang tuanya dan jauh dari Dirga, kebebasan berpihak kepadanya. Dia berpikir bahwa dirinya masih muda dan cantik, bisa untuk bersenang-senang walaupun ia telah memiliki keluarga kecilnya. *** Di ruang tengah itu, mereka terlihat sedang berkumpul bersama dalam kehangatan suasana keluarga. Diva menjadi objek di antara orang dewasa yang ingin mengajaknya bercengkrama. “Ness, minggu depan kamu daftar kuliah lagi, ya? Anakmu bisa dititipkan ke Papa kalo pas kamu berangkat kuliah,” titah Hartini. “Tapi Ma, aku belum punya uang. Dirga belum bisa membiayai kuliahku,” sahutnya. “Ah yang bener aja Ma, masa Nessa disuruh kuliah. Mbok izin dulu sama suaminya,” tegur Bernard. Hartini merotasikan bola matanya malas. Anak sulungnya selalu mengacaukan semua rencananya. Padahal dia berharap, Vanessa bisa menuntaskan pendidikannya. “Mama nanti yang biayai, kamu nggak perlu khawatir soal itu,” timpalnya enteng. Waluyo hanya sebagai pendengar setia di antara mereka. Apalagi isterinya itu sebagai pengambil keputusan di keluarga. Bagaimanapun penolakan tidak ada di dalam kamusnya. Hanya Bernard saja yang terkadang berani menentangnya. Pagi itu Vanessa pergi ke kampus yang ditunjuk oleh ibunya. Dia menitipkan Vanessa kepada ayahnya sementara ia berangkat ke sana. Bernard mengabari Dirga tentang rencana itu. Setelah sampai di kampus, Vanessa menuju ruang informasi pendaftaran. Dia berlari-lari kecil agar waktunya dapat dipangkas cepat. Bruukk.. Terdengar suara orang orang bertubrukan. Mereka saling bersitatap. Kedua netra wanita itu membulat sempurna, lalu menggapai uluran tangan seorang pria yang tertubruk olehnya tadi. “Makasih ya, Mas,” ucapnya. “Kamu kuliah di sini juga?” tanya pria itu. Vanessa menjelaskan tujuannya ke kampus ini. Matanya berbinar cerah mengetahui orang yang akhir-akhir ini dekat dengannya hadir di hadapannya. Dari kejauhan sepasang netra sedang mengamatinya. Segala gerak geriknya terekam di memorinya. “Besok kalo mau ke kampus lagi bilang aja sama aku. Nanti biar ku jemput ke rumah,” tawar pria tersebut. “Iya, Mas,” sahut Vanessa antusias. Tak lama berselang mereka berpisah. Wanita itu kembali ke rumahnya. Hatinya begitu bergemuruh ria saat bertemu singkat dengan pria tadi. Sepertinya faktor ketidaksengajaan sering terjadi di antara pertemuan mereka. Ya tepat sekali, pria itu adalah Rudi. Seorang pria settingan yang telah ditunjuk oleh kedua orang tuanya. Mereka adalah dalang dari semua ini. Hanya Bernard yang mengetahui rencana terselubung kedua orang tuanya. Dia sangat prihatin atas perlakuan mereka kepada Dirga. “Kamu dari kampus mana?” tanya Dirga. Sedari tadi dia sengaja menunggu isterinya itu pulang ke rumah. “Aku disuruh mama kuliah lagi,” sahutnya ketus. “Bukannya setelah menikah seorang perempuan itu harus mengikuti dan izin dulu kepada suami?” tanyanya lugas. Vanessa melengos dan berlalu di hadapannya. Sama sekali ia tidak menghargai kehadiran Dirga di rumah itu. Pria itu meninggalkan rumah itu, lalu dia menitipkan Diva kepada Waluyo. Tinggal satu kesempatan lagi ia memberikan kepada Vanessa agar ia mau berubah dan hidup bersamanya membesarkan anaknya. Selama Dirga bekerja, Vanessa pernah memarahi ibunya. Dia juga selalu menerima telepon dari Rudi. Sri baru bisa membuka suaranya setelah ia dipancing oleh putranya. Pastinya Dirga membela ibunya yang selalu berkata jujur itu. Dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk kedua kalinya sebelum ia bisa membahagiakan ibunya. Walaupun pada akhirnya ia akan menempuh jalur perpisahan dengan wanita itu. Pernikahan yang dilandasi oleh hubungan terlarang entah kenapa selalu berakhir dengan penyesalan. Masa lalunya yang kelam, menjadikannya sebagai cermin untuk dirinya sendiri. Dia tak mau lagi terjerembab kembali ke jalan yang salah. *** Kalender itu telah dipenuhi coretan tanda silang di setiap tanggalnya. Wanita berdaster itu memancarkan senyum kebahagiannya setelah menghitung waktu mundur. Tepat 3 hari lagi ia akan masuk ke kampus kuning itu. Mereka akan sering bertemu, itu saja yang ada di pikiran Vanessa. Menginjakkan kakinya di kampus adalah membuka perjalanannya menuju keinginan yang diimpikannya sejak dulu. Kepintarannya akan tersalurkan di sini. “Kamu kayaknya bahagia banget ya bisa kuliah dibandingkan mengurusi rumah tangga?” sindir Dirga. Vanessa terkesiap, tiba-tiba saja suaminya mengetahui gelagatnya dari tadi. “Aku kan masih muda dan smart, wajar aja donk kalo aku bisa menggapai masa depanku,” ungkapnya angkuh. “Kesempatanmu hanya tinggal sekali lagi, pikirkan itu!” ujar Dirga tegas. Wanita itu mengernyit bingung. “Apa maksudmu satu kesempatan lagi?” “Kamu terlalu pintar dan sombong, tapi terlalu bodoh untuk menutupi kecerobohanmu itu,” cibir Dirga seraya tersenyum miring. Pria itu meninggalkan kamar dan menemui Bernard. Dia akan menanyakan suatu hal mengenai rencana terselubung mertuanya itu. Untung saja iparnya itu tidak berpihak kepada mereka. “Jadi gimana keputusanmu, Ga?” tanya Bernard. “Cukup sekali lagi aku ngasih kesempatan,” jawab Dirga singkat. Bernard mengangguk mengerti. Dia sangat mendukung keputusan Dirga itu. Kesalahan yang berlarut-berlarut tidak baik untuk dibiarkan begitu saja. Dirga juga sudah menceritakan rencananya kepada ibunya. Harga dirinya sebagai seorang suami sudah diinjak-injak oleh Vanessa. Dia adalah kepala keluarga, namun selama ini wanita itu bertindak semena-mena kepadanya. Drrrtt.. Drrrrtt.. Vanessa membuka ponselnya yang bergetar. Senyumnya terbit di wajah cantiknya. Sementara Dirga mengamatinya di balik pintu kamar itu. “Hallo, Mas.” “_____________________________________” “Udah nggak sabar nunggu 3 hari lagi nih.” “_____________________________________” “Ok, Mas. Sampai jumpa di kampus, ya.” Wanita itu menutup ponselnya dan membekapnya di dadanya. Senyum bahagianya tak putus-putus mengembang di bibirnya. Dia tidak menyadari sedari tadi sepasang mata menatapnya tajam. Tidak sedikitpun Dirga merasa kesal dengan apa yang dilihatnya saat ini. Justru hal ini membuat keputusannya semakin bulat. Hanya waktu saja yang akan mengungkap semuanya. “Kamu di sini ternyata?” tanya Vanessa curiga. “Iya, memangnya kenapa? Ada yang salah kalo aku di sini?” timpal Dirga enteng. Sekarang wanita itu tidak sembunyi-sembunyi lagi menghubungi Rudi. Kegilaannya semakin menjadi-jadi. Keputusan berpisah dengannya semakin membulatkan niat hati Dirga. Vanessa membatin, apakah suaminya mendengarkan percakapan di antara mereka tadi. Apa memang dia sengaja mencari kesempatan agar aku terjebak dengan ulahku sendiri. Dia berpikir keras menutupi gelagat perselingkuhannya. Tapi sepertinya itu bukan hal yang sulit baginya. Suaminya mana mungkin mengikuti kemanapun ia pergi bersama pria yang dekat dengannya itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD