Sebuah toko batik yang tak jauh dari kawasan wisata Malioboro terlihat lengang. Vanessa melangkahkan kakinya masuk ke dalamnya. Dia mencari seseorang di sana.
“Eh, Nok rene (Nak, kemari)!” panggil seorang wanita paruh baya.
“Njih, bulik (Ya, tante),” sahutnya. Vanessa masuk ke dalam suatu ruangan.
Wanita paruh baya itu adalah adik dari Hartini. Di sana Vanessa dijelaskan bagaimana cara bekerja melayani pembeli yang mengunjungi toko batik tersebut. Ibunya sengaja meminta adiknya itu, agar putrinya bisa mandiri.
Vanessa kembali membaur bersama karyawan lainnya. Dia terlihat bersemangat di hari pertamanya bekerja karena terbebas dari tanggung jawabnya mengurus buah hatinya. Walaupun hanya sebagai karyawan penjaga toko, ia bisa bertemu dengan banyak orang setiap harinya.
“Permisi, Mbak. Saya mau nyari batik tulis dimana, ya?” tanya seorang pria.
“Mas Rudi?” Vanessa terbeliak.
“Kamu kerja di sini?”
“Iya Mas, baru hari ini,” jawabnya seraya menyunggingkan senyumnya.
Vanessa membantu mencarikan batik yang diminta oleh Rudi. Pria itu memilih beberapa helai kain sebagai pilihannya.
“Ness, aku cocoknya pake yang mana?” tanyanya. Memperlihatkan beberapa pilihannya kepada wanita tersebut.
“Kayaknya ini Mas, cocok dengan warna kulitmu,” sarannya.
“Ya udah, aku ambil yang ini. Apapun pilihanmu, itu adalah yang terbaik untukku.”
Mendengar ucapan pria itu yang lugas, semburat merah terlihat di wajahnya yang cantik. Vanessa menunduk dan tersipu malu. Semenjak perkenalannya di pergelaran seni lukisan itu, hubungan mereka terlihat begitu akrab.
“Ini ya Mas, terima kasih sudah berbelanja batik di toko kami,” ucapnya ramah.
“Nanti siang kamu makan dimana?” tanya Rudi.
“Belum tahu Mas, paling di sekitaran sini.”
“Kalo gitu aku jemput ya, kebetulan aku juga lagi ada acara di sekitar sini,” ajaknya.
Vanessa sangat antusias menerima ajakan pria tersebut. Rasanya ia tak sabar menunggu hingga jam makan siang menjelang.
Drrrrt.. Drrrtt..
Ponselnya bergetar hebat di saku celananya. Wanita itu menyangka bahwa Rudi telah menunggunya di luar. Betapa malasnya ia membaca nama yang tertera di layar ponselnya saat ini.
“Ono opo meneh (Ada apa lagi)?”
“----------------------”
“ Aku mau makan di sekitaran sini, sama temen-temen di sini.”
“----------------------”
Secepat kilat ia menutup panggilan itu. Vanessa mendengkus kesal, ia berusaha agar mood makan siangnya ini tidak berubah. Dia melihat jarum jam di pergelangan tangannya yang selalu berputar. Rasanya waktu begitu lambat mempertemukannya bersama Rudi kembali.
30 menit berselang, sebuah mobil silver berhenti di parkiran yang tak jauh dari toko batik tersebut. Seorang pria berkaca mata hitam turun. Langkahnya dipercepat karena ia sudah telat mejemput seorang wanita.
“Maaf, tadi ada kecelakaan di jalan. Jadi macet banget,” ucap Rudi.
“Nggak pa-pa, Mas.”
Mereka lalu meninggalkan toko tersebut. Sementara di seberang toko, sepasang netra menangkap kebersamaan mereka. Lalu bidikan camera mengarah tepat saat mereka melintas di depannya.
Sementara itu di tempat lain. Sepasang suami isteri terlihat serius sedang membicarakan sesuatu. Secangkir teh aroma melati ikut menemani kehangatan mereka.
“Jadi gimana Pa, kelanjutan ceritanya?” tanya Hartini.
“Sesuai rencana, hari ini papa kasih alamat Vanessa bekerja.” Kemudian Waluyo menyesap teh hangat itu perlahan.
Hartini manggut-manggut mengerti. Dia sudah tak sabar menanti kelanjutan dari rencananya. Mereka tidak mengetahui bahwa selama ini Bernard selalu menguping pembicaraan mereka. Pria itu masih mengumpulkan bukti-bukti agar nantinya ia bisa menyampaikan kepada Dirga.
Sore harinya, Vanessa pulang dengan segudang kebahagiaan. Dia tidak ingin ketika pulang nanti, hilang rasa bahagianya karena ulah Dirga. Untung saja suaminya itu pulang di malam hari. Setidaknya kebahagiaannya tidak sirna seketika.
Vanessa memarkirkan sepeda motornya di depan rumah sederhana itu. Sementara di samping rumah itu ada seorang ibu dan anak perempuannya. Mereka menatap rendah Vanessa dari ujung kaki ke ujung kepala. Wanita itu tidak mengidahkan pandangan mereka dan berlalu cepat.
“Ealah Mbah, mantumu mecucu. Ra tahu sumeh (menantumu cemberut. Nggak pernah senyum ramah),” cibir Sugiyem adik ipar Supardi.
Sri hanya menanggapi dengan kekehan kecil. Dia tidak menghiraukan ucapan wanita paruh baya itu. Sesama ipar, ia tidak mau mencari keributan. Berbeda dengan Sugiyem yang selalu merasa iri dengan kebahagiaan keluarga Sri.
Anak sulung adik iparnya itu juga selalu mengompori ibunya. Padahal ia masih terlalu muda untuk mencampuri urusan orang tuanya. Sedangkan suami Sugiyem, adik kandung Supardi telah meninggal dunia.
Sehari-hari Sugiyem bekerja membuka usaha warung makan kecil-kecilan di depan rumahnya. Dia mempunyai seorang anak laki-laki yang masih bersekolah di bangku sekolah menengah pertama. Sedangkan putri sulungnya menempuh pendidikan perguruan tinggi.
Merasa lebih berhasil mendidik anak, membuat Sugiyem sering merendahkan Sri yang tak mampu mendidik anak semata wayangnya itu. Namun, berbeda dengan Istuti, kakak kandung Supardi yang selalu membesarkan hatinya.
Malam itu Dirga pulang tak seperti biasanya, dia terlihat begitu gelisah dan sedih. Sri menatapnya heran?
“Ngopo koe, Le (Kenapa kamu, nak)?” tanyanya bingung.
“Buk, bapak mlebu rumah sakit. Aku dikandari bar magrib mau (Bu, bapak masuk rumah sakit. Aku dikabari habis magrib tadi),” tuturnya.
Sri terbeliak mendengar kabar suaminya itu. Dia langsung bergegas bersama putranya pergi menemui Supardi yang tengah dirawat. Belum ada satupun keluarganya yang mengetahui hal itu.
Sementara Vanessa di rumah itu bersama putrinya berdua. Dia sibuk bermessenger ria bersama Rudi. Sepertinya dia tidak perduli akan keadaan mertuanya itu.
Dokter mengatakan bahwa kondisi kesehatan Supardi sangat menurun drastis. Mereka harus melakukan pemeriksaan dalam mengenai paru-paru yang sering dikeluhkan pria paruh baya itu. Sri menunggu dengan sabar seraya berdoa agar suaminya diberi kesembuhan.
“Buk,” panggil Supardi. Menggoyang-goyangkan tangan Sri yang sedang duduk terlelap di samping pria itu berbaring.
Wanita paruh baya itu tersadar, dia mengerjap-ngerjapkan matanya. “Ono opo, Pak (Ada apa, Pak)?”
“Aku arep ngombe (Aku mau minum),” pintanya. Lalu Sri mengambil segelas air putih. Supardi meminumnya dengan bantuan sedotan.
“Buk, gantian. Biar aku yang jagain Bapak,” ujar Dirga. Sementara esok ia akan izin sehari tidak bekerja, sembari menunggu hasil pemeriksaan ayahnya.
***
Hampir setengah jam dia menunggu di depan ruangan laboratorium rumah sakit tersebut. Subuh tadi ia mengantarkan ibunya pulang karena anak mereka tidak ada yang menjaga selama Vanessa bekerja. Istuti ikut bersama Dirga untuk menemani Supardi.
“Bapak Supardi,” seru seorang perawat di depan ruang laboratorium tersebut.
Dirga langsung menemui petugas rumah sakit tersebut. “Saya anaknya, Bu.”
“Ini hasilnya ya, Pak. Nanti akan dibantu oleh dokter untuk menjelaskan hasilnya,” ujar perawat tersebut.
“Matur nuwun njih, Buk (Terima kasih ya, Bu),” ucapnya. Meninggalkan ruangan itu dan kembali ke kamar ayahnya dirawat.
Sementara di sana, sudah ada dokter yang menunggu hasil laboratorium yang dibawa oleh Dirga. Pria itu memberikan sebuah amplop cokelat kepada dokter tersebut. Kemudian petugas kesehatan itu membacanya dengan teliti. Mereka berbicara di depan kamar tersebut.
“Begini Mas, hasil laboratorium ini menjelaskan bahwa Bapak Supardi mengalami kerusakan paru-paru. Sekarang organnya tersebut tinggal sepetiganya saja yang masih berfungsi,” tururnya.
“Jadi bagaimana kesehatan bapak saya, Dok? Apa yang harus kami lakukan?” tanya Dirga cemas.
Dokter menjelaskan bahwa penyakit paru-paru yang diderita Supardi sangat kecil untuk kesembuhannya walaupun dengan jalan operasi. Dan itu sangat membutuhkan biaya yang besar. Hanya kuasa Tuhan yang mampu memberikan kesembuhan kepada ayahnya.
Supardi bekerja di pabrik tekstil. Kesehariannya ia menghirup bahan-bahan kimia selama bertahun-tahun. Tanpa disadarinya efek buruk dari bahan beracun itu kini merusak paru-parunya. Sebelumnya ia tidak pernah mengalami masalah kesehatannya.
Pihak perusahaan memberikan pesangon kepada Supardi karena dokter tidak menyarankan pria itu bekerja kembali. Hampir seminggu Supardi di rawat di rumah sakit itu. Keluarga lebih memilihnya untuk rawat jalan di rumah saja.
Sri kewalahan dengan menjaga cucu dan suaminya yang sedang sakit. Dia meminta Dirga agar Vanessa tidak bekerja lagi. Pria itu yakin bahwa Vanessa akan menolak keinginannya. Tapi ia harus bertindak tegas dengan keputusannya saat ini.
“Pokoknya aku nggak mau resign!” tolak Vanessa kesal.
“Sekali ini aja kamu bantu aku, Ness. Selama ini aku sudah menuruti semua maumu,” lirih Dirga.
“Kalo gitu, aku mau pulang ke rumah orang tuaku. Biar nanti Diva dijaga sama Papa di rumah.”
Malas menanggapi isterinya yang berkepala batu itu. Akhirnya Dirga mengambil travel bag dan memasukkan semua baju Vanessa asal. “Sana pergi kamu, nggak usah bawa Diva. Aku masih bisa ngurus!”
Dirga lalu keluar dari kamar itu membawa putrinya. Sementara Vanessa terpaksa menuruti kemauan Dirga. Apa kata orang tuanya seandainya dia pulang tanpa anak dan suaminya. Besok dia akan berhenti bekerja dan menjaga Diva di rumah.
Pernikahan mereka selalu diwarnai kericuhan. Hal ini membuat Dirga selalu bersikap dingin kepada isterinya. Ditambah lagi dengan Vanessa yang tak mau merubah jati dirinya. Karena bayi mereka masih terlalu kecil menerima keadaan keluarganya yang tak utuh. Akhirnya pria itu berusaha untuk mempertahankan rumah tangganya yang tak sehat itu.
Setahun kemudian..
Penyakit yang diderita Supardi semakin bertambah buruk. Kini ia tidak bisa melakukan aktifitas ringan seperti biasanya. Dia hanya terbaring lemas di atas dipan. Sesekali ia merasakan sakit yang teramat di dadanya.
“Buk ... Buk..” panggilnya dengan suara yang lemah.
“Nggih, Pak,” jawab Sri. Membantu suaminya duduk dengan memberikan sandaran bantal. Dia menatap iba suaminya itu.
“Aku arep adhus (Aku mau mandi),” pintanya.
Isterinya itu lalu menyiapkan air hangat dan kursi kecil. Lalu ia membopong lengan suaminya, berjalan perlahan mengantarkannya ke dalam kamar mandi. Biasanya Supardi membersihkan dirinya sendiri.
Setelahnya, Sri membantu memakaikan pakaian suaminya. Lalu ia akan kembali membersihkan kamar mandi itu. Terlihat begitu bersinar wajah sang suami setelah mandi sore ini. Senyum kagum terbit di wajahnya tanpa ditutup-tutupinya lagi.
“Tak tinggal sik yo, Pak (Saya tinggal dulu ya, Pak),” pamitnya diikuti anggukan Supardi.
Sudah seminggu ini Vanessa pulang ke rumah orang tuanya. Dia diminta oleh ibunya karena sesuatu hal. Dirga belum tahu maksud dari kepulangannya ke sana. Yang ia tahu, Hartini hanya merindukan cucunya saja.
Sementara Dirga masih tinggal bersama kedua orang tuanya. Pria itu tidak mungkin meninggalkan ibunya sendiri mengurusi ayahnya yang sedang sakit-sakitan. Sepulang kerja ia akan bergantian dengan ibunya menjaga Supardi.
Alunan suara azan magrib menggema di setiap sudut perkampungan bule. Sri mengambil wudhu di samping sumur tua itu. Gemercik air membasahi wajahnya yang sudah dipenuhi kerutan-kerutan kasar.
Wanita paruh baya itu tersenyum hangat melihat suaminya tertidur dengan lelap. Dia menggelar sejadahnya tepat di samping dipan itu. Kemudian ia akan menghadap dan memanjatkan doa yang tak putus untuk suaminya tercinta kepada Sang Khaliq.
“Pak, maem sik yo (Pak, makan dulu ya),” ajak Sri dengan suaranya yang lembut. Sudah tiga kali ia memanggil suaminya itu seraya ia melipat sejadah dan mukenah tersebut.
Wanita paruh baya itu mengernyit, biasanya Supardi langsung merespon panggilannya cepat dengan suaranya yang lemah. Sri mengelus wajah suaminya itu lembut, sesekali ia mengguncang-guncangkan badan Supardi pelan sembari memanggilnya. Namun, tidak ada sahutan sedikitpun.
Perasaan kalut kini menghantuinya setelah ia menyadari wajah dan seluruh anggota tubuh Supardi begitu dingin. Wajahnya juga terlihat semakin memucat. Sri keluar memanggil Istuti di sebelah rumahnya untuk memastikan apakah suaminya itu baik-baik saja.
Tak lama Istuti dan suaminya memeriksa keadaan Supardi. Mereka terkesiap saat mengetahui denyut jantung adiknya tak lagi berdetak. Tangisan Istuti yang tak bisa lagi dibendung kini tercurah semua. Sri memeluk pria itu erat dengan linangan air mata yang mengalir deras di sela-sela pipinya.