Senja menjelang, Waluyo dan Vanessa meninggalkan acara pagelaran lukisan itu. Sedangkan Hartini telah sampai di rumah sebelum mereka tiba. Dia sudah tidak sabar menanti kedatangan suami dan anaknya itu.
Akhirnya, mereka sampai juga di rumah bercat hijau itu. Vanessa langsung membersihkan dirinya, namun tidak dengan Waluyo, ia masih duduk santai di ruang keluarga. Hartinipun mendekatinya.
“Piye, Mas (Gimana, Mas)?” tanya Hartini penasaran.
“Bocahe iseh pendekatan (Anaknya masih pendekatan),” timpal Waluyo enteng.
“Tapi Vanessa mau, kan Mas. Kenalan sama dia?” cecarnya lagi.
Sepasang rungu sedang menguping pembicaraan mereka di balik dinding dapur. Dia mencium gelagat aneh kedua orang tuanya. Sementara ini ia hanya bisa diam mengamati kelanjutan dari rencana terselubung mereka.
“Jadi sementara gitu aja dulu, selanjutnya nanti kita adakan lagi pertemuan selanjutnya,” tambah Waluyo. Hartini mengangguk setuju, senyum merekahnya terbit tanpa ditutup-tutupinya lagi.
***
Keadaan gerai barbershop mulai agak senggang. Dirga duduk di meja kasir sambil mengatur pecahan uang kembalian. Seseorang membuka pintu kaca tersebut, kemudian menghampirinya.
“Wah, udah lama nggak ketemu ya, Mas Dirga?” sapa customer tersebut. Pria itu menyalami pria bertubuh kurus tinggi itu.
“Pak Mario, gimana kabarnya?” sambutnya ramah. Dia mempersilahkan duduk pria bertubuh gempal itu.
“Nomer ponselmu berapa, Mas? Jadi saya gampang kalo mau ke sini nanya antriannya,” tanya Mario.
Dirga lalu memberikan nomernya kepada pelanggan barbershop tersebut. Mario adalah salah satu rekan bisnis Panca sekaligus pelanggan loyal barbershop itu. Pria itu juga menyukai kinerja dari Dirga yang selalu ramah dan memprioritaskan customer.
“Wah, saya itu abis ngisi pulsa. Terus blas hilang kesedot internet. Langsung saya ke gerai providernya, untung ada mbaknya yang baik nawarin paket internet. Padahal udah saya komplain, rada ketus lagi,” ungkapnya seraya terkekeh geli.
“Saya juga tadi pagi habis ke sana, Pak. Kartu saya patah, sama mbaknya juga tadi dihandle,” tambah Dirga.
“Mbaknya itu kalo dilihat nggak bosenin, pinter providernya nyari karyawan bikin hati customer adem,” jelas Mario seraya terkekeh kecil.
Dirgapun ikut terkekeh geli. Diakui olehnya bahwa Fairuz adalah customer service yang memiliki pembawaan pribadi yang tenang. Sehingga amarah pelanggan mampu diredam dengan senyumannya.
Setelah jam tutup gerai, malam ini Dirga memutuskan untuk pulang langsung ke rumah. Dia ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh isterinya ketika ia pulang malam ini tepat waktu.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikum salam,” jawab Bernard.
“Film opo ee, Bro (Film apa nih, Bro)?” tanya Dirga. Duduk di samping kakak iparnya itu.
“Action ketoke, iki gek mulai (Film laga kayaknya, ini juga baru mulai)” sahutnya. Dirga pamit meninggalkannya ke dalam kamar.
Dia melihat Vanessa sedang mesem-mesem sendiri sembari membaca pesan di dalam aplikasi messengernya. Melihat kehadiran Dirga bukannya ia menyambutnya, tapi malah tetap sibuk dengan ponselnya sendiri.
“Nanti setelah kamu lahiran, kamu tinggal di rumahku!” titah Dirga tegas.
Kedua netra Vanessa membeliak. “Apa, aku nggak mau!”
“Mau nggak mau, kamu itu harus ikut suami. Sampai kapan kamu bisa mandiri kalau seperti itu,” ujar Dirga.
Vanessa malas berdebat dengan Dirga membuat moodnya semakin buruk. Dia hanya mencebikkan bibirnya kesal. Dirgapun enggan berlama-lama bersama wanita itu, lebih baik ia menikmati tontonan film action bersama Bernard di ruang keluarga.
2 bulan kemudian..
Matahari di ufuk barat perlahan mulai tenggelam. Pria berkulit sawo matang itu melajukan kecepatan motornya tinggi membelah jalanan menuju ke sebuah tempat. Terlihat ia begitu lihai menyalib beberapa kendaraan di jalanan yang padat merayap itu.
Akhirnya ia sampai juga di sebuah rumah sakit. Seharusnya Vanessa melahirkan diperkirakan dua minggu lagi. Namun, karena ia terlalu banyak beraktifitas di luar rumah membuatnya sering mengalami kontraksi.
Dirga berkali-kali sudah menasehatinya untuk menjaga kondisi kehamilannya. Vanessa tidak pernah mengindahkannya dan selalu bertindak sesuka hatinya. Semenjak ia berkenalan dengan seorang pria di pagelaran seniman waktu itu, ia semakin terlihat acuh kepada suaminya.
“Selamat sore, Mbak. Saya bisa tahu ruang pasien yang akan melahirkan sekarang dimana?” tanya Dirga dengan nafas yang masih terengah-engah.
“Nanti Bapak lurus aja dari sini, terus belok kiri mentok. Nanti di sana ada ruang Anggrek 3, nggih Pak,” jelas perawat yang sedang berjaga itu.
Dirga mengangguk mengerti, kemudian ia menyusuri lorong rumah sakit yang ditunjuk tersebut. Sampai di sana ia melihat, kedua mertuanya sedang menunggu dengan kecemasan.
“Saya boleh masuk, nggak Bu?” tanyanya cemas.
“Coba tanya dulu sama bidan yang jaga itu!” sarannya. Kemudian Dirga langsung menanyakan kepada mereka.
Setelahnya, ia diizinkan masuk oleh bidan tersebut. Salah satu dari mereka mengantarkan Dirga ke dalam. Di sana terlihat Vanessa sedang mengerang kesakitan. Dirga menggenggam tangannya memberinya kekuatan.
“Ayo Bu, atur nafasnya. Saya bilang siap, ibuk langsung mengejan ya!” titah sang bidan yang menanganinya.
“Aduuuuhh, sakit Mas,” rintihnya kencang.
“Kamu yang sabar, kamu pasti kuat. Ayo aku bantu!” Dirga menyemangati isterinya itu.
“Ayo, siap Bu. Mengenjan ya, mulai!” Bidan itu memberikan aba-aba kepadanya.
Masih belum maksimal untuk mengeluarkan bayinya. Vanessa mengatur nafasnya kembali seraya meremas tangan Dirga.
“Ayo sekali lagi, siap ya Bu. Mengenjan, mulai!” Bidan itu memberikan instruksi kembali kepada Vanessa.
Vanessa mengejan sekuat tenaga. Tak lama terdengar suara tangisan suara bayi perempuan yang menggelarkan seisi ruangan tersebut. Hanya melakukan dua kali mengejan, ia berhasil mendorong bayinya keluar dari dalam rahimnya.
Tangis bahagia dan haru memecahkan ketegangan di antara mereka. Kini Vanessa sedang ditangani oleh bidan tersebut. Dirga menunggunya di luar. Sedangkan bayi mereka sedang dimandikan oleh bidan lainnya. Waluyo dan Hartini tersenyum bahagia memeluk Dirga.
Memang benar kata pak ustad saat di pengajian kemarin. Wanita yang hamil di luar ikatan pernikahan, tidak sesulit wanita yang menjaga kehormatannya saat melahirkan. Semua itu sudah digariskan dari Tuhan. Ada di antara mereka yang bisa melahirkan sendiri di kamar mandi, dimanapun tempatnya karena keadaan yang memaksa. Cerita itu membuat Dirga merinding membayangkannya.
Ini akan menjadi pelajaran hidupnya. Dia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama seandainya itu terjadi lagi pada keturunannya kelak. Walaupun kata masyarakat, hukum itu akan berlaku hingga tujuh turunannya.
Dirga mencari kamar mandi untuk membasuh wajahnya, setelahnya ia merasa sesuatu yang perih di kedua lengannya. Ternyata di lengannya penuh luka cakaran dari Vanessa saat mengejan tadi. Kenapa ia tidak memotong kukunya saat hamil, bukannya itu tidak baik untuk kesehatannya sendiri, pikirnya.
Waluyo dan Hartini menunggu Dirga di ruang persalinan itu. Mereka ingin menanyakan permintaan menantunya itu untuk memboyong anaknya ke rumah mertuanya.
“Ga, kamu punya rencana mau membawa dan anakmu ke rumah orang tuamu?” tanya Waluyo.
“Nggih, Pak. Biar mereka juga mengenal dengan keluarga saya di sana,” tuturnya. Sebenarnya alasan utamanya adalah ingin mendidik Vanessa menjadi lebih mandiri.
“Ya sudah nggak pa-pa, nanti setelah umur bayimu 3 bulanan ya,” sarannya. Dirga manggut-manggut setuju.
“Oh ya Ga, nama bayi ini Diva Anggraeni Putri. Kamu nggak perlu repot-repot ngasih nama. Sudah ibu siapin,” ujar Hartini.
Dirga hanya menatapnya datar dan tidak menanggapi ucapan sang mertua. Sampai-sampai nama anaknya saja semua diatur oleh mertuanya. Ke depannya pasti mereka akan lebih memonopoli semua keputusan urusan rumah tangganya.
Seorang bidan membawa seorang bayi perempuan mungil ke tengah-tengah mereka. Vanessa lalu menggendongnya. Bidan tersebut mengajarinya pendekatan kepada bayinya.
Namun, Vanessa tidak bisa memberikan asi ekslusif karena ia tidak pernah melakukan sama sekali persiapan selama kehamilan. Kurangnya edukasi selama menjalani kehamilan membuat ia mengambil jalan singkat untuk memberikan s**u formula sebagai gantinya.
“Dicoba dulu ya Bu, nanti kami berikan vitamin pelancar asi. Kasihan bayinya Bu, asi adalah yang terbaik. Nanti kami bantu kembali apabila vitaminnya belum bekerja maksimal,” tawar bidan tersebut.
Sudah 2 jam bayi itu tertidur lelap, kemudian Dirga mengingatkan Vanessa untuk membangunkan bayi mereka dan menyusuinya kembali. Pria itu hanya mengikuti arahan dari bidan yang menangani isterinya tersebut.
“Apaan sih Mas, bangunin orang tidur,” protesnya kesal.
“Tapi kamu harus nyusuin dulu Diva, kasihan bayinya nanti dehidrasi!” ujarnya khawatir.
“Bikinin s**u, kan bisa. Jangan ganggu aku tidur!” omel Vanessa. Dirga mendengkus kesal, melihat perangai isterinya itu.
Padahal bidan sudah mewanti-wanti agar diberikan asi terlebih dulu. Karena itu adalah makanan dan minuman terbaik dari Tuhan. Dirga tidak bisa berbuat apa-apa, ia khawatir kalau sampai bayinya dehidrasi. Akhirnya ia memberikan s**u formula.
Dua travel bag berukuran sedang itu telah berjejer rapi di teras rumah bernuansa hijau itu. Semenjak semalam wajah Vanessa masih menekuk kesal dibuat oleh suaminya. Hari ini mereka akan tinggal di rumah orang tua Dirga.
“Kami pamit ya Pak, Bu. Kami akan ke sini dua minggu sekali,” tutur Dirga. Dia menyalami mertuanya tersebut.
“Jaga diri baik-baik ya, Nessa,” pesan Hartini kepada putrinya.
Sepanjang perjalanan, Vanessa bergeming. Dirga tidak perduli lagi dengan sikap isterinya itu. Dia ingin mendidik isterinya agar lebih berpikir dewasa dan menghilangkan keegoisannya.
Sesampai di rumah orang tua Dirga, mereka di sambut oleh Sri dan Supardi dengan bahagia. Walaupun rumah mereka lebih sederhana dibandingkan rumahnya, tapi di sini ia tidak akan kesepian. Istutipun ikut menyambut kedatangan mereka dengan ramah.
“Kenalkan, saya budhenya Dirga, Istuti.” menjabat tangan Vanessa.
“Njih, Budhe.”
Dirga tidak mengetahui rencana isterinya beberapa hari lagi. Tentunya Vanessa akan mencari jalannya sendiri agar bisa menikmati hari-harinya setelah. Dia akan melakukan segala cara agar bisa terlepas dari tanggung jawabnya sebagai seorang ibu.
“Sini biar Diva, ibu yang gendong!” Sri mengambil bayi mungil itu dari dekapan Dirga. Supardipun ikut menyapa cucunya itu.
Sementara Vanessa menyusun baju-baju mereka ke dalam lemari. Dirga ikut membantunya juga.
“Tiga hari lagi, aku mau kerja di toko bulikkku,” ujar Vanessa datar.
Dirga mengernyit mendengar ucapan isterinya itu. Baru saja pindah ke sini, tapi malah ia akan meninggalkan anak mereka. “Terus yang jagain Diva sapa?”
“Ya kan ada ibumu. Dititipin sama mbahnya sendiri bukannya lebih aman?” sahutnya enteng.
“Aku nggak habis pikir sama kamu. Aku ngajak kamu ke sini, biar kamu terlatih jadi seorang ibu yang baik, Nessa. Bukan kamu harus lari dari tanggung jawabmu,” protes Dirga tegas.
Vanessa merotasikan kedua bola mata bosan. “Tapi aku masih muda. Aku mau kerja juga.”
“Tapi aku masih sanggup menghidupi keluarga kita. Ingat aku ini kepala keluarga, kamu harus nurut apa saranku!”
“Sudah bersyukur aku ikut kamu ke sini. Sekarang giliranku mau kerja, jangan kamu larang-larang lagi!” titahnya.
Dirga meremas rambutnya kasar. Kesabarannya sudah mulai berkurang menghadapi wanita yang keras kepala ini. Dia meninggalkannya, lebih baik ia menemui kedua orang tuanya yang sedang bermain dengan putrinya.
“Buk, aku jaluk tulung. Dino Senen, bojoku arep kerjo. Aku arep nitipke anakku, tulung jagake yo, Buk (Bu, aku minta tolong. Hari Senin, isteriku mau kerja. Aku mau menitipkan anakku, tolong jagain ya, Bu), pintanya.
“Yoh, mengko tak jagake (Ya, nanti ku jagakan),” sahut Sri. Supardi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya heran, ia tidak mengerti maksud menantunya itu yang tidak mau mengurus anaknya sendiri.
Selagi suami sanggup menafkahi keluarganya, kenapa seorang isteri ngoyo menyibukkan diri di luar. Bukannya seorang ibu itu adalah guru sekaligus sekolah terbaik untuk anak-anaknya di rumah, batin Supardi.
Sri menangkap mimik wajah suaminya datar. Sesuatu ada yang membebani pikirannya. Pastinya tentang keputusan menantunya itu. Sempat tadi Istuti berbisik kepada Sri bahwa menantunya itu kurang sumeh (senyum ramah) saat awal kedatangannya tadi.