harus membiayai kuliah ratu

1028 Words
“Maaf Bu, tadi dagangannya tidak habis jadi jasmine memberikannya pada anak di pinggir jalan tapi hanya beberapa saja bu," lirih jasmine dengan wajah tertunduk. Mendengar hal itu wajah asma semakin memerah, “Apa hah, kamu membagikannya? kamu kira kamu itu orang kaya yang seenaknya berbagi seperti itu, heh jasmine kita itu miskin jangan banyak gaya," maki asma dengan lantang. Tubuh jasmine bergetar hebat sambil menahan tangis, “Tapi bu, jika di paksakan untuk di jual orang-orang juga tidak mau karena sudah dingin," tuturnya memberikan alasan. “Halah emang dasarnya kamu itu pemalas, ingat ya besok kamu harus bawa lebih banyak dari sini dan harus habis kalau tidak jangan harap kamu boleh pulang." “Tapi bu besok jasmine harus bertemu keluarga mas bagas," jawabnya. Emosi asma mendadak turun ketika mendengar hal itu, tapi masih dengan gaya angkuhnya dia menjawab, “Mau apa? bahas mahar?" Jasmine mengangguk kecil, “Mungkin bu," jawabnya sekenanya. “Yasudah, tapi ingat seperti yang pernah kita bicarakan kamu harus minta emas 100 gram, uang 100 juta, mobil, rumah, perkebunan dan juga usaha buat bapak sama ibu, ingat kamu itu dokter mereka harus kasih mahar yang banyak buat kamu." Jasmine tertunduk lesu, bahkan untuk mengingat semua itu rasanya otak jasmine benar-benar tidak sanggup, dia begitu malu jika harus mengatakan hal itu pada keluarga bagas. sebenarnya jasmine hanya ingin pernikahan sederhana saja, tapi kedua orang tuanya menginginkan pernikahan yang mewah. “Udah masuk sana," teriak asma. Jasmine berlalu meninggalkan asma menuju kamarnya, namun sebelum dia tiba di depan tempat ternyaman itu asma berpapasan dengan sang ayah yang tampak kelelahan. “Ayah, apa ayah sakit?" Agung yang di tanya oleh sang putri hanya acuh tanpa menoleh sedikitpun, hal ini sudah biasa terjadi entah apa yang terjadi pada agung tapi dia benar-benar mengacuhkan jasmine bahkan terkesan tidak perduli pada anaknya itu. Jasmine menarik nafas dalam, tidak ada waktu untuk berdebat lebih baik dia istirahat agar besok tidak terlambat untuk bertemu dengan keluarga bagas. ********************************************** Jam 04.30 jasmine bangun dari tidurnya, sudah menjadi kebiasaannya bangun lebih awal dari penghuni rumah untuk melaksanakan tugasnya. Jasmine lekas mandi dan bersiap untuk sholat, sembari menunggu azan berkumandang terlebih dahulu jasmine mengaji seperti kebiasaannya setiap pagi. Setelah selesai dengan kewajibannya sebagai seorang muslim kini jasmine menuju dapur untuk memasak, membersihkan rumah dan juga mencuci pakaian. Menu makanan sederhana terhidang begitu rapi di atas meja, kini waktu sudah menunjukkan pukul 08.00 itu artinya sebentar lagi sang ayah bersama ibu dan juga adiknya akan turun. “Pagi," Teriak Ratu dari depan kamarnya sambil berlari ke arah ayah dan ibu yang tengah berjalan menuju meja makan. “Wahh anak ayah, cantik sekali ada agenda apa hari ini?" tanya agung begitu lembut sambil mengusap rambut sabg putri. Pemandangan itu tak terlepas dari pandangan jasmine, dia mencoba mengacuhkan hal itu tapi sama sekali tidak bisa. Asma yang menyadari sang anak tiri tengah cemburu hanya tersenyum senang, baginya hanya putrinya yang berhak atas perhatian agung. meskipun jasmine dan ratu memiliki darah yang sama karena satu ayah tapi asma menganggap jika jasmine adalah masa lalu yang seharusnya tidak perlu bersama mereka. “Sudah ayo kita makan," tutur agung sambil merangkul pundak putrinya itu. Jasmine dengan cekatan langsung memberikan piring kepada ketiga orang itu, kemudian setelah semuanya mengambil makanan kini giliran jasmine yang mengambil sarapan paginya. “Apa benar kamu mau bertemu keluarga bagas?" Mendengar pertanyaan tiba-tiba dari sang ayah jasmine tampak tersenyum lebar, “Iya ayah, kemarin mas bagas mengatakan jika keluarganya ingin membicarakan sesuatu soal pernikahan kami." Agung mengangguk sambil menyuap makanannya, “Baguslah, kamu tidak lupa kan mahar apa yang harus kamu minta? ingat jasmine kamu itu anak pertama kamu harus menanggung kehidupan orang tua dan juga adikmu, jangan ingin bahagia sendiri kamu tidak boleh egois dan tamak." Mendengar hal itu jasmine tertunduk, sedih mendengar ucapan sang ayah, apa ayahnya menganggap bahwa pernikahan ini adalah ladang mencari harta bagi seorang wanita? “Apa itu tidak terlalu berlebihan ayah?" tutur jasmine sambil menatap ayahnya itu. Agung langsung memberikan tatapan mautnya pada jasmine, “Kamu membantah?" seperti biasa ucapan sakral itu keluar itu artinya jasmine sudah tidak punya kuasa untuk menolak. “Sudahlah jasmine, ayah dan ibu seperti ini juga demi kebaikan kamu dan keluarga kita, lagipula sebentar lagi ratu akan lulus SMA dan dia ingin masuk kedokteran, tentu itu membutuhkan biaya besar ayah dan ibu tidak lagi mampu untuk mencari biaya sebesar itu, jadi ibu mohon kamu harus mengusahakan emas, uang, mobil, kebun dan usaha untuk ayah dan ibu itu ya." Mendengar hal itu jasmine langsung bangkit, “Apa kalian sekarang sedang memerasku?" ujar jasmine menatap ketiga orang yang ada di depannya. Agung tampak melotot mendengar pertanyaan itu, “Kamu mulai tidak sopan jasmine, siapa yang mengajarimu seperti itu?" “Kalian, kalian yang mengajariku bersikap kurang ajar seperti ini. apa kalian sudah lupa, jika aku bisa kuliah karena usahaku sendiri, aku berjuang mencari beasiswa hanya untuk cita-citaku yang tinggi tanpa menyusahkan kalian." “Lalu dengan entengnya kalian memintaku memberikan biaya besar bagi ratu, apa itu adil? aku sudah mengalah untuk mencari beasiswa demi agar ratu bisa masuk ke sekolah internasional, apa itu kurang?" Agung, asma dan juga ratu terdiam mendengar hal itu, mereka tidak menyangka jika jasmine akan berontak. Asma melirik ke arah suaminya, dia tidak akan membiarkan jasmine lepas dan tidak menuruti keinginannya, “Ayah lihatlah jasmine, apa seperti ini didikan calon dokter? apa jasmine boleh seperti itu pada saudaranya, padahal jika hidupnya kesulitan suatu saat nanti hanya Saudaranya yang menolongnya." “Cukup bu, jangan memperkeruh suasana disini aku tidak setuju atas permintaan kalian berlakulah adil pada anak, agar suatu saat nanti anak juga mengingat siapa orang tuanya." Jasmine mendorong kursinya dan langsung meninggalkan ketiga orang itu dengan tatapan geram, seperti siap menerkamnya hidup-hidup. “Ayah lihatlah jasmine şemakin berani, apa karena jasmine dan ratu tidak lahir dari rahim yang sama sampai jasmine bersikap seperti itu dan tidak mau menolong saudaranya? padahal mereka berdua adalah saudara seayah, hiks hiks." “Berhenti kamu jasmine, atau ayah akan hukum kamu." Kaki jasmine langsung berhenti, tanpa takut dia langsung memutar tubuhnya menatap berani ke arah sang ayah. “Apa di situasi seperti ini ayah tidak bisa membelaku walau hanya sekedar menasehati istri ayah itu?" “Jasmine jangan kurang ajar kamu." Plak!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD