Tubuh Jasmine bergetar hebat, air matanya menetes membasahi pipi, “Ayah menamparku?" lirihnya tidak percaya dengan apa yang terjadi.
Agung terdiam, dia menatap tangannya yang sudah menampar putrinya itu, sedangkan di belakang sana ada dua orang wanita yang tersenyum puas melihat apa yang terjadi.
“Jasmine," panggil sang ayah lirih.
Jasmine langsung memutar tubuhnya, sakit hatinya pada sang ayah semakin besar sekarang. Tidak adanya keadilan dalam rumah begitu jasmine rasakan, bahkan jasmine kini telah lupa bagaimana rasanya usapan lembut penuh cinta dari seorang ayah.
Jasmine mengusap pipinya dengan kasar, tidak ada gunanya menangis lebih baik dia segera mencari taxi dan berangkat menuju rumah bagas.
Setelah mendapatkan taxi jasmine segera bergerak menuju rumah bagas, jantungnya berdegub kencang hingga membuat tangannya bergetar.
“Ada apa ini, kenapa aku seperti merasa tidak nyaman?" gumam jasmine sembari menatap ke luar jendela.
Jasmine terus berusaha untuk menenangkan hatinya, dia berfikir mungkin hal itu terjadi karena pertengkarannya tadi yang membuat suasana hatinya semakin tidak baik.
Setelah 30 menit perjalanan akhirnya jasmine tiba di kediaman bagas, rumah itu tampak sederhana persis seperti keadaan rumah jasmine. namun hari ini ada yang berbeda begitu banyak mobil yang terparkir disana, apa mungkin itu keluarga besar bagas yang ingin berkenalan dengannya?
Kaki Jasmine mendadak kelu dan lemas seketika, Jasmine berusaha menenangkan hatinya sembari menarik nafas secara perlahan.
Sudah merasa sedikit tenang, dengan langkah mantap jasmine segera berjalan masuk ke pekarangan rumah.
“Assalamu'alaikum," ucap Jasmine dari luar rumah.
Tidak lama berselang, seorang wanita paruh baya yang selama ini jasmine tahu sebagai ibu dari bagas menyambut kedatangannya.
“Oalah calon mantu, ayo masuk-masuk," Ibu bagas segera merangkul Jasmine dan membawanya ke ruang keluarga.
Sesuai prediksi Jasmine ternyata begitu banyak kerabat bagas yang hadir disana, dan dari penampilan mereka terlihat seperti kalangan sosialita.
“Nah ini dia Jasmine calon menantuku, gimana cantik kan? dia ini sudah coas loh dan sebentar lagi akan jadi dokter," bangganya.
Para kerabat bagas itu terlihat tersenyum, “Cocok to jika masuk keluarga kita, jadi Nak Jasmine kamu akan kasih apa untuk calon mertuamu ini? jangan lupa lo kami ini juga bude kamu orang tua bagas juga jadi kamu juga harus kasih buat kita."
Kening Jasmine berkerut sempurna, “Maaf bude, maksudnya bagaimana ya ini?" tuturnya sambil melirik semua orang yang ada disana.
“Loh astuti, kamu belum kasih tahu gimana tradisi di keluarga kita? kasih tahu toh biar Jasmine ini tahu," ujar seorang wanita yang sibuk mengipasi wajahnya yang full make up.
Ibu Astuti langsung menggenggam tangan Jasmine dengan erat, “Jadi nak Jasmine di dalam keluarga kami itu ada tradisi, dimana jika ada yang ingin menikah dengan bagian keluarga kami maka dia harus memberikan seserahan."
Wajah Jasmine mendadak pias mendengar ucapan Astuti, “Seserahan? maksudnya Jasmine yang memberikan seserahan?"
Astuti mengangguk dengan semangat, “Iya nak, tidak banyak kok ibu cuma minta mobil, perhiasan dan uang tunai 50 juta."
Deg!
“Ta - tapi bu kan Jasmine ini pihak wanita yang seharusnya menerima seserahan," tutur Jasmine mencoba mengingatkan.
Astuti langsung melepas genggaman tangannya dari Jasmine, “Jadi kamu tidak mau menuruti keinginan ibu?" ujarnya tampak marah.
Jasmine menunduk, “Bukankah seharusnya pihak pria yang memberikan semua itu bu?"
Bu astuti memutar bola matanya malas sambil melipat kedua tangannya di depan d**a, “Kamu lihat semua saudara ibu, apa mereka terlihat seperti wanita biasa?"
Jasmine mengikuti arah pandang bu astuti, “Lihat kan cuma ibu yang disini berpakaian seadanya, karena apa? karena anak ibu belum menikah, harusnya kamu mengerti jika ingin menikah dengan anak ibu harusnya kamu siap dong dengan semua permintaan ibu," celotehnya.
Jasmine menarik nafasnya dalam, “Maaf Bu, Jasmine tidak bisa, Jasmine tidak memiliki uang lagipula bukankah pernikahan itu untuk ibadah bukan ranah untuk bisnis? sepertinya Jasmine perlu berbicara langsung dengan mas bagas."
“Tidak," jawab Astuti tegas.
“Jika kamu tidak mau menuruti keinginan ibu itu artinya kamu menolak menikah dengan bagas," ancamnya sambil tersenyum menyeringai.
“Apa itu tidak berlebihan bu? saya dan mas bagas sudah lama menjalin hubungan, saya yakin mas bagas tidak akan setuju dengan rencana ibu."
“Sudahlah Astuti jangan di paksa, biar nanti aku carikan bagas itu wanita kaya agar bisa memberimu mobil, emas dan uang. jangan memaksa wanita kere ini, dia tidak layak masuk ke dalam keluarga kita."
Bu astuti mengangguk, “Benar mbak, aku juga ogah mana ada sekarang seorang ibu yang mau melepas anaknya dengan wanita miskin seperti dia," hinanya.
Jasmine menggeleng samar, sungguh kejutan yang dia dapatkan hari ini benar-benar tidak pernah terpikirkan olehnya. tradisi apa yang sebenarnya tengah mereka jalankan, bukankah itu bertolak belakang dengan kepercayaan mereka?
“Dengar ya Jasmine, di dalam keluarga kami tidak ada yang boleh mengeluarkan uang sepeserpun jika ingin menikah. baik itu anak laki-laki atau perempuan, semua itu harus di tanggung oleh pihak calon menantu dan keluarganya."
Gila, benar-benar gila itulah definisi yang sesuai untuk kluarga bagas. mereka menjadikan pernikahan sebagai ladang bisnis untuk memperkaya diri mereka sendiri.
“Sudah mending kamu pulang saja, gara-gara kamu waktu kami tersita banyak, dasar wanita kere," hina wanita bermake-up dempul itu dan di angguki tawa renyah dari beberapa orang lainnya termasuk bu astuti.
“Saya ingin bicara dengan mas bagas bu," tegas Jasmine.
“Tidak ada, bagas sudah setuju dengan semua ini dan bagas menyerahkan semua keputusan pada ibu dan sekarang ibu sudah memutuskan bahwa kamu dan bagas tidak akan menikah. ibu akan mencari wanita lebih baik daripada kamu untuknya."
Inikah yang bagas katakan kemarin? ternyata perjalanan kisah cinta selama bertahun-tahun hanya menjadi hikmah saja untuk Jasmine. Bagas lebih setuju dengan usulan keluarganya daripada memperjuangkan hubungan mereka.
Jasmine mengangguk, “Baiklah buk, Jasmine pamit," Jasmine berusaha meraih tangan astuti untuk menciumnya, namun dengan cepat astuti langsung menarik tangannya dengan kasar.
“Tidak perlu salam, kamu pasti bawa penyakit dari rumah sakit."
Huh, Jasmine berusaha tidak tersulut emosi mendengar hal itu, dia segera gegas keluar dari sana menuju pintu.
“Dan satu lagi jangan hubungi bagas, awas kamu," ancam bu astuti sambil menutup pintu dengan keras.
Brak.!
Air mata Jasmine akhirnya kembali luruh, kenyataan yang dia hadapi begitu pahit. padahal dia begitu mengharapkan pernikahannya dan bagas agar bisa keluar dari rumah ayahnya.