Di grebek

1006 Words
Lama pria itu menatap Jasmine hingga akhirnya dia berjalan ke arah lemarinya dan mencari sesuatu yang ada disana. “Kenapa tidak ada satupun baju yang mendekati tema wanita? semuanya hitam," keluhnya. Mau tidak mau pria itu mengambil salah satu kemejanya dan berjalan ke dekat Jasmine yang masih pingsan. Pria itu mulai membuka kancing baju Jasmine dengan cara menyatukan semua kancing baju itu di dalam jarinya, kemudian melepaskannya satu-persatu dengan mata tertutup. Setelah Selesai pria itu kembali mengalami kesulitan, yaitu melepaskan baju itu dari tubuh Jasmine. Dengan ide yang ada pria itu lantas membalikkan tubuh Jasmine hingga posisinya terlungkup. “Huh akhirnya," Gumamnya sambil mengambil pakaian ganti dan mulai memakainya dari bagian kepala. Kembali lagi pria itu menutup matanya saat mulai menarik kemeja Jasmine dari tubuhnya, hingga akhirnya pria itu berhasil mengenakan pakaian itu dengan sempurna. Tok Tok! Pria itu terkejut bukan main mendengar gedoran, padahal sudah ada bel pintu yang tersedia tapi kenapa masih ada yang menggedor seperti itu. Pria itu langsung berjalan mendekat ke arah pintu, dan saat dia membuka pintu itu, “Ceklek!" “Angkat tangan atau aku akan menembakmu sekarang," ancam seseorang yang tiba-tiba menodongkan pistol ke arahnya. Demi keamanan pria itu langsung mengangkat tangannya dan kooperatif pada orang asing itu. Dua orang asing itu langsung menerobos masuk dan melihat seorang wanita yang tampak tidak berdaya di atas ranjang, terlebih dengan wajah yang sembab dan memar membuat mereka mencurigai pria itu. “Apa ini misi yang sudah berhasil kau taklukkan Aarav?" tanya mereka. Pria itu menggeleng, “Aku menolongnya dan membawanya ke sini," jawabnya dengan jujur. “Lalu kau melecehkannya begitu?" ujar mereka kembali sambil melihat kemeja Jasmine yang tergeletak disana. Aarav menggeleng tegas, “Tidak, jangan mengada-ngada bahkan sama sekali aku tidak melihat tubuhnya," bela aarav. Kedua pria itu tampak tersenyum miring mendengarnya, “Bagaimana jika kita laporkan ini, agar seluruh isi batalion tahu bagaimana kelakuan pria yang tampak alim ini." Aarav tampak bingung, “Apa yang ingin kalian laporkan? aku tidak melakukan apapun, jangan fitnah." Tanpa perduli ucapan Aarav kedua pria itu langsung menghubungi seseorang, dan tanpa di duga mereka menceritakan hal yang bahkan Aarav tidak lakukan. “Lapor komandan, kami sekarang bersama Aarav, dan sesuai dugaan komandan Aarav telah melarikan seorang wanita dan juga melakukan tindak kekerasan dan juga pelecehan terhadapnya." Mendengar hal itu Aarav langsung maju dan merebut handphone itu, “Izin komandan, apa yang di sampaikan oleh Jimmy tidaklah benar, saya hanya menolong wanita ini dari para preman dan membawanya ke apartemen, tidak lebih daripada itu." Jimmy langsung mendorong Aarav, “Kau berbohong Aarav, jangan berkilah kami melihat sendiri jika kau telah melakukan sesuatu pada wanita ini di luar tadi. kami mengikutimu sejak tadi Aarav!" ”Kau berbohong Jimmy," teriak Aarav. Jimmy kembali mengambil handphone itu dan kembali berbicara pada komandan tersebut, “Apa komandan akan diam saja, Aarav telah membuat citra yang buruk dia harus menerima hukumannya." “Berikan Handphone ini padanya." Jimmy memberikan handphone itu pada Aarav yang tampak emosi padanya, ”Aarav nikahi wanita itu, jangan membantah atau kamu akan mendapatkan sanksi tegas untuk perbuatanmu ini." Aarav terdiam sejenak, “tapi saya tidak mengenalnya komandan, pernikahan bukanlah hal yang mudah, kami harus pengajuan seperti pasangan lain." ”Untuk saat ini menikahlah dulu, hanya ini cara agar Jimmy tidak semakin menekanmu Aarav," ujar komandan. Mau tidak mau akhirnya Aarav menyetujui hal itu, “Baiklah komandan," jawabnya sekenanya dengan nada tenang. Setelah sambungan telepon di matikan Aarav segera melemparkan handphone itu pada Jimmy, “Silahkan pergi dari sini, urusan kalian sudah selesai," usirnya. Jimmy tersenyum puas, kali ini Aarav tidak bisa mengelak dan itu menjadi kepuasan tersendiri bagi Jimmy karena sudah berhasil membuat Aarav terjebak. Jimmy melirik ke arah Jasmine, “Seleramu rendah sekali hanya seorang pemulung tapi itu layak untukmu," ujar Jimmy tersenyum puas sambil memasukkan pistolnya ke dalam saku. Jimmy berjalan mendekat ke arah Aarav, “Baiklah Aarav, besok pagi kau harus segera menikahi wanita itu kau tidak lupa kan?" Aarav ingin sekali meninju wajah Jimmy dengan kencang sampai membuat pria itu bisa diam, tapi Aarav harus bisa menahan diri karena Jimmy adalah pria manipulatif yang suka mengadu domba. Puk puk puk Jimmy memukul d**a Aarav, “Baiklah beristirahatlah calon pengantin, bye!" Jimmy dan rekannya itu meninggalkan Aarav yang tampak emosi, “Akhhh aku akan balas kau Jimmy!" teriak Aarav memenuhi isi ruangan. Aarav menatap tubuh Jasmine yang masih dalam posisi yang sama, karena kekesalannya Aarav mencoba membangunkan Jasmine. “Hey bangun, bangun kau masih bernafas kan?" tuturnya sambil menepuk pelan pipi Jasmine. “Akhh sakit tolong jangan pukul saya," lirih Jasmine dengan nada ketakutan sambil menutup wajahnya. Mendengar hal itu Aarav merasa tidak tega, dan menghentikan tepukan kecil itu seketika. Aarav lekas berjalan ke arah toilet dan mengambil air untuk membersihkan wajah Jasmine. “Maaf ya mungkin ini akan sedikit perih, karena aku harus membersihkan luka dan wajahmu," ujar Aarav meminta izin. Jasmine yang belum sadar sepenuhnya itu hanya terdiam, kemudian Aarav segera membersihkan wajah dan tubuh Jasmine dengan pelan. Setelah selesai Aarav segera memberikan obat merah pada wajah Jasmine, hanya itu yang dapat dia berikan karena kurangnya p3k yang ada di dalam apartemennya. Setelah selesai Aarav lekas menyelimuti tubuh Jasmine agar dia bisa tidur dengan nyaman, Aarav menatap wajah Jasmine dengan lekat ternyata cantik pikirnya. ********************************************* Pagi menjelang, peristiwa semalam ternyata bukanlah guyonan semata, beberapa orang yang sudah di tugaskan oleh sang komandan mendatangi apartemen Aarav. “Dimana calon pengantinnya?" Aarav melirik dengan ekor matanya, “Bangunkan dia," titahnya. Aarav segera berjalan mendekat ke arah Jasmine, “Hey bisakah kamu bangun sekarang?" ujar Aarav menepuk pelan tangan Jasmine. Jasmine membuka matanya dengan pelan, pemandangan pertama yang dia lihat adalah wajah Aarav, “Aaaaa tolong," teriak Jasmine sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. “Hey jangan takut aku bukan orang jahat, ayo segeralah bangun," tuturnya. Jasmine membuka selimut dengan pelan dan menatap ke sekeliling ruangan, ternyata begitu banyak orang yang ada disana. “Lihatlah wanita itu ketakutan, pasti Aarav telah melakukan sesuatu padanya." Jasmine menatap wajah Aarav yang tampak memerah, “Maaf ini ada apa," lirih Jasmine. “Sudah cepat kalian harus menikah sekarang."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD