“Apa menikah? tolong ini pasti ada kesalahan pahaman kami tidak saling mengenal," tutur Jasmine berusaha membela diri dari tatapan intimidasi orang-orang yang ada disana.
Jimmy langsung berjalan mendekati Jasmine, dan meneliti setiap inci wajahnya yang tampak cantik dan mulus itu, “Kenapa wanitanya berbeda," gumamnya.
Melihat Jimmy yang menatap Jasmine seperti itu, Aarav langsung maju dan menarik Jimmy dengan kuat, “Jangan ganggu dia Jimmy," tegas Aarav dengan mata tajamnya.
Jimmy tersenyum sinis, “Kau menukar wanita ini bukan?"
Semua orang-orang disana terlihat syok mendengar hal itu, bahkan utusan sang komandan pun ikut bingung mendengar ucapan Jimmy.
“Apa lagi yang kau rencanakan Jimmy? wanita ini adalah wanita yang semalam bersamaku, kau jangan menuduh yang tidak-tidak," Geram Aarav.
Melihat perdebatan itu Jasmine langsung ikut berbicara, “Sebenarnya ada apa ini tuan, saya tidak mengenal satu pun di antara kalian dan saya pun heran kenapa saya ada disini."
“Hey mengaku saja, kau di suruh oleh Aarav untuk menggantikan wanita pemulung semalam kan?" tudingnya.
Jasmine heran mendengar hal itu, “Sudahlah tuan saya tidak tahu apapun, sekarang saya ingin pulang," tegas Jasmine sambil hendak turun dari ranjang.
Jimmy dengan cepat langsung menghadang Jasmine dan menarik tangannya, “Kau tidak boleh kemanapun nona, tunjukkan dimana wanita pemulung itu baru kau boleh keluar dari tempat ini," ujarnya sambil mengintimidasi Jasmine.
“Lepaskan saya, lepas!" teriak Jasmine sambil berusaha melepaskan tarikan pada tangannya.
Jimmy berusaha menarik Jasmine untuk ikut bersamanya, entah apa sebenarnya niat pria itu tapi dia benar-benar ingin membuktikan bahwa jasmine bukanlah wanita semalam yang dia lihat.
Melihat jasmine yang kesakitan seketika Aarav tersulut emosi, “Berhenti Jimmy berhenti!" teriaknya sambil menarik kerah baju Jimmy.
“Jika kau tidak percaya dia adalah wanita yang semalam kau lihat, silahkan cek CCTV apakah aku membawa wanita lain selain dirinya ke dalam apartemen ini."
Jimmy tampak kesal mendengar hal itu, “Kau licik Aarav," Bisiknya.
“Lepaskan dia atau aku akan mencekik mu sekarang juga," ancam Aarav dengan nada serius.
Jimmy akhirnya melepaskan Jasmine dengan wajah gusar, sedangkan penghulu langsung meminta Jasmine dan juga Aarav bersiap karena mereka harus di nikahkan saat itu juga.
“Silahkan bersiap, kalian harus segera menikah, dan tolong tuan Aarav berikan maharnya, karena bagaimana pun itu adalah salah satu syarat."
Aarav tampak kebingungan mendengar hal itu, tentu dia tidak mempersiapkan apapun karena ini di luar kendalinya.
“Saya hanya punya mobil, apakah ini boleh?"
“Bagaimana nona apa kamu menerimanya?"
Jasmine menggeleng, “Saya tidak mau menikah pak, tolong percaya pada saya kami tidak melakukan apapun sungguh."
Penghulu itu menarik nafasnya dalam, “Semua orang akan mengaku seperti nona saat sudah di tangkap, jadi tolong percepat dan apakah anda siap menerima mobil itu sebagai mahar pernikahan anda?"
Jasmine menatap ke arah Aarav yang tampak biasa saja, dalam batinnya bertanya apakah Aarav tidak ingin membatalkan pernikahan itu?
“Tapi pak saya masih memiliki wali bagaimana mungkin kami akan menikah tanpa persetujuan mereka."
“Ini darurat nona, sebelum ini menjadi berita tranding lebih baik sekarang kalian menikah urusan orang tua nona itu bisa kalian selesaikan secera kekeluargaan, terlebih kalian nanti akan menikah ulang agar bisa mendapatkan buku nikah."
Mendengar hal itu pupus sudah harapan Jasmine, dia tidak lagi bisa menolak akhirnya mau tidak mau dia harus mengiyakan mobil itu sebagai maharnya.
“Saya terima nikah dan kawinnya Jasmine binti Agung Dengan mas kawin sebuah mobil di bayar tunai."
“Bagaimana para saksi?"
“Şah!"
Jasmine segera mencium tangan Aarav dengan takzim sedangkan Aarav langsung memegang ubun-ubun Jasmine dan membacakan doa disana. meskipun ini bukanlah keinginan mereka tapi Aarav tetap melakukan kewajiban itu sebagaimana mestinya.
“Sudah sekarang kalian sudah şah menjadi suami istri silahkan dilanjutkan aktivitasnya saya pamit dulu," ujar sang penghulu pamit undur diri.
Sepeninggal sang penghulu kini hanya ada Aarav, Jasmine, Jimmy, utusan komandan dan beberapa orang lainnya yang tadi menyaksikan pernikahan Aarav.
“Baiklah Aarav nanti segera bawa istrimu untuk pengajuan, ingat Aarav jangan mempermainkan pernikahan saya pamit dulu. Mari nyonya Aarav," sapanya pada Jasmine yang tampak kikuk itu.
Semua orang yang ada disana memberikan selamat kepada Aarav karena selama ini hanya Aarav lah yang masih melajang, sedangkan mereka sudah menikah bahkan memiliki anak.
“Selamat ya bro akhirnya soldout juga," ujarnya pada Aarav sambil memeluk pria bertubuh tegap itu.
Aarav tersenyum kecil, kemudian kembali menyambut ucapan selamat dari rekan yang lain.
“Gile bro, sekali nikah langsung sama bidadari cihuy, gue kira si Jimmy serius lu mau nikah sama pemulung," kelakarnya.
Jimmy tampak melirik ke arah Jasmine yang hanya terdiam di samping Aarav, dalam hatinya dia mengakui bagaimana kecantikan nyonya Aarav itu tapi emosinya juga bergejolak karena gagal membuat Aarav menikah dengan seorang pemulung.
Jimmy langsung bangkit dari duduknya, dia menghampiri Jasmine dan mengucapkan selamat padanya, “Selamat ya sudah menjadi Nyonya Aarav."
Aarav dan beberapa orang lainnya langsung melirik ke arah Jimmy, “Jika nanti ada sesuatu kamu boleh menghubungi saya" ujarnya menawarkan diri.
Jasmine mengangguk, “Terimakasih tuan," jawabnya singkat dan hanya di angguki oleh Jimmy.
Jimmy beralih pada Aarav kemudian menjabat tangan Aarav sembari berbisik kecil, “Urusan kita belum selesai, tapi sepertinya istrimu cukup menarik."
Aarav tersenyum sinis, “Berhentilah mengusik, karena kali ini kau sudah cukup kalah."
Jimmy tersenyum sinis dan langsung pergi meninggalkan mereka yang ada disana, mereka cukup paham bagaimana persaingan antara Aarav dan Jimmy. sebenarnya bukan persaingan tapi Jimmy kerap kali cemburu atas pencapaian Aarav dan juga pujian komandan terhadapnya.
“Kalau begitu kami juga pamit Aarav, selamat bersenang-senang," ujar mereka.
Aarav mengantarkan beberapa orang itu hingga ke depan pintu, setelah kepergian para rekannya itu kini tinggallah Aarav dan juga Jasmine disana.
“Kenapa menunduk seperti itu?" tanya Aarav pada Jasmine.
Aarav berjalan ke arah ranjang dan lekas merebahkan tubuhnya disana, “Hey kau mendengarku?"
Jasmine mengangkat wajahnya hingga mata mereka saling tatap beberapa detik, “Maaf tuan," ujarnya kembali menunduk.
Aarav menarik nafas berat kemudian menepuk ranjang di sebelahnya,” Kemarilah," pintanya.
Jasmine langsung menggeleng cepat, tentu pikirannya langsung berkelana entah kemana.
“Kenapa, apa kau takut?"
Jasmine mengangguk, “Maaf tuan ini adalah kesalahan, kita bisa langsung berpisah sekarang."