Aarav tersenyum kecut, “Apa kamu menganggap bahwa ini adalah candaan?"
Jasmine menggeleng, “Tapi saya sudah mempunyai calon suami tuan," lirihnya.
Mendengar hal itu Aarav langsung bangkit dari posisinya dan duduk dengan tegak, “Kamu serius? tapi yasudah lah sekarang kamu sudah menjadi istriku," jawabnya dengan enteng.
Jasmine langsung menatap wajah Aarav dengan masam, “Tuan tidak bisa begitu, sudahlah ayo kita berpisah sebelum kita şah di nikahkan," ujarnya.
“Sayangnya tidak bisa, siapa namamu aku lupa?"
“Jasmine," jawabnya.
“Ya sayangnya tidak bisa Jasmine, kita tidak bisa berpisah karena prinsipku hanya sekali aku boleh menjabat tangan seorang penghulu."
Jasmine langsung menutup wajahnya dan menangis, “Tolong tuan mengerti keadaan saya. sungguh jika anda melepaskan saya itu adalah satu keberuntungan untuk anda tuan."
Aarav bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Jasmine, “Apa kamu sedang ada masalah keluarga?" ujarnya lembut.
Jasmine menggeleng, dia enggan menceritakan masalah keluarganya pada Aarav karena baginya Aarav masih orang lain.
“Yasudah kalau begitu pertemukan aku dengan keluargamu Jasmine, biar aku menjelaskan semuanya pada mereka."
Jasmine menggeleng, “Tidak perlu, aku tidak ingin pulang ke rumah."
Kini Aarav tampak bingung dengan sikap Jasmine, “Kenapa, apa ada sesuatu? cerita saja jika memang kamu membutuhkan seorang pendengar aku siap."
Jasmine bangkit dan berjalan ke arah balkon kamar, semilir angin menerbangkan rambutnya membuatnya tampak semakin cantik.
Aarav menyusulnya dari belakang, senyuman tipis terlukis di bibirnya, cantik itulah kata yang pantas untuk mendeskripsikannya.
“Bolehkah aku tinggal disini untuk sementara waktu?"
Aarav dengan cepat mengangguk, “Tentu ini sudah menjadi rumah mu bukan?" ujarnya.
Jasmine melirik ke arah Aarav, “Apa tuan tidak khawatir, bisa saja aku seorang wanita yang jahat dan bisa merugikanmu suatu saat."
Aarav menggeleng, “Kurasa kamu bukan wanita seperti itu Jasmine, sudahlah jangan berfikir lebih jauh kalau memang kamu belum siap mempertemukanku dengan keluargamu yasudah, aku akan menunggu."
Jasmine melirik tubuhnya yang sudah berganti pakaian, “Apa kamu yang mengganti pakaianku?"
Aarav mengangguk, ”Tapi tenang saja aku tidak melihat apapun, aku menggantinya dengan mata tertutup," jawab aarav.
Jasmine mengangguk, untuk apa dia mempertanyakan hal seperti itu Aarav kini sudah menjadi suaminya dan sudah berhak atas dirinya. namun jika di tanya siap atau tidak maka Jasmine belum siap.
Jasmine tiba-tiba mengingat sesuatu, “Apa kamu melihat handphoneku?"
Aarav kebingungan, “Sepertinya tidak, saat aku menyelamatkanmu semalam kamu tidak membawa apapun."
Jasmine kembali teringat dengan kejadian semalam, mulai dari aksinya yang hendak bunuh diri dan juga bertemu preman.
“Hah, apa kamu pria yang menyelamatkanku di jembatan?"
Aarav mengangguk, “Kamu sangat depresi ya sampai mengambil jalan pintas seperti itu?"
“Terlalu rumit untuk di ceritakan," jawabnya singkat sambil menutup kedua matanya.
Lagi-lagi Aarav tersenyum melihat Jasmine, dia belum mengakui bahwa dia sudah mencintai Jasmine namun tidak dipungkiri dia sudah menerima Jasmine dalam hidupnya.
Jasmine melirik ke arah Aarav yang terdiam melihatnya, “Apa ada sesuatu?"
“Aah tidak," kikuk Aarav karena malu kepergok menatap Jasmine.
Jasmine mengangguk kecil, “Aku harus pergi sekarang, aku akan pulang malam nanti."
“Kemana, apa kamu bekerja?"
Jasmine menggeleng, “Tidak aku belum bekerja."
“Lalu?"
Jasmine seperti enggan menceritakan kegiatannya pada Aarav dia langsung berlalu begitu saja dari hadapan pria itu.
Aarav yang notabenenya seorang pria yang kepo kembali mengekori Jasmine, ”Hey jawab dulu kamu mau kemana, jangan bilang ingin menemui pacarmu ya, tidak boleh sekarang kalian sudah putus."
Jasmine terheran, “Putus?" ulang jasmine dan di angguli oleh Aarav.
Aarav melipat kedua tangannya di depan d**a, “Kamu sekarang itu istriku jadi sepenuhnya aku bisa melarangmu kan? jadi kamu tidak boleh lagi bertemu dengan pria manapun itu, oke?"
Jasmine menarik nafas berat, baru saja menikah sudah di atur sedemikian rupa padahal kenal saja tidak.
“Iya iya," jawabnya.
Jasmine melirik ke sekelilingnya, “Apa kamu punya kemeja dan celana? aku butuh pakaian itu."
Aarav langsung mendekat ke arah lemarinya dan mencari apa yang dibutuhkan istrinya itu.
“Ini," Aarav menyerahkan celana hitam dan juga kemeja putih pada Jasmine.
Jasmine menelisik pakaian itu dengan menggantungnya di udara, “Ini terlalu besar untukku," ujarnya sambil menurunkan pakaian itu.
Aarav tampak berfikir, “Yasudah ayo kita beli saja di depan ada toko pakaian."
Jasmine dengan cepat menggeleng, “Tidak perlu mungkin aku bisa meminjam handphonemu untuk menghubungi seseorang," pinta Jasmine.
Aarav mengeluarkan handphonenya dan memberikan handphone itu pada Jasmine, namun sebelum handphone itu di ambil oleh jasmine terlebih dahulu Aarav menegurnya.
“Tidak untuk menghubungi laki-laki lain."
Jasmine mengangguk, tujuannya yaitu menghubungi risa tentu saja untuk meminjam pakaian. setidaknya meskipun tubuh mereka berbeda tapi tidak sebesar Aarav.
Jasmine membuka log panggilan namun dia baru menyadari bahwa tidak mengingat nomor handphone risa, ”Akh kacau sekali," gumamnya.
Aarav yang melihat Jasmine seperti itu paham, “Sudahlah ayo kita beli bajunya, jangan khawatir soal uang aku memilikinya."
Mau tidak mau Jasmine menuruti daripada dia tidak bisa berangkat ke rumah sakit, dan berakhir mendapatkan skorsing nanti.
Aarav dan Jasmine turun ke lantai utama, Orang-orang yang ramai disana melihat aneh pada mereka. mungkin karena Jasmine baru terlihat disana, sedangkan Aarav adalah orang yang cukup humble dan terkenal disana jadi tidak heran banyak yang mengenalnya.
Saat berada di pinggir jalan dengan sigap Aarav langsung menggenggam tangan Jasmine, dan hal itu membuat Jasmine kaget. karena selama dia berpacaran dengan bagas pria itu tidak pernah sekalipun bersikap romantis padanya.
Aarav membawa Jasmine masuk ke dalam toko pakaian, dan kembali lagi pandangan orang-orang tampak menelisik dan menatap aneh pada Jasmine, terlebih seorang wanita yang tampak kesal mungkin karena Aarav seorang pria tampan.
”Ayo pilih yang mana kamu suka," ujar Aarav.
Jasmine melirik ke arah karyawan toko, “Mbak saya butuh kemeja dan juga celana hitam," ujar Jasmine.
Karyawan itu tampak enggan melayani Jasmine, semuanya tampak berwajah masam.
“Ini," ujarnya memberikan beberapa pilihan kemeja dan juga celana hitam.
Jasmine meneliti kemeja dan juga celana hitam itu, dari bahan tentunya itu cukup mahal.
“Bagaimana cocok?" tanya Aarav.
Jasmine menggeleng, “Kita ke tempat lain saja."
Aarav kebingungan, “Kenapa, ini bagus lihatlah," Aarav mencoba menempelkan pakaian itu pada tubuh Jasmine.
“Cantik," ujar Aarav.