Manisnya Aarav

1011 Words
“Apa?" Ulang Jasmine, sembari menajamkan pendengarannya. Aarav menggeleng, “Aku mengatakan bajunya cantik," ujarnya. Jasmine mengangguk, “Tapi mungkin kita ke tempat yang lain saja," pintanya. Aarav menggeleng, “Ini yang sudah di coba tolong di bungkus ya, oh yang ini juga," Aarav mengambil satu set pakaian yang sejak tadi menarik perhatiannya. Karyawan toko itu mengangguk dan segera menyiapkan belanjaan Milik Jasmine. “Itu terlalu banyak," lirih Jasmine karena merasa tidak enak pada Aarav yang membeli semua itu terlebih harganya lumayan mahal. Aarav tersenyum, “Tidak masalah, ayo kita langsung pulang kamu juga ada kegiatan lain kan setelah ini?" Jasmine mengangguk, dan mengikuti langkah Aarav keluar dari butik itu. Tentunya tujuan mereka adalah apartemen, namun sebelum mereka menyebrang fokus aarav teralih pada sesuatu. “Sepertinya kita makan dulu," ujar Aarav. Jasmine menggeleng, “Sepertinya tidak perlu tuan, aku harus segera berangkat," tolak Jasmine karena dia terbiasa tidak sarapan pagi, terlebih dia bisa saja terlambat karena jarak menuju ke rumah sakit lumayan jauh dari sana. Aarav tampak tidak suka dengan jawaban Jasmine, “Apa kamu takut aku meminta bayaran? tenang saja aku tidak seperti itu, ayolah makan dulu setelah itu kamu bisa bersiap dan lekas berangkat." Lagi-lagi Jasmine menggeleng, “Tidak perlu tuan, aku benar-benar harus segera bersiap dan berangkat, eumm apa boleh aku menumpang berganti pakaian di apartemen?" ujar Jasmine dengan wajah menunduk. “Kenapa harus izin?" Aarav mengeluarkan access card dan memberikannya pada Jasmine, “Ini naik saja, kamu tahu kan lantai berapa?" Jasmine mengangguk, “Terimakasih ya," Jasmine segera menyebrang dan meninggalkan Aarav yang menatapnya dari posisinya, seulas senyuman tipis tergambar di wajahnya entahlah Aarav merasa senang saja melihat wanita yang baru ditemuinya itu. Aarav berjalan menuju ke arah Restoran, tadinya dia berniat untuk sekedar lebih dekat dengan Jasmine dengan mengajaknya sarapan bersama. namun karena Jasmine yang sedang buru-buru Aarav berinisiatif untuk membeli sarapan untuk istri dadakannya itu. Aarav duduk di salah satu meja di sudut restoran, tempat favoritnya ketika sedang melepas lelah. pegawai restoran lantas mendekati Aarav dengan senyuman manis di wajahnya. “Permisi tuan ini buku menunya," Tuturnya sambil sedikit mencondongkan tubuhnya yang berpakaian ketat dan terbuka itu. Aarav sama sekali hanya menatap buku menu, pikirannya menerawang jauh memikirkan bagaimana selera Jasmine. Akhirnya karena tidak ingin terlalu lama Aarav akhirnya memesan, bubur, sushi, dan juga spaghetti. “Itu saja tuan?" Aarav mengangguk, “Saya minta tolong cepat ya, istri saya sudah menunggu." Mendengar hal itu pegawai restoran tampak terkejut, “Anda sudah menikah?" ujarnya tampak syok. Aarav mengangguk, “Dipercepat ya!" ucap Aarav lagi. Wanita itu langsung pergi dari hadapan Aarav dengan wajah masam, padahal selama ini dia berusaha mendekati Aarav dengan selalu melayaninya ketika makan disana. dia begitu tertarik dengan aarav yang tampan itu, terlebih sikapnya yang cuek membuat kesan tersendiri untuk para kaum hawa. Setelah menyelesaikan pesanan Aarav wanita itu langsung memberikannya pada Aarav tentunya dengan wajah masam, “Ini tuan pesanan anda." Aarav mengangguk dan memperlihatkan layar ponselnya yang tertera nominal pembayaran dengan Qris. Aarav langsung meninggalkan wanita yang tengah patah hati itu, Aarav tahu wanita itu sebenarnya menyukainya tapi Aarav tidak suka dengan wanita itu tentu karena alasan tadi, terlalu berpakaian terbuka. Aarav mempercepat langkahnya menuju apartemen, setelah menaiki lift dan hampir mendekati unitnya. Jasmine keluar dengan wajah yang segar. “Kamu sudah selesai?" Ujar Aarav saat melihat Jasmine menutup pintu. “Eh iya tuan, ini access cardnya," Jasmine mengembalikan kartu itu pada Aarav dan Aarav menerimanya. “Pulang jam berapa?" “Eumm mungkin 11 atau 12 malam tuan." “Kamu bekerja sebagai apa, kenapa pulang larut begitu apa tidak boleh lebih cepat saja pulangnya?" Jasmine menatap wajah Aarav yang terkesan kesal itu, “Tidak bisa tuan, tapi tenang saja saya nanti akan pulang ke rumah orang tua saya. saya tidak akan menggangu tuan." “Apa? jadi kamu mau meninggalkan saya, apa kamu lupa kita sudah menikah? ayo biar saya yang antar kamu bekerja saya ingin tahu kamu bekerja sebagai apa." Jasmine menggeleng, “Tidak perlu tuan saya bisa pergi sendiri, " Jasmine melirik ke arah jam tangannya, “Astaga sudah hampir jam 1 siang," paniknya. Jasmine langsung berlari, “Saya berangkat tuan terimakasih atas bantuannya!" teriak jasmine sambil berlalu. Dia sudah memutuskan untuk tidak melanjutkan pernikahan itu, dia merasakan pernikahannya tidaklah dapat dikatakan şah secara agama. apalagi dia tidak mendapatkan restu apapun dari orang tuanya, baginya itu adalah kesalahan dan dia akan memperbaiki semuanya mulai dari pulang ke rumahnya malam ini. Mendengar hal itu Aarav tidak Terima, “Enak saja, dia pikir pernikahan adalah permainan kamu tidak akan terlepas dariku Jasmine apapun yang sudah menjadi milikku tidak akan pernah aku lepaskan." Aarav langsung menyusul Jasmine ke bawah, ternyata wanita itu sudah menaiki Taxi, melihat hal itu Aarav tidak mau kehilangan jejak dia berlari masuk ke alam mobilnya dan melaju dengan cepat mengikuti Jasmine. Mobil Aarav berhasil berada tepat di belakang taxi yang di tumpangi jasmine, untungnya Jasmine belum tahu bagaimana mobil Aarav jadi dia tidak perlu menjaga jarak. Taxi yang di tumpangi Jasmine memasuki daerah rumah sakit, dan Jasmine turun di parkiran khusus kendaraan pasien dan umum. Terlihat beberapa perawat menyapa Jasmine sambil tersenyum, terlebih para perawat laki-laki. “Kenapa mereka tersenyum seperti itu? dasar buaya tidak bisa lihat wanita cantik saja," kesal Aarav. Aarav memarkirkan mobilnya tidak jauh dari sana kemudian mengikuti Jasmine dari jarak 10 meter. “Sebenarnya bekerja sebagai apa wanita itu?" gumam Aarav. Jasmine masuk ke ruang IGD dan di sana terlihat Jasmine langsung memakai Jas putihnya dan bersiap memeriksa pasiennya. “Dia dokter? Jasmine dokter?" Gumam Aarav. Tidak mau mengganggu Aktivitas sang istri Aarav akhirnya memilih menunggunya di luar mungkin jika nanti Jasmine sedang tidak sibuk dia bisa memberikan makanan tadi, ya meskipun sudah lewat jam sarapan. Lama Aarav menunggu akhirnya yang dia tunggu tiba, Jasmine tampak duduk sambil memijit kaki dan juga lehernya kelelahan tentunya. “Hay, maaf mengganggu ibu dokter." Mendengar suara itu Jasmine dan beberapa rekan medis lainnya tampak mengalihkan pandangan pada pria yang tiba-tiba saja berada di depan mereka. “Tuan Aarav," lirih Jasmine dan di sambut senyuman manis dari Aarav. “Ini makanannya, di makan ya aku tunggu di luar oke?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD