Para rekan medis terpaku melihat hal itu, seorang laki-laki tampan bertubuh tegap, berhidung mancung menyapa dokter koas mereka yang selama ini terkenal cuek pada pria? apa ini tidak mengejutkan?
Risa yang tadi juga melihat hal itu lantas langsung menyenggol Jasmine, “Siapa?"
Jasmine menggeleng, “Hanya teman," jawabnya dan di angguki oleh Risa, karena dia mengira bahwa Jasmine tidak mungkin mengkhianati bagas karena wanita itu sudah terlalu bucin tentunya.
“Kok aku hubungi gak bisa, kamu ada masalah di rumah?"
Jasmine menarik nafasnya berat, “Aku sudah tidak bersama bagas risa," lirih Jasmine sambil menyeka sudut matanya.
“Hah," Risa menarik tubuh Jasmine agar menatap ke arahnya, “Kamu serius? akhirnya, akhirnya temanku ini terbebas dari mokondo itu," teriak Risa kegirangan.
Mata Jasmine semakin berembun, “Risa," lirihnya.
Risa yang melihat hal itu langsung sadar dengan kebodohannya, dia segera memeluk Jasmine, “Maaf ya Jasmine, aku hanya terbawa suasana," ucapnya penuh penyesalan.
Risa menatap Jasmine, “Sekarang ceritakan padaku, kenapa kalian bisa putus?"
Jasmine menggeleng, “Kita sebaiknya ke taman saja, tidak enak di lihat yang lain."
Risa mengangguk dan segera bangkit dari duduknya dan melangkah pergi bersama Jasmine menuju taman.
Sedangkan Aarav yang melihat Jasmine pergi dari sana justru mengikuti istrinya itu, dia bagai seorang anak kecil yang takut kehilangan ibunya di tengah keramaian.
Sesampainya di taman Jasmine langsung menangis begitu saja sambil memeluk Risa, membuat Aarav yang berada tidak jauh di belakang mereka keheranan.
“Kenapa dia menangis?" gumam Aarav.
Aarav akhirnya memutuskan untuk memberi jarak dari Jasmine dan Risa, namun tetap bisa mendengarkan percakapan keduanya.
Risa berusaha menenangkan Jasmine, “Menangislah Jasmine, aku tahu pasti ini berat untukmu."
Jasmine menarik nafasnya, “Entahlah Risa rasanya hidupku sudah tidak lagi berarti karena ini, aku begitu berharap dengan pernikahan ini aku bisa keluar dari rumah ayah. tapi ternyata semuanya di luar dugaan."
Risa bingung, “Ada apa? apa Bagas melakukan sesuatu?" tanya Risa penasaran.
Jasmine menggeleng, “Lebih tepatnya ibunya Risa, mereka memintaku untuk memberikan mobil, uang dan juga perhiasan sebagai seserahan pernikahan."
Mendengar hal itu bukan hanya Risa yang terkejut, Aarav pun juga terkejut.
“Maksudmu keluarga bagas meminta itu sebagai mahar begitu?"
Jasmine mengangguk, “Di dalam keluarga mereka siapapun yang akan menikah tidak di perbolehkan mengeluarkan modal sedikitpun, meskipun pihak mereka adalah seorang laki-laki. karena bagi mereka memberikan semua kebutuhan pernikahan berikut mahar itu adalah urusan calon besan."
Mendengar hal itu Risa mengelus dadanya, ternyata sifat mokondo milik Bagas menurun dari keluarganya. pantas saja selama ini untuk makan saja bagas masih mengharapkan Jasmine.
“Lalu sekarang bagaimana?" tanya Risa.
Jasmine menunduk, “Apa kamu tahu Risa? sebelum aku bertemu keluarga Bagas ayah dan ibu sudah lebih dulu mengingatkanku tentang mahar yang harus diberikan bagas. dan itu semua begitu besar Risa."
Risa merangkul pundak Jasmine, “Apa ini hasutan ibu tirimu Jasmine?"
Jasmine mengangguk, “Tentu Risa, Dia menginginkan jika Ratu kuliah kedokteran dan semua itu harus di tanggung olehku dengan cara meminta mahar yang besar pada bagas. ayah dan ibu menganggap itu adalah tanggung jawabku sebagai seorang kakak, padahal aku rela berjualan rela mengambil beasiswa hanya demi karena Ratu bisa sekolah di internasional school."
Mendengar hal itu Aarav tampak kecewa, ternyata hal itulah yang menyebabkan Jasmine hendak bunuh diri, mungkin Jasmine begitu berat menerima tekanan dari orang sekitarnya.
Risa menyeka sudut mata Jasmine, “Aku paham perasaanmu, bagaimana jika kamu tinggal saja di rumahku? tidak masalah yang penting kamu tenang."
Mata Jasmine berkaca-kaca mendengar hal itu, “Terimakasih Risa, tapi aku akan pulang ke rumah aku akan menjelaskan semuanya semoga saja mereka mengerti."
“Aku tidak yakin orang tuamu akan mengerti Jasmine, bisa saja ayahmu akan berbuat nekat pada bagas karena keluarganya telah semena-mena terhadapmu."
Jasmine menunduk, benar apa yang dikatakan oleh Risa bagaimana pun tidak mungkin dia membiarkan ayahnya melakukan hal buruk pada bagas. meskipun dia kecewa rasa cinta itu masih ada.
“Lalu bagaimana, aku tidak mungkin terus berbohong Risa, ayah dan ibu pasti terus bertanya apalagi Ratu akan kuliah tentu dia membutuhkan biaya."
Jasmine dan Risa sama-sama terdiam mendengar hal itu, biaya kuliah kesehatan tidaklah sedikit terlebih untuk seorang dokter. begitu banyak orang yang berhasil kuliah namun tidak selesai hanya karena biaya ataupun kesanggupan mereka dalam belajar.
“Kenapa Ratu tidak mencoba beasiswa saja," usul Risa.
Jasmine menggeleng dan menatap ke arah langit, “Itu adalah hal yang mustahil Risa, ayah dan ibu tidak akan membiarkannya kelelahan untuk melakukan semuanya."
Tangan Aarav mengepal dengan sempurna, sepenggal cerita itu sudah menggambarkan bagaimana kehidupan Jasmine selama ini. dan Aarav tidak terima sang istri mendapatkan perlakuan seperti itu.
Aarav segera meninggalkan taman itu sebelum Jasmine dan Risa menyadari keberadaannya, dia akan tetap menunggu Jasmine pulang dan mengikutinya pulang ke rumah orang tuanya.
********************************************
Waktu berlalu, tepat pukul 11 malam Jasmine pulang seperti biasanya dia dan Risa akan berpisah di luar area rumah sakit karena rumah mereka berbeda jalur.
Aarav yang sejak tadi sudah bersiap di dalam mobilnya melihat apa yang hendak dilakukan oleh Jasmine. Ternyata wanita itu berjalan Santai menyusuri trotoar.
Tidak mau Jasmine kelelahan Aarav segera melajukan mobilnya dan menepi tepat di depan Jasmine.
“Hay," Sapa Aarav sambil membuka kaca mobilnya.
“Tuan," lirih Jasmine.
“Ayo masuk," Ajak Aarav.
Jasmine menggeleng,“Tidak perlu tuan, rumah saya tidak terlalu jauh dari sini," tolaknya secara halus.
Aarav menarik nafas, “Sudahlah Jasmine, saya tahu masalah kamu ayo sekarang saya antar pulang," kekehnya.
“Tapi... "
“Mau saya gendong?"
Mendengar hal itu Jasmine langsung berlari menuju pintu mobil bagian penumpang dan duduk di samping Aarav.
“Nah menurut pada suami itu baik loh," ejek Aarav dengan senyum Jahilnya.
Aarav segera melajukan mobilnya menuju ke rumah Jasmine, tentunya Jasmine sebagai penentu arah.
Hanya 20 menit perjalanan mereka tiba di pekarangan rumah Jasmine, dan ternyata apa yang mereka lihat? Bagas ada disana duduk bersama ayah dan juga ibu tiri Jasmine.
“Kenapa dia ada disini?" gumam Jasmine tampak bingung.
Melihat kebingungan Jasmine Aarav turut menatap ke arah yang sama, “Ada apa sesuatu?"
Jasmine menggeleng, namun dia segera turun dari mobil dak berjalan cepat ke arah ayah, ibu dan juga agung serta Ratu.
“Ayah ada apa ini?"
“Plak!"