Tidak direstui

1017 Words
“Plak!" Suara nyaring dari tamparan yang amat keras itu langsung terdengar, Aarav yang tidak sempat mencegah hal itu langsung emosi pada Agung. “Kenapa anda menampar Jasmine!" geram Aarav. Agung yang mendapat pertanyaan itu melirik tajam pada Aarav, “Siapa kamu, apa kamu pria yang sudah berani meniduri Jasmine," tuding Agung. Mendengar hal itu Jasmine dan Aarav saling pandang, “Sebenarnya ada apa ini ayah, kenapa tiba-tiba menuduh seperti itu? " “Sudahlah Jasmine kami sudah tahu akal busukmu, kamu ternyata semurahan itu ya sebagai wanita," Ujar sang ibu tiri. Mendengar hal itu bagas pun langsung memberikan komentar yang bahkan sedikitpun tidak membela Jasmine, “Apa karena permintaan ibuku? jika kamu memang mencintaiku kita akan cari jalan keluarnya bersama, bukan malah kamu mencari pelampiasan dengan pria seperti ini," tunjuknya pada Aarav. “Ratu melihat kamu bersama pria ini sejak semalam dan tadi pagi, kalian keluar dari apartemen kan? apa yang kalian lakukan selain perbuatan buruk itu," geram sang ayah. Jasmine menggeleng, “Kenapa ayah menuduh seperti itu? apa ayah tahu keluarga mas bagas meminta mobil, uang dan juga perhiasan sebagai seserahan pernikahan karena di dalam keluarga mereka tidak membolehkan mengeluarkan modal sedikitpun meski pihak mereka adalah seorang laki-laki." Mendengar hal itu Agung menatap ke arah Bagas dan langsung mendapatkan gelengan, “Itu tidak benar om, jika memang begitu bagas siap memberikan uang bagas pada Jasmine agar Jasmine bisa memenuhi tuntutan itu. tapi apa? Jasmine malah pergi begitu saja dan tidak bisa di hubungi." “Ya mana bisa di hubungi orang lagi di kelonin sama laki-laki ini," ejek Ratu. Mendengar hal itu hati Jasmine benar-benar sakit di buatnya, kenapa seakan ketiga orang itu bersekongkol ingin membuatnya tampak buruk di hadapan sang ayah. “Ayah benar-benar malu punya anak murahan dan tidak tahu diri seperti kamu, kamu memang pembawa sial. padahal jika kamu menikah dengan bagas kuliah ratu akan tercapai, apa kamu paham hah!" Bentak agung. “Jangan membentak istriku!" teriak Aarav dengan wajah memerah. Mendengar hal itu mereka terdiam, seakan terkejut mendengar pernyataan itu. “Aa apa maksudmu?" tanya Agung. Aarav menggenggam tangan Jasmine dengan erat, “Kami sudah menikah, dan saya tidak akan membiarkan istri saya mendapatkan perlakuan tidak baik seperti ini dari kalian." Bagas yang tampak syok itu berusaha meraih tangan Jasmine namun langsung di tepis oleh Aarav, “Jasmine itu tidak benar kan?" Jasmine menyeka sudut matanya, “Itu benar, kami sudah menikah," jawab Jasmine tegas. “Ayah jika mereka sudah menikah artinya mereka memang melakukan hal tidak baik, lihat kita sebagai keluarganya sama sekali tidak tahu soal pernikahannya dan dia dengan tega mengkhianati mas bagas." Ratu yang bak kompor meleduk itu langsung menyambar begitu saja, menciptakan suasana semakin panas dan terbakar. Aarav menatap ke arah Ratu dengan tatapan tajam, “Sepertinya kamu lah yang harus di curigai, saya pernah melihat kamu berkeliaran beberapa kali di depan apartemen saya dengan beberapa laki-laki yang berbeda, benar bukan?" tanya Aarav. Tampak wajah Ratu pucat pasi mendapatkan pertanyaan itu, dia langsung menggeleng cepat, “Enak saja saya bukan Jasmine yang suka mengobral diri ya, saya wanita baik," elaknya. “Iya tahu apa kamu pada anak saya, dia ini wanita baik bukan seperti kamu dan si Jasmine ini," bela sang ibu tiri. “Sekarang bagaimana ini ayah, jika pria ini sudah menikahi mbak Jasmine berarti dia harus memberikan mahar seperti yang kita minta." Ucapan Ratu itu kembali mengingatkan Agung soal mahar yang harus diberikan pihak pria pada keluarga mereka. “Benar, kamu harus memberikan mobil, kebün, modal usaha, uang tunai 100 juta dan juga perhiasan." “Tidak," Jasmine langsung menolak hal itu. “Ini pernikahanku, aku tidak mau memberatkan suamiku hanya karena permintaan konyol dari wanita yang bahkan tidak menganggapku ada di rumah ini. pengorbananku selama ini sudah cukup banyak hanya demi gaya dua wanita sok ini, jadi mulai detik ini aku akan keluar dari rumah ini." Deg! Mendengar ucapan Jasmine yang mengatakan akan keluar dari rumah perasaan Agung menjadi tidak menentu, ada rasa sesal yang tiba-tiba menelusup masuk ke dalam dadanya. dia seakan sulit bernafas karena ada sesuatu yang menghimpit disana. Melihat sang suami yang terdiam, Asma langsung berujar, “Tidak bisa Jasmine, itu sudah tanggung jawabmu sebagai kakak. Dan kamu berikan mahar itu atau kamu tidak akan bisa membawa Jasmine dari rumah ini." “Lalu dimana letak tanggung jawab seorang ayah terhadap anaknya? dimana rasa sayang dan cintanya yang seharusnya dia curahkan? kenapa dia membiarkan anaknya berjuang seorang diri untuk hidupnya? dan kenapa dia membiarkan anaknya di zalimi oleh wanita yang baru saja masuk dalam hidupnya?" “Jasmine," lirih Agung, dia kini melihat betapa besarnya rasa kecewa Jasmine terhadapnya, betapa besarnya luka yang dia torehkan pada putrinya itu. “Ayo kita pergi dari sini," ajak Aarav pada Jasmine. Aarav merangkul Jasmine dan mereka berbalik meninggalkan ke empat orang itu. namun sebelum mereka masuk ke dalam mobil sebuah teriakan keras kembali menusuk relung hati. “Ayah tidak akan meridhoi pernikahan kamu Jasmine, ayah tidak akan merestui dan selalu mendoakan pernikahan kamu di timpa kemalangan yang tidak berhenti." Mendengar hal itu Jasmine sempat berbalik menatap sang ayah dengan mata berkaca-kaca, “Setega itukah dirimu ayah?" lirih Jasmine. Ratu juga Asma tersenyum bahagia mendengar hal itu, mereka tidak akan rela melepaskan ladang uang mereka begitu saja. sampai kapanpun tidak akan. Aarav langsung membawa Jasmine ke dalam mobil, benar-benar keterlaluan pikirnya. Aarav dan Jasmine langsung pergi dari sana begitu saja tanpa mendengarkan teriakan Ratu juga Asma yang tetap bersumpah terhadap mereka. Di dalam mobil Jasmine hanya terdiam sambil menatap ke luar jendela, Aarav melihat air mata Jasmine terus berderai dan hal itu berhasil membuat hati Aarav sakit. Aarav meraih tangan Jasmine hingga membuat wanita itu menatap ke arahnya, Aarav tersenyum, “Tenang aku ada disini bersamamu, kita lewati bersama ya?" “Apa kamu tidak malu melihat keluargaku?" Aarav menggeleng, “Tidak, karena yang kunikahi adalah dirimu bukan mereka," Ujarnya. “Kenapa kamu mau mempertahankan pernikahan ini?" Aarav tersenyum, “Lalu aku harus apa? meninggalkanmu? tidak ada yang kebetulan di dunia ini kan, apalagi soal jodoh aku yakin Tuhan sudah menakdirkan kamu untukku." Aarav menepikan mobilnya, sambil tersenyum manis Aarav mendekatkan wajahnya pada Jasmine membuat wanita itu memundurkan tubuhnya ke belakang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD