Jasmine menutup matanya dan, cup! Aarav mencium kening Jasmine dengan lembut seraya mengelus kepala Jasmine.
Beberapa detik tatapan mereka beradu, tampak pancaran kasih sayang terlihat dari Aarav.
”A apa kamu bisa mundur?" tanya Jasmine.
Aarav spontan langsung memundurkan tubuhnya, “Maaf Jasmine," Lirihnya karena merasa sudab lancang.
Jasmine berusaha menetralkan degub jantungnya, “Tidak masalah Tuan," jawab Jasmine.
Aarav kembali melajukan mobilnya, teringat Jasmine yang belum makan akhirnya Aarav membawa Jasmine ke sebuah restoran seafood yang terkenal disana.
“Kita makan dulu," ujar Aarav setelah berhasil memarkirkan mobilnya di area restoran.
kali ini Jasmine tidak menolak, karena perutnya benar-benar lapar, dia tidak bisa lagi menahannya.
Aarav membawa Jasmine ke salah satu meja yang berada di belakang restoran tepatnya di area kolam ikan.
para karyawan restoran dengan sigap melayani keduanya, memberikan buku menu dan juga mencatat pesanan mereka.
“Kamu mau apa?" tanya Aarav.
“Apa saja yang penting ada nasi," jawabnya singkat.
Aarav mengangguk kemudian memesan beberapa menu juga nasi dengan porsi lebih, “Itu saja terimakasih," ucap Aarav.
Aarav dan Jasmine terlibat keheningan cukup lama, hingga Jasmine buka suara.
“Maaf jika tuan harus melihat pertengkaran tadi."
Aarav melirik ke arah Jasmine sambil tersenyum, “Tidak masalah, itu wajar kan?"
Jasmine menggeleng, “Mereka akan terus mengganggu sebelum permintaan itu di turuti," Jasmine tampak menatap dalam kolam yang berisi ikan itu, “Rasanya begitu berat menjalani hari, semuanya terasa tidak adil bagi anak yang harus melakukan semuanya sendiri."
“Apa itu ayah kandungmu?" tanya Aarav.
Jasmine mengangguk, "Ya tapi mungkin dia menganggapku sebagai anak tirinya, entahlah aku merasa dia membenciku dan tidak perduli padaku, entah apa salahku," tutur Jasmine sambil mengedikkan bahunya.
Perbincangan mereka terjeda saat pesanan mereka tiba, Jasmine dengan sopan berterimakasih pada para karyawan itu.
“Ayo makanlah dulu, kamu belum makan sejak pagi."
Mendengar hal itu Jasmine baru ingat soal makanan yang tertinggal di rumah sakit, “Ah maaf tuan makanan yang tadi anda beli saya lupa memakannya, dan malah meninggalkannya di rumah sakit."
Aarav mengangguk, “Aku paham, kamu begitu sibuk dengan para pasien tidak masalah tapi dari hari ini sampai seterusnya kamu akan berada di dalam pengawasanku, aku tidak mau jika kamu malah sakit hanya karena berusaha menyehatkan para pasienmu itu," tutur Aarav.
“Apa kamu bekerja?" Tanya Jasmine.
“Apa aku terlihat seperti pengangguran?" tanya Aarav.
Jasmine menggeleng, “Aku hanya takut kamu juga seorang mahasiswa sepertiku, tentu kebutuhan kuliah itu lebih penting daripada makan di tempat mewah seperti ini."
Aarav tersenyum, ternyata Jasmine takut merepotkannya. Dan hal itu berarti Jasmine perduli padanya.
“Tenanglah, aku sudah bekerja dan besok aku akan pergi berdinas."
“Dinas?" ulang Jasmine.
Aarav mengangguk, “Ya karena aku seorang tentara."
Deg!
Jasmine terdiam mendengar pengakuan Aarav, tentara? Aarav adalah seorang tentara?
”Kenapa, apa ada sesuatu?" tanya Aarav karena melihat wajah Jasmine menegang tanpa sepatah katapun.
“Kamu pasti akan selalu meninggalkanku ketika berdinas kan? terlebih akan pergi ke daerah lain yang sedang berkonflik kan?"
Aarav mengangguk, “Ya itulah tuntutan pekerjaanku, tapi tenang saja aku tidak akan pergi tanpamu."
“Aku?" ulang Jasmine memastikan.
Aarav mengangguk, ”Ya, kamu akan selalu bersamaku karena aku tidak ingin ada orang yang mengganggumu, lagipula kamu bisa mengobatiku ketika terluka bukan? apa kamu rela melihat wanita lain mengobati suamimu ini."
Sontak dengan cepat Jasmine menggeleng, dengan wajah tidak suka. Dan hal itu membuat Aarav tertawa.
“Kenapa, kamu takut?"
“Ah tidak, mana ada lagipula tidak masalah kan?" tutur Jasmine menutup kegugupannya.
Aarav mengangguk, ”Iya aku tau, tapi yang jadi masalah para wanita itu suka menggodaku mungkin mengira jika aku belum menikah."
“Tapi kan sekarang sudah menikah," Sewot Jasmine.
Aarav tidak lagi melanjutkan candaannya itu, dia cukup menikmati ekspresi yang Jasmine tunjukkan, tentu ekspresi tidak Terima dan hal itu cukup membuat Aarav senang saat itu.
Setelah selesai makan Aarav langsung membayar semuanya, sedangkan Jasmine hanya menunggu di belakang Aarav sambil melirik kesana dan kemari.
“Eh geser dong," Seorang wanita tiba-tiba meminta Jasmine untuk menggeser posisinya.
Karena merasa dia tidak memiliki keperluan di kasir Jasmine segera menggeser tubuhnya dan memberikan ruang pada wanita itu.
“Eh mas Aarav kan?"
Wanita yang tidak dikenal itu tiba-tiba menyapa Aarav, dengan wajah sumringah.
Aarav terlihat Acuh, “Kamu yang ada di batalion itu kan? aku pernah lihat kamu disana, kamu kenal aku kan? aku salah satu mantan pacar rekan kamu Jimmy."
Aarav mengedikkan bahu, dan berjalan berlalu dari hadapan wanita itu sambil menarik Jasmine.
Melihat hal itu wanita yang tidak dikenal itu tetap mengejar Aarav, “Aarav tunggu dulu, aku belum selesai ngomong!"
Jasmine menatap Aarav yang sama sekali tidak perduli pada wanita itu, sedangkan wanita tadi tetap memanggil Aarav.
Dengan nekat Wanita itu langsung mencegat Aarav dan Jasmine dengan cara berhenti di depan Aarav sambil merentangkan tangannya.
“Sudah bicara saja sebentar," tutur Jasmine.
Mau tidak mau akhirnya Aarav menuruti hal itu, ”Ada apa?" tanyanya.
Wanita itu tampak sumringah, “Kamu benar Aarav kan, rekan Jimmy?"
Aarav mengangguk, “Ah pas sekali, apa boleh aku meminta nomor handphonemu, karena aku ingin bertanya beberapa hal soal Jimmy."
“Tidak boleh."
Wanita itu tampak tidak suka, “Kenapa aku tidak akan mengganggumu aku hanya ingin bertanya beberapa hal, boleh ya?"
Aarav menggeleng, ”Jika ingin bertanya disini saja, lagipula aku tidak dekat dengan Jimmy dan aku merasa tidak tahu soal pertanyaanmu itu."
Wanita itu mengulurkan tangannya, “ Salam kenal aku Karina," Ujarnya namun tidak di sambut oleh Aarav.
Wanita itu menurunkan tangannya, “Yasudah kalau kamu tidak mau berkenalan, padahal aku benar-benar membutuhkan bantuanmu," ucapnya.
Jasmine tampak tidak tega pada wanita itu, ”Jangan seperti itu, kasihan dia," lirih Jasmine.
“Sudah jangan terlalu lama, cepat katakan ada perlu apa? aku dan istriku harus cepat pulang karena hari sudah larut."
"Istri?" ulangnya sambil melirik ke arah Jasmine, dan di sambut senyuman manis dari bibir Jasmine.
”Kamu tidak salah? kapan kamu menikah?"
“Baru saja, sepertinya memang tidak ada hal yang ingin kamu tanyakan, kalau begitu kami permisi."
Aarav langsung membawa Jasmine pergi, sedangkan wanita itu masih dengan ekspresi tidak percayanya menatap ke arah dua pasutri itu.