Berpelukan

1011 Words
Aarav dan Jasmine tiba di apartemen mereka sekitar pukul 10 malam, niat hati ingin beristirahat sebagai pengantin baru justru Aarav juga Jasmine dikejutkan dengan datangnya Jimmy. “Hay pengantin baru, sepertinya malam yang indah untuk bersantai," Ujar Jimmy sambil tetap bersender pada dinding apartemen. Aarav mengabaikan perkataan Jimmy dan lekas membuka pintu kamar, Aarav memberi kode pada Jasmine untuk masuk lebih dulu. Meskipun Jasmine tidak paham tentang apa yang terjadi di antara dua pria dewasa itu, Jasmine tetap mengikuti perintah suaminya untuk masuk. “Ada apa?" tanya Aarav sesaat setelah Jasmine masuk ke dalam unit apartemen mereka. Jimmy tersenyum tipis sambil melipat kedua tangannya di depan d**a, “Ku dengar istrimu memiliki kekasih," ujarnya sambil menaikkan sebelah alisnya. Aarav terdiam tidak mau merespon ucapan sampah dari Jimmy, “Aku tahu kau begitu tidak menginginkan pernikahan ini bukan? bagaimana jika kita bertukar posisi," ujar Jimmy memberikan ide gila. “Apa kau gila? kau kira wanita itu adalah bahan mainan yang bebas kau mainkan begitu saja? aku tidak tertarik silahkan pergi dari sini," Usir Aarav sambil membuka pintu apartemennya. Jimmy langsung menarik pundak Aarav dengan keras, “Kau tahu siapa aku Aarav, aku bisa saja membuatmu berpisah dengan istrimu, jadi sekarang kau ikut permainanku atau kau tahu akibatnya." Aarav mengibaskan tangan Jimmy dengan kasar, “Aku tidak sudi bekerjasama denganmu, lagipula aku tahu bagaimana tingkahmu dengan para wanita. dan kau pasti sekarang tengah terlibat masalah dengan pacarmu bernama karin itu, iya kan? sudah urus urusanmu dan aku peringatkan padamu selama ini aku tidak mau menanggapi semua celotehan konyolmu. Tapi, jika kali ini kau berani melibatkan istriku," Aarav berbisik pada Jimmy, “Aku sendiri yang akan menghancurkanmu!" Setelah mengatakan itu Aarav langsung masuk ke dalam apartemennya meninggalkan Jimmy yang kesal bukan main padanya, dia benar-benar tidak bisa menerima penolakan itu. selama ini semua orang akan menurut padanya, tapi sekarang Aarav bahkan tidak perduli dan itu begitu melukai harga dirinya. “Awas saja kau!" geramnya sambil melirik ke arah pintu yang tertutup rapat. Aarav tampak santai masuk ke dalam apartemennya, dia melihat Jasmine yang sedang duduk di atas sofa terdiam tampaknya dia menunggu Aarav disana. "Hey, kenapa? apa ada sesuatu?" tanya Aarav sambil duduk di samping Jasmine. Jasmine menggeleng, “Apa temanmu sudah pergi?" Aarav mengangguk sambil memilin ujung rambut Jasmine yang tampak bergelombang itu. “Aku ingin beristirahat, bolehkah aku meminjam sofa ini dan satu bantal?" Aarav mengerutkan dahinya, “Tidak!" jawabnya. Tampak Jasmine terkejut mendengar jawaban itu, “Lalu aku akan tidur dimana tuan? apa kamu tega membiarkanku tidur di atas lantai?" “Tidak, tapi kamu akan tidur bersamaku!" Aarav langsung menggendong Jasmine dengan tiba-tiba hingga membuat wanita itu tidak sempat mengelak. Aarav langsung menjatuhkan tubuh Jasmine di atas ranjang dan menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka. “Hey kenapa kamu memelukku, lepaskan!" kesal Jasmine sambil berusaha memindahkan tangan Aarav dari pinggulnya. Bukannya melepaskan justru Aarav menenggelamkan wajahnya di leher Jasmine, “Tidak mau, aku lelah hari ini tolong biarkan seperti ini," ujar Aarav. Jasmine sama sekali tidak memperdulikan hal itu dia terus berusaha agar Aarav bisa melepaskannya, namun sialnya itu tidak berhasil karena Aarav sama sekali tidak bergeser sedikitpun. Menyerah, akhirnya Jasmine menyerah setelah mendengar dengkuran halus yang keluar dari mulut Aarav. Jasmine meraba rahang tegas itu dengan lembut. “Aku yakin dia adalah pria baik," bisik Jasmine dalam hatinya. Karena aktivitas yang begitu melelahkan akhirnya Jasmine ikut tertidur bersama Aarav, mereka seperti dua anak manusia yang saling berbagi kehangatan di malam yang begitu dingin. ********************************************* Tringgggg! Suara alarm mengejutkan Aarav yang tengah tertidur, saat dia membuka matanya ternyata Jasmine tidak ada di sampingnya. “Kemana dia?" Aarav lekas bangun dari tempat tidur karena khawatir istrinya itu telah melarikan diri karena tidak mau bersamanya. Aarav mengejek semua sisi kamar tapi tidak dia temukan, tempat terakhir yang belum dia masuki adalah dapur. Aarav segera melangkahkan kaki keluar dari kamarnya, namun baru saja melangkah menuju dapur aroma masakan begitu menguar memenuhi isi ruangan. Aarav begitu penasaran Siapakah gerangan yang memasak seperti itu? dia semakin mempercepat langkahnya menuju ke dapur dan melihat seorang wanita cantik dengan rambut di ikat asal menggunakan celemek sedang mengoseng makanan. Tidak ingin melewati momen itu Aarav langsung berjalan pelan mendekati wanita cantik itu, tanpa di duga Aarav langsung memeluk wanita itu hingga membuatnya terlonjak kaget. “Astaga tuan saya kaget!" ujar Jasmine sambil mengelus dadanya. Aarav sama sekali tidak perduli, dia meraih tangan Jasmine yang sedang memegang sutil itu dan ikut mengoseng makanan bersama. Wajah Jasmine tampak memerah mendapatkan perlakuan romantis seperti itu, andai sekarang sedang pemeriksaaan detak jantung Jasmine yakin detak jantungnya amatlah tidak normal. “Kenapa tidak membangunkanku?" Rengek Aarav. Jasmine menggeleng, “Aku tahu tuan begitu lelah, terlebih hari ini tuan akan bekerja kan? jadi tidak masalah," ujar Jasmine. “Bolehkah jangan memanggilku tuan? aku tidak suka, aku ini suamimu bukan majikanmu." “Lalu aku harus memanggil apa?" Aarav menurunkan wajahnya dan membenamkannya di leher Jasmine, “Jika sudah menikah biasanya memanggil apa?" Jasmine mengedikkan bahunya, “Aku tidak tahu karena aku belum pernah menikah sebelumnya." “Sayang, bagaimana jika itu?" Pipi Jasmine semakin merona mendengar kata itu keluar dari bibir Aarav, dengan anggukan kecil Jasmine menyetujui hal itu dan di sambut senyuman manis dari Aarav. “Baiklah sayang, tolong suapi aku makan ya aku ingin hari ini kamu menemaniku untuk pergi berdinas." Jasmine mengangguk, dia tidak ada jadwal hari ini jadi dia bisa menemani Aarav. Jasmine segera menuangkan nasi goreng itu ke atas piring, dan menyajikannya di atas meja. “Maaf ya hanya nasi goreng, karena tidak ada bahan makanan di kulkas." Aarav mengangguk semangat, dia menarik kursi yang ada di sampingnya untuk lebih dekat pada Jasmine. Jasmine menyendok nasi itu dan mengarahkannya pada Aarav, suapan pertama Aarav langsung jatuh cinta pada masakan istri dadakannya itu begitu pas di lidah. “Ini enak sekali, apa kamu belajar memasak sebelum ini?" Jasmine tersenyum dan menggeleng, “Aku sudah mandiri sejak kecil, aku harus mengerjakan pekerjaan rumah dan juga memasak seperti pembantu pada umumnya. lagian selama ini aku juga berjualan untuk membantu ayah." Mendengar hal itu Aarav mengelus pipi mulus Jasmine, dia tahu wanita itu begitu merindukan ayahnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD