bc

DEEPLY HURTS

book_age18+
143
FOLLOW
1K
READ
revenge
love-triangle
contract marriage
family
HE
age gap
second chance
friends to lovers
arranged marriage
playboy
badboy
kickass heroine
mafia
heir/heiress
drama
tragedy
sweet
lighthearted
kicking
bold
loser
city
office/work place
cheating
childhood crush
enimies to lovers
rejected
secrets
poor to rich
love at the first sight
affair
polygamy
surrender
addiction
like
intro-logo
Blurb

“Apa susahnya kamu kembali ke rumah, hah? Memangnya kamu mau ke mana? Nggak ada tempat yang mau menampung perempuan sepertimu!” bentak Bima dengan suara yang terdengar menggelegar.

“Ishh … sakit,” rintih Ara dengan tubuh gemetar ketakutan.

Biasanya Bima memang sering membentaknya, tapi pria yang berstatus sebagai suami sahnya itu tidak sampai bersikap kasar seperti ini.

“Ke … kenapa? Kenapa aku nggak boleh pergi? Bukannya kamu yang menginginkan aku pergi meninggalkan keluargamu?” tanya Ara dengan suara yang terbata-bata.

“Karena aku belum puas menyakitimu. Kau harus membayar semua yang sudah kau ambil dariku!” desis Bima sambil melepaskan bahu ringkih istrinya dengan kasar.

***

Tara Lalita Prakasa terpaksa menerima perjodohan demi membalas hutang budi kedua orang tua angkatnya. Namun, nyatanya Bimasena Cakara Pangestu malah menyiksanya secara batin karena pria itu ingin membalas dendam padanya atas apa yang telah dia rebut. Dendam yang salah akhirnya membuat Bima menyadari akan perasaannya.

Akankah Ara mau kembali bersama Bima atau dia akan bertemu dengan cinta yang baru?

chap-preview
Free preview
Benalu
“Sayang … antar kue ini ke kamar Bima, ya,” pinta Indira pada Ara. Gadis itu pun tanpa membantah langsung mengantarkan kue yang baru matang itu ke kamar kakak angkatnya. Setelah meletakkan kue di atas meja dia tidak langsung keluar. Perempuan itu memilih untuk melihat-lihat isi kamar pria arogan tersebut. Kamar bernuansa maskulin itu sangat harum dan Ara sangat menyukai aromanya. “Harum banget, sama kayak orangnya … hihii,” ucap Ara pada dirinya sendiri sambil terkikik. Selama dia tinggal di rumah megah itu, ia tidak berani masuk ke dalam kamar Bima jika ada pemiliknya. Ia tidak berani menghadapi sikap Bima yang arogan dengan tatapan yang mengintimidasinya. Jangankan mengobrol, untuk melihat mata elang pria itu saja mana mungkin dia berani. Lebih baik ia menghindar daripada harus menerima kata-kata pedas dari pria itu. Kali ini Ara ingin memanfaatkan kesempatan itu untuk berlama-lama di dalam kamar karena penasaran dengan isi kamar lelaki itu. “Mas Bima ternyata menyukai musik,” tambahnya setelah melihat gitar akuistik yang berada di dalam rak khusus untuk gitar. Tak terasa sudah lima belas menit dia berada di dalam kamar Bima. Perempuan itu seakan lupa jika saat ini ia sedang berada di dalam kandang seekor singa jantan yang selalu menunjukkan taringnya ketika berhadapan dengan dirinya. Ceklek …! Tiba-tiba saja pintu kamar ada yang membukanya. Tampak seorang pria berbadan tegap berdiri sambil memberikan tatapan tajam ke arah Ara. Sorot mata lelaki itu tampak dengan jelas menatap ke arah gadis itu dengan tatapan yang sudah terlihat tidak bersahabat. Ara tampak tersentak dan tercengang ketika melihat siapa yang baru saja masuk. Ia tidak pernah menduga jika dirinya akan tertangkap basah berada di dalam kamar lelaki itu. Seketika ia pun menundukkan kepalanya sambil meremas jemarinya. Darahnya seakan mengalir ke bawah dengan derasnya karena sangking takutnya. Bahkan, telapak tangannya tiba-tiba juga terasa sedingin es. “Ma … maafin Ara, Mas. Tadi Ara disuruh Mama naruh kue buat Mas Bima,” ucap Ara dengan terbata-bata. Perempuan itu sadar jika dirinya sudah lancang karena berlama-lama berada di dalam kamar pria itu. Ia tahu jika Bima tidak pernah suka dengan dirinya. Bahkan, sejak kedatangannya pertama kali, pria itu sudah menunjukkan sikap permusuhan dengannya. “Ck … kamu bisa nggak sih nggak usah bawa-bawa Mama, hah! Kalau numpang itu yang tahu diri, lah,” jawab Bima dengan sarkas. “Maafin Ara, Mas!” ucap Ara dengan kepala yang masih tertunduk. Memang seperti itulah Ara, dia akan selalu meminta maaf meskipun ia tidak melakukan kesalahan. Gadis itu hanya tidak ingin memperpanjang masalah karena ia tidak ingin membuat Bima semakin membencinya “Ngapain kamu nggak langsung keluar? Apa kamu ingin nyuri di kamarku? Apalagi yang ingin kamu curi, hah? Dasar Benalu…!” tanya Bima bertubi-tubi. Memang dia akui jika ia sangat membenci gadis bermata indah itu. Bahkan, kebencian itu sudah ia rasakan semenjak kedua orang tuanya membawa Ara ke rumah. Hanya dengan menyibukkan diri pada pekerjaan, membuat lelaki itu bisa mengalihkan rasa kesalnya. Entah kenapa sejak awal dia merasa jika ada sesuatu yang sedang diincar oleh gadis itu, menurutnya. Bahkan, di saat hari libur pun ia lebih suka memilih bekerja daripada harus berdiam diri di rumah. Seperti sekarang, ia baru saja pulang dari kantor ketika weekend. Di saat tubuhnya sudah terasa lelah dan ingin segera beristirahat, ia malah melihat gadis pengganggu itu berada di dalam kamarnya. Ingin rasanya langsung memaki, tapi ia tahu jika papa dan mamanya pasti akan memarahinya. Oleh karena itu ia hanya bisa menahannya dan itu membuat dia semakin membenci gadis itu. Ara tidak pernah menduga jika tuduhan mencuri akan kembali dilayangkan pada dirinya. Memang telinganya sudah biasa mendengar makian pedas dari mulut Bima. Namun, dia hanya bisa menelannya saja. Ia tidak berani menjawab apalagi membantahnya karena ia tahu jika ia sudah terlalu banyak berhutang budi pada keluarga Pangestu. Kaget? Tentu saja. Sedih? Pasti. Sakit hati? Apalagi. “Ma … maafin Ara, Mas,” jawab Ara. Setiap makian yang keluar dari mulut Bima hanya dijawab dengan permintaan maaf oleh gadis malang itu. Dengan sekuat tenaga ia menahan agar air matanya tidak luruh. Ia harus terlihat kuat di hadapan pria yang selalu menghinanya itu. “Keluar …!” pinta Bima bernada tegas. Tanpa menjawab, Ara pun bergegas keluar dari kamar tersebut. Setelah menutup pintu kamar dengan rapat, gadis itu langsung memegang dadanya. Ia dapat merasakan jika detak jantungnya berdegup dengan kencang. “Huh … dasar singa, bisanya mengaum aja. Wajah sih ganteng, tapi kalau galak mana ada perempuan yang mau,” sungut Ara sambil berjalan dengan bergidik. Kemudian ia mengayunkan kakinya kembali ke dapur untuk menemui mama angkatnya yang masih sibuk dengan kue-kuenya. Meskipun hatinya merasa seperti ada yang mengirisnya, tapi dia tetap berusaha untuk tegar. Ia tidak mau memasukkan semua hinaan Bima ke dalam hati dan akhirnya membuat ia kepikiran. Ara harus tetap berpikiran waras agar tidak sampai terpancing dengan sikap kakak angkatnya tersebut. Jika bukan karena Dewa dan Indira, mana mungkin ia mampu bertahan hidup bersama dengan pria yang selalu menatapnya dengan tatapan permusuhan. Di dalam kamar, Bima tampak mendengus. Niat hati setelah pulang ingin segera beristirahat, tapi pada kenyataannya malah sebaliknya. Lagi-lagi Ara selalu saja membuat hatinya merasa kesal. “Ck … kue apaan ini?” tanyanya pada dirinya sendiri sebelum ia melepaskan pakaian. Sebelum memasuki dapur, Ara mengambil napas dalam-dalam dan kemudian menghembuskannya dengan perlahan. Ia berharap apa yang dia lakukan dapat mengurangi rasa sesak di dalam dadanya. “Bima suka dengan kuenya?” tanya Indira begitu melihat Ara kembali. “Kayaknya suka, Ma. Tadi Mas Bima mau mandi dulu, jadi kuenya Ara taruh aja di meja,” jawab Ara dengan senyum yang dia paksakan. Terpaksa Ara harus berbohong karena tidak ingin membuat mamanya sedih. Dewa dan Indira selama ini tidak pernah mengetahui jika Bima selalu berkata-kata pedas kepada dirinya. “Syukurlah … sini, kita cicipi kue yang baru matang ini,” ajak Indira. Detik kemudian, Ara pun berjalan mendekati wanita paruh baya itu. Mana mungkin gadis itu tega melihat senyum di bibir Indira redup hanya gara-gara ucapan Bima. Ia tidak peduli jika Bima akan membuang kue itu. Tugasnya hanya mengantarkan kue buatan Indira, selebihnya tentu terserah pada pria sombong tersebut. Sebagai anak angkat di keluarga Pangestu, mana mungkin ia berani untuk ikut campur terlalu jauh di dalam hubungan darah antara mereka. “Gimana, Sayang, kuenya enak?” tanya Indira setelah melihat Ara menyuapkan sepotong kecil kue buatannya. “Ini enak banget! Resep baru ya, Ma?” tanya Ara setelah menjawab pertanyaan dari mama angkatnya. “Iya, dong! Padahal ini baru pertama kalinya Mama coba resepnya, loh,” jawab Indira dengan wajah yang berseri-seri. Perempuan paruh baya itu merasa senang sejak kedatangan Ara ia merasa telah memiliki anak perempuan yang bisa menemaninya setiap saat. Bahkan, tak jarang kedua perempuan yang berbeda usia itu belanja bersama hanya untuk menghabiskan waktu. “Kalau libur kamu nikmatin aja, jangan kayak kakakmu itu yang workaholic. Orang kok nggak bisa menikmati hidup,” sungut Indira. Perempuan itu merasa jika putra semata wayangnya terlalu fokus bekerja hingga membuat hidupnya terasa datar dan tidak ada seninya. Sebenarnya tanpa dia ketahui jika Bima memilih untuk fokus bekerja karena ingin menghindari Ara. “Kasihan Radit mendapatkan Bos kayak si Bima. Huh … gimana dia mau dapat pacar kalau kerja terus?” lirih Indira, tapi masih didengar jelas oleh Ara. Indira hanya merasa kasihan kepada Radit, asisten Bima. Pria itu sebenarnya juga butuh libur, tapi mana bisa jika atasannya sendiri masih masuk meskipun itu tanggal merah. Mendengar ucapan Indira, membuat Ara pun langsung menyunggingkan senyumannya. Di satu sisi ia merasa lucu melihat mama angkatnya tampak kesal pada putranya sendiri. Namun, di sisi lainnya ia merasa bersalah karena telah membuat Bima harus menjadi seorang workaholic. “Andai Mama tahu kalau selama ini ternyata Mas Bima nggak pernah menerimaku dengan baik,” batin Ara dengan sendu.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
21.3K
bc

TERNODA

read
200.9K
bc

Kali kedua

read
220.6K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
192.5K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.6K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
32.9K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
83.0K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook