Terpaksa Menikah

1301 Words
Pernikahan pun digelar dengan megah. Hampir semua relasi bisnis diundang oleh Dewa. Bahkan, teman sosialita Indira juga hadir di dalam hall yang sudah disulap menjadi indah bak di negeri-negeri dongeng. Tempat yang penuh bunga dan Ara tampak seperti seorang putri yang bersanding dengan seorang pangeran. Banyak yang bilang jika mereka merupakan pasangan yang serasi. Yang prianya tampan dan perempuannya cantik. Senyum pun tampak menghiasi wajah kedua mempelai sepanjang acara. “Akhirnya mereka bisa bersatu ya, Pa,” ungkap Indira pada sang suami. Dewa pun tampak menganggukkan kepala sambil tersenyum. Dia pun merasa lega karena Ara sudah tidak sendirian lagi di dunia ini. Sudah ada Bima sebagai suaminya dan dia sebagai mertuanya. “Akhirnya beban di hatiku bisa sedikit berkurang. Maafkan aku, Bay!” batin Dewa dengan penuh penyesalan. Bayu Prakasa merupakan sahabat baiknya sejak dari SMA dan dia merasa bertanggung jawab untuk kehidupan dan masa depan Ara. Bagaimanapun gadis itu adalah anak kandung Bayu dan Vina yang sudah dia anggap seperti anaknya sendiri. Acara pun selesai dan saat ini Ara sudah berada di dalam kamar. Perempuan itu tampak duduk di ranjang sambil bersandar setelah membersihkan diri. Dia menunggu lelaki yang baru saja menjadi suaminya sekaligus pria yang membencinya sambil memainkan ponselnya. Beberapa menit kemudian suaminya terlihat baru saja masuk ke dalam kamar dan langsung berjalan menuju ke kamar mandi tanpa menoleh ke arah wanita yang baru saja menjadi istrinya. Ara hanya melihat suaminya dalam diam, bahkan dia juga melihat tatapan tajam yang seakan menusuk terpancar dari sorot mata pria itu. “Aku seperti makhluk tak kasat mata,” batin Ara. Perempuan itu sangat paham dengan apa yang dirasakan oleh Bima. Ia pun juga sama. Mereka berdua sama-sama tidak menginginkan pernikahan ini. Namun, mereka juga sama-sama tidak bisa menolaknya. Tak sampai dua puluh menit pintu kamar mandi pun terbuka dan muncul-lah Bima dengan wajah yang sudah terlihat segar. Untuk sesaat Ara pun tercengang melihat ketampanan kakak angkatnya yang saat ini telah mejadi suaminya. Pria itu lalu berjalan menuju sofa yang berada di sudut kamar. Setelah mendudukkan diri ia langsung terlihat fokus dengan ponselnya. Kemudian pria itu pun beralih fokus pada ipad-nya. Entah apa yang sedang dia kerjakan, tapi yang jelas dia terlihat serius menatap ke benda pipih tersebut. “Apa dia masih bekerja? Oh … Tuhan, padahal baru beberapa menit yang lalu kami menikah,” batin Ara dengan keheranan. Ara tampak masih duduk dalam diam sambil menunggu suaminya selesai. Namun, sepertinya pria itu tidak menganggap keberadaan istrinya sama sekali karena dia tidak peduli dengan perempuan itu yang saat ini sedang memandanginya. Tak menunggu lama Bima pun sudah merebahkan diri di sofa panjang. Ara yang melihat apa yang sedang dilakukan oleh pria itu pun bergegas bersuara. Mana mungkin dia akan membiarkan suaminya tidur di sofa. Tubuh suaminya sangat tinggi, jadi pasti kakinya akan menekuk dan tentu saja itu membuatnya merasa tidak nyaman. “Mas Bima tidur di ranjang aja, nanti kalau tidur di sofa badannya pasti pegal-pegal pas bangung besok pagi,” ucap Ara memberi tahu. Seketika Bima urung memejamkan matanya. Dengan tatapan datar pria tampan itu hanya menjawab dengan decakan saja. “Ck …!” Tentu saja dia merasa tidak suka dengan sikap Ara yang menurutnya sangat mengganggu. Tubuhnya sudah merasa lelah dan dia hanya ingin segera beristirahat. Namun, ternyata perempuan itu masih saja mengganggunya. Ara tidak mendapatkan jawaban yang sesuai dengan keinginannya memilih mengalah untuk membawakan bantal serta selimut ke sofa. Jika suaminya tidak mau tidur satu ranjang dengannya, setidaknya sebagai seorang istri dia sudah berusaha untuk membuat suaminya tidur dengan nyaman. “Kalau Mas Bima nggak mau tidur di ranjang, ini bantal dan selimut buat Mas pakai supaya besok pas bangun badannya nggak pegal,” tutur Ara sambil menunjukkan bantal dan selimut yang berada di dalam dekapannya. “Ingatlah! Jangan terlalu memaksakan diri dengan pernikahan ini. Kamu tahu kalau aku menikahimu hanya sebatas ingin membalas dendam dengan apa yang sudah kamu lakukan selama masuk ke dalam keluargaku,” balas Bima bernada dingin tanpa menoleh sedikit pun pada istrinya yang berdiri tidak jauh dari dirinya. Ara pun langsung terdiam. Kenyataan yang baru saja dia terima tidak membuatnya terlalu terkejut karena dia tahu sebenci apa Bima kepada dirinya. Namun, ia tidak tahu pria itu akan membalas dendam seperti apa kepadanya nanti. Padahal dia sudah bertekad akan menerima pernikahan ini, meskipun awalnya sangat berat. Dia sangat yakin dengan niat yang tulus pasti akan membuat segalanya menjadi lebih ringan, menurutnya. “Aku nggak berharap, tapi aku melakukan ini hanya untuk rasa kemanusiaan dan demi Mama dan Papa saja,” jawab Ara sambil meletakkan bantal dan selimut yang dia bawa di atas meja yang ada di dekat Bima. Setelah mengatakan itu, ia pun langsung membalikkan badannya menuju ranjangnya kembali untuk beristirahat. Dia tidak peduli lagi dengan pria bermulut pedas itu. Tubuhnya juga merasa lelah karena menjalani prosesi acara selama seharian ini. Jika dia boleh memilih, tentu saja dia akan menolak mentah-mentah perjodohan ini. Namun, apalah daya karena hutang budinya terlalu besar untuk dia hitung. *** Keesokan paginya, mereka pun sarapan bersama. Tiba-tiba saja Bima memutuskan untuk tinggal di rumah barunya dengan alasan mereka membutuhkan waktu untuk memahami karakter masing-masing. “Pa … Ma, nanti siang kami akan pindah,” tutur Bima dengan tiba-tiba. Ucapan pria itu tentu saja membuat ketiga orang yang sedang makan seketika menghentikan aktivitasnya. Ketiga pasang mata pun kini sedang tertuju pada pria tampan bermata elang itu seakan meminta sebuah penjelasan. “Kenapa harus pindah? Kenapa nggak tinggal di sini aja?” tanya Indira dengan tatapan terkejutnya. “Kami perlu waktu untuk memahami karakter masing-masing,” jawab Bima singkat. Seketika Dewa pun langsung berdecak. Pria paruh baya yang masih terlihat gagah itu pun tahu jika itu merupakan alasan yang dibuat-buat oleh Bima. Dia masih ragu jika Bima sudah menerima Ara sebagai istrinya. Oleh karena itu kenapa dia seakan berat untuk memberikan izin mereka tinggal terpisah karena dia tidak bisa mengawasi putranya secara langsung. “Ck … jangan aneh-aneh. Papa nggak izinin kalian tinggal terpisah!” sahut Dewa dengan santainya. “Papa maunya apa, sih? Aku sudah nurut mau menikahi dia dan sekarang Papa masih mau mengaturku?” tanya Bima yang sudah mulai terpancing emosinya. Suasana di meja makan pun tiba-tiba saja berubah tegang. Rasa masakan yang nikmat sudah tidak bisa lagi mereka rasakan. Bahkan, mereka langsung menghentikan makannya karena sudah tidak berselera lagi. “Pa … sudahlah kita izinkan aja Bima dan Ara membina rumah tangganya secara mandiri, kita hanya perlu memantaunya,” ucap Indira dengan lembut sambil memegang tangan suaminya. Perempuan itu terpaksa mengizinkan karena tidak ingin melihat perdebatan itu semakin panas. Dia tahu sifat suami dan putranya yang sama-sama keras. Jika salah satunya tidak ada yang mau mengalah pasti akan terjadi keributan. Dengan terpaksa akhirnya Dewa pun mengizinkannya, meskipun dengan berat hati. Dia akan memantau rumah tangga Bima dan Ara karena jika boleh jujur dia masih belum percaya begitu saja. Dia harus waspada daripada kecolongan, menurutnya. Akhirnya menjelang siang pengantin baru itu pun pindah ke rumah yang sudah disediakan oleh Dewa dan Indira sebagai hadiah pernikahan. Di rumah besar bergaya minimalis modern itu juga sudah disediakan empat orang pelayan dan empat orang penjaga, serta dua orang tukang kebun. “Selamat datang, Nyonya,” sapa para pekerja menyambut kedatangan majikan mereka. “Terima kasih,” balas Ara dengan ramah. Namun, semuanya berbeda dengan Bima. Pria itu tampak diam hanya menganggukkan kepalanya singkat. Memang seperti itulah sikap Bima terhadap orang lain. Irit berbicara dan dingin. Belum ada dua jam mereka menempati rumah itu, Bima sudah mengumpulkan semua pekerjanya. Ada sesuatu yang harus dia tekankan kepada semua pekerja terlebih dahulu agar mereka semua mengerti dan mengikuti aturannya. “Saya memanggil kalian karena ada satu hal yang harus saya sampaikan. Apa pun yang terjadi di dalam rumah ini jangan pernah sampai keluar, apalagi kalian sampai mengadu kepada Papa dan Mama saya. Kalau sampai itu terjadi bersiaplah untuk menerima hukuman terberat dari saya!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD