Wajah dingin milik Arseno itu sebenarnya hanya kamuflase saja untuk menakuti para bawahannya. Tapi jika kamu sudah dekat dengan Sen maka semua persepsi kamu tentangnya akan berubah.
Sen tidak sekejam dan sejahat wajahnya.
Dan, gadis beruntung yang berhasil mendapatkan hati dan hidup Sen adalah...
"Sayang, udah lama nunggu aku?"tanya Sen begitu sampai dihadapan wanita berusia 23 tahun itu.
Perempuan dengan setelan serba mewah itu cemberut, "iya! kamu kemana aja Sen?"
"Aku telat bangun tadi,Qia."
Qiantara, gadis yang menyandang sebagai tunangan dari Arseno itu memicing.
"Masa? itu bukan habit kamu loh,ada masalah apa?"
Sen duduk di hadapannya,lalu menggengam tangan lentik milik Qia.
"Kemarin aku kecapean, sama ada masalah kantor yang belum beres." Qia masih menunjukan wajah tak percaya namun melihat mata Sen yang memang terlihat kelelahan sanggup membuat Qia merasa khawatir.
"Udah beres masalahnya?"tanya Qia dengan tangannya yang menyugar rambut milik Sen.
"Udah, sekarang aku butuh istirahat."
Qia yang mengerti langsung melingkarkan tangannya di leher Sen.
"Okay, ayo kita istirahat."
***
"Axel?"
Yang ditanya terkejut, ia segera menoleh.
"Kenapa ngelamun?"tanya Sen begitu melihat Axel berdiri mematung didepan sebuah foto yang ternyata adalah gambaran Sen bersama Qia sewaktu bertunangan.
"Kamu... punya pacar Sen?"tanya Axel. Sen mengangguk semangat seraya menyimpan paper bag berisi baju untuk Axel.
"Ya,namanya Qia. Cantik ya?"tanya Sen yang seharusnya tak perlu di tanyakan lagi karena perempuan dengan gaun berwarna putih dengan potongan bahu terbuka itu memang terlihat begitu menawan. Axel tersenyum.
"Cantik banget,"jawab Axel dengan pandangan terus menatap foto itu.
"Iya, dia memang cantik parasnya dan juga hatinya. Aku sangat amat beruntung punya dia." Sen ikut menatap bingkai yang seperti lukisan kedua manusia yang bersanding dengan sempurna.
"Ya, kamu beruntung." Axel berbalik, menatap Sen yang terlihat kelelahan.
"Aku ke kamar dulu ya, badanku lengket."
Axel mengangguk sebagai jawaban. Kemudian Sen melenggang dari hadapannya.
Axel menghampiri paper bag itu, mengintip isinya.
"Lelaki baik memang harus bersanding dengan wanita cantik."
Kemudian setelahnya, Axel berjalan menuju kamarnya yang berada dilantai dua.
Pikiran Axel melayang membayangkan gadis yang bersanding dengan Sen. Bagaimana perasaan gadis itu jika mengetahui bahwa kekasihnya membawa seorang perempuan di rumahnya.
Apalagi dengan perlakuan Sen yang terlampau baik padanya, Axel harus bisa menahan perasaannya untuk tak menyukai lelaki itu.
Ya, Axel harus melakukan itu,setidaknya sampai ia memiliki jalan keluar dari masalahnya dengan Sang Ayah.
Kakinya kemudian melangkah menuju balkon karena merasa sesak di hatinya kala mengingat perlakuan Ayahnya.
"Ayah, karena perlakuanmu, aku menjadi beban orang lain." Axel mencengkram sisi pagar. Matanya memanas, bagaimana ia keluar dari masalah yang ada. Bagaimana menghentikan semuanya.
"Axel."
Sen menghampirinya, menepuk bahunya.
"Ayah jahat..."
Axel ingin sekali menangis, namun rasanya ia sangat amat malu.
"Hidup terus berputar Axel, nanti,suatu hari nanti kamu bisa berkata bahwa kamu hidup bukan dari pemikiran Ayah kamu itu,"tutur Sen. Ia ikut menikmati suasana malam yang hening. Axel menoleh, memandang paras lelaki yang telah membantunya.
Sen itu terlihat sangat dingin dengan wajah tegas. Matanya tajam ketika menatap siapapun. Namun, suara yang keluar dari mulutnya terlalu lembut untuk wajah seperti itu.
Axel mendongak, "semoga, suatu hari aku bisa mengatakan itu."
Sen mengepalkan tangannya keatas udara, "harus! semangat!"
"Semangat!"
Keduanya tertawa, malam itu menjadi saksi bahwa Axel ternyata sudah mulai jatuh kedalam pesona milik Sen.
Arseno.
"Mau teh?"
Tawaran itu keluar dari mulut Arseno yang diangguki oleh Axel.
"Boleh, jika perlu tambah camilan ya,"canda Axel. Sen mengacungkan jempolnya.
"Oke,tunggu sebentar."
Saat Sen pergi, Axel memandang kearah pintu yang dilalui Sen tadi.
"Nggak boleh, aku nggak boleh naruh perasaan apapun,"lirihnya.
Kemudian setelah itu Axel segera masuk kedalam rumah mengikuti Sen.
***
Axel berlari sekuat yang ia bisa. Dirinya merutuk kenapa harus bertemu dengan Pria itu. Axel tadi hanya berniat untuk mengambil jurnal miliknya yang tertinggal dirumah biasanya siang hari seperti ini sang Ayah tak ada dirumah.
"Sen, tolong aku." Axel kembali mengingat lelaki itu, ia berharap Sen akan menolongnya lagi. Axel celingukan mencari tempat untuk bersembunyi.
Kemudian ia berbelok menuju kearah sebuah bangunan yang tidak digunakan.
"Axel!!"
Axel bersembunyi di sela antara bangunan. Ia menahan napas begitu sang Ayah berhenti dan celingukan mencari dirinya.
"Dimana anak sialan itu?"
Axel memeluk erat jurnal miliknya,berdoa dalam hati sembari menahan suara isaknya.
"Mungkin kearah sana."
Axel menitikkan airmatanya begitu suara langkah semakin menjauh, ia bernapas lega setelahnya.
Ia berdiri, kemudian kembali berlari kearah berlawanan. Axel bersumpah tak akan kembali kerumah itu lagi.
Di hapusnya air mata seraya terus mengingat dimana rumah Sen.
"Gimana sayang, kamu suka 'kan sama warnanya?"
Axel menghentikkan gerakan begitu mendengar suara lelaki yang menghantuinya dua hari terakhir.
Dia Sen.
Arseno. Bersama seorang perempuan berambut lurus. gadis dengan tinggi semampai dan kulit seputih salju.
Axel kembali bersembunyi, memperhatikan Sen dan tunangannya.
Ia tersenyum, melihat betapa bahagianya kedua pasangan itu.
"Sukaaa, makasih ya Sen." Perempuan itu terus melihat sebuah tas keluaran terbaru dari brand ternama. Axel ikut tersenyum, perempuan itu sangat amat cantik begitu dilihat secara langsung.
Benar Sen bilang, lelaki itu sangat beruntung mendapatkan gadis seperti Qia.
Axel berbalik, berjalan cepat karena takut Sen melihat dirinya.
Dan, berakhirlah ia disini. Rumah Sen.
Gadis itu segera membersihkan diri kemudian duduk di ranjang. Kakinya menjuntai namun tak sampai menyentuh dinginnya lantai. Pikiran Axel berkecambuk, kenapa ia merasa sakit sekali begitu melihat Sen bersama tunagannya.
kenapa?
Axel memijat pelipisnya, meraih susu strawberry yang sudah dingin kemudian meneguknya dalam sekali tegukan.
Ia lelah.
Axel berjalan keluar kamar kemudian kembali melihat foto itu.
Foto Sen dan Qia.
Kakinya gemetar, apa ketakutannya benar menjadi kenyataan? bahwa ia menyukai Sen.
"Sen lelaki baik, pantas bila aku menyukainya ralat mengangguminya."
Sen terlihat sangat amat bahagia,berdiri disamping Qia.
Axel akhirnya kembali menuju kamarnya. Berharap bahwa esok perasaan itu hilang.
Iya, perasaannya harus hilang.
Bagaimanapun caranya.
***
"Kamu mau kemana?"tanya Qia begitu melihat Sen bersiap.
"Pulang, aku masih ada kerjaan Sayang." Sen berbalik dan menemukan wajah Qia yang seperti tak ikhlas ia pergi.
"Kamu kenapa?"tanya Sen balik seraya memeluk tubuh itu. Sen tersenyum memperlihatkan lesung pipinya. Qia cemberut,"jangan pernah senyum kayak gitu ke perempuan manapun."
Sen mengangguk, "siap tuan putri."
"Senyum kamu cuma punya aku Arseno, inget itu!" Sen mencium kening gadis itu, "iya sayang."
"Kamu mau makan apa?"tanya Sen seraya melepas pelukan, Qia tampak berpikir, "emm aku lagi mau ngemil. Kita ke minimarket aja."
"Okey, kita ke minimarket, jalan sekarang?"
"Iyap!"
Diperjalanan, Qia terus menceritakan tentang kesehariannya dan Sen ikut menimpali.
Keduanya terlihat saling mencintai, membuat banyak pasangan iri melihat keduanya.
Qia berharap, tidak ada yang mengambil Sen darinya