Namanya, Arseno.
Atau biasa disebut Sen oleh orang-orang yang mengenalnya. Lelaki yang memiliki wajah dingin namun berhati lembut itu segera menarik seorang gadis yang terlihat dikejar oleh beberapa orang berbadan tegap, beserta satu orang Pria paruh baya.
Persetan, Sen hanya ingin menolong perempuan.
Wajah gadis itu sudah tidak karuan, melamun sepanjang Sen membawanya. Lelaki itu menghela napasnya, mengalihkan pandangan menatap lekat wajah gadis itu dari samping.
"Nama kamu siapa?"tanya Sen membuka suara.
Hening, tak ada jawaban. Arseno berusaha sabar.
"Hey." Sen mengibaskan tangannya kedepan wajah gadis itu, kemudian yang terjadi adalah bukannya menjawab perempuan itu malah menangis.
Sen akhirnya diam, sepertinya gadis itu butuh waktu untuk menenangkan diri. Akhirnya Sen menarik pedal gas menuju restoran.
"Kamu lapar nggak?"tanya Sen dengan suara selembut mungkin, gadis itu menoleh setelah sekian lama hanya memandang lurus kedepan.
"Iya." Sen tersenyum, kemudian membuka pintu mobil. Menuntun gadis tanpa alas kaki itu. Entah apa yang terjadi pada perempuan berambut hitam ini.
Sen menatapnya lamat, setelah memesan makanan keduanya kini terduduk berhadapan.
"Nama kamu siapa?"tanya Sen setelah merasa gadis itu mulai melihat sekitar.
"Axel." Sen mengangguk.
"Terimakasih, udah nolong aku,"lanjut Axel. Sen tersenyum, "gausah bilang terimakasih, aku bantuin kamu ikhlas kok."
Axel menggeleng,"aku harus berterimakasih banyak-banyak karena kalo kamu nggak nolong aku, entah gimana nasib aku kedepannya."
Sen hendak menjawab namun seorang pelayan datang membawa pesanan keduanya. Setelah mengucapkan terimakasih, akhirnya Sen kembali berbicara, "dimana rumah kamu?"
Axel menggeleng, "aku gabisa pulang kerumah."
"Kenapa?" Sen meminum cola miliknya, sedangkan Axel hanya memandang makanan dihadapannya.
"Aku dijual Ayah."
Sen tersedak, Axel terkejut bukan main lalu menyerahkan air putih.
"Maaf,"sesal Sen setelah batuknya reda. Axel mengangguk.
"Kalau kamu mau pergi, tinggalin aja aku di sini."
Sen menggeleng, kemudian mendorong piring berisi sushi yang ia pesan.
"Ikut aku." Kali ini Axel yang membelalakkan matanya. Sen berkata dengan santainya membuat Axel ragu.
"Maksud kamu?"tanya Axel setelahnya mengunyah makanannya. Sen yang sedang menunduk kembali mendongak, "ikut aku, kerumah aku."
Axel seperti ingin pingsan rasanya, "Makasih sebelumnya, tapi tawaran kamu tadi terlalu--"
"Kamu mau jadi gelandangan? atau ketemu orang yang lebih jahat dari Ayah kamu?"
Axel menggeleng, seperti menimang ajakan lelaki dihadapannya.
"Apa yang akan kamu dapat kalo menampung aku dirumah kamu?"tanya Axel mencoba mencari alasan dari kebaikan lelaki itu.
"Membantu orang yang membutuhkan itu nggak perlu balasan, Axel."
Axel mengulum bibirnya sendiri, makanan dihadapannya pun tak ia pedulikan sekarang.
Akhirnya Axel memilih satu keputusan setelah lima menit terlewat, gadis itu berkata dengan suara pelan, "Aku ikut kerumah kamu."
***
"Ini kamar kamu."
Axel melihat sekitar, Sen tadi berkata bahwa ini adalah kamar tamu namun kamar ini lebih besar dari kamar miliknya. Axel hanya mengangguk, setelah Arsen keluar, Axel mendudukan dirinya di kasur empuk itu.
Axel tak membawa apapun, hanya tubuhnya saja yang ia bawa beserta baju yang ia kenakan.
Axel menguap, setelah acara kejar-kejaran lalu ia menangis, akhirnya baru terasa bahwa ia kelelahan.
Ia termenung, memikirkan bagaimana kedepannya? setelah tubuhnya berbaring, impian yang selalu Axel tulis didalam jurnal miliknya pun pupus sudah.
Ya, Axel kembali menangis. Semua harapan miliknya hancur sudah. Buku kesayangannya pun entah pergi kemana. Badannya lemas, pikirannya kacau, hatinya terlampau sakit.
"Ibu... Ayah jahat sama Axel."
Ia terisak, perih di hatinya melebihi rasa sakit apapun. Lelaki yang seharusnya menjaganya malah Lelaki itu yang membawanya pada jurang kehancuran.
"Ibu..."
Axel tak tahu bagaimana reaksi Ibunya saat menyaksikan dirinya diatas sana.
Ia berbalik, menghapus airmata yang meluncur di pipinya.
Kehidupan sangat hebat dalam memainkan permainan.
Axel berharap bahwa dengan kedatangan Arseno bisa membuat hidupnya lebih baik. Kalaupun tidak, Axel berharap ia bisa bertahan sampai ajal sendiri yang menjemputnya.
***
Sen segera mengganti bajunya, lalu mencari baju yang sekiranya bisa dipakai untuk Axel.
Lalu handpone miliknya berbunyi, Sen segera meraihnya.
"Halo."
"Halo sayang, udah sampe rumah?"
Sen tersenyum mendengar suara pujaan hatinya, "udah sayang, aku juga udah mandi. Kamu udah makan belum? atau kita mau makan di luar?"
"Udah, aku udah makan. Tapi kalo kamu mau makan bareng, ayo aku temenin."
Sen akhirnya mendapatkan baju yang menurutnya kekecilan di tubuhnya. Baju berwarna hijau tua itu pasti akan pas di badan gadis kecil itu.
"Nggak deh, udah malem juga kamu harus istirahat. Aku mau masak aja di rumah."
"Okey, see you sayang. good night!"
"Good night juga sayang."
Arseno segera menutup teleponnya kemudian menyimpan ponsel keatas nakas. Ia bergegas menuju kamar gadis itu tak lupa membawa kotak p3k.
Sen membuka pintu dan terlihat gadis yang sedang tertidur dengan damainya. Sen tersenyum kemudian mendekat dan menyelimuti gadis itu. Arseno mengelus rambutnya yang berantakan. Tak pernah ia lihat gadis dengan kondisi seburuk ini.
Gadis dengan nasib yang buruk. Gadis yang diperlakukan tidak baik oleh orang tuanya sendiri. Sen merasa iba, ia seperti melihat dirinya lima tahun yang lalu namun dengan kehidupan yang sedikit lebih baik.
Axel melenguh, membuat Sen segera menarik tangannya.
"Kamu perempuan hebat, Axel."
Sen berharap suaranya sampai di mimpi gadis itu. Kerutan di dahi Axel menandakan bahwa ia bermimpi buruk dan Sen tidak mau gadis itu terkurung dalam kegelapan sendirian.
"Ayo lari, dan temui aku."
***
Paginya, Sen mendapati Axel sedang terduduk di sofa. Memandang kosong televisi yang menyala. Sen menghampirinya.
"Selamat pagi,Axel,"sapa Sen seraya memakai apron dan berjalan kearah dapur. Gadis yang dipanggil pun menoleh seraya tersenyum.
"Pagi." Axel berdiri, hendak mendekat namun Sen segera mencegah.
"Kamu duduk aja, kaki kamu masih sakit nanti berdarah lagi kalo kamu banyak gerak,"tuturnya seraya menyalakan kompor. Axel menurut kembali duduk namun kali ini di kursi dekat meja bar.
"Masak apa?"tanya Axel membuka pembicaraan. Sen menoleh kemudian mengangkat jamur kearah Axel.
"Aku mau bikin bakso jamur." Axel mengernyit, "ini masih pagi..."
"Arseno, nama aku Arseno,panggil aku Sen,"potong Sen setelah melihat wajah kebingungan Axel.
"Ini masih pagi Sen." Sen tertawa pelan, kemudian kembali menoleh.
"Aku emang kaya gini Axel."
Sudah menunggu beberapa menit akhirnya jadi. Axel bersorak mencium bau yang menyeruak.
"Yeay jadiii!"
Sen tersenyum, "Udah makan aku berangkat ke kantor ya." Axel kembali bingung seraya melihat jam dinding.
"Nggak telat?"tanya Axel karena jam sudah menunjukkan pukul 09.50.
"Nggak, itu 'kan kantor punya aku,"jawab Sen. Axel membulatkan matanya, "serius?!"
"Iya."
Axel kembali bersorak, "Wuihh yang bantuin aku ternyata CEO."
Sen terkekeh pelan, seraya memakan bakso miliknya. Axel juga melakukan hal yang sama.
"Enak, enak banget lohhh!" Axel memberikan dua jempolnya.
"Makasih,"ucap Sen dengan kekehan di akhir.
"Kok bisa kamu pinter masak?" Sen diam begitu ditanya seperti itu.
"Aku sama kaya kamu, bisa lebih parah bisa juga engga."