Bab 1: Penjara yang Rapi
Langit Inggris sore itu menggantung kelabu, menekan atap rumah-rumah bata di pinggiran London dengan beban yang menyesakkan. Di balik jendela dapur yang buram oleh uap air, Amina berdiri mematung. Tangannya yang dingin memeluk tubuh sendiri—sebuah pelukan protektif agar ia tidak merasa benar-benar hancur.
Sudah lima tahun ia hidup dalam "penjara" yang rapi ini.
Setiap sudut rumah ini adalah saksi bisu. Ruang tamu dengan sofa abu-abu tempat Ethan sering duduk berjam-jam sambil mengawasi ponselnya; meja makan tempat Amina harus menelan ludah saat Ethan melontarkan kritik pedas tentang cara memasaknya; hingga kamar tidur di lantai atas yang kini terasa lebih dingin dari gudang es.
Amina menatap pantulan dirinya di kaca jendela. Cadar hitam yang ia kenakan kini tampak pudar, sedikit kusut di bagian tepinya. Ia terlihat seperti bayangan dari dirinya yang dulu—gadis penuh harapan dari sebuah desa di Indonesia yang bermimpi tentang pernikahan penuh keberkahan.
Ternyata, surga itu tidak ada di sini, batinnya getir.
Suara langkah kaki berat yang ritmis terdengar menuruni tangga. Amina menegakkan bahu, refleks merapikan gamisnya yang tampak kebesaran. Ia tahu persis apa yang akan terjadi selanjutnya. Ritme langkah itu adalah teror yang terjadwal. Ethan tidak pernah datang dengan sapaan; dia datang dengan tuntutan.
"Amina! Ke sini!"
Suara Ethan menggema dari ruang tamu, memotong kesunyian sore itu. Tidak ada kehangatan. Hanya perintah, seolah ia sedang memanggil pelayan yang tidak becus bekerja.
Amina menghela napas panjang, memejamkan mata sejenak untuk memohon kekuatan, lalu melangkah keluar dari dapur.
Di ruang tamu, Ethan duduk di sofa dengan ponsel di tangan. Cahaya layar ponselnya memantul di wajahnya yang tegas, namun ekspresinya kosong. Di dinding, foto pernikahan mereka dalam bingkai besar masih terpajang. Dalam foto itu, Amina tersenyum—sebuah senyum yang kini terasa seperti ironi paling menyakitkan yang pernah ia alami.
"Duduk," perintah Ethan dingin, tanpa menoleh.
Amina berdiri mematung di tengah ruangan, tidak berani duduk di sofa yang sama. "Ada apa?"
Ethan meletakkan ponselnya dengan dentuman keras di atas meja kopi. Ia menatap Amina dengan tatapan yang selalu membuat nyali perempuan itu menciut. "Tadi kurir datang. Dia bilang kau mencoba menitipkan paket ke Indonesia lewat dia tanpa izin dariku?"
Jantung Amina berdegup tak beraturan. "Itu hanya beberapa helai baju anak-anak yang sudah kekecilan, Ethan. Aku ingin mengirimnya ke adik-adikku di kampung. Mereka sangat membutuhkannya."
Ethan berdiri perlahan, tubuhnya yang tegap menghalangi cahaya lampu, menciptakan bayangan yang seolah mengurung Amina.
"Aku tidak pernah memberi izin untuk mengeluarkan barang apa pun dari rumah ini. Kau pikir barang-barang itu tidak berharga? Kau pikir uangku jatuh dari langit?"
"Itu hanya baju bekas, Ethan! Kenapa kau begitu pelit pada adik-adikku?" Amina memberanikan diri bersuara, meski suaranya bergetar.
Ethan terkekeh sinis. Tangannya terangkat, bukan untuk membelai, melainkan untuk mencengkeram dagu Amina, memaksa perempuan itu menatap matanya. "Adik-adikmu itu parasit. Mereka hanya tahu cara menghabiskan uangku melalui tanganmu. Dan kau, kau adalah orang yang memfasilitasinya."
Ethan menekan cengkeramannya lebih kuat. "Kau lupa siapa dirimu? Kau adalah wanita yatim piatu yang beruntung bisa kujadikan istri. Jangan mencoba untuk menjadi dermawan dengan harta milikku."
Amina menepis tangan Ethan dengan sisa keberanian yang ia punya, namun pria itu justru tertawa lebih keras. "Jangan pernah bandingkan aku dengan masa lalumu yang menyedihkan itu! Di rumah ini, akulah yang menentukan apa yang boleh keluar dan apa yang boleh tinggal."
Ethan berbalik, mengambil gelas berisi sisa air di meja dan membuangnya ke lantai. "Bersihkan ini. Sekarang. Dan ingat, mulai besok, kau tidak punya akses keluar rumah sampai aku mengizinkannya."
Amina menunduk, menatap pecahan kaca yang berserakan. Ia tidak menjawab. Melawan hanya akan memperpanjang siksaan verbal ini. Ia berlutut di lantai, memungut pecahan kaca itu satu per satu dengan tangan yang gemetar.
Di sudut ruangan, ia bisa mendengar tangis bayinya dari lantai atas, namun Ethan menatapnya dengan tajam.
"Biarkan dia menangis," perintah Ethan dingin. "Itu akan melatihnya untuk tidak manja seperti ibunya."
Amina memejamkan mata, menahan isak yang sudah mencapai tenggorokan. Inilah rumah tangganya. Tempat di mana kasih sayang telah lama mati, digantikan oleh kendali yang mencekik napas setiap hari.
Amina berlutut di lantai yang dingin, jemarinya yang gemetar memunguti pecahan kaca gelas yang berserakan. Setiap sentuhan di permukaan kaca yang tajam itu terasa seperti pengingat akan hidupnya sendiri—terpecah, tajam, dan penuh luka. Ethan berdiri di atasnya, sepatu kulit mahalnya hanya berjarak beberapa senti dari tangan Amina yang sedang bekerja.
"Jangan menangis," suara Ethan rendah, bukan karena iba, melainkan karena risih. "Aku paling benci melihat air matamu. Itu membuat rumah ini terasa seperti tempat yang tidak menyenangkan."
Amina tidak menjawab. Ia terus memungut pecahan kaca itu, memasukkannya ke dalam telapak tangan yang kini mulai mengeluarkan rintik darah kecil. Ia tidak merasakan sakit fisik. Rasa sakit di hatinya sudah jauh lebih mendominasi, mematikan saraf-saraf di permukaan kulitnya.
"Aku akan menyiapkan makan malam," bisik Amina, berusaha berdiri meski kakinya terasa lemas.
"Jangan," potong Ethan tajam. "Makan malam sudah kubeli. Aku akan makan di luar. Dan kau... kau tidak perlu makan malam ini. Mungkin dengan sedikit rasa lapar, kau bisa belajar untuk lebih menghargai kenyamanan yang aku berikan di rumah ini."
Ethan melangkah pergi, melewati Amina tanpa sedikit pun rasa bersalah. Suara pintu depan yang tertutup dengan dentuman keras menjadi musik latar yang biasa bagi Amina. Begitu hening menyelimuti rumah, tangis bayi di lantai atas kembali pecah, lebih nyaring dari sebelumnya.
Amina bergegas naik ke atas, mengabaikan perih di tangannya yang teriris kaca. Ia membuka pintu kamar dengan napas memburu. Di dalam boks kayu, bayi perempuannya yang baru berusia delapan bulan tampak kelelahan menangis.
Amina segera menggendong anaknya, mendekapnya erat ke d**a. "Maafkan Mama, Sayang... Maafkan Mama," isaknya, kali ini tanpa ditahan. Air matanya jatuh menetes di atas cadar yang mulai lembap.
Ia berjalan mondar-mandir di kamar, mencoba menenangkan bayinya. Di sudut ruangan, tumpukan pakaian anak-anak yang tadi hendak ia kirim ke Indonesia berserakan di lantai, hasil lemparan Ethan beberapa saat lalu. Semuanya sudah kotor, berdebu, dan sebagian lagi robek.
Itu adalah simbol dari semua usahanya untuk tetap terhubung dengan akar asalnya—semuanya dihancurkan oleh pria yang sama yang dulu berjanji akan menjaga martabatnya.
Amina mendudukkan diri di lantai, menyandarkan punggungnya di dinding yang terasa dingin. Ia menatap bayinya yang kini mulai tenang dan terlelap di pelukannya.
Ya Allah, sampai kapan? batinnya bertanya. Aku sudah mencoba menjadi istri yang sabar. Aku sudah mencoba menjadi wanita yang patuh. Aku sudah mengubur mimpi-mimpiku demi baktiku pada suami. Tapi kenapa setiap hari, aku justru semakin kehilangan diriku sendiri?
Ponselnya yang tergeletak di atas meja rias bergetar. Sebuah notifikasi pesan muncul. Amina dengan ragu meraihnya. Itu dari adik bungsunya di Indonesia.
“Mbak Amina, apa kabar? Di sini sedang hujan deras. Kami rindu sekali. Apa Mbak baik-baik saja di sana?”
Amina menatap layar ponsel itu dengan pandangan kabur. Ia ingin membalas pesan itu. Ia ingin mengetik, "Aku tidak baik-baik saja. Aku sedang sekarat perlahan-lahan di sini." Tapi jarinya kaku. Ia tahu, Ethan mungkin sedang memantau notifikasi dari ponselnya melalui sinkronisasi yang pria itu paksa pasang.
Amina meletakkan ponselnya kembali. Ia tidak membalas. Ia hanya terus menggendong anaknya, membiarkan malam turun membawa kegelapan yang lebih pekat ke dalam rumah tersebut.
Di luar, hujan mulai turun kembali, menghantam kaca jendela seperti seribu tangan yang mengetuk, namun Amina tahu, tidak ada satu pun orang yang akan membuka pintu untuk menyelamatkannya. Di dalam rumah yang "rapi" dan "indah" ini, ia benar-benar sendirian.