Keheningan yang ditinggalkan mobil Zoya terasa lebih dingin daripada salju yang menyelimuti pelataran rumah. Amina masih berdiri mematung, jemarinya yang tadi menggenggam lengan Arslan kini terkulai lemas. Kata-kata "ratu gadungan" dan ancaman dokumen masa lalu itu terus terngiang, menghantam harga diri yang baru saja ia bangun kembali di atas sajadah subuh tadi. Amina menunduk, butiran air mata mulai jatuh membasahi kerikil yang membeku. "Arslan... maafkan aku. Aku tidak ingin masa laluku menghancurkan namamu di sini. Mungkin benar kata Zoya, aku hanya..." Belum sempat Amina menyelesaikan kalimatnya, sepasang tangan kekar menariknya masuk ke dalam dekapan yang sangat erat. Arslan tidak membiarkan istrinya menjauh meski hanya satu inci. Ia membenamkan wajah Amina di d**a bidangnya

