Sementara Amina berada di dalam gedung kedutaan, berhadapan dengan petugas yang perlahan mulai menyusun kembali lembar demi lembar identitasnya yang sempat dirampas Ethan, Arslan tidak mematikan mesin mobilnya. Ia memilih untuk tetap berada di sana, menatap pintu kaca gedung itu dengan sorot mata yang sulit diartikan.
Bagi Arslan, London bukanlah rumah. Kota ini hanyalah panggung sementara untuk kompetisi wrestling yang ia ikuti. Ia hanyalah seorang perantau dari pegunungan Dagestan yang dingin, dibesarkan dalam tradisi di mana kekuatan bukan untuk menindas, melainkan untuk melindungi mereka yang tidak mampu melawan.
Arslan menggeser posisi duduknya. Ia memandang tangannya yang besar—tangan yang terbiasa mencengkeram lawan di atas matras, tangan yang telah mematahkan d******i banyak petarung tangguh. Namun, hari ini, tangan itu terasa lebih berat setelah menolong seorang wanita yang hidupnya hancur.
Kenapa kau peduli sampai sejauh ini, Arslan? bisik suara di kepalanya. Ia teringat masa kecilnya di lereng gunung Kaukasus. Ayahnya selalu menanamkan satu prinsip sederhana: Seorang singa tidak akan membiarkan serigala memangsa yang lemah saat ia sedang melintas.
Ethan adalah serigala itu. Pria narsistik yang bersembunyi di balik topeng agama untuk memuaskan egonya sendiri. Arslan telah melihat banyak tipe pria seperti itu selama perjalanannya. Mereka yang paling vokal tentang "aturan" sering kali adalah orang yang paling tidak mematuhi esensi dari aturan tersebut: kasih sayang dan keadilan.
Arslan meraih ponselnya. Tidak ada notifikasi yang menarik, hanya pesan dari pelatihnya mengenai jadwal timbang badan untuk pertandingan besok. Ia mengabaikannya. Pikirannya masih tertuju pada sosok Amina di balik cadar—pada ketegarannya yang tenang meski dunianya sedang remuk redam.
Ada sesuatu dalam cara Amina menunduk, cara ia tetap berusaha menjaga adab dan kehormatannya meskipun dalam kondisi paling hina diusir dari rumahnya sendiri. Arslan belum pernah bertemu wanita seperti itu. Di dunianya yang keras, wanita-wanita yang ia temui biasanya tangguh dengan cara yang berbeda, atau mereka yang hanya mengejar prestise. Amina... Amina adalah definisi dari kekuatan yang tidak berisik.
Ia teringat kembali percakapan di dalam mobil semalam. Tentang mahram, tentang kerinduannya pada adik-adiknya di Indonesia, tentang bagaimana ia merasa "kehilangan jangkar".
Aku adalah orang asing bagi Amina, pikir Arslan. Tapi jika aku tidak ada di sini, siapa yang akan memastikan dia sampai ke bandara dengan selamat? Siapa yang akan menjamin Ethan tidak muncul tiba-tiba dengan amarahnya?
Arslan menarik napas panjang, membiarkan udara dingin London masuk melalui sedikit celah jendela. Ia sadar, setelah hari ini, setelah Amina mendapatkan surat perjalanannya, tugasnya selesai. Ia akan kembali ke matras gulat, kembali mengejar medali, dan mungkin tidak akan pernah bertemu dengan wanita bercadar itu lagi.
Namun, di sudut hatinya yang terdalam—tempat yang jarang tersentuh oleh ambisi dan kerasnya dunia olahraga—ada bisikan kecil bahwa pertemuannya dengan Amina bukanlah sebuah kebetulan yang bisa dibuang begitu saja.
Ia menatap pintu kedutaan lagi. Ia melihat bayangan seorang petugas keluar bersama Amina. Langkah Amina terlihat lebih mantap. Ada secarik kertas di tangannya.
Arslan segera mematikan mesin dan keluar dari mobil. Ia berdiri tegak, merapikan jaketnya, dan bersiap kembali menjadi "tembok" yang dibutuhkan Amina. Ia tidak butuh terima kasih. Ia hanya perlu memastikan bahwa hari ini, sang singa telah melakukan tugasnya dengan benar.
Di halaman masjid, Arslan baru saja mematikan mesin mobil ketika ia melihat sesuatu yang membuatnya refleks mengurangi langkah dan menegakkan tubuh.
Di depan pintu utama masjid, Abdul Latif berdiri, berhadapan dengan seorang lelaki yang sangat familiar bagi Arslan... meski ia belum pernah bertemu langsung.
Lelaki itu tinggi, dengan mata terang khas pria Barat, rambut sedikit acak, dan jaket tebal yang dibiarkan terbuka separuh. Gesturnya kasar, tangan terangkat, suara meninggi.
Arslan tidak perlu menebak: inilah Ethan.
Ia mengenal siluet itu bukan dari wajahnya, tapi dari cara Maryam dan Abdul Latif menceritakan tentang suami mualaf yang temperamental itu—pria yang sering meninggikan suara dan menyebut istrinya tidak waras.
Arslan menghentikan langkahnya di jarak yang cukup jauh. Matanya tertuju ke lantai, menghindari area di mana Ethan berdiri. Baginya, melihat Ethan saja sudah cukup membuat darahnya mendidih, apalagi membayangkan bagaimana pria itu memperlakukan seorang wanita yang bahkan tidak pernah ia lihat wajahnya—wanita yang kehormatannya selalu ia jaga di balik kain hitam yang menutupi wajahnya.
"Dia menghilang begitu saja dengan orang-orang masjid gila ini!" seru Ethan dengan nada menantang. "Kalian memihaknya tanpa mendengar penjelasan saya. Dia meninggalkan anak-anak saya! Dan sekarang apa? Kalian menyembunyikannya di sini?"
Abdul Latif menahan sabar. "Tolong rendahkan suaramu. Ini rumah Allah. Dan tidak ada yang 'mencuri' istrimu. Dia datang meminta bantuan setelah kau mengusirnya di tengah malam."
"Saya tidak mengusirnya!" Ethan membalas cepat. "Saya hanya... butuh ruang. Pasangan bertengkar itu wajar. Itu tidak berarti dia bisa lari ke sana kemari menuduh saya monster!"
Arslan merasakan rahangnya mengeras. Kau memukulnya sampai lebam dan menyebut itu 'butuh ruang'?
Abdul Latif menghela napas, berusaha tetap tenang. "Kau mempermainkan talak seperti mainan. Kau mengendalikan uangnya, gerak-geriknya, bahkan memutus hubungannya dengan keluarga. Kau menghinanya di depan kerabatmu. Dan kau memukulnya. Berulang kali. Itu bukan 'butuh ruang'. Itu kekerasan."
Ethan tertawa pendek, sinis. "Oh, jadi sekarang kau psikolog? Kau hanya mendengar satu sisi cerita, Imam."
Abdul Latif menatapnya lurus. "Saya sudah melihat cukup. Saya melihat luka lebam itu. Saya melihat bagaimana dia gemetar setiap mendengar suara keras. Itu sudah lebih dari cukup."
Ethan terdiam sesaat, lalu menggeram. "Jadi di mana dia? Kau tidak bisa menyembunyikannya. Dia istri saya."
"Mantan istri," koreksi Abdul Latif halus. "Kau sendiri yang memastikannya."
Ethan mengepalkan tangan. "Saya masih punya hak. Anak-anak itu milik saya. Dia tidak bisa pergi begitu saja dan berlagak jadi korban."
Arslan, yang sejak tadi berdiri sedikit di samping, merasakan sesuatu mendidih di dalam dirinya. Tangannya refleks menggenggam erat di balik saku jaket. Ia tidak tahu banyak soal hukum negara ini, tapi ia tahu satu hal: lelaki di depannya ini sedang berusaha mempertahankan ego, bukan keluarga.
Abdul Latif menggeleng pelan. "Tidak ada yang berlagak jadi korban. Dia memang korban. Tapi dia juga hamba Allah yang punya hak atas keamanan dan martabat. Dia sedang dalam proses untuk pulang ke negaranya. Itu pilihannya. Kau sudah membuat pilihanmu sendiri, sekarang hadapilah konsekuensinya."
Ethan mendekat selangkah. "Dan kau pikir kau melindunginya? Kau justru membuatnya lemah. Lari saat keadaan sulit? Bukan begitu seharusnya pernikahan."
Abdul Latif menatapnya tanpa berkedip. "Pernikahan itu tentang kasih sayang. Jika bertahan dalam pernikahan berarti kehilangan akal sehat dan iman, maka pergi bukanlah kelemahan. Itu adalah upaya bertahan hidup."
Saat itulah Ethan menyadari kehadiran Arslan. Tatapan mereka bertemu. Mata biru terang Ethan menilai Arslan dari ujung kepala sampai kaki. Ada sesuatu yang berkilat di mata Ethan: rasa tidak suka yang instan.
"Dan siapa ini?" tanyanya tajam. "Pahlawan kesiangan lainnya?"
Abdul Latif menoleh sebentar. "Ini Arslan, saudara kami dari Dagestan. Dia hanya kebetulan lewat."
Ethan mendelik sinis. "Ya, tentu saja. Kalian selalu muncul saat pernikahan orang lain hancur, bukan?"
Arslan menahan diri untuk tidak menjawab. Ia ingat betul nasihat Abdul Latif: jangan terprovokasi oleh orang yang sedang mabuk ego. Tapi ia sulit menahan diri ketika Ethan melanjutkan:
"Biar saya tebak," lanjut Ethan. "Kalian semua pikir dia pantas mendapatkan pria yang lebih baik sekarang, kan? Setelah semua yang saya lakukan untuknya, kalian akan... menikahkannya dengan pria dari luar negeri dan berpura-pura saya tidak pernah ada."
Kata-kata itu seperti belati. Arslan membuka mulut, namun Abdul Latif memberi isyarat agar ia tenang.
"Cukup," tegas Abdul Latif. "Tidak ada yang menjodohkan siapa pun. Dia masih dalam masa iddah. Dan kita tidak sedang mendiskusikan masa depannya dengan seseorang yang menolak menghargai masa lalunya."
Ethan menghela napas kasar. "Baik. Mainkan peran orang suci kalian. Tapi katakan ini padanya: jika dia mencoba membawa anak-anak saya keluar dari negara ini, saya pastikan dia tidak akan pernah melihat mereka lagi. Secara hukum atau tidak, saya akan melawan."
"Tidak ada yang membawa mereka ke mana-mana," jawab Abdul Latif. "Dan mengancamnya lewat saya tidak membuatmu terlihat kuat. Itu hanya membuatmu terlihat ketakutan."
Ethan menatap tajam selama beberapa detik, lalu memalingkan wajah. Tanpa mengucapkan salam, ia berbalik dan melangkah dengan kasar menuju mobilnya. Mesin menderu, dan dalam hitungan detik, kendaraan itu meluncur pergi.
Keheningan kembali menyelimuti suasana. Abdul Latif menghela napas panjang.
Arslan mendekat pelan. "Syaikh, Anda baik-baik saja?"
Abdul Latif menoleh, tersenyum tipis. "Aku sudah terlalu tua untuk konflik seperti ini. Tapi setiap kali bertemu lelaki yang mengukur harga diri dari sejauh mana ia bisa menekan perempuan... rasanya tetap menyesakkan."
Arslan menunduk, menjaga pandangannya tetap ke lantai. "Syaikh, jika suatu hari nanti dia tahu alamat rumah ini..."
"Dia tidak akan tahu," potong Abdul Latif. "Kami tidak akan memberitahunya. Dan hukum di sini tidak mengizinkan sembarang orang memaksa orang dewasa untuk pergi."
Arslan mengangguk, namun pikirannya masih tertuju pada pintu rumah di samping masjid. Ia tidak tahu seperti apa wajah wanita itu, namun ia tahu pasti satu hal: ia tidak akan membiarkan 'serigala' itu kembali.
"Syaikh," panggil Arslan sebelum ia beranjak. "Tolong sampaikan padanya... dia tidak perlu takut. Saya tidak akan membiarkan pria itu mendekat lagi."
Arslan memutar tubuh, langkahnya lebar dan pasti meninggalkan halaman masjid. Ia masih menunduk, tetap setia pada prinsip yang ia jaga sejak pertama kali menginjakkan kaki di tanah rantau ini.