Bab 29: Di Antara Dua Dunia

730 Words

​Pagi pertama di lereng Kaukasus setelah kehadiran anak-anak terasa begitu berbeda. Jika biasanya Arslan terbangun dalam kesunyian yang disiplin—hanya suara angin gunung dan detak jam dinding—pagi ini ia disambut oleh suara tawa tertahan dari arah dapur. ​Arslan melangkah keluar dari ruang latihannya, masih mengenakan kaus hitam yang lembap oleh keringat. Ia terhenti di ambang pintu ruang tengah. Di sana, di atas karpet tebal di depan perapian, Abdullah dan Abdurahman sedang asyik memperhatikan koleksi sabuk juara dan medali Arslan yang tertata di dalam lemari kaca. ​ "Paman Arslan sangat kuat ya, Umi?" suara Abdullah terdengar penuh kekaguman. ​Amina yang sedang merapikan meja makan menoleh, lalu pandangannya bertabrakan dengan Arslan yang berdiri mematung. Amina tersenyum kecil, se

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD