Malam itu, dinginnya London menusuk hingga ke tulang, namun suhu di dalam rumah bata dua lantai itu jauh lebih mencekam. Ethan duduk di ruang tengah, cahaya layar ponsel memantul di matanya yang licik. Ia tidak sedang bekerja; ia sedang sibuk dengan dua aplikasi pencarian jodoh sekaligus. Ethan adalah seorang patriarkal akut yang menutupi kebobrokannya dengan kedok agama. Ia tengah memoles profil sebagai pria saleh yang mendambakan istri kedua—ia sengaja mencari akhwat bercadar, menganggap mereka adalah simbol kepatuhan mutlak yang bisa ia kendalikan.
Amina masih teringat jelas hari-hari penuh kebohongan itu. Mereka bertemu di aplikasi daring, menjalani LDR selama setahun dengan penuh janji manis, hingga Amina terbang ke London. Namun, sesampainya di sini, Ethan yang ia kenal berubah drastis menjadi pria tempramental. Bahkan, ia baru tahu belakangan bahwa Ethan pernah menikahi seorang akhwat asal Malaysia sebelum dirinya, yang berakhir dengan perceraian yang tidak pernah Ethan ceritakan alasannya.
"Kenapa kau berani menatapku seperti itu?" suara Ethan memecah lamunan Amina.
Ethan baru saja mematikan pesan suara kepada salah satu calon korbannya. Ia menuduh Amina telah menghambat "ibadahnya" untuk berpoligami.
"Kau penghambat rezekiku! Kau pembawa sial! Gara-gara kau, rencana pernikahanku dengan wanita yang lebih saleh dan patuh terus tertunda. Seharusnya kau bersyukur aku masih mau menampungmu di sini setelah apa yang kulakukan untuk keluargamu!" teriak Ethan.
Amina merasakan dadanya sesak. Ethan mengungkit uang 10 juta rupiah yang dulu ia berikan saat adik Amina mengalami kecelakaan parah. Uang yang seharusnya menjadi bukti kasih sayang, justru dijadikan rantai untuk menjerat leher Amina agar tidak bisa menuntut hak apa pun. Padahal, Amina dulunya adalah wanita mandiri yang bekerja di toko baju muslimah, sosok yang mampu merawat Usman , Umar, dan Rahma sendirian sejak mereka yatim piatu. Sejak menikah dengan Ethan, jangankan membantu adik-adiknya, membeli sebotol skincare atau baju layak untuk dirinya sendiri saja dianggap sebagai "pemborosan yang tidak pantas".
"Sholat saja kau sudah tidak pernah, Ethan. Bagaimana bisa kau bicara tentang poligami dan kesalehan?" suara Amina parau, namun dingin.
Ethan murka. Keangkuhannya tersinggung. "Jangan kau bawa-bawa agama! Aku tidak sholat karena kau! Energinya habis untuk menghadapi wanita pembawa sial sepertimu!"
Mertuanya muncul, menatap Amina dengan tatapan dingin yang sudah biasa. "Buang saja dia, Ethan. Kita tidak butuh menantu yang hanya bisa menyalahkan suaminya sendiri."
Tanpa ampun, Ethan menyeret Amina keluar. Hawa dingin London yang membeku langsung menghantam tubuh Amina yang hanya berbalut baju rumah lusuh.
"Pergilah! Jangan pernah menampakkan wajahmu lagi! Anak-anakku akan mendapatkan ibu baru yang bercadar dan jauh lebih mulia daripada wanita perusak seperti kau!" teriak Ethan sebelum pintu dibanting keras, mengunci Amina di luar dalam kegelapan malam yang mematikan.
Amina berdiri mematung di jalanan yang sepi. Angin es menghujam kulitnya, tapi rasa sakit di hatinya jauh lebih hebat. Ia menoleh ke jendela lantai atas, tempat Abdullah, Abdurahman, dan Fatimah tertidur. Ia telah dibuang, namun untuk pertama kalinya setelah lima tahun, ia sadar bahwa ia telah terlepas dari rantai pria yang bahkan tidak sujud kepada Tuhannya.
Udara dingin menusuk melalui celah-celah kain. Ia menatap jalan di depan rumah—jalan yang sama yang dulu ia lewati dengan perasaan penuh harapan ketika pertama kali menginjak London. Waktu itu Ethan menjemputnya di bandara, membawa bunga plastik yang ia beli di toko dekat rumah. Amina ingat, ia sempat tersenyum. Sekarang, tidak ada lagi senyum itu.
Ia melangkah pelan, meninggalkan rumah yang bahkan tidak sempat ia ucapkan selamat tinggal. Di dalam rumah itu ada tiga anaknya. Tiga potongan jiwa yang ia tinggalkan karena tidak punya pilihan.
Ya Allah...
Air mata kembali mengalir di balik cadar. Ia menggigit bibir, berusaha menahan suara isak agar tidak terdengar orang. Ia tidak punya uang, tidak punya rumah, tidak punya orang tua untuk pulang. Di tengah kepahitan itu, satu kalimat Ethan masih terngiang jelas di telinganya, seolah baru saja diucapkan: "Aku talak kau sekarang juga! Jangan pernah kembali karena kau bukan lagi istriku!"
Talak itu terdengar begitu ringan di mulut Ethan, seolah-olah ia sedang membuang sampah, bukan mengakhiri sebuah ikatan suci. Dalam kebingungan itu, satu tempat muncul di kepalanya: Masjid.
Tempat terbaik yang ia tahu. Tempat di mana sujud masih mungkin terasa sebagai rumah ketika rumah sendiri mengusir. Ia harus ke masjid. Dari sana, mungkin ada cara menghubungi kedutaan. Mungkin ada cara kembali ke Indonesia. Lebih dari dirinya sendiri, ia memikirkan adik-adiknya. Usman, Umar, dan Rahma. Kalau ia bisa pulang, ia bisa mulai bekerja. Ia bisa membantu mereka. Lebih baik duduk di warung kecil di kampung sambil menggoreng pisang, daripada di rumah besar yang tidak pernah menginginkannya.
Ia berjalan menyusuri trotoar yang basah. Jaketnya menahan sebagian dingin, tapi angin musim dingin merembes juga sampai ke tulang. Sepatunya mulai basah, napasnya berubah menjadi asap tipis di udara.
Amina tidak tahu arah pasti masjid, hanya mengingat garis besar lokasinya—beberapa kali Ethan pernah mengantarnya dulu, di awal-awal pernikahan, saat ia masih pura-pura shalih. Belakangan, Amina hanya shalat di rumah. Ethan sudah lama meninggalkan shalat, tidak pernah lagi menyentuh mushaf, sibuk dengan dunia online dan ambisi-ambisi kosong.
Langkahnya pelan tapi pasti. Di persimpangan pertama, ia berhenti, mencoba mengingat. Ke kanan atau ke kiri? Angin menerpa wajahnya. Tak ada orang yang menawarinya payung. Orang-orang lewat dengan langkah terburu-buru, menunduk, sibuk dengan ponsel. Hanya Amina yang seperti titik hitam di tengah derasnya hari yang tidak peduli.
Kalau aku pingsan di sini, apakah ada yang peduli? Ia menggeleng, mencoba mengusir pikiran itu. Ia harus hidup. Setidaknya sampai ia bisa menghubungi adik-adiknya dan bilang, "Aku kembali."
Langkahnya semakin berat. Kakinya mulai pegal. Waktu terasa kusut. Pandangan matanya mulai kabur. Ia melihat ke depan—ada lampu jalan, ada deretan toko, ada mobil yang melintas, tapi seperti jauh sekali. Ia berhenti di dekat zebra cross, memegangi tiang lampu untuk menahan tubuh yang goyah. Napasnya terengah.
"Bismillah," gumamnya. "Sedikit lagi, walaupun aku tidak tahu sejauh apa..."
Tiba-tiba, bunyi rem pelan terdengar. Sebuah mobil hitam berhenti tidak jauh di depannya. Jendela sisi pengemudi menurun perlahan.
"Apa Anda baik-baik saja?"
Suara itu dalam. Beraksen asing—bukan British, bukan Indonesia. Ada nuansa berat dan serak yang tidak dibuat-buat. Amina menunduk, refleks, menjaga pandangan. "Iya," jawabnya refleks, meski jelas tidak.
"Kau gemetar," lanjut suara itu. "Kau sendirian di tengah hujan seperti ini. Apa kau butuh bantuan?"
Amina menggigit bibir. Kalimat itu memecah dinding yang ia bangun selama bertahun-tahun. "Aku," suaranya pecah. "Aku hanya ingin ke masjid."
Pengemudi mobil itu mematikan mesin, lalu membuka pintu. Langkah-langkah berat mendekat. Amina merasakan kehadirannya, namun pria itu menjaga jarak.
"Aku tidak akan menyentuhmu," kata pria itu pelan. "Tapi aku bisa berdiri di sini, agar kau tidak jatuh ke jalan."
Perlahan, Amina menoleh. Di hadapannya berdiri laki-laki tinggi dengan bahu lebar, memakai jaket tebal. Wajahnya tegas, rahang kokoh, kulit putih kemerahan khas orang pegunungan Kaukasus. Janggut hitam menutupi sebagian rahangnya, rapi tapi lebat. Tatapannya tajam, tapi ada sesuatu di matanya—empati.
"Kau ingin ke masjid?" ulangnya pelan. "Masjid mana?"
"Aku tidak tahu alamat persis. Hanya ingat, ada di dekat jalan besar yang ada toko Turki."
Pria itu tampak berpikir cepat. "Mungkin masjid yang sering dipakai orang Turki dan Dagestan. Aku tahu tempatnya."
"Dagestan?" Amina mengulang, hampir tidak sadar.
Pria itu mengangguk. "Ya. Aku dari Dagestan. Namaku Arslan. Aku sedang di London untuk kompetisi wrestling internasional minggu ini."
Amina menatapnya sekilas. Kini ia mengerti mengapa pria itu tampak begitu kokoh. Bahunya yang lebar, lehernya yang tebal, dan gestur tubuhnya yang tenang namun penuh kewaspadaan adalah ciri khas seorang petarung. Berbeda dengan Ethan yang sombong dan penuh basa-basi, Arslan memancarkan aura kekuatan yang nyata.
Amina menunduk, air matanya mengalir di balik cadar. "Aku baru diusir. Suamiku sudah menjatuhkan talak padaku. Aku tidak bisa melihat anak-anakku, tidak punya rumah, tidak punya tempat tinggal."
Arslan menutup mata sesaat. Rahangnya mengeras. Ia tidak mengeluarkan kata-kata klise atau simpati yang berlebihan. Ia hanya terdiam, seolah sedang menimbang beban berat dari cerita Amina.
"Masuk ke mobil," ucap Arslan singkat. Nadanya bukan perintah, tapi ketegasan yang tidak memberikan ruang untuk menolak.
Ia membukakan pintu belakang mobil untuk Amina, lalu kembali ke posisi pengemudi tanpa banyak bicara. Saat Amina hendak masuk, lututnya yang lemah tiba-tiba hampir menyerah. Arslan sigap bergerak, meraih ujung jaket Amina—bukan lengannya—menahan tubuhnya dengan tangan yang besar dan kuat agar tidak ambruk ke tanah.
"Astaghfirullah," gumamnya pelan. "Pelan-pelan."
Setelah memastikan Amina duduk di kursi belakang yang hangat, Arslan kembali ke depan. Ia menghidupkan mesin dan pemanas mobil, lalu menjalankan kendaraannya membelah hujan London dengan tenang.
Di dalam mobil itu, Amina merasa aneh. Ia baru saja kehilangan segalanya, tapi pria asing di depannya ini tidak menanyakan hal-hal yang menyakitkan atau menginterogasinya. Arslan hanya fokus pada jalan, tangannya yang besar memegang kemudi dengan mantap. Ia tidak menjanjikan apa-apa, tidak pula bertanya ke mana harus pergi selanjutnya. Ia hanya terus melaju, membawa Amina menjauh dari kehancuran menuju suatu tempat yang masih belum diketahui Amina.
Amina menatap bayangan Arslan di spion tengah. Ia tidak tahu apa yang ada di pikiran pria itu, atau apa yang akan terjadi begitu mobil ini berhenti. Tapi untuk pertama kalinya setelah lima tahun, ia merasa tidak sendirian di tengah badai yang paling dingin dalam hidupnya.