Bab 22: Cakar Sang Elang

1331 Words

​Acara khitbah baru saja usai dengan penuh keberkahan. Keluarga besar Arslan dari Dagestan telah berpamitan kembali ke hotel, meninggalkan kehangatan yang masih terasa di ruang tamu rumah Usman. Namun, begitu pintu tertutup, suasana haru itu segera berganti menjadi diskusi yang serius. ​Arslan duduk di hadapan Paman Mansur dan Usman. Wajahnya yang tadi lembut saat prosesi lamaran, kini berubah menjadi tajam dan dingin. Ia mengeluarkan ponselnya, menatap kembali email ancaman yang dikirimkan Ethan. ​"Paman, Usman... saya minta maaf karena hari bahagia ini sedikit terganggu oleh bayang-bayang masa lalu Amina," ucap Arslan dengan nada berat. "Tapi saya ingin kalian tahu satu hal. Di Dagestan, kami tidak pernah membiarkan musuh menyerang dari belakang tanpa balasan yang setimpal." ​Usman me

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD