Arah Yang Berbeda

1092 Words
Aisyah prillyana safitri "Entah kenapa, aku selalu berdebar jika berdekatan dengannya. Dia memang tidak seperti lelaki lainnya, lelaki soleh pekerja keras dan sangat sopan. Walaupun sedikit terlalu percaya diri, ya bagaimana pun dia memang tampan jadi pasti sudah banyak yang mengantri untuknya. Kalo aku siapa, hanya seorang gadis yang mencari jati diri sebenarnya. Meskipun aku seorang artis, tapi mana mungkin dia menyukai ku. Lebih baik aku fokus dengan pertobatanku, dan fokus dengan karierku. Insya allah jika memang berjodoh pasti akan bertemu. "Sepertinya, kamu sering sekali menyendiri. "Astagfirullah, kalo kamu menyapa seperti ini jangan salahkan aku kalo setiap ketemu selalu beristighfar. "Assalamuallaikum, aku fikir kamu tidak akan sekaget ini. Ucapnya sambil tersenyum. "Telat, baru salam. "Walaupun telat harus dijawab, kan salam itu wajib. "Iya, waallaikum sallam. Jawabku ketus. Dia hanya tersenyum, ada apa dengan orang ini. Pertama bertemu marah-marah gak jelas. Dan menghina aku. Sekarang malah tersenyum seperti ini. "Aku hanya heran, kenapa setiap kali bertemu kamu, kamu selalu merenung dan nampak berbeda saat kamu berada di layar kaca. Aku pun hanya menautkan alisku, pertanyaan apa itu. Apa dia sedang mencari tahu kehidupanku. "Ooh.. Maaf, aku hanya aneh saja melihat kamu seperti itu. Tidak ada maksud lain. Lanjutnya yang seperti tahu isi hatiku. "Bukan aneh, melainkan hanya dengan cara inilah hatiku bisa tenang. Berdiam diri di masjid dan memohon ampunannya. Kamu pasti sudah tau tentang aku yang dulu dan sekarang, jadi tidak ada salahnya kan, jika aku menjadi seperti ini. Aku pun bergegas berjalan keluar, karena aku tidak mau terlanjur jauh berhubungan dengannya. "Kalo kamu mengijinkan, aku bisa menolong kamu. Karena bukankah berbagi itu akan melegakan. Karena pasti kamu juga butuh seseorang yang bisa menuntunmu. Aku pun kaget dengan ucapannya, apa maksudnya. Aku masih bisa mencari guru perempuan kenapa harus lelaki. Apa lagi seperti dia, malah bikin salah paham saja. "Maksud kamu,?? maaf aku bisa mencari guru perempuan. Jadi kenapa harus seorang lelaki. Kita bukan muhrimnya jadi menurut aku tidak perlu. "Kenapa,? bukankah yang dilihat niatnya untuk belajar. Di sini tidak ada seorang ustadzah, yang banyak ustadz sama kyai. Dia benar, kata papa di tempat perumahan yang elit seperti ini susah bila mencari seorang guru yang benar-benar mengerti agama. Kebanyakan disini penceramahnya seorang laki-laki. Hanya ada satu wanita, seorang ustadzah biasa jadi pemimpin pengajian perempuan disini. Tetapi beliau sudah tua, jadi jarang mengambil kerja di luar. Tetapi apa iya harus dia, malah semakin gak beres ini hatiku jika selalu bertemu dengannya. Terakhir saat kita bekerja sama saja, aku masih tidak tenang dengan debaran jantungku ini. "Maaf, tapi aku masih mau mencari yang hanya se muhrim denganku. Jawabku lalu berbalik pergi menjauh darinya. "Apa perlu aku menikahimu, baru kamu bisa menerimaku. Teriaknya yang langsung membuatku berhenti. "Begitu juga bisa, sebaiknya kamu lebih dulu belajar menghargai wanita daripada menawari aku untuk hal yang omong kosong. "Akan aku buktikan jika ucapanku bukan omong kosong. "Assalamuallaikum, permisi. Ucapku dan langsung bergegas pergi. Dasar lelaki, segitu gampangnya ngucapin tentang pernikahan. Apa dia fikir ucapannya itu tidak membuatku kefikiran. Tapi sepertinya aneh jika lelaki tampan dan soleh seperti dia tidak memiliki kekasih. Sekretarisnya rosa sepertinya juga menyukai ali. Aku tidak boleh terlalu besar kepala mendengar ucapannya, karena tujuan ku saat ini bukanlah mencari lelaki. ************ "Mba prilly, bagaimana apa sudah bisa dimulai. Tanya udin yang baru saja mengahampiriku. "Bisa udin, tapi kita harus nunggu ketua baksosnya dulu. "Ali, dia lagi sibuk ngeladenin cewe-cewe minta kenalan. "Astaghfirullah, seperti itu udin.?Tanyaku yang terkejut mendengar pernyataannya udin. Tak. Plak. Tiba-tiba udin terkena lemparan botol mineral, sejak kapan ali sudah ada dibelakang kita. "Loe kalo ngomong lebih baik di saring dulu, kalo salah jatuhnya fitnah. "Maaf pak ali, saya salah. Saya kan hanya bercanda saja dengan mba prilly. Ucap udin memelas. "Bercanda boleh, tapi jangan merendahkan orang lain. "Segitu marahnya sih loe sama udin, dia kan cuman bercanda. Belaku yang tak tega melihat udin masih menunduk. "Kamu, panggilnya kamu.!! Aku sih biasa saja kalo dibuat bercanda tapi gak di depan kamu juga. "Maksud kamu,? memang kenapa.? Tanyaku masih penasaran dengan arah pembicaraan mereka. "Iya kan mana ada lelaki yang mau jika dia di jelekkan di depan wanita yang di sukainya. Begitu mba prilly. Penjelasan udin membuat ku terkejut, tapi ali malah manggut-manggut. Memang dia tidak sadar dengan ucapan udin. "Eh, udin kenapa loe ngomongnya kelewat jujur. Tuh kan baru ajah mau aku tanyain, dasar lelaki ini. "Kamu, pangilnya kamu. Sama udin loe gue gitu. Balasku dan dia langsung diam. "Itu berbeda, cara aku dan udin berbicara memang begini. Jawabnya. "Ya sudah, mari kita mulai acaranya. Sudah semakin sore ini. Dan warga juga sudah berkumpul. "Baik, kalo begitu kita berkumpul dengan yang lain saja. Ali pun mengajak kita bergabung dengan yang lain, karena acara akan segera dimulai. Dan sungguh mengejutkan, subhanallah banyak sekali yang datang. Walaupun aku sering mengikuti acara seperti ini tapi ini benar-benar berbeda. Biasanya papa yang bikin acara dan aku hanya bisa melihat, tapi kali ini aku yang menjadi panitia dan mengikuti seluruh acaranya. Bahagia jelas sekali, beginikah jika kita mempunyai komunitas. Mereka semua orang baik, perduli dengan sesama dan santun. Tidak salah jika aku dapat berteman dengan mereka semua. Terutama ali, dia seorang pengusaha kaya tetapi dia mau menjadi bagian dari mereka yang notabennya hanya masyarakat biasa. Dia disegani pula, tapi ali selalu menghilangkan jarak itu. Memang benar jika status manusia yang bisa membedakan hanyalah ketaqwaannya dengan tuhannya, bukan kaya atau miskin. Bukan cantik atau jelek. Ya allah, semoga aku dijauhkan dari penyakit hati yang seperti itu. Aku bahagia mempunyai teman baru yang bisa mengajarkanku akan kebaikan. "Kenapa kamu senyum-senyum gitu sih. Suara ali mengagetkanku. "Kamu sendiri kenapa selalu ingin tahu kehidupanku. Tanyaku balik. "Aku diam kamu bertanya, aku tersenyum kamu juga bertanya. "Karena aku tertarik dengan kehidupan kamu, dan..!! "Dan,,, tanyaku penasaran. Dia malah masih diam. "Dan kamu. Dia melihatku dan tersenyum. Senyum yang membuat hati ini berdebar. Ya allah, kenapa selalu seperti ini. Jika aku bertemu dengan lelaki ini. "Astagfirullah, mangakannya kata udin kamu itu belum menikah. Lha sukanya gombalin cewek-cewek. Cewek mana ada yang mau kalo cuman digombalin ajah. Aku pun tersenyum dan hendak melangkah pergi. "Aku belum menikah karena kamu belum mau diajak menikah. Kalo kamu mau, aku langsung ngajak kamu menikah. Jawabnya yang membuat aku semakin tertawa. "Bagus juga gombalannya, mari bapak ali kita sudah selesai. Ucapku yang membuat dia salah tingkah. Dia pun mengikutiku yang sudah berjalan menyusul udin. "Tapi aku tidak pernah mengajak wanita menikah, kamu yang pertama kali. Aku pun langsung terdiam dan membeku. Ini orang kenapa enak sekali mengatakan menikah dengan raut muka yang seperti itu. Apa dia serius dengan ucapannya. Kenapa dia ikut terdiam, dan tersenyum lembut ke arahku. ???????
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD