"Baru ingat pulang kamu?"
Pertanyaan itu menyambut Ivy saat baru sebelah kakinya menginjak lantai ruang tamu. Refleks dia berhenti, memutar bola mata malas sambil melipat kedua tangan di depan d**a, tanpa menatap ke arah suara.
Tidak perlu melihat untuk tahu siapa yang bertanya dan bagaimana raut wajah pria itu. Meskipun tampan, jika berkerut seperti itu Arga jadi terlihat jelek.
"Baru ingat kamu punya rumah dan suami yang perlu kamu urus?"
Pertanyaan yang tajam dan menusuk. Seandainya dia mengharapkan perhatian dan kasih sayang pria itu, Ivy pasti terluka mendengarnya.
Sayangnya, dia tidak memiliki perasaan apa pun terhadap suaminya. Daripada mengharapakan cinta dan perhatiannya, dia lebih merasa muak dan jijik pada Arga yang hanya haus s**********n.
Beruntungnya, pria itu tidak pernah tertarik untuk menyentuhnya. Arga membencinya karena setuju menerima pernikahan mereka.
Ivy melirik malas sebelum memutar tubuh ke arah pria itu yang bertingkah seperti seorang suami yang benar saja. Padahal, siapa pun di mansion ini mengetahui bagaimana sikap dan sifat Arga.
"Aku lupa, tuh!" jawab Ivy santai tanpa merasa bersalah. "Aku pikir, suami aku nggak pulang kayak malam-malam kemaren makanya aku ikutan nggak pulang juga." Dia tersenyum manis seolah tidak terjadi apa-apa. "Kamu masih minta ku ngurus kamu, Ga? Bukannya kamu udah ada yang ngurus, ya?"
Kedua tangan Arga mengepal kuat di pangkuannya. Seandainya saja tidak ada orang-orang ayahnya yang disusupkan di mansion mereka untuk mengawasi, sudah pasti dihajarnya perempuan di depannya ini. Ivy terlalu kurang ajar baginya, sangat tidak pantas untuk mendampinginya sebagai seorang istri.
Barbar, kurang ajar, tidak lembut sama sekali. Bukan tipe perempuan yang disukainya, dan bukan perempuan yang pantas menyandang status sebagai Nyonya Arga Permana.
Tania yang sekarang menjabat sebagai sekretarisnya jauh lebih cocok menjadi istrinya. Sayangnya, kedua orang tuanya tidak memberikan restu. Mereka bahkan memerintahkannya untuk memecat Tania agar tidak mempermalukan keluarga.
Hanya dirinya saja yang bersikeras untuk mempertahankan Tania di sisinya. Selain itu, Ivy juga ikut membelanya, meminta kepada orang tuanya untuk membiarkan Tania tetap menjadi sekretarisnya.
Entah apa rencana perempuan itu. Arga tahu, Ivy tidak bisa dianggap remeh. Perempuan itu licik, penuh rencana jahat di otaknya yang kecil.
"Jangan bilang sama aku, kalo sekretaris tersayang kamu itu nggak ngurusin kamu, Ga. Kasian banget!" Ivy menggelengkan kepala, mulut berdecak beberapa kali.
Berkata kasihan, tetapi raut wajahnya tidak menunjukkan seperti yang dikatakannya. Ivy justru tersenyum mengejek menatap Arga.
"Makanya kamu tadi malem sama cewek lain, ya?" Ivy menggigit ujung telunjuk kanannya. Bukan bermaksud menggoda, melainkan semakin mengejek suaminya.
Wajah pria itu yang memerah menahan amarah merupakan pemandangan yang sangat indah di matanya. Ivy sangat menikmati kekalahan Arga.
"Apa perlu aku bantu kamu buat tegur Tania biar lebih merhatiin kamu?"
Arga membuang muka, kedua tangan semakin kuat mengepal di pangkuan, tetapi disembunyikan sebisa mungkin agar tak terlihat. Ivy jelas-jelas mengejeknya, dan ia tidak dapat membalasnya.
Tadi malam, ia memilih bersama perempuan lain karena Tania sedang berhalangan. Sialan memang, di saat ia memerlukan tamu bulanan Tania justru datang mengganggu.
Eh, tetapi tunggu dulu! Dari mana Ivy mengetahui semua itu? Apakah tadi malam perempuan itu berada di tempat yang sama dengannya, klub malam?
Bisa saja karena Ivy baru pulang sekarang, sore hari setelah tidak pulang seharian. Itu pun ia yang menelponnya, memerintahkan untuk pulang. Jika tidak, mungkin sampai sekarang Ivy masih berada di luar sana.
Sialan!
Itu artinya, Ivy sudah melihat apa yang dilakukannya tadi malam. Tidak masalah sebenarnya, tidak ada arti saja sekali baginya. Toh, Ivy sudah mengetahui semuanya. Pernikahan mereka hanya di atas kertas dan di depan publik saja.
Ia tidak mencintai Ivy. Menikah dengannya karena terpaksa atas perintah kedua orang tuanya. Siapa yang mau dengan perempuan barbar seperti Ivy, yang tidak ada lembut-lembutnya.
Daripada berkata manja dan menggoda seperti para perempuan lainnya, Ivy justru mengejeknya. Bahkan, di depan orang tua mereka. Mulut Ivy terlalu pedas, penuh bisa seperti ekor kalajengking.
"Tania tau nggak, sih, kalo kamu juga sering sama cewek lain?" tanya Ivy melirik sekilas Arga yang masih tak mau balas menatapnya.
Arga mendengkus kasar, lantas berdiri. Melangkah lebar dan berhenti tepat di depan Ivy dengan jarak kurang dari satu kaki. Ia menundukkan kepala, menatap tajam Ivy yang lebih pendek darinya.
"Walopun Tania tau, dia nggak bakalan bersikap kayak kamu!" Arga mendesis di depan telinga Ivy, berbisik penuh penekanan.
Ivy mengambil satu langkah ke belakang untuk menghindar. Dia tak ingin muntah di baju Arga karena terlalu jijik pada pria itu.
"Emangnya aku kenapa? Kayak gimana, sih, Ga, menurut kamu?" Ivy bertanya seraya melipat kedua tangan di depan d**a. Hidungnya berkerut randa dia tengah serius berpikir. "Perasaan aku nggak pernah peduli semua yang kamu buat. Terserah kamu mau ngapain di luar sana yang penting nggak bikin malu."
Arga tersenyum mengejek menggelengkan kepalanya. "Ivy, kamu pikir, aku nggak tau kalo semua yang kamu lakuin itu cuma buat narik perhatian aku?" Ia terkekeh geli. "Asal kamu tau, Vy, kamu ngelakuin apa pun aku nggak bakalan tertarik sama kami!"
Arga menggeram. Sedetik kemudian, balas tersenyum mengejek yang penuh kemenangan. Ivy selalu berpura-pura memberontak dan melawan, tetapi pada akhirnya selalu menurut apa pun yang diminta papanya untuk melakukan.
Tingkah barbar Ivy dan sikapnya yang melawan itu hanya ditunjukkan di depannya saja. Apa itu artinya bukan untuk mencari perhatian?
Ivy sama saja seperti perempuan lainnya di luar sana yang sangat ingin bersamanya. Bahkan, rela melakukan apa pun untuk mendapatkan perhatiannya.
Sayangnya, ia tidak tertarik sama sekali. Perempuan seperti Ivy, telanjang pun di depannya tetap ia tidak akan meliriknya.
Ivy memutar bola mata bosan. Arga yang digilai perempuan di luar sana membuatnya besar kepala dan memiliki kepercayaan diri tingkat tinggi yang sangat memuakkan.
Pria tak tahu malu itu selalu saja berpikir jika dirinya merupakan bagian dari salah satu perempuan yang sangat ingin mendapatkan perhatiannya. Menjijikkan sekali. Tak sadar Ivy menggeliat.
"Terserah kamu bilang apa, aku bilang nggak juga kamu nggak bakalan percaya." Ivy mengedikkan bahu tak peduli. Arga dan kepercayaan dirinya yang sangat tinggi benar-benar membuatnya muak.
Pria itu tidak akan mau percaya apa pun yang dikatakannya. Dengan narsisnya, Arga justru memutarbalikkan fakta. Tetap dengan kepercayaan dirinya yang tak terpatahkan, Arga bersikeras apa pun yang dia lakukan hanya untuk menarik perhatian pria itu.
Jujur saja, Ivy sudah lelah menghadapi kenarsisan Arga. Pria itu lebih parah dari Nixon yang dulu selalu menempel padanya.
Lelah, tetapi bukan berarti kalah. Sampai kapan pun Ivy tidak akan sudi menyerah. Dia akan terus berusaha mendapatkan kebebasan yang selama ini selalu menjadi mimpinya.
"Aku mau istirahat, jangan diganggu!" Ivy melirik Arga tajam sebelum menyeret kakinya meninggalkan ruang tamu. Beberapa langkah dia berhenti, menoleh ke belakang menatap Arga. "Bangunin aku kalo makan malam!" perintahnya lantas berlaku tanpa menoleh lagi.
Kamarnya berada di lantai dua, satu tingkat di bawah kamar Arga yang berada di lantai tiga. Ivy menggunakan tangga untuk tiba di sana. Dia tidak pernah mau tidur di satu kamar yang sama dengan pria yang memiliki kenarsisan tingkat tinggi seperti Arga.
Ivy menduga, Arga mengidap gangguan psikologis, NPD, atau sejenisnya, atau apalah dia tidak mengetahui jenisnya. Yang pasti, pria itu tidak sehat secara mental. Berdekatan dengan Arga bisa-bisa membuatnya terjangkit gangguan yang sama.
Mengambil kamar yang berbeda lantai dengannya saja Arga sudah menuduhnya ingin menarik perhatiannya, apalagi kamarnya berada di lantai yang sama. Dasar gila!
Ivy mengambil ponsel dari tas tangannya sebelum menyimpannya di meja rias yang terletak beberapa meter dari tempat tidur. Dengan kasar, dia menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur, dan memejamkan mata.
Hanya beberapa detik, mata indah itu kembali terbuka, menatap lurus ke arah langit-langit kamar yang berwarna biru lembut seperti awan. Dia yang menginginkannya, meminta kepada Ayah mertuanya yang sangat pengertian agar didesain seperti itu.
Ivy mengembuskan napas melalui mulut. Seandainya saja Ayah mertuanya bukan yang meminta pernikahan ini, tak mungkin dia menyetujuinya.
Masalahnya, Andika Permana yang langsung meminta dirinya kepada papanya yang durjana sebagai pengganti ratusan milyar yang dikeluarkan keluarga Permana untuk perusahaan papanya yang berada di ambang kebangkrutan.
Andika Permana adalah pria yang paling berjasa dalam hidupnya. Jika bukan karena pria itu yang menolongnya dulu, tidak mungkin dia bisa menjadi dirinya yang sekarang. Yang lebih percaya diri dan berani menghadapi semua apa pun yang menimpanya.
Andika Permana tidak hanya melindunginya, tetapi juga memberikan semua yang dibutuhkannya saat dia sangat memerlukan bantuan. Jika bukan karena pria itu yang sekarang menjadi Ayah mertuanya, entah bagaimana nasibnya sekarang. Mungkin saja, dia sudah tewas di tangan pria tua bangka yang waktu itu membelinya.
Papanya, yang lebih menyayangi adik tirinya, anak dengan wanita selingkuhan yang sekarang menjadi ibu tirinya, rela menjualnya kepada seorang pria tua hidung belang yang —katanya— adalah seorang investor. Padahal, saat itu, dia masih berseragam putih abu-abu.
Untungnya, dia berhasil melarikan diri setelah memukul kepala pria itu dengan botol sampanye sebelum berhasil disentuh. Dia bertemu dengan Andika Permana saat kabur itu.
Andika Permana melindunginya, memberikannya jalan untuk mengejar cita-citanya. Dia bisa jadi dirinya seperti sekarang —sekali lagi— berkat pria itu. Hutang budinya kepada Andika Permana tidak terhitung. Mungkin dia harus membayarnya seumur hidup, kecuali pria itu membebaskannya.
Tidak. Ayah mertuanya tidak mengekangnya, tidak memintanya untuk membalas budi. Beliau terlalu baik, bahkan menganggapnya sebagai putrinya sendiri.
Hanya dirinya saja yang tahu diri, tidak akan keluar dari keluarga Permana sebelum mendapatkan izin dari Ayah mertuanya itu.