Bab 5. Ivy yang (Tak) Polos

1568 Words
"Perlu dikejar, Tuan Nixon?" Nixon menggelengkan kepala. "Nggak perlu. Nanti juga dia bakalan balik sendiri," katanya tersenyum menjawab pertanyaan Chandra Givana, asistennya. Bukan tanpa alasan Nixon berkata penuh percaya diri seperti itu. Sekian tahun bersama meskipun tanpa diberikan status yang jelas dari Ivy, ia sangat mengenal perempuan itu, sama seperti Ivy yang juga sangat mengenalnya. Nixon yakin, Ivy pasti berpikir, ia tidak akan melepaskannya, dan kenyataannya memang seperti itu. Ia tidak akan melepaskan Ivy lagi, tidak setelah ia baru menemukannya sekarang setelah mencari selama hampir dua tahun. Well, sebenarnya tidak selama itu. Seminggu kepergian Ivy, ia sudah mengetahui di mana keberadaan perempuan itu. Orang-orangnya bergerak cepat begitu ia memberikan perintah. Sayangnya, ia masih belum dapat menemuinya. Bahkan, menyusulnya pun ia masih belum bisa, padahal perempuan yang dicintainya sedang dalam bahaya. Orang tuanya menuntutnya untuk menyelesaikan masalah perusahaan mereka yang dipegangnya. Semua keteteran gara-gara dirinya yang lebih sering memilih bersama Ivy ketimbang mengurus pekerjaan. Pekerjaan kantornya diserahkan kepada Chandra dan Christopher Kent, dua orang asisten pribadinya, sementara ia menemani Ivy di kafe milik perempuan itu. Bukan salah Ivy, perempuannya tidak pernah memintanya untuk menemani. Semua keinginannya sendiri yang selalu khawatir meninggalkan Ivy sendirian. Hubungan mereka masih belum jelas, Ivy tidak pernah membahas. Bahkan, selalu mengalihkan topik pembicaraan setiap kali ia menyinggung masalah pribadi. Tak ingin Ivy disalahkan atas masalah di perusahaan yang dibuatnya, Nixon memilih untuk mengalah. Toh, ia sudah mengetahui semua tentang Ivy dan calon suaminya beserta latar belakang pria itu yang menjadi saingannya. Ivy dan pria itu tidak saling mencintai, pernikahan mereka hanya pernikahan bisnis semata. Yang pasti, Ivy yang tidak memiliki perasaan apa pun terhadap suaminya. Setidaknya, fakta itu dapat membuatnya lega selama dua tahun terakhir. Selama itu, Nixon sudah membuat rencana bila nanti mereka berjumpa. Ia akan meminta Ivy untuk bercerai dari suaminya, dan menikah dengannya. Orang tuanya pasti akan merestui, tak peduli status Ivy yang akan menjadi seorang janda setelah perceraiannya karena ia sudah menyelesaikan masalah perusahaan mereka di negara Paman Sam sana. Bahkan menjadikan perusahaan mereka sebagai salah satu yang ternama. Mengingat jasanya yang besar terhadap kemajuan bisnis keluarga mereka di luar negeri sana, orang tuanya pasti memberikan restu tanpa syarat. Kedua sudut bibir Nixon sedikit terangkat bentuk sebuah senyum tipis. "Tunggu aku, Baby. Aku pasti bakalan membebaskan kamu dari penjara berkedok keluarga itu," desisnya mengepalkan kedua tangan. *** Ivy langsung berlari keluar begitu mobil yang dikemudikan Kayla menepi di tempat parkir gedung apartemennya. Dia tidak pulang ke mansion tempat tinggalnya dan Arga, tetapi ke aparteemn pribadinya. Tidak ada alasan khusus apa pun, dia hanya ingin beristirahat dan menenangkan pikiran. Yang pasti, Ivy yakin, Nixon masih belum mengetahui tentang apartemen pribadinya ini. Jika dia pulang ke mansion, Ivy khawatir Nixon akan menyusulnya ke sana karena pria itu pasti sudah mengetahui di mana dia tinggal. Bila itu terjadi, bukan hanya dirinya saja yang akan mendapatkan masalah, Nixon juga Ivy tahu, Nixon memiliki latar belakang keluarga yang tidak bisa dianggap remeh. Namun, tetap saja tidak akan bisa menghadapi keluarga Permana yang merupakan salah satu keluarga terkuat di ibu kota. Ivy tidak ingin Nixon kenapa-kenapa. Dia tidak akan memaafkan dirinya sendiri seandainya terjadi sesuatu yang tidak diinginkan kepada pria itu, dan disebabkan oleh dirinya. "Astaga, Ivy!" Kayla memekik kaget. Mobil belum berhenti sepenuhnya, tetapi Ivy sudah melompat keluar saja. Sangat nekat sekali. Sepertinya, Ivy benar-benar sudah siap untuk mati seperti saat menyapanya pertama kali saat meneleponnya beberapa saat yang lalu. "Lo kalo mau beneran mati jangan depan gue!" omel Kayla begitu dia sudah berdiri dengan kedua kakinya di depan Ivy yang menunggu di depan pintu tempat parkir gedung. Yang membuat Kayla heran, Ivy bersembunyi di samping bangunan pos penjaga. Ivy juga celingukan dengan wajah yang tampak khawatir. "Gue nggak mau dimintai keterangan sama pihak berwajib biar cuma sebagai saksi!" ketus Kayla dengan kedua tangan di pinggang. Matanya memicing menatap Ivy penuh selidik. Ivy menggeleng. "Nggak ada apa-apa, Kay!" bantahnya memasang senyum paling manis yang dimilikinya. Dia tak ingin Kayla mengetahui, lalu ikut-ikutan khawatir sama seperti dirinya. "Gue cuma mau cepat-cepat aja." Kayla memutar bola mata malas. "Mau cepat-cepat, tapi nggak usah kayak gitu juga kali, Vy. Lo ngebahayain diri lo sendiri, sadar, nggak, sih?" tanyanya tanpa menyembunyikan kekesalan dalam nada suaranya. Ivy meringis. Dia menyadari kesalahannya, tetapi tidak mau mengaku. Dia hanya ingin melindungi Kayla agar tidak terseret lebih jauh. "Gue capek, Kay." Ivy memasang wajah memelas. Kedua tangan menggenggam tangan Kayla, menggoyangkannya ke kanan dan ke kiri bergantian beberapa kali dengan manja. "Gue mau istirahat, mau tidur. Tadi malem gue mabok, pusingnya masih sampai sekarang." Jika ada kategori penghargaan untuk seorang pembohong, maka Ivy tidak akan mendapatkannya. Gaya berbohongnya sangat tidak sekali, sangat kentara dibuat-buat. Siapa pun yang melihatnya pasti akan tahu jika dia berbohong. Begitu juga dengan Kayla. Dari wajah Ivy saja, dia tahu jika sahabatnya sedang berbohong. Wajah Ivy tidak terlihat seperti seseorang yang menahan pusing atau nyeri karena mabuk minuman beralkohol, melainkan wajah seseorang yang ketakutan. "Lo kalo mau bohongin gue tampangnya harus dukung, dong!" Kayla berdecak tanpa suara. "Muka lo nggak keliatan orang pusing habis mabok, Ivy, tapi kayak yang dikejar debt collector!" ketusnya dengan mulut meruncing. Ivy tersenyum madu, dia ketahuan. Ternyata, dia memang tidak memiliki bakat seorang pembohong. "Udah tau gue dikejar rentenir makanya lo cepetan, Kayla!" omelnya merangkul lengan Kayla, menariknya memasuki gedung apartemen melalui pintu yang terhubung dengan tempat parkir. Kayla yang terkejut, mengikuti saja tanpa memprotes. Dia bahkan nyaris syok sampai tak bisa berkata-kata lagi. Benarkah sahabatnya dikejar penagih utang? "Lo nggak mau, kan, kalo kita ketangkep mereka?" tanya Ivy menakut-nakuti. Kayla mengangguk tanpa sadar. Siapa juga yang mau ditangkap para penagih utang? Apalagi, dia tidak ada hubungannya sama sekali dengan mereka, tidak pernah. Namun, beberapa detik kemudian, setelah mereka berada di dalam lift yang akan membawa mereka naik ke lantai di mana unit apartemen milik Ivy berada, barulah Kayla menyadari sesuatu. Ivy sekaya itu, tidak hanya keluarganya, tetapi juga keluarga suaminya, tidak mungkin Ivy sampai meminjam uang pada lintah darat. Ivy tidak pernah kekurangan uang. Sialan, dia kena tipu! Suara denting disusul dengan pintu lift terbuka, Ivy menarik tangan Kayla untuk keluar bersamanya. Mereka sudah tiba di lantai di mana dia tinggal. Namun, Kayla tidak bergerak. Ivy seperti menarik patung. "Kenapa? Lo mau tetap di sini aja? Nggak mau ikut ke apartemen gue?" tanya Ivy dengan sepasang alis berkerut bingung. "Gue mau!" Kayla mengangguk. "Jelas gue mau ikut ke apartemen lo buat denger semuanya." Dia maju satu langkah, berdiri tepat di depan Ivy. "Lo utang penjelasan sama gue, Livya Anastasya!" Matanya memicing penuh ancaman menatap sahabatnya. Yang ditatap hanya meringis saja, lantas kembali merangkul lengan Kayla. Benar-benar dia seorang aktor yang tidak berbakat sama sekali. Untungnya, dia bukan seorang aktris, melainkan menantu salah satu keluarga terpandang. "Iya, iya, ntar gue cerita semuanya sama lo, tapi nggak sekarang." Ivy tersenyum manis. "Sekarang, lo mau ikut gue ke apartemen, nggak, buat nemenin gue?" tanyanya sambil terus berusaha menyeret Kayla untuk keluar dari lift. Sepertinya, Ivy harus membatalkan niatnya yang ingin memberi tahu Kayla tentang Nixon nanti. Dia harus menceritakan semua kepada sahabatnya agar Kayla tidak salah paham dan bisa berhati-hati bila suatu saat bertemu dengan pria itu nanti. *** "Kayak gitu ceritanya, Kay." Ivy menutup ceritanya dengan bibir mengerucut. Mulutnya rasanya berbusa, tidak berhenti berbicara selama lebih kurang tiga puluh menit. Dia bahkan tidak mengambil jeda sekedar untuk membasahi tenggorokannya dengan air putih. Ivy merasa sayang untuk menjeda karena ceritanya seseru itu, menurutnya. Mana Kayla meminta diceritakan secara mendetail pula, tidak boleh ada yang tertinggal satu bagian pun. Semakin lama lah dia bercerita, semakin berbusa mulutnya. "Astaga, Ivy!" Kayla menutup mulutnya menggunakan, kedua tangan, nata melebar. "Jadi, lo udah ...." Dia tidak meneruskan perkataannya, tetapi mennggerakkan jari dengan cepat ke atas dan ke bawah menunjuk Ivy. Ivy tentu saja mengerti maksud Kayla. Dia menganggukkan kepala seraya terkekeh geli. "Bilang aja kalo gue udah lepas segel. Gitu aja repot amat," katanya tanpa beban disela tawa. "Terus, Arga gimana? Marah nggak pas tau lo udah nggak ada segel lagi?" tanya Kayla setelah dapat mengendalikan diri. Mereka memang identik dengan dunia malam, juga pergaulan bebas, dan itu sudah menjadi rahasia umum. Bahkan, Arga Permana yang merupakan pewaris Permana Grup, terang-terangan berselingkuh di depan istrinya. Hanya saja, ini terlalu mengejutkan baginya. Sahabatnya terlihat polos meskipun barbar. Siapa yang menyangka ternyata Ivy seliar itu saat di luar sana. Ivy menggeleng. "Arga nggak tau," jawabnya santai. "Kan, dia nggak pernah nyentuh gue. Lagian, gue juga nggak mau disentuh-sebntuh sama dia. Jijik banget disentuh sama cowok modelan Arga yang suka nusuk lubang sembarangan," katanya frontal sambil mengibaskan tangan. "Ivy!" Tawa Kayla pecah. "Lo ngomongnya, ih!" Gemas, Kayla mendorong bahu Ivy yang duduk di sampingnya. Tidak kuat, tetapi tetap bisa membuat Ivy oleng. Mereka duduk di ruang tengah apartemen Ivy, bersandar pada kaki sofa panjang yang langsung menghadap ke arah televisi. Keduanya duduk bersila dengan bantal sofa masing-masing di pangkuan mereka. Semangkuk keripik kentang di atas meja kaca berbentuk oval, berjarak satu kaki dari mereka. Di samping mangkuk besar yang sudah kosong setengahnya, dua buah gelas panjang dari kaca berisi coke. Camilan favorit Ivy yang tidak pernah kehabisan stok. Dia selalu membelinya, bahkan sebelum kedua camilan itu habis. "Menurut lo, kita perlu pizza nggak, sih?" Kayla menatap Ivy yang memainkan ponselnya. "Nggak!" sahut Ivy tanpa menatap. Kepalanya menggeleng. "Ntar malem aja buat teman begadang." Kayla mengangguk. "Oke!" Sayangnya, Ivy dan Kayla tidak dapat begadang malam harinya. Mereka bahkan sudah meninggalkan apartemen pada sore hari. Ivy mendapat telepon dari Arga, memerintahkannya untuk pulang ke mansion mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD