"Mati gue!" Ivy bergumam seraya membuang muka, menghindari bertatapan secara langsung dengan Nixon.
Pria itu tidak berubah sama sekali di mata Ivy, tetap tampan dan mempesona —sexy. Setiap otot tubuhnya seakan menunggu dijamah.
Ivy menggelengkan kepala, menyumpah di dalam hati. Menyesali dirinya yang masih saja lemah terhadap Nixon. Ternyata, bukan hanya pria itu saja yang tidak berubah, dirinya juga.
Sialan!
Suara langkah kaki Nixon yang mendekat terdengar sangat jelas di telinga Ivy. Seolah tidak ada suara yang lain lagi selain hentakan kaki Nixon di lantai rumahnya.
"Kamu nggak lupa sama aku, kan, Baby?"
Pertanyaan itu terdengar sangat jelas di telinga Ivy. Cepat dia menjauh satu langkah ke samping, menghindarinya. Nixon tidak hanya berbisik, tetapi juga meniup telinganya.
Nixon berdecak. "Benar-benar nggak punya perasaan." Kepalanya menggeleng beberapa kali. "Kamu buang aku karena aku udah nggak berguna lagi buat kamu, Baby?"
Ivy mendelik tajam sebagai protes, tak terima dengan apa yang dituduhkan Nixon. Dia bukan orang seperti itu, yang tidak tahu berterima kasih.
"Kamu nggak mau tanggung jawab...."
"Tanggung jawab apaan?" tanya Ivy cepat memotong perkataan Nixon. Matanya memicing menatap pria itu yang kini berdiri tepat di depannya dengan jarak hanya beberapa inchi. "Emangnya aku hamilin kamu?"
Nixon menggelengkan kepala, melipat kedua tangan di depan d**a. "Kamu udah nyuri hati aku, terus ninggalin aku kayak gitu aja," jawabnya memasang wajah memelas.
Ivy memutar bola mata, mulutnya berdecak tanpa suara. Wajah memelas seperti itu sangat tidak cocok dengan Nixon yang pada dasarnya dingin dan selalu berulah.
"Nggak usah pasang muka kayak gitu!" ketus Ivy mendorong wajah Nixon yang mendekat. "Nggak cocok buat kamu, Nick!"
Nixon mengembuskan napas seraya menegakkan punggung. "Terus, yang cocok buat aku apa?" tanyanya berpura-pura polos. "Jadi b***k kamu?"
Ivy mendengkus tak suka. Dia paling benci mendengar kata itu, terutama dari mulut Nixon. Meskipun benar dia memanfaatkannya, tetapi tidak pernah menganggap pria itu sebagai budaknya.
Dia menyukai Nixon. Segala yang ada pada diri pria itu sangat menarik di matanya. Tak pernah dia berpikir menyamakannya dengan b***k.
Baginya, Nixon itu rekan kerja, tanpa embel-embel yang lain. Tidak ada perasaan lain, hatinya sudah mati jika berhubungan dengan kasih sayang.
Ivy menarik kerah piyama Nixon untuk mensejajarkan tinggi badan mereka. Dia hanya sampai sebatas d**a Nixon saja jika mereka berdampingan.
"Yang cocok buat kamu, minggir dari depan aku biar aku bisa lewat." Ivy berbisik di telinga Nixon sebelum melepaskan kerah piyama pria itu. "Aku aku pulang, Nick. Orang rumah pasti nyariin aku," katanya sambil menuruni tangga.
"Orang rumah?" ulang Nixon sambil kembali melipat kedua tangan di depan d**a. "Maksud kamu, suami kamu yang nggak bertanggung jawab itu, Baby?"
Langkah kaki Ivy berhenti dengan sendirinya mendengar pertanyaan itu. Pertanyaan yang memojokkan, tetapi fakta.
Satu lagi fakta, dan membuat Ivy kesal. Nixon menyelidikinya. Pria itu mengetahui pernikahannya dan suami yang tidak setia.
"Kayaknya suami kamu sekarang masih pelukan sama cewek yang tadi malam main kuda-kudaan sama dia." Nixon terkekeh. Sengaja dibuat semenyebalkan mungkin untuk memancing emosi Ivy.
Ia sangat suka melihat wanitanya marah. Ivy terlihat semakin sexy dan menggairahkan.
"Atau lagi di s**********n cewek itu, mompa...."
"Stop!" Ivy mengangkat tangan kanannya memotong perkataan Nixon. Bukan karena pria itu menghina Arga, melainkan karena dia tak ingin mendengar kata menjijikkan itu. "Kamu ngomongnya kenapa jorok banget kayak gitu, sih!" protesnya, masih berdiri di tempatnya semula, di anak tangga bagian tengah.
"Jorok? Jorok gimana? Aku cuma ngomong fakta, Baby." Nixon mengedikkan bahu seolah tak peduli. "Kamu jangan menolak fakta, dong!"
Ivy membuang muka. Bahkan, saat Nixon sudah kembali berada di depannya, dia tetap mengabaikan pria itu.
"Kamu ninggalin aku demi cowok kayak dia?" tanya Nixon membungkukkan tubuhnya agar sejajar dengan Ivy. Ia berdiri satu tingkat lebih tinggi dibanding Ivy. "Aku merasa terhina, Baby."
Ivy melipat kedua tangan di depan d**a, mengangkat dagu menantang. "Bukannya kamu emang sekali hina kalo di depan aku, lupa?" tanyanya tersenyum penuh kemenangan.
Nixon menggeram, mengepalkan kedua tangan kuat, tetapi tidak membantah. Benar apa yang dikatakan perempuan di depannya, ia memang selalu rela menghinakan diri di depannya.
Di depan Ivy, ia tidak ada harganya sama sekali. Ia rela merendahkan diri, serendah-rendahnya, hanya untuk Ivy.
Bukan. Bukan karena Ivy yang meminta, melainkan semua karena keinginannya sendiri. Ia yang memberikan dirinya secara keseluruhan kepadanya.
Ivy sudah menolongnya dengan mengorbankan sesuatu yang sangat penting bagi seorang perempuan, membuatnya jatuh cinta sejak pertemuan pertama mereka dan menjadi dunianya sejak saat itu.
Bukan hanya itu saja yang membuatnya tergila-gila pada perempuan di depannya dan bertekuk lutut. Ivy yang selalu menunjukkan diri sebagai seorang perempuan kuat dan tak bisa ditindas, di dalamnya ternyata rapuh juga.
Meskipun tidak pernah melihat Ivy menangis, tetapi Nixon tahu, perempuan yang digilainya itu menyimpan luka.
Ivy juga tidak pernah mengeluh kesepian atau apa pun. Selalu menyelesaikan semua masalahnya sendirian tanpa mengharapakan bantuan siapa pun.
Sosok seperti itu membuatnya kagum. Ia jatuh cinta, bahkan rela memberikan nyawa jika Ivy yang memintanya.
"Cuma di depan kamu, Baby," jawab Nixon tersenyum. "Di depan yang lain, aku paling tinggi."
"Ya, ya, ya!" Ivy mengangguk malas, membenarkan perkataan Nixon dengan setengah hati.
Lagi pula, apa yang dikatakan pria itu memang benar. Tinggi Nixon mencapai dua meter, hanya kurang beberapa sentimeter saja.
Namun, bukan tinggi seperti itu yang dimaksud Nixon, dan Ivy sudah mengetahuinya. Hanya saja, dia terlalu malas untuk membahas, apalagi sampai berdebat. Sangat tidak penting baginya, setidaknya untuk saat ini.
"Terserah kamu!" Ivy mengibaskan tangan malas. "Yang penting, aku mau pulang sekarang!" katanya tanpa bisa dibantah. "Soal suami aku, mau dia bertanggung jawab atau nggak, kayaknya itu bukan urusan kamu."
Ivy mengangkat dagu angkuh, kedua tangan terlipat di depan d**a. Dia tak ingin berurusan dengan Nixon, tak ingin pria itu menggagalkan rencana balas budinya terhadap Andika Permana.
Selain itu, pernikahannya dan Arga memang tidak akan bertahan selamanya. Cepat atau lambat mereka pasti akan berpisah, sesuai perjanjian yang tertulis di kontrak.
Pernikahan bisnis, pernikahan kontrak, dijual kelurga karena tidak diinginkan, alat pertukaran untuk menyelamatkan perusahaan keluarga Hermawan. Ivy sudah kenyang mendengar semua itu.
Kabar baiknya, dia tidak pernah peduli dengan apa pun yang mereka semua katakan. Lalu, kabar buruknya, tidak ada. Selama mereka semua haya meyerangnya dengan kata-kata sampah seperti itu, dia tidak akan sakit hati. Dia sudah terbiasa dan tak lagi terluka.
Ivy memutar tubuh, lantas menuruni anak tangga yang berjumlah tak sampai sepuluh buah dengan cepat. Di anak tangga terakhir dari atas, dia menghentikan langkah, menolah sekilas pada Nixon sebelum melanjutkan langkah dengan lebar.
Rasanya sangat lega begitu berada di luar rumah Nixon, lebih tepatnya apartemen. Buru-buru Ivy menyeret kaki menuju lift, meskipun tidak tahu di lantai berapa unit aparteemn Nixon berada.
Yang penting baginya menjauh dari pria itu dulu untuk menyelamatkan diri. Dia tidak ingin mati konyol di samping pria yang sudah pasti memiliki dendam kepadanya.
Tidak mungkin Nixon membiarkannya begitu saja setelah apa yang dilakukannya. Apalagi, pria itu sudah mencarinya sampai sejauh ini. Dengan reputasi Nixon yang luar biasa tidak baiknya, tidak akan pria itu bermurah hati memberikannya ampun.
Apartemen Nixon berada di lantai lima belas salah satu bangunan elite yang berada di kawasan segitiga emas ibu kota. Mengabaikan bagaimana Nixon bisa tinggal di pemukiman mewah tersebut, Ivy melangkah tergesa keluar dari lift menuju lobi. Saking tergesa, dia sampai berlari kecil.
Sesekali, Ivy menoleh ke belakang. Khawatir Nixon yang tadi masih mengenakan jubah mandi, mengejarnya. Sangat berbahaya sekali jika dia tertangkap. Bisa-bisa, dia tidak akan bisa pulang dalam waktu yang singkat.
Embusan napas lega kembali menguar dari mulut sexy Ivy. Nixon tidak membuntutinya. Meskipun yakin pria itu pasti tidak akan melepaskannya, setidaknya dia aman untuk saat ini. Aman dalam makna kias karena menurutnya, tempat paling aman adalah di sisi pria itu.
Ivy mengambil tempat duduk di sebuah single sofa di lobi gedung apartemen Nixon. Dia tidak terlalu khawatir pria itu akan menemukannya —menangkapnya— di sini. Nixon bukan orang bodoh, hanya sering membuat rusuh dan emosian. Tidak mungkin pria itu mau melakukan sebuah tindakan yang bisa digolongkan sebagai tindak krimial di tempat ramai seperti ini.
Napasnya masih memburu, Ivy masih mengaturnya agar segera kembi normal seperti sediakala. Tangannya merogoh ponsel dari dalam tas, mengambilnya tanpa melihat. Dia perlu menghubungi Kayla, meminta sahabatnya untuk menjemput. Jika Kayla tidak bisa, maka dia akan memesan taksi online untuk kembali ke mansion.
Bukan pilihan yang diinginkannya, tetapi dia tidak memiliki tempat pulang lagi selakin mansion. Ingin kembali ke apartemennya, hanya akan membuat masalah saja. Kedua mertuanya akan curiga.
Walaupun Andika dan Monika Permana, mertuanya, sudah mengetahui bagaimana kondisi pernikahannya dengan putra mereka, Ivy tetap tak ingin mengecewakan mereka. Tidak secara terang-terangan seperti itu.
Dia masih memiliki hati, masih berperasaan. Tidak ingin melukai orang yang sudah banyak menolongnya dengan pengkhianatan.
"Ivy, lo di mana?"
Lagi, Ivy mengembuskan napas lega melalui mulutnya. Kayla menjawab panggilannya di dering ketiga. Meskipun pertanyaan itu terlalu keras untuk gendang telinganya yang super lembut, yang pasti Kayla tidak mengabaikannya.
"Lo nggak apa-apa, kan, Vy?"
Pertanyaan bernada khawatir itu membuat d**a Ivy menghangat. Kayla benar-benar sahabatnya, orang yang paling mengerti dan paling khawatir dengan dirinya.
"Pas mabuk gue hilang, gue langsung nyariin lo!"
Ivy tersenyum tipis tanpa dapat ditahan. Meskipun hanya satu orang Kayla saja yang mencari dan mengkhawatirkannya, itu sudah cukup membuatnya merasa tidak sendirian.
"Kay, mati gue!"