Suara kicauan burung yang tertangkap indra pendengaran Ivy, meskipun samar, dapat membuatnya terbangun dari buaian lelap. Awalnya, dia berpikir jika sedang bermimpi. Suara kicauan burung yang tertangkap telinganya sama seperti beberapa tahun yang lalu saat dia masih berasa di negara orang.
Namun, setelah beberapa saat barulah disadari jika dia benar-benar mendengarnya secara nyata. Pelan-pelan mata indah itu terbuka, berkedip beberapa kali sebelum terbuka sempurna.
Ivy menggeliat, merentangkan kedua tangan sebelum menutupi mulutnya yang terbuka saat dia menguap. Hal kedua yang dilakukannya setelah membuka mata adalah menggulirkan bola matanya ke seluruh sudut ruangan.
Mata Ivy melebar, mulut kembali terbuka karena terkejut, bukan menguap seperti sebelumnya. Refleks tubuhnya bergerak bangun menyadari dia tidak berada di kamarnya.
Kamar tidur yang ditempatinya sekarang benar-benar asing. Meskipun aromanya terasa familiar, tetapi kamar ini, juga tempat tidur bukan miliknya. Kamar tidur ini berwarna gelap, berbeda dengan kamar tidurnya yang berwarna lebih cerah.
Iya, dia dan Arga tidak tidur di satu kamar yang sama, tidak hanya pisah tempat tidur saja. Terlalu malas berada dalam satu kamar hanya untuk adu mulut saja. Adu mulut dalam artian yang sebenarnya, dalam panduan bahasa manusia, bukan bahasa hewan.
Arga benar-benar suami idaman yang selalu menindas istrinya. Sayangnya, dia bukan seperti istri seperti dalam sinetron yang sering ditonton para pelayan perempuan di mansion mereka. Arga tidak pernah berhasil menindasnya.
Ivy menyibak selimut tanpa sadar, menurunkan kaki dengan tanpa disadarinya juga. Fokusnya tertuju pada pintu berwarna hitam dengan gagang pintu berwarna perak berkilap.
Ivy yakin, pintu yang terletak di samping sebuah cermin full body itu adalah pintu kamar mandi. Dia perlu mencuci muka agar pikirannya lebih tenang. Saat ini, yang ada dalam pikirannya adalah aksi seorang penculik, dan yang menjadi korbannya adalah dirinya.
Ivy berdecak tanpa suara. Kasihan sekali penculik harus berhadapan dengan dirinya. Entah salah orang tau memang dirinya yang menjadi target, penculik itu tidak akan mendapatkan apa-apa. Tidak ada yang peduli kepadanya, kecuali ayah mertuanya.
Kamar mandi yang luas dan nyaman, seperti kamar mandinya di mansion Arga. Satu-satunya yang mengganggu Ivy adalah seluruh keramik yang berwarna hitam.
Ivy tidak menyukai warna gelap, apalagi warna hitam. Warna-warna tersebut, baginya, terlalu kelam. Sama seperti kehidupannya yang nyaris tanpa cahaya.
Sampai sekarang, dia selalu dimanfaatkan dan ditindas sampai-sampai rasanya kenyang, bahkan sampai hafal dengan omelan yang nyaris selalu di dengarnya setiap kali berkunjung ke rumah papanya.
Rasanya lumayan segar saat air dingin bersentuhan dengan kulit wajahnya. Kantuk yang tadi masih sedikit menggelayut, sudah pergi entah ke mana.
Ivy mengulangi beberapa kali sebelum keluar kamar mandi. Dia bersyukur, pakaian yang dikenakannya kasih lengkap, tidak kurang satu pun. Itu artinya, orang yang membawanya ke kamar ini tidak melakukan apa pun kepadanya.
Coba saja berani melecehkannya. Sampai ke dasar neraka sekalipun dia tidak akan melepaskannya.
Ivy keluar kamar mandi sambil memukul pelan kepalanya. Pusing akibat alkohol yang ditenggaknya tadi malam masih berasa sedikit. Sesuai kebiasaanya, pusing tidak akan hilang sebelum dia mengonsumsi obat pereda pusing.
Sayangnya, dia tidak berada di rumah sehingga tidak dapat melakukan kebiasannya itu. Dia harus menahannya sampai pusing hilang dengan sendirinya yang akan memakan waktu entah berapa lama.
Ivy mengembuskan napas melalui mulut bersamaan dengan bokongnya yang menempel pada single sofa. Single sofa yang merupakan satu-satunya sofa di kamar ini.
Kepala Ivy kembali menggeleng saat ingat apa yang terjadi tadi malam. Bukan soal Arga dan selingkuhannya, melainkan dirinya yang menuju ke kamar mandi.
Dalam ingatan terakhirnya sebelum dia terbangun di kamar ini, dia tengah berinteraksi dengan seorang pria asing. Indra penglihatannya sudah mulai kehilangan fungsi tadi malam, wajah pria yang menawarkan bantuan kepadanya terlihat samar.
Pria itu, suaranya terdengar familiar. Namun, Ivy menyangkal jika dirinya mengenal si pemilik suara. Sebab, rasanya tidak mungkin pria itu ada di negara ini.
Iya, Ivy merasa suara pria tadi malam mirip dengan suara Nixon. Meskipun sudah tak mendengarnya lagi selama hampir dua tahun ini, dia tidak akan melupakannya. Suara yang selalu membuatnya merasa aman, dan panas.
Lagi, Ivy mengembuskan napas melalui mulut. Kali ini lebih kuat dari sebelumnya. Dia merasa perlu melakukannya, untuk melupakan semuanya. Bayangan Nixon, juga kebebasan yang semakin mengabur di matanya.
Tidak ada harapan untuk mengakhiri pernikahan sialan ini. Sama seperti hubungannya dan Nixon yang hanya berdasarkan sama-sama untung semata.
Tidak ada perasaan apa pun yang mengikat mereka, hanya simbiosis mutualisme. Nixon menginginkan tubuhnya, dia mendapatkan perlindungan dari pria itu.
Di negara orang yang sangat sangat jauh dari rumah, dia membutuhkan seseorang yang, sebut saja berkuasa, untuk melindunginya. Meskipun dia dapat melindungi dirinya sendiri, tetapi akan jauh lebih baik lagi bila dia memiliki latar belakang seorang pelindung yang ditakuti.
Nixon memiliki reputasi yang tidak bisa disebut baik. Pria itu terkenal sebagai tukang rusuh, tidak ada yang dapat mengendalikannya. Sepertinya, Nixon memiliki latar belakang yang sangat kuat sehingga tidak ada seorang pun yang berani melawannya.
Entah sekuat apa, Ivy tidak pernah mencari tahu. Makin sedikit kau tahu, akan semakin aman hidupmu, adalah motto hidupnya sejak dulu. Walaupun tidak sepenuhnya berhasil, setidaknya dia merasa aman di saat-saat tertentu.
Ivy memukul pelan kepalanya beberapa kali. Pusing masih belum hilang juga, padahal sudah selama ini. Sepertinya, disebabkan dirinya yang terlalu banyak berpikir.
Ivy mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar. Sesuatu yang familiar terasa menghantamnya. Sayangnya, dia tidak menemukan yang tak asing itu entah berada di bagian mana. Yang pasti, dia merasa pernah melihat dekorasi yang seperti ini sebelumnya.
Tatapan Ivy berhenti pada meja kecil di sebelah kanan tempat tidur. Ada tas tangannya ada di atas meja tersebut. Entah isinya masih lengkap atau ada yang kurang, dia belum memeriksanya. Mengetahui tas tangannya ada di sana juga barusan.
Ivy bangkit, melangkah pelan sambil kembali memijit pelipis menuju meja. Yang pertama diambil dari tas tangan adalah ponselnya. Dia ingin tahu, apakah ada yang mencarinya. Jika tidak ada, berarti dia benar-benar tidak penting bagi mereka. Buktinya, dia tidak ada saja tidak satu pun yang menyadari.
Ada lima panggilan tak terjawab dan lebih dari sepuluh pesan. Semuanya dari Kayla. Ivy tersenyum tipis, setidaknya sahabatnya menyadari ketidakberadaannya. Tidak seperti suami dan papanya yang bahkan tidak peduli dia masih hidup atau sudah mati.
[Ivy, lo di mana?]
[Gue pas bangun tau-tau udah di apartemen aja, lo nggak ada]
Ivy mengembuskan napas melalui rongga hidung. Benar-benar pesan khas Kayla sekali, penuh kepanikan. Bukan Kayla jika tidak panik seperti itu.
Masih ada puluhan pesan lainnya, tetapi Ivy malas membaca. Paling-paling isinya sama, Kayla yang menanyakan keberadaan dan keadaannya.
[Gue baik-baik aja]
[Aman]
Dua pesan, lima kata. Ivy hanya membalas dengan kalimat sederhana itu. Sengaja dia membalas seperti itu, walaupun tidak tahu apakah benar-benar aman atau tidak. Dia hanya tak ingin Kayla semakin khawatir.
Ivy meletakkan ponsel di atas meja, lantas duduk di sisi tempat tidur. Menemukan pintu setelah mengedarkan pandangan selama beberapa detik.
Instingnya membawa Ivy menyeret kaki menuju pintu. Dia ingin tahu di mana dia berada sekarang, ingin keluar dari tempat ini yang entah tempat apa dan di mana. Rasanya seperti tawanan saja berada di dalam kamar yang bukan miliknya.
Pintu kamar tidak dikunci. Pintu ganda berwarna hitam tersebut langsung terbuka begitu Ivy mendorongnya.
Ivy celingukan, menengok ke kiri dan ke kanan, memastikan keamanan sebelum melangkahkan kakinya keluar. Tidak ada siapa-siapa di depan kamar, juga di sekitar kamar yang diduga Ivy berada bukan di lantai dasar.
Pelan-pelan Ivy membawa langkah meninggalkan kamar. Saking tergesa ingin pergi, dia bahkan lupa menutup kembali pintu kamar. Tanpa menoleh ke belakang lagi, Ivy mempercepat langkah sampai tiba di depan tangga.
"Mau kabur setelah aku nolongin kamu?"
Pertanyaan itu nyaris membuat Ivy terjatuh dari tangga seandainya tangannya tidak cepat berpegangan pada pagar pembatas lantai yang dipijaknya. Sebelah kakinya tadi sudah diangkat, siap menuruni tangga.
"Nggak ada ucapan makasih buat aku, Baby?"
Mata Ivy melebar sempurna mendengarnya. Jantungnya nyaris berhenti berdetak, sama seperti napasnya yang ditahan secara refleks.
Suara itu sangat dikenalinya. Suara Nixon.
Cepat Ivy memutar tubuh, berhadapan dengan pemilik suara. Dia masih berusaha menyangkal suara yang tadi didengarnya adalah suara pria itu.
Tidak mungkin Nixon berada di negara ini. Tidak mungkin dia ditemukan secepat ini.
Maksudnya, tidak mungkin Nixon mencarinya. Pria itu bukan seorang yang tidak memiliki pekerjaan seperti itu sampai rela mencari seseorang yang tidak memiliki hubungan apa pun dengannya. Sangat membuang waktu sekali, bukan?
Ivy pelan-pelan membuka matanya yang tadi dipejamkan saat berbalik. Di dalam hati berharap bukan pria yang dikenalnya itu yang berdiri di depannya saat ini. Dia berharap, indra pendengarannya salah menangkap suara.
Sayangnya, apa yang diinginkannya tidak terkabul. Pria yang berdiri di depannya, yang menyunggingkan senyum penuh kemenangan, adalah pria itu. Orang yang paling tidak diharapkan bertemu.
"Ni—Nixon?"
Bergetar Ivy menyebutkan nama itu. Nixon berdiri dengan jarak dua kaki di depannya, dengan kedua tangan terlipat di depan d**a. Sebelah alis pria itu terangkat menatapnya.
"Kamu di sini?" tanya Ivy tanpa peduli jika pertanyaannya sangat konyol.
Tentu saja Nixon di sini. Pria itu tepat di depannya dengan jarak mereka kurang dari satu meter, jika dia lupa. Seumur hidupnya, Ivy baru kerasa seperti seorang yang sangat bodoh sekarang.
Ternyata, dia tidak sedang bermimpi. Semua indranya masih berfungsi dengan baik, tanpa ada kerusakan sedikit pun. Suara yang didengarnya tadi malam memang suara Nixon. Pria itu yang mencegatnya di lorong kamar mandi Diamonds Club.
Ah, sial!
Hidupnya tidak akan pernah tenang lagi setelah ini. Ivy sangat yakin, Nixon tidak akan membiarkannya begitu saja. Pria itu pasti akan membalasnya setelah apa yang dilakukannya dua tahun yang lalu.