Satu pesan dengan dua kata ambigu sudah membuat sepasang alis Ivy berkerut tajam, ditambah satu pesan dengan dua kata lainnya. Perempuan itu memicingkan mata, menajamkan penglihatan, meyakinkan dirinya jika dia tidak salah membaca isi pesan.
[Masih ingat aku?]
Ah, ternyata bukan dua kata, melainkan tiga kata. Ivy yakin, penglihatannya memang bermasalah. Pasti karena alkohol yang ditenggak lebih banyak dari biasanya malam ini sehingga membuatnya benar-benar tidak fokus.
Masih ingat aku?
Pertanyaan yang konyol. Bagaimana dia bisa menjawabnya, sedangkan nomor kontak yang mengiriminya pesan saja tidak terdaftar dalam kontak ponselnya. Benar-benar nomor asing.
Entah bagaimana si pengirim pesan bisa memiliki nomor ponselnya. Mungkin saja dari salah seorang kenalan yang menyimpan nomor kontaknya, atau bukan, siapa yang peduli? Dia memang seterkenal itu.
Siapa yang tidak mengenal namanya yang merupakan nona dari salah satu keluarga terpandang. Ditambah dirinya yang sebagai menantu sah dari Andika Permana yang juga merupakan salah satu konglomerat di tanah air, semakin terkenal lah dirinya.
Mungkin, orang yang mengiriminya pesan yang dia tidak tahu adalah laki-laki atau perempuan, salah seorang penggemarnya. Atau, bisa juga pengikut media sosialnya.
Bisa saja, kan?
Di zaman serba canggih seperti sekarang, semua kemungkinan bisa terjadi. Bukan hanya artis atau publik figur saja yang memiliki penggemar, orang awam seperti dirinya pun juga bisa memiliki penggemar.
"Kenapa? Lo nggak cemburu, kan, liat suami lo main kuda-kudaan sama cewek lain?"
Pertanyaan dari Kayla mengusik indra pendengaran Ivy. Dengan santai dia menggelengkan kepala sambil mata kembali fokus pada apa yang dilihatnya sebelumnya.
Ivy menggeliat jijik melihat bagaimana rakusnya mulut Arga yang terbenam di d**a selingkuhannya yang tak lagi tertutup apa pun, bermain.
Sementara itu, perempuan yang duduk di pangkuan pria itu terlihat sangat menikmati keganasan mulut Arga memainkan ujung dadanya. Kedua tangannya meremas rambut Arga yang berantakan, sedang mulutnya terbuka.
Entah apa yang disuarakan perempuan itu, Ivy tidak dapat mendengarnya. Jarak mereka yang jauh, ditambah dengan suara musik yang sangat keras membuat indra pendengarannya tak dapat menangkap apa pun dari perselingkuhan suaminya.
Ivy memalingkan muka, menarik napas melalui mulutnya. Bukan, dia tidak cemburu, apalagi menginginkannya. Daripada itu, yang ada dia jijik dengan Arga yang tidak tahu malu bercinta di tempat publik seperti ini.
Bukannya Ivy sok suci, tetapi setidaknya dia tak pernah bercinta di depan banyak orang seperti yang dilakukan Arga dan pasangan selingkuhannya.
Meskipun pernah melakukannya di restoran tempatnya bekerja paruh waktu saat masih di negara Paman Sam dulu, setidaknya dia dan Nixon bercinta saat restoran sudah tutup. Tidak ada seorang pun di restoran selain dirinya dan pria itu.
Omong-omong soal Nixon, pria yang berusia tiga tahun di atasnya itu merupakan salah seorang pengunjung tetap restoran tempatnya bekerja dulu. Nixon datang setiap hari, setiap malam. Restoran seperti rumah kedua saja bagi pria itu.
"Syukur lo nggak cemburu. Kalo nggak, gue bakalan getok pala lo pake heels gue."
Ivy mengabaikan perkataan Kayla. Sahabatnya sudah setengah mabuk, Kayla hanya melantur saja. Sejak kapan dia berani melakukannya?
Tidak pernah satu kali pun Kayla berani melukainya. Lagi pula, mereka selalu bercanda tanpa menyakiti fisik, hanya di mulut saja.
"Terus, kalo heels lo rusak gegara kepala gue, biar gue ganti sama yang baru gitu?" Ivy melirik sekilas ke arah Kayla yang tersenyum manis entah kepada siapa. Sahabatnya tidak menatap ke arahnya.
Kayla mengangguk beberapa kali, menjawab pertanyaan Ivy, tanpa menatap sahabatnya itu. Di penglihatannya yang sudah tak lagi fokus, Ivy ada di mana-mana sehingga dia menatap ke sembarang arah.
"Lo yang paling tau gue, Vy." Kayla tersenyum madu, mengangkat kembali gelasnya yang sudah terisi lagi separuh bagian.
Lagi, entah kepada siapa dia bersulang. Duduknya sudah tidak menghadap ke arah Ivy lagi, tidak juga ke arah Arga dan kekasihnya yang masih beraksi tanpa peduli mereka menjadi pusat perhatian.
Ivy mengedikkan bahu tak peduli. Nada pesan masuk ke ponselnya lebih menarik perhatiannya. Sengaja dia menyalakan suara paling keras di ponselnya untuk mengimbangi suara musik.
Dia juga menyalakan getar jika ada panggilan ataupun pesan yang masuk agar dapat langsung menjawab. Siapa tau ada yang menghubunginya, sesuatu yang penting yang harus dia langsung ketahui.
[Jangan bilang kalo kamu lupa sama aku, Baby!]
Sepasang alis Ivy berkerut tajam membaca pesan tersebut. Seingatnya, hanya ada satu orang yang memanggilnya seperti itu. Panggilan sayang, katanya.
Orang itu adalah Nixon.
Ivy menggelengkan kepala beberapa kali, membantah apa yang dikatakan hatinya. Tidak mungkin pria itu yang mengiriminya pesan, Nixon tidak mengetahui nomor kontak ponselnya.
Lagi pula, dia sudah memblokir semua yang berhubungan dengan pria itu saat kembali ke tanah air dan mengganti nomor kontak ponselnya dengan yang baru. Mustahil Nixon mengetahuinya.
Tidak mungkin pria itu mencari nomor kontaknya. Sangat tidak ada kerjaan sekali bila Nixon sampai melakukannya.
Ivy terkekeh tanpa suara memainkan gelas anggurnya, merasa geli dengan pikiran yang baru saja melintas di kepalanya. Bagaimana bisa dia tiba-tiba memikirkan Nixon hanya karena satu kata yang biasanya memang diucapkan pria itu setiap kali memanggilnya.
Satu tarikan napas panjang diambil Ivy sebelum menenggak sisa cairan merah di gelasnya hingga tandas. Tangan kanannya langsung meremas d**a kiri setelah meletakkan gelas yang sudah kosong di atas meja bar.
Dadanya berdebar, jantungnya berdetak dua kali lipat lebih cepat. Bukan karena pengaruh alkohol, melainkan karena pikirannya yang tiba-tiba saja kacau.
Ivy mendengkus tak suka. Kondisi tubuhnya sekarang diartikannya sebagai sesuatu yang lemah, dan dia tidak menyukainya. Dia sudah terbiasa selalu terlihat kuat, tidak pernah menunjukkan kelemahannya. Jika dia memperlihatkan sisi lemahnya, bagaimana dia bisa bertahan?
Ivy bangkit, mengabaikan Kayla yang sudah jatuh tertelungkup di atas meja bar. Langkahnya terhuyung menembus kerumunan. Dia ingin ke kamar mandi untuk mencuci muka. Siapa tahu, semua pikiran negatif yang membuatnya tidak dapat menikmati malam dengan tenang malam ini, pergi.
Ivy sudah hafal letak kamar mandi di klub ini. Dia bahkan dapat menuju ke sana dengan mata terpejam seandainya klub sepi. Bukan hanya si berengsek Arga Permana saja yang memiliki kartu diamond keanggotaan klub, dia juga memilikinya. Tanpa tahu yang lain tentu saja.
Hanya Kayla yang mengetahui semua tentang dirinya. Ivy tidak segan berbagi masalah apa pun kepada sahabatnya itu, kecuali tentang Nixon.
Bukannya dia tidak ingin berbagi. Hanya saja, menurutnya, masalah itu bukan hal yang penting. Hubungannya dan pria itu bukan sesuatu yang jelas, mereka hanya teman berbagi keringat dan desah di atas ranjang.
Ivy sudah hampir mencapai kamar mandi, tinggal beberapa meter lagi. Namun, kakinya justru terasa semakin berat untuk melangkah. Kesadarannya semakin terkikis, diambil alih alkohol yang semakin berkuasa.
Kepalanya berdenyut, pandangan mulai mengabur. Lorong sepi yang tinggal beberapa meter lagi terlihat bercabang di indra penglihatannya.
Ivy memilih untuk berhenti. Di sisa kesadarannya, akal sehatnya masih bekerja. Jika diteruskan berjalan dengan keadaan mabuk yang mulai parah seperti sekarang, kemungkinan besar dia akan jatuh pingsan sebelum mencapai kamar mandi.
Ivy menggeleng-gelengkan kepala. Memukul kecil kepalanya beberapa kali menggunakan tangan kanan, sementara tangan kiri berpegangan pada dinding. Dia sudah tahu toleransi tubuhnya sangat lemah terhadap alkohol, tetapi nekat memesan Vodka yang memiliki kadar alkohol lebih tinggi dibanding red wine.
Beberapa detik Ivy masih di posisi semula. Kepalanya tertunduk, punggung bersandar pada dinding. Dingin terasa merayap di punggungnya yang tidak tertutupi apa-apa. Dia mengenakan gaun backless, punggungnya terbuka hingga setengah bagian.
"Perlu bantuan?"
Suara seorang pria itu terdengar dekat dan tak asing. Rasa-rasanya, dia pernah mendengarnya, tetapi entah di mana Ivy tidak ingat. Seperti indra penglihatannya yang kehilangan ketajaman, indra pendengarannya pun sama.
Ivy mengangkat kepala. Sepasang alisnya berkerut tajam, mata menyipit mencoba menajamkan penglihatan. Sayangnya, semua tidak berhasil, pria di depannya yang entah berjarak berapa jauh darinya tetap tertangkap samar indra penglihatannya.
Ivy menggelengkan kepala, menolak bantuan yang ditawarkan. Dia tidak terbiasa menerima bantuan, tidak suka berhutang budi, apalagi pada seorang pria asing yang ditemui saat mabuk.
Cukup satu kali saja dia menerima bantuan seseorang yang harus dibayarnya seumur hidup.
Suara langkah kaki mendekat tertangkap indra pendengaran Ivy. Ternyata, jarak mereka sedekat itu sampai-sampai dia dapat mendengar suara sepatunya yang berpadu dengan lantai.
Padahal, indra pendengarannya kehilangan fokus, tidak dapat mengenali suara yang ditangkap. Kecuali, suara Kayla yang memang sudah sangat-sangat akrab di telinganya.
"Beneran nggak mau aku bantu?"
Sekali lagi, Ivy menggelengkan kepala menjawab pertanyaan itu yang terdengar sangat dekat. Seolah dibisikkan di telinganya.
"Kamu bakalan pingsan sebelum sampai tempat yang kamu tuju."
Pria itu terkekeh, tepat di depan telinganya. Tidak hanya itu, pria dengan aroma tubuh yang familiar itu juga melumat daun telinganya.
Dengan tenaga yang tersisa, Ivy berusaha mendorong pria yang melecehkannya. Kurang ajar sekali, bisa-bisanya dia dilecehkan di tempat yang sangat dikenalinya. Sebut saja daerah kekuasaannya karena dia sudah menjadi langganan tetap di klub malam ini.
Sepertinya, pria di depannya tidak mengenalnya, pria asing yang baru datang pertama kali ke klub malam sehingga mereka baru pertama kali bertemu. Jika tidak, tak mungkin pria berengsek ini berani menyudutkannya ke dinding dan mengurungnya dengan kedua tangan menempel di dinding.
"Berengsek!" maki Ivy mendesis. "Lepas!" Kedua tangannya kembali mendorong d**a yang terasa keras di telapak tangannya. Keras yang kembali terasa familiar.
"Lepas?"
Lagi, kekehan menyertai pertanyaan itu. Ivy memicingkan mata menatapnya, mencoba mengintimidasi.
"Bukannya kamu paling suka kalo aku peluk kamu, Baby?"
Mata Ivy melebar sempurna mendengarnya. Bisikan tepat di depan telinganya itu terdengar seperti suara ledakan bom. Tidak hanya napasnya yang tertahan, bahkan jantungnya pun seakan berhenti berdetak.
Nixon? Apakah pria di depannya adalah pria itu?