Menata Rasa, Menata Hati

1285 Words
Felora menatap kosong jendela kamarnya—masih terdiam bingung. Pikirannya semakin terbebani. Semalam William mendadak jadi pendiam, lalu pergi setelah berciuman singkat, pagi ini dia berubah jadi diktator—bahkan membentaknya. Sebenarnya ada apa dengan William? Kenapa dia bersikap seperti itu? Apakah ia berbuat salah? Sungguh Felora tidak mengerti, ia belum melihat William dengan versi yang seperti ini. Belum lagi, William adalah pengalaman pertama Felora dalam berbagai hal. Menghadapi William yang mendadak banyak berubah ini, membuatnya merasa buntu—otaknya seperti tidak bisa bekerja. Saat hendak menutup mata, bunyi nyaring terdengar dari pintu apartemennya. Disusul dengan seruan melengking panjang dari Risa. “Feyyy... Aaaaaa... udah enakan sekarang?” Felora terkekeh kecil melihat senyuman lebar yang Risa berikan. “Bahagia banget lo jenguk orang sakit.” “Bahagia dong, soalnya gue liat pemandangan yang bikin gue bahagia.” Kening Felora mengerut. “Apa?” Risa tersenyum semakin lebar. “Fey! Lo harus tahu! Pak William. Aaaaa.... Pak William kayaknya cemburu sama Dewa deh—ah enggak, bukan kayaknya. Tapi ini fakta! Pak William cemburu woy! Cemburu!” Ucap Risa penuh semangat. “Hah?” William cemburu? William benar-benar tidak suka ia dekat dengan Dewa? Apakah karena cemburu juga William kasar seperti itu? Tidak, tidak. Mana mungkin William cemburu? “Kalau cemburu... artinya....” “Oh God! Gitu aja masa gak ngerti?! Itu tandanya dia juga cinta sama lo Fey! Dia pasti udah kecintaan banget.” Risa mengguncang-guncang gemas bahu Felora. “Lo pasti gak akan percaya sih Fey. Tapi gue liat sendiri, jelas banget Pak William cemburu.” Risa melompat duduk semakin dekat. “Lo tahu? Pak William tadi hampir tonjok-tonjokan sama Dewa, untung gue buru-buru dateng. Kalo enggak kayaknya mereka udah baku hantam di lobi.” Sampai segitunya? Padahal seingat Felora, William bukan orang yang mudah terpancing emosi. William cenderung dingin, bahkan jarang memperlihatkan emosinya. Lalu—baku hantam? Apa mungkin? “Ngarang banget anjirr, gak gitu ya. Gak usah di gede-gedein.” Ucap Dewa dengan sebotol air di tangan. “Gue sama dia—.” “Beliau.” Koreksi Felora cepat. “Yang sopan! Pak William dosen lo.” Dewa mendesis, memutar matanya jengah. “Gak penting!” “Sentimen banget sih lo.” Balas Risa. “Toh Pak William baik ege, peduli sama Fey. Udah mulai keliatan sayang lagi. Jadi yaudah sih gak usah kayak gitu mulu. Jangan dipermasalahin terus.” “Lo tau gak Fey? Dewa sempet datengin Pak William dan minta supaya kalian bubar. Gak heran tadi sampe mau tonjok-tonjokan.” “Ca! Jangan fitnah!” “Lu sendiri yang ngomong tadi di lift! Fitnah apaan?! Lu aneh banget Wa. Ngapain lo ikut campur sama hubungan Pak William sama Fey? Coba lu jelasin, ada urgensi apa lo sampai bilang kayak gitu?” Dewa mengerang. “Lu tuh gak ngerti Ca.” “Ya bikin gue ngertilah!” “Udah sih, kalian kenapa malah ribut? Gue makin pusing ini liatnya.” Dewa dan Risa bertatapan sesaat sebelum saling membuang muka. Andai saja Dewa cukup berani mengungkapkan perasaannya, itu mungkin tidak akan sulit. Tapi Dewa enggan melakukannya, ia tidak mau hubungan mereka berubah canggung hanya karena perasaan cinta tak terbalas. Dan... andai saja Dewa tidak melihat rona wajah dan senyuman bahagia Felora saat bersama William. Sudah dipastikan ia akan membocorkan semua rahasia William. Tapi, senyuman Felora terlalu berharga. Dewa suka senyuman itu—meskipun ia bukan menjadi alasannya. “Tu orang ninggalin lo yang lagi sakit begini?” “Pak William Dewa.” Koreksi Felora lagi. “Iya-iya, Pak William, dia ninggalin lo yang lagi sakit gini? Atau jangan-jangan dia gak tau lo sakit?” tanya Dewa, ia ingat betul bagaimana gelagat William tadi. Sepertinya dia tidak tahu apapun. “Enggak. Dia gak tau. Dan awas lo pada kalo ada yang berani ngasih tau Pak William!” “Kenapa?” Tanya Risa. “Dia harus tahu gak sih Fey? Biar bisa jagain lo juga. Dia pasti kecewa kalau gak tau lo sakit dan punya trauma kayak gitu.” “Gue gak enak aja, Pak William orang sibuk. Gue gak mau ganggu waktu dia. Suatu saat gue pasti bilang kok. Tapi gak sekarang.” “Mending gak usah bilang Fey.” Ucap Dewa. “Kenapa?” Pemuda itu menyandarkan punggungnya ke kepala tempat tidur, kepala sedikit miring menatap Felora yang masih berbaring. “Gue lebih seneng lo udahan sama dia Fey, serius. Gue gak mau lo sakit gara-gara dia. Apalagi perasaannya juga belum jelas, yang jelas dia membenarkan kebohongan lo tanpa alasan—yang artinya hubungan kalian juga bohong, palsu.” “Wa, lo tuh kenapa deh kayaknya benci banget sama Pak William? Emang Pak William ada salah apa? Toh selama ini Pak William baik.” Ujar Risa seraya menatap Dewa heran. “Yang gue liat, dia juga peduli sama Fey bahkan dari sebelum ada hubungan ini. Mata lo coba buka deh, jangan nilai dari sekarang doang.” “Gak ada Ca, palsu tetap palsu, gak ada pembenaran buat itu.” Sementara keduanya berdebat, Felora terdiam. Pikirannya semakin berkecamuk setelah mendengar perkataan Dewa. Pertanyaan di benaknya bertambah, apakah William benar-benar mencintainya? Atau hanya menganggap hubungan ini adalah hubungan palsu seperti yang Dewa katakan? *** Mama: Apa lagi yang kamu lakukan pada Karina Liam? Cuma makan malam loh, tapi kamu bahkan gak datang lagi? Mau sampai kapan kamu begini terus? Karina tulus sayang sama kamu. Apa lagi yang kurang? Dia bahkan mau perjuangkan hubungan kalian meskipun kamu selalu memperlakukannya dengan buruk. Kamu gak akan dapat perempuan sesabar Karina lagi. Mama: Kalau begini terus, Mama akan atur pernikahan kamu secepat mungkin. Setuju atau tidak setuju, kamu harus setuju! Saya: Jika Mama dan Papa melakukan itu, Kalian tidak akan memiliki anak bernama William lagi. Sudah William prediksi, ibunya pasti akan mengatakan hal itu lagi. Katakanlah balasannya terlihat tidak sopan. Tapi toh sejak awal William sudah menolak perjodohan ini, ia tidak mau bahkan untuk mencoba pendekatan. Tapi mereka memaksakan kehendak. Bukan salahnya bukan bersikap seperti ini? Sebagai pria normal, ia pun ingin hidup bahagia dengan perempuan yang ia cintai. Ia hanya ingin menikahi perempuan yang ada di dalam hatinya. Salahkah ia menginginkan hal seperti itu? Bukankah ia pun berhak untuk memilih? Seharian penuh William duduk di balik mejanya, tenggelam dalam lautan kertas yang seharusnya menyita seluruh perhatiannya. Namun, pikirannya melayang, berputar-putar di sekitar satu nama yang tak bisa ia usir dari benaknya: Felora. Tangannya meraih pulpen, mencoret-coret dokumen yang seharusnya ia periksa, tapi setiap helaan napasnya membawa kembali perasaan yang membuat dadanya sesak. Felora bukan mantan kekasih yang selama ini ia cari. Bukan bagian dari masa lalu yang pernah ia pikir akan ia temukan kembali. Tapi kenapa justru dialah yang kini memenuhi dunianya? Lalu jika bukan Felora, siapa? Apakah benar Karina? Berat rasanya menerima kebenaran ini. Ia bahkan tidak akan pernah bisa menerimanya. Tangannya mengepal, menahan rasa frustasi yang menggelora dalam dadanya. Ia terlalu mencintai Felora. Terlalu dalam, terlalu jauh, hingga ia tak bisa lagi menemukan jalan kembali. Jika Felora pergi, ia tak tahu bagaimana caranya melanjutkan hari-hari tanpa bayangannya. “Cincinnya? Atau orangnya?” Jelas orangnya. Masa lalu atau masa depan? Mata William membesar. Tentu saja masa depan. Jika Felora bukan bagian dari masa lalunya, bukan berarti Felora tidak bisa jadi bagian masa depannya bukan? William segera meraih ponsel, mengirimkan pesan pada Felora. Saya: Sayang, boleh saya ke apart kamu? Senyuman William terbentuk. Mulai merasa bodoh karena terlalu lama memikirkan hal tidak penting. Di tengah lamunannya, sebuah pesan mendistraksi. Mulanya tidak tertarik. Namun saat pesan terbaru ia dapatkan. Seketika William bangkit, bersamaan dengan ketakutan yang semakin menggerogoti hatinya. Karina: Apakah aku harus meminta bantuan pacarmu agar kamu mau datang? Karina: Ini kontaknya kan? Karina: (Mengirim kontak: Felora) Karina: Aku akan menghubunginya kalau dalam 15 menit kamu gak datang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD