Getar Trauma, Bara Cemburu

1199 Words
Felora terbangun dengan keringat dingin membasahi dahinya. Jantungnya masih berdebar kencang setelah kejadian semalam. Suara ledakan itu masih terngiang di kepalanya, membawa kembali ketakutan lama yang telah berusaha ia pendam. Sebenarnya Felora terkadang bingung, benaknya selalu bertanya-tanya saat ia kembali pada kondisi ini. Sebab, sejujurnya Felora tidak tahu, apa yang membuatnya trauma seperti ini, ia pun tak ingat sejak kapan ia memiliki trauma itu. Dengan tangan gemetar, ia meraih ponselnya, melihat jam di layar. 07:15 AM. Untungnya hari ini tidak ada kelas. Ia menarik napas dalam, mencoba menenangkan dirinya. Tidak boleh ada yang tahu dengan kondisinya ini. Terutama William. Pikirannya masih dipenuhi berbagai pertanyaan tentang sikap pria itu semalam. Diamnya William, dan ciuman itu... apa artinya? “Sudah bangun?” Seorang pria memasuki kamar, menatapnya penuh khawatir “Kak Fero. Kok ada di sini?” Fero, dia om-nya, adik dari ibunya yang hanya terpaut lima tahun dengan Felora, jadi alih-alih memanggil Om, Felora memanggilnya dengan sebutan kakak. “Kakak dapat kabar dari manajer, katanya trauma kamu kambuh akibat ledakan lampu, makanya kakak datang.” Fero memiliki jabatan cukup tinggi di Saputra Development, sehingga karyawan yang bekerja di sini tentu mengenal Fero. Karena itu juga Felora tinggal di sini, selain yang paling dekat dengan kampus, di sini juga aman dan Fero juga bisa memantaunya. Felora menatap Fero. Pria itu menatapnya penuh rasa iba. “Fey, obatin ya? Kakak udah ngobrol sama Pak Mark, katanya di rumah sakit temannya ada psikiater yang sangat bagus. Siapa tahu kamu bisa sembuhkan?” “Percuma gak sih kak? Aku gak inget apapun tentang trauma yang aku dapat, penyebab dan segala macamnya.” “Tanya Ibu.” “Enggak Kak. Ibu pasti khawatir.” Felora menghela napas panjang. “Gapapa Kak. Gak parah kok. Nanti pasti sembuh. Aku yakin.” “Kakak pasti dimarahin ibu kamu kalau ketahuan sekongkol buat nyembunyiin ini.” “Kak please...” “Gak usah pasang mata berkaca-kaca gitu. Oke. Gak akan kakak bilang.” “Aaaaa makasih Kak Feroo... aku do’ain semoga Kakak segera nikah sama orang yang udah kakak sayang dari lama itu.” Kekehan Fero keluar dari bibirnya. “Mana ada? Dia udah mau nikah.” “Baru mau? Selama janur kuning belum melengkung, tikungan masih tajam kak.” “Tau apa sih bocil? Udah. Sebaiknya hari ini kamu istirahat saja, kakak gak bisa nemenin soalnya ada kerjaan penting. Tapi kakak udah minta Dewa dan Risa buat jagain kamu. Pulang kerja nanti Kakak nginep di sini.” “Jangan.” Sergahnya cepat. Sebelah alis Fero naik. “Jangan?” “Kak Fero pasti sibuk, apalagi sampai harus kerja di weekend kayak gini. Jadi gapapa, gak perlu ke sini. Kalau butuh teman biar aku sama Risa saja.” Sejujurnya Felora takut William tiba-tiba datang dan bertemu Fero. Ia belum siap memberitahu Om-nya tentang hubungan mereka. Apalagi William... cinta dan pacar pertamanya. “Oke. Kabari kakak kalau butuh apapun. Pastikan ponsel kamu hidup supaya Kakak bisa selalu hubungin kamu. Paham?” “Iya. Paham.” “Ini makananmu, obatnya juga. Sekarang Kakak harus pulang dan pergi ke kantor.” Sepeninggal Fero, Felora kembali memejamkan mata, mengistirahatkan kepalanya yang masih terasa pening. Beberapa menit kemudian sebuah panggilan masuk. “Hallo.” “Fey gue butuh akses buat naik.” Mata Felora terbuka, itu Dewa. “Bilang aja ke satpam. Kayak pertama kali aja.” “Oke. Gue naik.” Panggilan itu berakhir, Felora kembali memejamkan mata—mengistirahatkan kepalanya yang berdenyut. Beberapa menit kemudian panggilan lain masuk. Felora menjawabnya tanpa melihat layar. “Apa lagi Wa? Udah sampe? Masuk aja, pin nya masih sama.” “Dewa tahu pin pintu kamar kamu?” Deg! Felora tersentak, seketika matanya terbuka. William! Napas Felora tercekat, suaranya gugup hampir tidak keluar. “P—Pak William?” *** Lima menit lalu... “Pak saya sudah dapat izin. Bisa tolong antar saya?” “Kamar Non Felora ya? Mari.” William baru saja keluar dari lift saat mendengar Dewa meminta ijin masuk ke kamar Felora pada satpam. Dadanya bergemuruh, letupan emosi meledak didadanya. Rahang William mengeras, dihalanginya langkah Dewa, mencegahnya menuju lift. Ada kekagetan di mata Dewa, namun detik berikutnya Dewa membalas dengan tatapan tak kalah dingin. “Buat apa kamu datang?” Dewa tak langsung menjawab, dilihatnya penampilan William sesaat, terlihat sangat rapih. Itu artinya dia akan pergi dan ia asumsikan William tidak tahu keadaan Felora. Terlebih yang menghubunginya adalah Fero. “Pergi sana. Jangan temui Felora.” “Bukan urusan lo.” Oh. Lupakan semua sopan santun yang selama ini Dewa pelajari, ia terlanjur kesal pada William. “Felora pacar gue.” “Selingkuhan maksud lo?” Dewa terkekeh kecil. “Gak usah tegang gitu. Santai aja lagi. Gue biasa kok dateng ke sini.” William mengetatkan rahangnya. Ada sesuatu dalam cara Dewa berbicara yang membuatnya kesal. Tidak, bukan sekadar kesal—ia tidak suka. Tanpa berpikir panjang, William meraih ponselnya dan menekan nomor Felora. Dewa menaikkan alis, heran. William menegakkan punggungnya, ekspresinya tetap dingin. Nada sambung berdering, lalu terdengar suara Felora di seberang. “Apa lagi, Wa? Udah sampe? Masuk aja, pin-nya masih sama.” William terdiam, niat hati ingin meminta Felora mengusir Dewa, namun sebuah kejutan menyapanya. Genggamannya pada ponsel mengetat—menahan kesal, sementara Dewa tersenyum penuh kemenangan. “Dewa tahu pin pintu kamar kamu?” “P—Pak William?” “Saya akan hubungi pihak teknisi buat ganti pin pintu kamu.” “Huh? Ke—kenapa?” “Kenapa?! Kamu tidak sadar? Pin itu seharusnya rahasia dan jadi privasi kamu. Bagaimana bisa kamu membagikan pin itu pada orang sembarangan?” Setiap kali bersuara, nada bicara William semakin tinggi. Dewa menatap William intens, membaca gelagat cemburu dan posesif yang menguar begitu kuat dari William. “Tapi Dewa sahabatku?” Panas dalam dadanya tak tertahankan lagi. Bisa-bisanya Felora masih membela Dewa? “Saya tidak ingin berdebat. Kamu tidak ada pilihan lain selain patuh. Saya juga tidak suka dia datang ke tempat kamu. Jadi akan saya usir.” Tegas William. sebelum mengakhiri panggilan. Dewa yang menyaksikan semua ini menyeringai. “Dude, lo cemburu.” William tidak menghiraukannya. Tapi dalam hati, ia tahu. Dewa mungkin benar. “Balik. Jangan temuin Felora.” Tak ada takut di wajah Dewa, pria itu justru menatap William—menantangnya. “Daripada ikut campur urusan orang lain, sebaiknya Bang Liam pulang. Urus calon istri Bang Liam yang sampai detik ini belum tidur dan nunggu di rumah.” “Jangan sekali-kali lo omongin tentang dia di sini!” “Ops. Takut ketahuan ya?” William memejamkan matanya sejenak, sebelum menatap Dewa lagi. “Urusan Karina, urusan gue. Lo gak berhak ikut campur.” “Gue gak akan ikut campur kalau bukan Felora yang lo permainkan. Lo lepasin Felora. Selesai. Semuanya aman. Itu pilihan terbaik.” William dan Dewa saling bertatapan dengan mata penuh kebencian, setiap detik terasa seperti perang yang siap meledak antara mereka. Keduanya siap baku hantam, mempertahankan harga diri dan daerah kekuasaan. Beruntung sebuah seruan memecah ketegangan, membuat keduanya mengalihkan pandangan. “Dewa. Pak William.” Itu Risa. Perempuan itu memandangi William dan Dewa bergantian dengan mata bingung, sulit dideskripsikan. William menatap Dewa yang menyeringai. Sejak kapan dia di sini? Apakah Dewa sengaja membuatnya berbicara tentang Karina agar sahabat Felora ini tahu?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD