Entah hanya perasaan Felora saja, atau memang benar. William terlihat lebih pendiam dari sebelumnya. Ada rasa ketidaknyamanan yang tiba-tiba mengisi udara, perasaan buruk pun mulai mendera. Ketika biasanya William berbicara atau menggodanya, tiba-tiba diam.
Benaknya mulai bertanya-tanya. Apa yang salah? Apa aku membuatnya marah? Pikiran itu terus berputar tanpa henti, menciptakan ketegangan yang semakin terasa. Semua yang tadinya terlihat normal tiba-tiba seperti menjadi teka-teki yang sulit dipecahkan.
William makan dalam diam, membuat Felora pun bungkam tak mengeluarkan suara, sungkan. Selama beberapa menit hanya ada suara sendok yang membentur piring, sampai makanan tandas kemudian William yang lebih dulu membuka suara.
“Makanannya enak, terima kasih.” William berucap diiringi senyuman yang tampak dipaksakan.
Felora tertegun, menatap William yang tiba-tiba bangkit. Felora pun bangkit, mengekorinya. “Kemana? Langsung pulang?”
Hanya anggukan kecil yang William berikan, sambil mengambil jas dan ponselnya.
Sedikit kecewa, Felora pikir William akan bersamanya lebih lama. Seperti mencuci piring bersama atau lanjut nonton film? Namun sepertinya Felora terlalu banyak berharap.
“Pak.” Felora memberanikan diri meraih tangan William sebelum pria itu benar-benar pergi. Ketika William berbalik, Felora sedikit berjinjit, mengecup pipi kanan William.
William terpaku, pipinya masih terasa hangat setelah ciuman tiba-tiba dari Felora. Detak jantungnya berdetak cepat, kata-kata tercekat di tenggorokan. Ia hanya bisa menatap Felora, kebingungan, tidak tahu harus berkata apa.
Dunia seakan berhenti sejenak.
Iris mata William bergulir, menatap bibir Felora yang menggoda, rasanya seluruh tubuhnya kaku sejenak. Sebelum kesadaran menguasai dirinya lagi, William menunduk, bibir mereka bertemu dalam ciuman yang mengejutkan.
Jantung William berdebar sangat cepat saat ciumannya bersambut—Felora membalas ciumannya dengan gerakan yang lembut dan memabukkan—terasa manis, melebihi nectar. Ada rasa hangat yang menyebar di dalam dirinya, seiring dengan ciuman itu yang semakin dalam dan lembut. Tak ada kata-kata, hanya ada perasaan yang mengalir melalui sentuhan itu. Sejenak, William merasa terhanyut, semua kebingungannya menghilang. Yang ada hanya Felora, bibirnya yang terasa begitu dekat, membuat semua pikiran William seolah kabur.
Namun, saat ciuman itu berhenti, dunia kembali berjalan. William merasakan dunia seakan kembali berputar, tetapi dengan ritme yang berbeda. Hatinya masih berdebar, bibirnya terasa hangat, namun kebingungannya kembali muncul. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya.
“Felora...” suaranya terdengar lebih parau dari yang dia inginkan, “Aku... aku harus pulang.”
Setelah ciuman itu berakhir, Felora berdiri terdiam, jantungnya berdebar kencang. Ketika William mengatakan akan pulang, ia hanya mengangguk, suaranya hampir hilang. “Oke.” ujarnya, mencoba tersenyum meski gugup.
Matanya mengikuti langkah William yang mundur, lalu melangkah keluar. Felora merasa canggung, gelisah, dan begitu cepat menyadari betapa cepat perasaannya berkembang untuk pria itu, apa karena ia telah menahannya sejak lama? Atau... hal lain? Ia pun tidak mengerti. Ia tidak pernah merasakan perasaan seperti ini.
Ditengah perasaan berbunga dan perut yang masih tergelitik, lampu di atas kepalanya mendadak redup, terang, mati, lalu nyala lagi, namun ada getaran tak biasa di dalam kilatnya. Tiba-tiba, lampu itu kembali padam, meninggalkan kegelapan sejenak.
Crack! c***k!
Bola mata Felora bergerak liar, panik, kakinya berjalan mundur, namun sebelum ia bisa menjauh suara dentuman keras terdengar.
Duar!
“AAAAA....”
Felora jatuh di sudut sofa. Wajah Felora mendadak pucat pasi, tubuhnya bergetar hebat, kedua tangannya terangkat berusaha menutupi kedua telinganya.
“Tolong... tolong. Tolong aku.” Ujarnya dengan suara yang semakin lemah.
***
Begitu sampai di kamarnya, William berdiri di area balkon, ditemani segelas minuman berwarna merah di tanganya. Fakta tentang Felora tidak tahu apapun tentang cincin itu, dan perasaannya yang tidak bisa ia kendalikan membuat isi pikirannya kacau.
William bingung. Ia kecewa, namun di sisi lain ia tidak ingin melepaskan Felora. Ia tidak bisa menampik, Felora gadis mempesona, dia gadis yang berhasil membuat jantungnya berdebar dan menarik gairahnya yang telah lama mati, sampai nyaris hilang kendali.
Clek!
Suara pintu terdengar.
“Kenapa lama sekali?” William berbalik, menatap Bara—sahabatnya yang baru saja masuk.
Desisan kecil terdengar. “Gak usah manja, gue tadi ngalah sama staff dan teknisi yang mau benerin kamar penghuni apart. Katanya lampu di kamar itu kemungkinan meledak dan wali penghuni apartemennya sudah berpesan kalau dia trauma dengan suara ledakan, jadi mereka harus bergegas datang untuk menolong.
Sebagai investor yang baik gue cuma ngalah, karena sesuatu seperti itu harus didahulukan.”
“Alasan.”
Bara terkekeh mendengarnya. Ia kemudian meraih gelas, lalu dibenturkan ringan dengan gelas William. “Kenapa muka lo kusut begitu? Mark bilang lo sekarang ada pacar.”
“Mark cerita?”
“Hm. Kayak kita ada rahasia aja.” Bara menenggak minumannya sesaat sebelum menatap William. “Ada apa? Tumben lo minta gue doang yang dateng?
“Pertama Mark rese, dia terus membela Karina. Kedua Kevin—apa yang lo harapkan dari orang yang lagi bucin itu? Ketiga Bryan, gue gak yakin dia ada waktu.”
“Singkatnya yang lo butuhin gue, benar?”
William tak memberi tanggapan, sebab memang benar hanya Bara yang sedang ia butuhkan. Diantara empat temannya yang lain, dia pihak yang selalu paling netral untuknya. Selain itu, Bara pasti bisa membantu tanpa harus ia minta.
“So, what happened?”
Mendengar pertanyaan itu William menghela napas berat. “Ternyata Felora gak tau apapun tentang cincin itu, dia bilang cincinnya pemberian dari ibunya sebelum kuliah.”
“Masalahnya lo udah terlanjur jatuh cinta sama dia dan gak mau kehilangan dia. Right?”
Tepat. William tidak dapat menyangkal lagi tentang hal itu. Sekarang ia terima yang Alya katakan, memang benar—ia mungkin memang sejak awal telah mencintainya. Namun William tidak menampik kalau perasaan itu tumbuh begitu cepat dibanding terakhir kali.
“Gue gak bisa bayangin hidup tanpa dia. Tapi kalau dia bukan pemilik pasangan cincin gue, akan jadi masalah besar.” William menatap kosong ke arah gedung-gedung di depannya. Mengingat kembali perjanjiannya dengan Mark. Ia belum siap jika akhirnya harus kehilangan Felora.
Kebersamaan mereka yang singkat benar-benar membuatnya bahagia, membuat kekosongan hatinya terasa penuh, seolah-olah ia menemukan sesuatu yang telah lama hilang. Setiap tawa, setiap tatapan, setiap percakapan sederhana terasa begitu berarti. Ia tak pernah menyangka bahwa dalam waktu sesingkat itu, seseorang bisa meninggalkan jejak begitu dalam di hatinya.
Menatap William yang hanya diam, Bara kembali bertanya. “Sekarang gue tanya sama lo, yang penting itu cincinnya? Atau orangnya?” Bara menepuk pundak William, merematnya memberi kekuatan.
“Sekecil apapun kemungkinan kalian bisa bersama. Perjuangkan, kalau emang yang lo mau itu dia.”
***
Sementara itu di restoran, Karina masih bertahan di tempat duduknya dengan tubuh mematung mendengarkan penuturan yang mengguncang hatinya.
“Kak Liam punya pacar lain.”
“Siapa?”
“Namanya Felora.”