“Silahkan masuk. Pak William bisa duduk di sini.”
William mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru apartemen Felora. Cukup luas untuk ukuran ditinggali satu orang, nyaman. Begitu masuk langsung ke area living room, yang terintegrasi dengan area dapur dan tempat makan yang open space. Tidak begitu banyak barang, sehingga tempatnya terasa sangat sederhana, dan rapih.
“Ini minumannya, maaf saya tidak punya pilihan minuman lain selain air mineral. Sekarang saya akan masak.”
William mengiringi Felora dengan tatapannya, merekam pergerakan perempuan itu dalam ingatannya. Sampai getaran pada saku jasnya mengganggu, membuatnya terdistraksi. Beberapa pesan masuk, dari Karina.
Karina: Kak masih di kampus? Tante Mila udah bilang kan kalau malam ini kita ada janji makan malam bersama? (1 jam lalu)
Karina: Kak aku mau ngabarin. Aku udah sampai di resto hotelnya Kak Mark. (30 menit lalu)
Karina: Kak Liam masih sibuk ya? (Now)
Karina: Aku tunggu ya Kak (Now)
Saya: Saya sibuk. Pulanglah.
Karina: Gak bisa kak, kalau batal, aku harus ngasih alasan apa sama Tante Mila? Sama Mama aku?
Karina: Aku ke kampus ya kak?
Karina: Minimal kita ketemu.
Helaan napas panjang keluar dari hidung William, tanpa mengindahkan pesan itu William bangkit, membuka jas, menyimpannya di sofa bersama dengan ponselnya yang menyala dengan nama Karina di layar.
“Mau masak apa?”
“Aku akan—
William berdiri di samping Felora yang sedang memotong bawang, matanya tak lepas dari paras cantik itu—menelisik, dari dahi yang sempit, alis yang cukup tebal, bola mata besar dengan alis yang lentik, dengan hidung mancung dan bibir yang penuh dengan rona merah alami—terlihat s*****l dan lembut.
Tatapannya terpaku, seolah dunia menyempit hanya pada lekuk bibirnya yang penuh dan merona. Ada desir halus di dadanya, perasaan yang menghangatkan seperti angin lembut di awal musim semi. Bibir itu—indah, menggoda tanpa usaha, membangkitkan sesuatu di dalam dirinya yang sulit dijelaskan.
Setiap kali perempuan itu berbicara, ia terpesona bukan hanya oleh kata-katanya, tetapi oleh cara bibirnya bergerak—lembut, mengalun seperti melodi yang hanya bisa ia dengar. Ada hasrat yang berdesir di sela-sela kekaguman, bukan sekadar keinginan untuk menyentuh, tetapi juga untuk merasakan kehangatan yang mungkin tersimpan di sana.
“Aku ingin menciummu.”
Harusnya itu jadi suara dalam pikiran William, namun bibirnya lebih cepat bergerak, membuat Felora menghentikan aktivitasnya, dan menatapnya dengan wajah merona merah.
“B—bukankah itu terlalu cepat?”
Detik itu pula William sadar, secepat kilat ia alihkan pandangannya dari bibir merona itu, menetralkan desiran hasrat dalam dadanya. “Lupakan.”
Felora mengangguk kecil kemudian melanjutkan lagi kegiatan memasaknya dengan jantung yang berbebar hebat. Hei! Siapa memangnya yang tidak akan kaget mendengar pernyataan begitu? Masih untung jarinya tidak sampai teriris.
Diam-diam Felora menggigit bibirnya, sesekali melirik William yang tampak berbeda. Kesan kaku yang selama ini ia lihat terhempas hanya karena lengan baju yang digulung sampai sikut. Tanpa sadar Felora pun menatap wajah William, memindainya dan berakhir pada bibir penuh dan berbentuk simetris itu, bibir yang tegas dan maskulin.
Felora tidak pernah tidak terpana dengan visual tampan sang dosen. Terlebih mata tajam dan lekuk bibirnya yang tampak sangat menggoda.
Harusnya lo gak perlu jual mahal! Lo juga mau kan ciuman sama tuh cowok?
Enggak! Jangan gila. Udah bener nolak. Kalau mauan entar dianggap murahan.
Ya tapi kapan lagi bisa nyobain? Toh lo juga maukan? Udah pacaran juga.
“Kenapa?”
“Huh?”
“Kenapa tiba-tiba geleng-geleng kepala gitu? Pusing ya?”
“Hah? Enggak kok. Enggak.” Buru-buru Felora selesaikan memotong bawang, beralih memotong sayuran.
William bukan tidak menyadari Felora menatapnya begitu dalam. Jantungnya bahkan nyaris meloncat saat menyadari hal itu. Namun entah mengapa, godaan jail yang biasanya muncul di dalam otak menghilang, yang ada di sana hanya keinginannya untuk memiliki Felora untuk dirinya sendiri.
“Boleh aku memelukmu?”
Ragu, Felora menoleh. Dalam hati Felora menjerit gemas. Kenapa sih harus tanya dulu? Kan jadi bingung harus jawab kayak gimana. Padahal akan lebih mudah kalau langsung saja kan?
“Saya tidak memaksa.”
Namun Felora mengangguk. “Boleh.”
Tanpa membuang waktu William memeluk pinggang Felora yang terasa begitu kecil di tangannya. tinggi Felora pun hanya sampai sebatas hidung, lebih mungil dari yang ia kira.
“Biar kubantu.” William sandarkan dagunya di bahu Felora, tanpa permisi tangan kanannya ikut memegang pisau dan tangan kiri memegang wortel.
Felora mematung, matanya terpaku pada cincin William yang bertabrakan dengan cincin miliknya. Kenapa Felora merasa mereka seperti pasangan menikah?
“P—Pak. Ekhm.” Felora berdehem sesaat, ketika menyadari suaranya mendadak sumbang.
“Hm.”
“Cincinnya.” Felora menoleh pada William. “Kenapa bisa sama?”
William terdiam. Bersamaan dengan pertanyaan itu, William menyadari bahwa Felora pun tak tahu apa-apa tentang cincin yang dia kenakan. Terdengar retakan dalam dadanya, namun sekuat tenaga ia tekan.
“Entah. Kamu dapat cincinnya darimana?”
“Ibu memberikan cincin ini sebelum aku masuk kuliah. Kalau hm... kamu?”
“Aku tidak ingat, tapi katanya aku mendesain cincin ini sendiri.”
Felora mengangguk-anggukkan kepala. “Oh begitu. Pemilik brand perhiasan memang beda level ya? Bahkan bisa sampai desain cincin sendiri.”
Selain menjadi dosen, pekerjaan sampingan William adalah pemilik brand perhiasan. Felora tahu, karena cukup terkenal, meskipun belum bisa dikatakan brand yang fancy. Beruntung pasangan William nanti, akan terasa spesial karena apapun di desainkan secara eksklusif.
“Mau aku desainkan sesuatu?”
“Hah? Tidak perlu.”
“Aku akan membuatkanmu cincin yang lain. Ah—atau satu set perhiasan? Aku rasa kamu akan cocok.”
“Tidak, jangan.”
“Kenapa? Tidak suka?”
“Kayaknya tidak ada perempuan yang tidak menyukai perhiasan. Aku hanya tidak mau.”
Ada rasa kecewa dalam d**a William, fakta tentang Felora yang ternyata tidak tahu apapun tentang cincin itu membuat hatinya tercubit, sakit. Sekuat apapun William menahannya, sebisa apapun ia menepis dan mengalihkan perhatiannya dari hal itu, ia tak bisa menampik dadanya bergemuruh, tidak bisa menerima kenyataan.
Sebab ini artinya, kemungkinan besar ia akan kehilangan Felora.
“Pak.”
“Kenapa melamun? Ada yang salah ya?”
William kembali memeluk Felora erat, menenggelamkan wajah di ceruk leher perempuan itu, menghirup aroma floral-nya dalam-dalam. Mengobati luka, menghilangkan rasa kecewa.