Deadline dan Godaan

1172 Words
“Ini daftar buku referensi yang bagus, ini jurnal yang bisa kalian pelajari. Saya harap kalian selesaikan tugas yang saya minta sesuai waktu yang sudah saya tentukan. Tiga hari lagi saya tunggu di sini.” “Baik Pak.” Tiga mahasiswa—termasuk Felora mengangguk. “Dan pastikan, kalian sebagai MAPRES dan orang-orang yang biasa bekerja sama dengan saya, kalian tidak akan mengecewakan saya.” Tekanan besar. Sekarang Felora menyesali ucapannya sendiri. Bagaimana bisa ia menyanggupi permintaan William begitu saja? Sementara standar William itu, bukan terbaik menurutnya. Tapi ada di level lain yang mungkin... akan membuatnya sulit. Apalagi Senin UAS, itu artinya ia harus mampu membagi fokusnya pada beberapa hal di waktu bersamaan. Keluar ruangan William ketiganya menghela napas panjang hampir bersamaan. Meskipun mereka sering bekerja sama, tapi tetap saja kali ini berbeda. “Semangat kita!” ucap salah satu teman Felora, Diana. “Semangat Fey, beban di pundak lo kayaknya lebih besar dari kita.” Memang. William benar-benar menekannya. “Btw congrats ya, kaget gak kaget sih gue denger kalian pacaran.” Ujar satu temannya yang lain, Nabila. “Hm?” Felora menatap dua temannya itu, apa mereka akan menghujatnya juga? “Perhatian Pak William ke lo beda, tapi gak berlebihan kok. Menurut gue masih wajar dan gak mengganggu.” Lanjut Nabila. “Kalian—gue pikir kalian juga sama kayak yang lain?” Kekehan kecil terdengar dari keduanya. “Enggaklah, ngapain? Hak kalian mau pacaran, gak ada salahnya kok. Toh lo bukan perebut suami orang.” “Kalau lo orang ketiga atau bahkan pelakor, baru salah.” Timpal Diana. Felora tersenyum tipis. Lega, setidaknya masih ada yang berpikiran positif tentangnya. “Fey!” Felora menoleh, Risa di sana. “Yaudah kita duluan ya? Kita masih ada kelas.” Felora mengangguk kecil. “Fey! Lo gapapa kan?” Risa memegang bahunya ketat. “Gue denger katanya mereka terang-terangan bully lo?” “Gapapa, untungnya Pak William datang.” “Syukurlah.” Risa merangkul Felora, berjalan menjauh dari gedung. “Tapi gue liat lo di bimbing Pak William tuh. Cie cie....” “Cie cie matamu?! Lo gak liat muka gue yang udah amburadul ini?” “Huh?” “Ayo ke perpus sekarang, bantu gue cari judul.” “Hah? Buru-buru amat?” *** “Gila. Kalau itu gue, kayaknya udah nangis di tempat.” Ujar Risa setelah Felora selesai menceritakan pertemuannya dengan William. Sebenarnya Felora bukan orang yang oversharing—tapi jika itu dengan Risa, ia akan ceritakan semuanya. Bagaimana pun Risa adalah sahabatnya sejak kecil, tidak ada lagi rahasia diantara mereka. “Lo tau sendiri Pak William kayak apa? Semua yang dia bimbing kayak gitukan?” “Ya tapi ini elo Fey. Lo! Pacarnya.” Risa berujar penuh penekanan. “Justru karena gue pacarnya makanya dia kasih gue beban lebih berat.” “Sadis bener, udah tahu beban mata kuliah semester ini berat.” “Gak taulah, gue juga gak ekspek bakalan begini, ini tuh jadinya kayak hukuman tau.” Risa menatap Felora. “Tapi Pak William baikkan?” “Aneh.” “Hah?” William memang aneh, tingkahnya benar-benar di luar nalar Felora. Tiba-tiba dingin, hampir membuatnya membeku. Tiba-tiba hangat, hampir membuatnya melebur. Tiba-tiba bisa jadi sangat menyenangkan dan ya... tiba-tiba bisa jadi sangat menyebalkan. Namun sikap itulah yang menurut Felora menarik. Ia selalu dibuat penasaran dengan sikap yang akan pria itu berikan setiap kali mereka bertemu. “Aneh yang... tiap hari ada aja gebrakannya.” Ujar Felora menutup cerita. “Ah lu emang udah kecintaan sih ini. Yaudahlah terima aja. Toh lo udah biasa kan penelitian bareng Pak William, harusnya bisa lebih mudah kan?” “Harusnya....” ujar Felora mengambang. Setelah itu Felora fokus pada buku-buku referensi dan jurnal yang William berikan. Mulai menggali berbagai jenis masalah yang akan ia gunakan sebagai bahan penelitian dan mulai merangkaikannya sebagai judul. Sejujurnya, beruntung ia dan yang lain mendapatkan bantuan referensi begini, di saat dosen lain tidak memberikannya. Tapi... tetap saja. “Fey, udah napa. Gue lapar ini. Ayo makan dulu.” “Bentar Ca.” “Udah mau jam 5 ege. Tega bener lo bikin gue lewatin makan siang.” Felora menoleh, “Perasaan gue udah nyuruh lo ke kantin? Tapi lo malah milih di sini, telponan sama pacar lo yang om-om itu.” Risa mendesis. “Ngaca! Pacar lo lebih tua empat tahun dari pacar gue ya, enak aja om-om.” Drrt... drrt... Sebuah pesan masuk. Pak William: Dimana sayang? Ayo pulang. Saya: Di perpus. Iya. Pak William: Ok. Tunggu. Saya jemput ke sana. “Cie.” Goda Risa, “Cie sayang.” Felora tidak terganggu dengan godaan itu, ia kini merapihkan jurnal, buku dan laptop di meja ke dalam tas, “Tapi kok masih Pak Wiliam sih nama kontaknya? Kayak bukan pacar aja?” “Apa pentingnya nama kontak?” Felora menoleh lalu menyeringai. “Yang penting panggilan langsungkan?” Mata Risa membesar, diiringi senyumannya yang melebar. “Lo manggil apa Fey? Bilang sama gue! Lo manggil apa?” Felora mendekatkan wajahnya ke telinga Risa. “Daddy.” “Anjirr!” Tawa Felora terdengar, bersamaan dengan itu mobil mewah William memasuki parkiran perpustakaan. “Yaudah gue duluan. My Dad is here to pick up his beautiful girlfriend.” Risa memutar bola matanya malas. “Sono! Sono lu pergi! Pacar gue juga bentar lagi dateng. Hus!” Felora tergelak mendengarnya, lalu berjalan cepat menuju mobil mewah itu, mengetuk kaca mobil itu dua kali sebelum pintunya terbuka dari dalam “Hai.” William menyambutnya dengan senyuman. “Gimana? Udah nemu judulnya?” “Nanya judul sekali lagi gue keluar nih.” William tersentak, sedetik kemudian tertawa. Di sisi lain Felora menutup mulut. Terlalu banyak bicara dengan Risa, sampai ia lupa mengatur ulang cara bicaranya. “Maaf.” “Tidak masalah, saya tidak keberatan kalau kamu ingin santai, tapi minimal aku-kamu ya? Jangan gue-lo kayak kamu sama temen-temen kamu.” Felora diam, tidak tahu harus bereaksi seperti apa. “Apa saya—ah aku juga harus mulai berbicara santai?” Felora memalingkan wajah, malu. Ia belum terbiasa dengan godaan pria itu. “T—terserah.” “Oke. Pelan-pelan saja.” Ujar William diakhiri senyuman tipis. Sepertinya William peka, kalau Felora masih sangat canggung. “Saya lapar.” Lalu? Felora menatap William. “Ayo makan di luar?” Sejujurnya Felora tidak ingin pergi kemanapun selain ke kamarnya. Ia sudah tidak punya energi lagi untuk bepergian. “Atau, kamu punya pilihan lain?” “Di apart? Saya bisa memasak untuk anda.” Felora menatap ragu. Ia merutuki dirinya lagi. Bagaimana bisa ia berani memberikan saran seperti itu? “Boleh?” Felora mengangguk, segera meraih ponsel membuka halaman pencarian. “Anda ingin makan apa? Biar saja carikan resepnya.” “Saya bisa memakan apapun.” “Huh?” kenapa terdengar janggal? William menyeringai. “Saya bisa memakan apapun.” Ulang William, “Termasuk yang bukan berupa makanan.” Lanjutnya. Jantung Felora berdegup kencang. Tatapan itu, senyum itu—jelas sebuah godaan. Ia ingin berpaling, tapi tubuhnya membeku, terjebak di antara malu, tersanjung, dan rasa tertantang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD