Tantangan dari Sang Perfectionist

934 Words
Felora mematung di tempat. Tubuhnya kaku di depan papan pengumuman. Banyak hal yang terjadi padanya hari ini, bertubi-tubi hal yang diluar prediksinya ia dapatkan, dan... ternyata belum selesai? Felora Dalia Mutiara Pembimbing 1: Prof. Dr. William Aditama Jayanegara, S.Mb., M.B.A. Pembimbing 2: Dr. Alya Reva Pratiwi. S.Mb., MM. Felora terduduk lemas, bukan karena ia mendapatkan double combo pembimbing nomor satu dan dua paling perfectionist, namun karena statusnya sekarang yang merupakan kekasih William. Ia takut akan memunculkan masalah yang lebih besar. Lihatlah keadaan disekitarnya sekarang. Tidak pernah satu kali pun Felora mendapatkan perhatian sebesar ini saat berada di kampus, kecuali saat presentasi dan seminar. Felora tidak pernah suka menjadi pusat perhatian, apalagi tanpa konteks yang jelas, Namun sekarang, setiap kali mereka selesai membaca pengumuman, mereka tidak sungkan menoleh dan menatapnya sangsi. “Kayaknya gak ada panik-paniknya tuh dibimbing dosen paling killer.” “Yang ada bahagia kali dibimbing mas pacar. Biar cepet luluskan?” “Auto karpet merah gak sih?” Deg! Felora tahu, mereka pasti menyindirnya. “Eh Felora, diem aja?” Felora mendongak, menatap tiga orang yang berdiri di depannya, mereka yang tadi menggunjingnya. Selalu mereka. “Apa yang kalian harapkan?” “Bagi tips dong dapetin hatinya Pak William. Gimana cara godain pria dingin kayak Pak William? Pengen deh punya pacar pria matang, dan kaya raya juga kayak Pak William.” “Iya nih, bagi tips-nya kali.” “Emang gak di raguin sih MAPRES paling pinter sejagat kampus, pasti punya cara cerdik buat dapetinnyakan?” Wajah Felora menggelap, menahan emosi. Saat ia hendak buka suara, suara bariton William lebih dulu terdengar. “Itu kalian tahu, minimal MAPRES.” William menatap ketiga mahasiswanya itu. “Kalian meremehkannya seperti mencemooh bulan yang tidak sekeras batu, sampai kalian lupa dialah yang menggerakkan lautan.” Ketiga gadis yang tadi sibuk menggunjing langsung terdiam, wajah mereka berubah pucat. Tatapan dingin William seakan menelanjangi mereka, membuat keberanian yang tadi sempat menguar kini menguap begitu saja. Mereka saling berpandangan sebelum akhirnya memilih mundur perlahan, meninggalkan Felora yang masih terduduk di bangku. Felora menegakkan punggungnya, menatap William dengan campuran perasaan lega dan gusar. Ia tidak ingin William turun tangan dalam masalah seperti ini. Namun, ia juga tidak bisa membohongi diri sendiri bahwa kehadiran William memberinya sedikit ketenangan. William tidak mengatakan apa-apa, hanya menatapnya sejenak sebelum akhirnya meraih tangan Felora dan menggenggamnya erat. Tanpa memberi kesempatan untuk protes, ia menarik Felora berdiri dan membawanya pergi dari tempat itu. Felora terkejut dengan sentuhan itu, tapi ia tidak menolaknya. Genggaman William hangat dan kokoh, memberikan rasa aman yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Jemarinya terasa kuat namun lembut, seakan ingin meyakinkan Felora bahwa ia tidak sendiri menghadapi semua ini. “Terima kasih,” ucapnya pelan, meski ia tahu William mungkin tidak mengharapkan ucapan itu. William tidak menjawab, hanya mengangguk kecil sebelum menepuk puncak kepala Felora dengan lembut. Tanpa berkata apa-apa, ia terus menggenggam tangannya sampai mereka tiba di gedung rektorat. Tatapan penuh gosip dari mahasiswa lain masih ada, tapi kali ini Felora tidak lagi peduli. Ia memiliki William di sampingnya, seseorang yang ia yakini akan melindunginya. Saat tiba di ruangan pribadinya, William tiba-tiba menarik Felora duduk di sofa, kemudian memberikan satu botol air setelah membukakannya. Felora menatapnya sebentar sebelum menerimanya dengan senyum kecil. “Kamu ini aneh.” Gumam Felora. “Padahal kemarin banyak bicara, hari ini sok cool begitu.” William terkekeh mendengar kalimat yang hampir tidak terdengar itu. “Saya hanya banyak bicara saat bersama orang yang membuat saya nyaman.” “Uhuk!” Felora buru-buru menutup mulut, menahan air agar tidak keluar dari mulutnya lagi. “Hati-hati.” Felora mematung, matanya membesar saat tangan William menyeka ujung bibirnya. Ia hanya bisa diam, menatap obsidian yang selalu menenggelamkannya itu. Sesaat kemudian matanya mengerjap, sedikit mundur sebelum meletakkan botol di tangannya. Seolah tidak terjadi apa-apa. “Apa gak akan jadi masalah anda berkata seperti itu?” “Hm? Seperti apa?” “Ya... seperti itu. Pada orang-orang tadi.” William menyandarkan punggung, menatap Felora intens. “Sekarang saya tanya. Kenapa kamu diam saja diperlakukan seperti itu?” “Ya... saya... saya tidak bisa membela diri karena takut menimbulkan masalah untuk anda.” “Karena itulah saya melakukannya.” “Hm?” “Untuk membelamu.” Sepasang mata Felora membesar, mengerjap cepat. Terkesima dengan kalimat yang William katakan. Desiran halus mulai menguasai dadanya, perasaan nyaman, aman mulai ia dapatkan. William melakukan itu untuk membelanya? Apa... ini artinya William peduli padanya? “Sudahlah, lupakan itu. Sekarang fokus pada tugas akhirmu.” William bangkit. “Setelah ujian semester nanti selesai, saya ingin kamu sudah menyelesaikan proposal penelitianmu.” “Hah?” Proponsal? “Cari judul yang menarik dalam tiga hari dan karena sekarang kamu pacar saya, saya tidak mau tahu, kamu harus membuat penelitian yang bagus, sempurna dan selesai sebelum tenggat waktu yang ditentukan.” “P—pak, apa tidak terlalu cepat? UAS Senin besok. Bagaimana saya menyelesaikan proposal dalam waktu—.” “Begitu saja kamu tidak bisa?” “Huh? B—bukan tapi—.” “Belum apa-apa sudah mau menyerah?” William menatapnya tajam, ada kilat marah di sana. “Bagaimana akan mendapatkan nilai sempurna kalau permintaan remeh saya saja sudah membuatmu angkat tangan?” “Kamu yakin kamu ini Mahasiswa Berprestasi dengan nilai sempurna yang saya kenal itu?” Darah Felora berdesir, matanya menyipit sedikit, menangkap tantangan yang tersirat. Ada sesuatu yang membakar di dadanya—bukan kemarahan, tapi dorongan untuk membuktikan diri. Sudut bibirnya terangkat tipis, tatapannya tajam. Tak lama ia mengangguk, menerima tantangan. “Baik, akan saya selesaikan.” William menyeringai. “Good. Itu baru Felora yang saya kenal.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD