Rahasia di Balik Senyuman

958 Words
150 menit berjalan lebih tenang. Tidak ada yang berani berbicara macam-macam, semua fokus pada perkuliahan. Felora pun demikian, dengan sesekali bertanya dan menjawab pertanyaan, ia hanya fokuskan dirinya pada materi penting yang sedang diajarkan Alya. Bukan karena Alya perfeksionis, tapi karena Felora memang selalu ambisius saat belajar. “Fey gue duluan ya? Dosen gue udah mau masuk.” Risa segera bangkit begitu kelas selesai. “Okey. Entar ketemu di perpus ya?” Risa mengangguk kecil. “Tapi lo gapapa sendiri?” “Gapapa.” “Kalau ada yang macem-macem hajar aja.” Felora terkekeh kecil, “Udah sana. Entar telat.” Tanpa mengatakan apapun lagi Risa pun beranjak pergi meninggalkan Felora yang sedang membereskan bukunya terlebih dahulu. Ketika hendak beranjak, satu panggilan menghentikan langkahnya. “Felora.” Ia menoleh dan mendapati Alya berjalan mendekat. “Saya Bu?” Alya mengangguk ringan dengan senyuman tipis di wajahnya. Felora pun balas tersenyum. “Ada yang bisa saya bantu Bu?” “Tidak.” Kening Felora mengerut. Lalu? “Selamat. Semoga beruntung.” Felora mengerjap, bingung. “Maaf?” “Kamu dan Prof. William.” Felora menelan ludah. “Ah... itu...” Kabarnya benar-benar menyebar cepat ya? Bahkan sudah sampai ke telinga para dosen? “Saya tahu dari suami saya.” “Oh, Pak Mark?” Felora cukup tahu pria itu, dia pernah mengisi seminar di kampusnya. Alya tersenyum lembut, menggenggam tangannya erat. “Saya berharap yang terbaik untuk kalian. Kamu dan William berhak bahagia.” Felora tersentak. Ada sesuatu dalam senyuman itu yang terasa... janggal. Seperti ada sesuatu yang disembunyikan. Tak ambil pusing, Felora pun membalas senyuman itu dengan anggukan kecil. “Terima kasih Bu.” “Katakan apapun pada saya kalau kamu membutuhkan bantuan ya? Jangan sungkan. Saya pasti akan membantumu dan selalu mendukung kalian.” Felora tersenyum kaku, terkejut dengan sambutan hangatnya. Ia tidak seakrab itu dengan Alya. “Oh ya, pengumuman pembimbing skripsi sudah ada di papan pengumuman. Tapi belum diunggah ke web.” tambah Alya. Felora langsung fokus pada informasi itu. Alya tersenyum tipis. “Pergilah. Saya juga ada urusan lain.” Saat keluar kelas, Felora berpapasan dengan Dewa.Felora pun pamit meninggalkan kelas. Baru dua langkah, Felora menghentikan langkahnya saat berpapasan dengan Dewa. “Wa. Darimana? Kok gak masuk?” Bukannya menjawab, Dewa hanya menatapnya intens kemudian menunduk. Entah apa yang dia lihat, namun setelah itu Dewa memandangnya lagi dengan mata merah berkaca-kaca dan rahang yang mengatup ketat. “Wa, ada apa? Ada masalah? Lo kenapa?” Dewa memalingkan wajah, saat hendak beranjak Felora meraih tangan Dewa. “Wa, lo marah?” “Apa gue berhak marah Fey?” “Maaf, maafin gue. Gue—.” “Lo gak salah Fey. Gak perlu minta maaf.” Dewa menghela napas sesaat. “Gue ada urusan di tempat lain, gue duluan.” “Oke.” Tiba-tiba Dewa tersenyum seraya menepuk bahunya. “Jangan overthinking, gue cuma mau jemput Ratu. Dia pingsan katanya.” “Oh. Gitu.” Dewa mengangguk, setelah itu beranjak pergi. Felora iringi Dewa dengan tatapannya, ditatapnya punggung itu lamat sampai kemudian menghilang. Ada yang janggal dari Dewa, aneh. Felora sadar betul tentang itu. *** Selesai berbincang dengan Dewa, perasaan William semakin terganggu. Ia tidak terima dengan sikap Dewa, ia juga tidak suka dengan tindakan yang diambil sepupunya itu. Dewa menyukai Felora juga? Hah! Omong kosong macam apa itu? Kalau dia memang suka, kenapa tidak menyatakan perasaan dari lama? Kenapa harus menunggu sekarang setelah Felora bersamanya? Kenapa harus memintanya untuk mundur dan meninggalkan Felora? Oh sial! Tidak bisakah orang-orang membuatnya tenang dan membiarkannya menikmati kebersamaannya dengan Felora? Ia tidak suka kondisi seperti ini. Ia tidak suka ketenangan hatinya dirusak begitu saja. Tok tok! Siapa lagi? Kenapa hari ini banyak sekali yang mengganggunya? “Sibuk?” William tegakkan posisi duduknya. “Kalo lu datang cuma mau ceramahin gue kayak Mark mendingan gak usah. Gue udah cukup pusing.” Alya terkekeh kecil, “Santai bung. Enggaklah, gue justru mau ngucapin selamat. Gue ikut seneng, semoga kalian berdua bahagia.” Sebelah alis William naik. “Gue kira lo sepihak sama Mark.” “Kenapa mikir begitu?” “Lo bininya.” Alya duduk di depan William seraya tersenyum. “Kami orang yang berbeda, pemikiran kami juga beda, kenapa gue harus ada dipihak yang sama?” William menghela napas panjang. “Tapi lo serius dipihak gue?” “Gue selalu dipihak kebahagiaan orang-orang, dan gue tahu... gue yakin lo bisa bahagia sama Felora.” Alya kembali tersenyum kecil. “Kaget gak kaget sih dengernya. Gue pikir kalian cuma bisa salting-salting gak jelas doang. Akhirnya bisa pacaran juga.” “Salting gak jelas apaan? Kapan gue salting?” Alya mendesis. “Lo gak sadar ya, lo tuh natap Felora lain dari mahasiswa lain sejak dulu. Gue inget betul, waktu dia jadi perwakilan buat ikut konferensi perdamaian dunia, lo natap dia dengan sangat bangga. Lo bahkan bilang ‘that’s my girl.’ Begitu Felora selesai pidato.” William terdiam, benarkah? Kenapa ia tidak ingat? Apakah ini alasan yang membuatnya merasa sangat dekat dan tidak mau kehilangan Felora dalam waktu singkat ini? “Lo kebanyakan denial sih. Kebanyakan nahan diri dan membatasi kebahagiaan sendiri.” Alya menatap William. “Kita sahabatan dari lama Liam. Sebagai sahabat, gue harap ini pilihan terbaik lo.” “Apapun yang Mark bilang gak usah diambil pusing. Lo fokus aja sama Felora, sama kebahagiaan kalian berdua.” Benar, ia tidak perlu terganggu apapun. ia hanya perlu fokus pada Felora, pada kebahagiaan mereka. Pada masa depan yang ingin ia raih. William kemudian bangkit. “Kemana lo?” “Nemuin kebahagiaan gue.” Alya tergelak. “Gak denial lagi?” Senyuman kecil William berikan. “Nope. Thanks Al.” “No problem.” Senyum lebar Alya berubah tipis, disusul helaan napas panjang yang keluar dari hidungnya. You deserve better, William.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD