Harga Sebuah Nama

1170 Words
Felora menunduk, jemarinya mencengkram ujung blazer di pangkuan. Ujung kuku menancap ke kulit, tapi ia tak merasa sakitnya. Yang terasa hanyalah denyut panas di pelipis dan suara-suara itu—tajam, berbisik, tapi cukup keras untuk menusuk. “Pantas aja nilainya selalu tinggi,” bisik salah satu, tepat di belakangnya. “Coba aja pikir, di saat orang lain banyak yang dapat C bahkan D, dia cuma sendirian dapat A, padahal selama ini Pak William terkenal pelit nilai dan perfeksionis.” “Ya iyalah, siapa dosennya? Hih.” “Gua kira Pak William itu tipe yang nggak bisa jatuh cinta... ternyata seleranya begitu.” “Gue juga pikir pacarnya Pak William itu minimal ya... minimal kayak Bu Alya lah.” “Ih iya! Sayang banget ya Pak William nggak sama Bu Alya, padahal mereka cocok! Daripada sama yang gak jelas begitu.” Jantung Felora mencelos. Ia tahu bahwa dibandingkan Alya, dirinya tidak ada apa-apanya. Alya adalah sosok yang luar biasa, hampir sempurna. Ia lebih cantik, lebih berkarisma, dan lebih dewasa. Bahkan orang tua William pun pernah menginginkannya sebagai menantu. Jika dibandingkan, apa yang Felora punya? Tawa pelan menyusul, menyayat seperti sayatan pisau yang lama. Felora menutup mata. Dalam hatinya ia mengulang-ulang mantra kosong: Mereka tidak tahu. Mereka tidak tahu apa-apa. Tapi itu tak menghentikan rasa getir yang mengalir naik ke kerongkongan. Ia mengingat malam-malam begadang ditemani kopi basi dan catatan berserakan. Laptop yang panas seperti neraka, mata lelah yang menolak terpejam. Semua demi nilai itu. Demi pembuktian. Tapi di mata mereka? Itu semua tidak lebih dari... ‘bonus pacar dosen.’ “Pakai wajah polos, diem-diem nerobos nilai.” “Nilai kita bisa tinggi nggak ya kalo dia nitipin ke dia duluan?” Tawa mereka makin lirih tapi semakin pedas. Felora merasa tenggorokannya kering. Segitu hinanya aku di mata mereka? “Gue denger dia juga sering bantu Pak William penelitian. Jangan-jangan itu modusnya?” “Eh. Apa jurnal index Scopus yang dia buat juga dibuatin sama Pak William? Coba aja pikir, mahasiswa mana yang bisa bikin jurnal index Scopus sampai 15 jurnal kalau bukan dibikinin?” “Nepo baby versi kampus. Cumlaude by koneksi.” Felora nyaris kehilangan napas. Itu bukan cuma jurnal. Itu... pengorbananku. Tahun-tahun hidupku yang aku korbankan. Tidurku, waktuku, kepercayaanku sendiri. Brak. Suara kursi ditarik keras membuat semua kepala menoleh mendapati Risa tiba-tiba duduk di sebelahnya dengan ekspresi penuh amarah. “Omongan sampah nggak guna begitu nggak usah didengerin. Toh orangnya juga kayak sampah, mirip omongannya.” Risa menggeram dengan wajahnya gelap. “Maksud lo?” salah satu dari mereka bersuara, defensif. Felora buru-buru meraih tangan Risa, menggeleng pelan—tidak ingin sahabatnya terlibat lebih jauh. Tapi Risa tetaplah Risa. Ia tidak akan tinggal diam. “Kenapa? Gue cuma lagi ngomongin sampah, kesindir lo?” Tatapan Felora beralih ke tiga perempuan di hadapannya yang kini terdiam dengan wajah memerah. Tak ada yang berani membalas ucapan Risa. Risa mendengus. “Seharusnya lo balas mereka, jangan diam aja.” “Gak ada gunanya.” Felora mengalihkan pembicaraan. “Oh ya, ngapain lo di sini? Bukannya udah nggak ada kelas Bu Alya?” Kebetulan Felora dan Risa hanya satu fakultas, namun dengan berbeda program studi. “Sengaja buat nemenin lo. Tadi pagi Dewa nelepon, katanya gue harus temenin lo.” Felora mengerutkan kening. “Dewa? Kenapa?” “Gak tau. Tapi sekarang gue ngerti.” *** Sementara itu, di sisi lain, William duduk bersandar di kursinya. Matanya terpaku pada kotak cincin yang tergeletak di atas meja. Jari-jarinya bergerak tanpa sadar—memutar pulpen, melepas kacamata, lalu memijat pelipisnya. Pikirannya terus berputar, terganggu oleh tantangan yang diberikan Mark. Di satu sisi, ia yakin Felora memiliki hubungan dengan masa lalunya. Namun, di sisi lain, ada ketakutan yang menggerogoti keyakinannya. Bagaimana jika ia salah? Bagaimana jika semua ini hanya perasaannya saja? Dan yang lebih buruk lagi, bagaimana jika Felora bukan orang yang selama ini ia cari? William mengembuskan napas panjang. Mungkin ini gila. Mereka baru saja bersama satu hari, tapi hatinya sudah jatuh terlalu dalam. Ia tak bisa membayangkan ada perempuan lain di sisinya selain Felora. Bukan Alya. Bukan Karin. Hanya Felora. Tangan William terulur, membuka kotak itu, lalu mengeluarkan cincin yang tersimpan rapi di dalamnya. Ia memperhatikan cincin itu sejenak sebelum menyelipkannya ke jari manisnya sendiri. Sangat pas. Tidak ada keraguan. Ini miliknya. Dan jika benar, itu berarti... William menahan napas. Jika Felora bukan orang yang ia cari, lalu apa yang harus ia lakukan? “Sial! Jangan pikirkan itu. Aku yakin betul, cincin itu pasangannya adalah cincinku ini.” gumamnya lirih. Ketika pikirannya semakin tenggelam dalam kebimbangan, ketukan terdengar di pintu. Namun, tanpa menunggu jawaban, seseorang langsung masuk begitu saja. Alis William bertaut saat melihat siapa yang datang. “Bukankah seharusnya masih ada kelas?” Dewa berdiri di depan meja, menatapnya tajam. “Bukan itu yang penting untuk saat ini.” William menatapnya datar. “Lalu?” “Felora.” William menoleh saat nama itu disebut. Dewa masih menatapnya dengan sorot mata tajam, penuh amarah yang ditahan. “Buat apa Bang Liam ngaku kalau Bang Liam pacarnya Felora? Apa tujuannya?” “Yang sopan, Dewa. Ini kampus.” “Tapi aku ingin bicara sebagai adik sepupumu. Bukan sebagai mahasiswa dan dosen.” Dewa menyilangkan tangan di d**a. Wajahnya penuh emosi. William hanya menatapnya, enggan menanggapi. Namun, Dewa tidak menyerah. “Aku cuma mau bilang, lepaskan Felora. Jangan ganggu dia, Bang. Jangan seret dia ke dalam hidup Bang Liam yang rumit itu. Bang Liam sudah punya calon istri. Bang Liam akan segera menikah. Jadi, untuk apa mempermainkan perasaan seseorang? Apalagi Felora!” William menatapnya tanpa ekspresi. “Kamu tidak tahu apa pun, Dewa.” Dewa mendengus. “Gak tahu apa pun? Aku keluarga Bang Liam! Aku tahu semuanya!” Suaranya meninggi. “Lepaskan Felora sekarang juga atau aku laporkan semuanya ke Kak Karin!” William mendongak, ekspresinya berubah congkak. “Laporkan saja kalau kamu ingin melihat Felora dalam masalah.” Dewa mengepalkan kedua tangannya. Rahangnya mengatup keras, menahan gejolak emosi yang siap meledak. “Jangan ikut campur dengan urusanku, Dewa. Apa pun yang kamu katakan tidak akan mengubah apa pun.” Wajah Dewa memerah sempurna. Matanya menyala penuh amarah, telinganya pun ikut memerah. Ia tahu William bukan orang yang bisa dipermainkan, tapi tetap saja... ini tentang Felora! “b******k!” geramnya. Alih-alih tersinggung, William justru tertawa kecil. “Kenapa kamu seemosi itu?” tanyanya, senyum menyeringai di wajahnya. “Jangan bilang kamu juga menyukainya? Hm?” Dewa semakin geram. Rahangnya mengatup begitu keras hingga ia bisa mendengar suara gerahamnya bergesekan. “Iya. Aku memang menyukainya,” akunya tanpa ragu. “Jadi tinggalkan dia! Dia milikku!” William terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangkat tangannya. Ia memperlihatkan cincinnya. “Oh ya?” katanya, nadanya penuh kemenangan. “Bagaimana kalau ternyata sejak awal dia memang milikku?” Dewa menahan napas. Jantungnya seakan berhenti berdetak saat melihat cincin di jari manis William. Ia mengenali cincin itu. Sangat familiar di matanya. “Enggak... Gak mungkin...” bisiknya hampir tanpa suara. Senyuman William semakin lebar. Sorot matanya penuh kemenangan. “Aku pemenangnya, Dewa. Bahkan sebelum kamu memulai start.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD