Jantung Berdebar, Salah Tingkah

1092 Words
Pukul 6.30 pagi Felora keluar dari kamar apartemennya dengan pakaian yang sudah sangat rapih. Hari ini tepat di jam 8 pagi ada kelas dari Bu Alya yang terkenal sangat tepat waktu disamping perfectionist-nya, dan seperti biasa Felora akan berangkat lebih cepat daripada harus terlambat. Ding! Langkah kaki Felora terhenti mendadak di depan pintu lift yang belum sepenuhnya terbuka. Pintu itu bergerak bagai slow motion, waktu terasa melambat, mengantarkan tatapannya bertemu tatapan tenang pria di balik pintu itu secara perlahan hingga pintu terbuka sempurna. Kebetulan macam apa ini? Dari hampir empat tahun ia menghuni apartemen ini, bagaimana bisa pagi ini ia bertemu dengan William? Mata Felora membesar lucu, sekuat tenaga William menahan bibirnya yang berkedut hampir tersenyum. Gemas dengan ekspresi Felora. Sesaat William menghela napas, berusaha mengendalikan diri. Tanpa terasa, saat William melihat Felora, kekacauan dalam pikiran William terhempas begitu saja. “Kamu akan terlambat kalau tidak masuk sekarang.” “Oh. Iya.” Begitu masuk, napas Felora tercekat. Aroma maskulin William memenuhi lift, menusuk hidung, menyesakkan dadanya. Glup! Felora meneguk ludah kasar, lututnya lemas. Aroma kayu-kayuan ini terlalu memabukkan, rasanya kesadaran Felora hampir tersesat dalam aroma ini. “Kenapa semalam panggilan saya kamu matikan?” “Uhuk!”Felora menutup mulut, wajahnya mendadak panas. Malu. “Kamu gak mau sleep call bersama saya?” Tidak! Bukan begitu! Ceritanya begini.... Setelah menerima pesan singkat dari William, Felora tidak bisa menghilangkan euphoria aneh dalam hatinya. Wajah Felora terus memanas, bahkan mandi air dingin tidak membantu menghilangkan panas di wajahnya itu. Sayang. Satu kalimat yang membuat jantungnya berdegup kencang, menyalakan kembang api, hingga tak henti meletup-letup di d**a. Bodohnya, Felora malah membayangkan. Bagaimana jika William mengatakannya secara langsung? Suara bariton William yang selalu meluncur dengan ketenangan, berat—memberikan kesan serius tetapi cukup lembut. Tegas, sangat maskulin. Ditengah lamunannya itu, ponsel Felora berdering. Jantungnya semakin berdebar hebat saat melihat nama William muncul di layar. “Hal—lo.” “Hai Sayang.” Deg! Bolehkah Felora pingsan sekarang? Jantungnya berdegup semakin tidak terkendali, perut Felora bergejolak, seperti diaduk-aduk oleh kupu-kupu yang tiba-tiba berterbangan liar. Pipinya memanas. “Sayang?” “P—Pak.” Suara Felora tercekat. Napasnya tertahan di tenggorokan, suaranya mendadak hilang. “Hm. Iya sayang?” Stop manggil sayang! Argh! Felora mengepalkan tangan, menahan gugup dan debaran jantungnya yang tidak bisa dikendalikan. “A—ada apa Bapak menelpon? Apakah ada yang perlu didiskusikan?” “Tidak ada, bukankah orang pacaran biasanya memang melakukan sleep call?” Hah? “Saya ingin sleep call dengan pacar saya.” Terkejut, salah tingkah. Felora mematikan panggilan itu sepihak. Felora terlalu gugup. Ia tak bisa mengendalikan lagi jantungnya yang semakin berdetak ribut. Ya, coba saja pikir. Siapa yang tidak terkejut tiba-tiba diajak sleep call oleh orang yang selama ini ditaksir? Demi Tuhan, Felora sudah terbiasa dengan sikap dingin William, diberikan sikap hangat seperti itu rasanya ia tidak sanggup. Felora merasa seperti gula yang mencair dalam teh panas. “Fel.” “Handphone saya mati Pak. Langsung saya charger, kemudian saya mengerjakan jurnal setelah itu tidur tanpa menghidupkan ponselnya lagi.” Jelas Felora dengan cepat. Jelas bohong, tapi separuh dari ceritanya memang benar. Felora sengaja mengerjakan jurnal-nya hanya untuk mendistraksi fokusnya dari William. “Oh. Begitu. Lain kali kerjakan jurnalnya bersama saya saja. Saya bisa membantu.” “Terima kasih.” Felora menghela napas lega—untungnya William percaya. “Tidak perlu bilang begitu, mulai sekarang kamu bisa memanfaatkan pacarmu ini. Kamu tidak lupakan saya ini masih dosen kamu meskipun sekarang pacaran?” “P—pacaran?” Felora tersenyum kaku. Kenapa sekarang Felora merasa sedang diledek oleh William? “P—Pak. Sebenarnya, Bapak tidak harus benar-benar jadi pacar saya.” “Kamu yang memulai, saya hanya mengikuti maunya kamu.” “Tapi Bapak—.” Suara Felora hilang saat William tiba-tiba berbalik, mendesaknya ke dinding, menghimpitnya. “Berhenti dengan agenda memanggil saya bapak.” “Huh?” mata Felora mengerjap bingung. “Lalu saya harus memanggil apa?” Sekujur tubuh Felora meremang melihat seringaian yang William berikan. “Bagaimana dengan—Daddy? Sounds good, right?” “D—Dad—.” Wajah Felora memanas sempurna. Ia mendongak, menatap William yang sedang menatapnya intens. Apa-apaan? Apa di sudah gila? Ding! Mendengar pintu lift terbuka, buru-buru Felora keluar dari kungkungan William, berjalan cepat meninggalkan William menuju pintu masuk lobi, menunggu driver online-nya tiba. Hah! Daddy? Darimana ide gila itu berasal? Dia benar-benar sudah tidak waras. Di tengah degup jantungnya yang masih berdetak kencang, sebuah mobil hitam berhenti tepat di depannya, Felora tahu betul itu adalah mobil William. “Masuk.” Felora bergeming. “Alya sudah sampai di kampus, dia akan masuk satu jam lebih cepat.” “Apa?” Buru-buru Felora masuk, duduk di samping William. “Ayo. Jalan. Jangan sampai saya terlambat Pak.” “Daddy.” Ucap William. Felora mendelik. Tidak. Sampai kapanpun Felora tidak akan memanggil William seperti itu. Sementara itu William lagi-lagi hanya bisa mengulum senyumannya, gemas dengan wajah merah itu. “Pak, bukan saatnya bercanda.” William terkekeh kecil sebelum melajukan mobilnya. “Loh kamu tahu saya bercanda?” “Baguslah, saya juga tidak mungkin memanggil anda seperti itu.” “Maksud saya, saya bercanda Alya masuk satu jam lebih cepat. Dia tidak mengabari saya apapun.” Oh God. Jadi sekarang ia dijebak? *** Semakin dekat dengan kampus, jantung Felora semakin berdebar kencang. Tangannya yang bertautan mulai berkeringat dingin, gugup. Isi pikirannya pun semakin berkecamuk, seiring dengan ketakutan dalam hatinya yang semakin besar. Setelah pengakuan William kemarin, kabar mengenai hubungannya dengan William berhembus cepat bagai angin. Tidak hanya satu kelas, tapi sepertinya mulai menyebar di satu universitas. Ya... mau bagaimana? William itu Rektor, guru besar paling mashur di kampusnya. Tentu saja kabar seperti apapun akan menyebar cepat. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Bagaimana ia harus bersikap? Kekehan kecil membuat Felora menoleh ke kanan. Di sana, William sedang tertawa. Bisa-bisanya di saat seperti ini malah tertawa? “Tegang amat, santai saja.” “Bagaimana saya bisa santai kalau—saya datang bersama anda?” tanya Felora dengan nada nyaris berbisik. “Justru akan sangat aneh kalau kamu tidak datang dengan saya. Sebagai sepasang kekasih, sudah seharusnya kita datang dan pulang bersama.” Mata Felora mengerjap cepat, iyakah? Memang begitu atau ini jebakan lainnya? Terserahlah. “Oh ya, hari ini ada pengumuman pembimbing skripsi ya Pak?” “Hm. Mau tau duluan?” “Boleh?” William menyeringai. “Panggil Daddy dulu coba.” Itu lagi?! Felora mendesi pelan. “Mending gak usah.” Sesungguhnya, ia sudah punya firasat buruk tentang itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD