Godaan, Masa Lalu

1041 Words
Felora tidak tahu apa yang sedang ia lakukan saat ini, kegilaan apa yang sedang ia perbuat dengan berada di dalam mobil mewah sang dosen? Sepanjang perjalanan hanya ada suara musik klasik. Felora tidak berani bersuara, William pun tidak mengajaknya berbicara sama sekali. Sesekali ia hanya melirik William yang sedang fokus menyetir, kemudian mengalihkan pandangannya lagi ke arah jendela mobil. Wajahnya mendadak panas. Demi Tuhan, William sangat tampan apalagi saat menyetir dengan satu tangan. Felora tidak kuat kalau harus menatapnya lebih lama lagi. “Tinggal dimana?” Felora melonjak, keget. Belum terbiasa mendengar suara William sedekat itu. “Hah? Itu—Saputra Residence.” “Mulai sekarang kita sepasang kekasih.” Felora bergidik. Sekarang siapa yang lebih gila? Dirinya atau William? Benaknya masih dipenuhi tanya tentang pengakuan atas pertanyaan Reno, sekarang pria itu memaksanya menjadi sepasang kekasih. Sejujurnya, Felora memang pernah berkhayal tentang hal ini. Untuk ukuran seorang guru besar, pria berumur tiga puluhan awal itu masih cukup muda, tampan, cerdas, karir cemerlang—siapa yang tidak tertarik? Akan tetapi Felora tidak pernah menyangka hanya dari insiden kepepet dan tidak sengaja mengaku sebagai pacar, sekarang jadi pacaran sungguhan. “Sampai.” Felora mengerjap, baru sadar mobil mereka telah berhenti di depan apartemennya. Begitu menoleh pada William, pria itu sudah lebih dulu keluar dan menyerahkan kunci mobilnya pada petugas valet. Tunggu, Kenapa William ikut turun? “Pak. Kenapa Bapak turun? Bukankah seharusnya bapak pulang?” William menoleh. “Ini, saya pulang.” “Maksud saya ke rumah anda. Bukan ke sini.” “Kenapa saya tidak boleh datang ke sini?” “Ya—.” Felora kehabisan kata-kata, matanya bergerak liar, gugup. “Apa tidak terlalu cepat?” Sebuah senyum kecil muncul di bibir William sebelum ia berjalan lebih dulu ke lift. Felora terpaku. “Pak.” Panggilnya setengah merajuk. Tanpa menjawab, William mengeluarkan kartu akses hitam dengan aksen emas dan menempelkannya ke pemindai. Ia lalu menekan tombol lantai tertinggi.. Mata Felora terbelalak. William menoleh. “Aku juga tinggal di sini.” Felora ingin menjerit. Kenapa gak bilang dari tadi?! Ding! Lagi-lagi, terlalu banyak melamun, Felora baru sadar mereka sudah sampai di lantai atas. “Ayo.” “Tidak!” Tanpa sadar, suara Felora naik satu oktaf. William menatapnya intens. Malu, Felora buru-buru mendorong pria itu keluar lift, lalu menutup pintunya cepat. Ia menekan lantai tempatnya tinggal, mengatur napasnya yang berantakan. Di luar lift William tersenyum kepalanya menggeleng ringan. Gadis itu benar-benar menggemaskan. Setelah itu William merogoh saku jasnya, meraih ponsel untuk menghubungi sahabatnya. “Mark, gue di apart. Kemari, ada yang mau gue omongin.” Setelah mengatakan itu William membuka roomchat Felora, dalam pikirannya tersirat pikiran jahil. Setelah itu mengetikkan sesuatu di sana. William menyeringai. Sepertinya, mulai sekarang menjahili gadis itu akan menjadi hobinya. *** Felora mengatur napasnya, ia baru saja menenangkan diri ketika ponselnya berbunyi. Begitu menatap layar yang menyala, ponselnya hampir jatuh karena pesan yang ia terima. Pak William: Sampai jumpa besok sayang. Felora membeku. Lalu— Gila! William Gila! Tidak tidak, maksudnya aku yang gila. Argghhhh!!!! Ia melempar dirinya ke tempat tidur, menenggelamkan wajahnya ke bantal. Perutnya bergejolak, antara marah, malu, dan... sesuatu yang lain. *** “Jadi apa alasan lo pindah ke sini?” tanya Mark, CEO Saputra Residence sekaligus sahabatnya. Sebenarnya, penthouse ini bukan tempat tinggal utama William, lebih sebagai basecamp bersama empat sahabatnya. Namun, saat tahu Felora tinggal di sini, pikirannya bekerja cepat. Ia ingin menjahili gadis itu lagi. Bagai candu, William ingin melihatnya terus-menerus. Mark duduk di sofa dengan santai, menatap William yang menuangkan whiskey ke dalam gelas. “Jangan bilang ini ada hubungannya sama cewek yang lo ceritain dulu?” “Sekarang cewek itu pacar gue.” jawab William tanpa basa-basi. Mark nyaris tersedak. “Hah?!” ditatapnya Mark dengan mata membesar. “Terus Karina? Lo selingkuh dari sepupu gue?!” “Denger dulu.” William menyandarkan tubuhnya. “Dia cewek itu. Mahasiswa yang pernah gue ceritain pake cincin yang sama dengan cincin yang gue punya.” “Bang. Alasan lo gak masuk akal.” “Dia tiba-tiba ngaku pacar gue ke mahasiswa lain.” “Hah?” Mark menatap heran. “Maksudnya?” “Gue gak tahu maksud dia apa, tapi gak masuk akal dia bohong kayak gitu tanpa alasan yang jelas. Dia cewek pinter, dia gak pernah ceroboh. Gue yakin dia tahu sesuatu.” Mark menghela napas panjang, menatap William lagi. “Mungkin cuma keceplosan aja? Lo juga bilang cewek itu sering lo ajak penelitian kan? Mungkin lagi terdesak dan tiba-tiba keinget lo. Sesimple itu, kenapa lo mikir ribet Bang?” William menatap Mark dalam diam. William paham kalau sekarang Mark sedang marah dan kecewa. Bagaimana pun Mark sangat dekat dengan Karina, sampai bekerja pun di perusahaan Mark. “Gimana kalau ternyata dia ada kaitannya sama masa lalu yang gue lupain Mark?” “Oh Gosh! Bukannya udah jelas ya? Karina bilang dia itu mantan lo Bang. Jadi sudah pasti masa lalu lo itu Karina. Bukan perempuan lain.” “Sayangnya Karina tidak bisa membuktikan kalau kami pernah berhubungan.” “Itu karena kalian backstreet! Lo bahkan gak bilang sama kita Bang siapa pacar lo waktu itu.” William menggeleng, Kalau Karina memang mantan kekasihnya, seharusnya dia memiliki pasangan cincinnya. Sebab sepuluh tahun lalu, sebelum kecelakaan itu, ia pergi untuk memberikan cincin sebagai tanda keseriusan. “Tapi lo sadar gak Mark? Dia bahkan gak tahu apapun tentang cincinnya.” Mark diam. “Dan kalau boleh jujur. Jangankan rasa cinta, gue bahkan gak nyaman di dekat Karina. Gue justru risih, gue gak bisa lama-lama deket dia. Gue juga gak bisa sedikitpun bersentuhan sama Karina.” Oleh karena itulah, William sendiri heran. Mengapa ia justru merasa nyaman dengan Felora? Mark masih diam, tampak berpikir keras. “Mark, gue minta lo datang bukan cuma tentang penthouse ini. Ini juga tentang hubungan gue sama Karina. Izinin gue cari tahu dulu. Gue gak pernah seyakin ini Mark.” “Dan kalau ternyata mantan pacar lo itu Karina?” Tanya Mark. William menelan ludah, tangannya mulai berkeringat, udara dingin tak membantu meredakan sesak di dadanya, seperti simpul tali yang semakin kencang setiap kali ia mencoba menarik napas. “Lo terima perjodohan itu dan nikah sama dia. Deal?” Kepala William terangkat, menatap Mark yang menatapnya tegang. Apakah ia siap menerima jawaban yang mungkin menghancurkan segalanya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD