Ken hanya menatap kepergian Radista, kakinya kaku saat hati ingin mengejar. Yang bisa di lakukan cowok itu hanyalah memukul stir mobil dengan keras untuk melampiaskan emosinya, Ken sadar kalau dirinya kini adalah cowok yang b******k. Sebenarnya sudah lama Ken menyadari itu, dimulai saat dia memutuskan untuk tetap pacaran dengan Safa sementara di sisi lain dia sudah menikah dengan Radista. Netra cowok itu beralih pada benda pipih yang ada di depannya, dia menekan dial nomor telepon seseorang. “Lo dimana?” tanya Ken dengan suara serak, kalau dia bisa mungkin sekarang Ken akan menangis, tapi dia tidak bisa. Entahlah, baik hati dan pikiran Ken saat ini sudah buntu, dia blenk. “Di jalan Semanggi, why?” tanya seseorang di telepon, dia pun saat ini masih dijalan hendak menuju kampus. “Jalan

