Evelyn Angelina sedang berjalan untuk pulang dari kerja yang panjang dan melelahkan, setelah lift terbuka tiba-tiba dia menerima telepon dan ternyata itu dari polisi. Eve sempat mengernyitkan keningnya bingung, bertanya-tanya dalam hati untuk apa pihak polisi menelponnya. Namun, dia tetap mengangkat telepon itu
"Halo. Apakah ini dengan Nona Evelyn? " Tanya petugas itu, di seberang telepon.
"Ya" jawab Eve ragu
"Teman-temanmu, Rean dan Alexa telah ditangkap karena dicurigai kasus pelacuran dan narkotika. Mereka berdua bersikeras bahwa mereka adalah sepasang kekasih yang sedang berkencan di sebuah hotel. Bisakah anda ke kantor polisi dan bersaksi bahwa mereka memang benar-benar pasangan, sehingga saya bisa membiarkan mereka pergi. "
Berita mengejutkan itu membekukan tubuh Eve hingga ke titik di mana dia tidak bisa menggerakkan satu otot pun. Pikirannya berjuang keras untuk membentuk sebuah kalimat. Namun nihil dia tidak dapat berkonsentrasi pada hal lain yang harus dikatakannya pada petugas itu. Dia tidak menyadari bahwa dia telah menutup telepon pada polisi dan entah bagaimana ia berhasil naik taksi untuk segera pergi menuju kantor polisi. Memastikan bahwa itu semua tidaklah benar.
Ketika dia tiba di kantor polisi. Dengan satu lirikan, dia mengenali pria dan wanita yang tengah duduk bersama di ruang tunggu. Pria itu adalah pacarnya, Rean. Dan yang duduk di sebelahnya adalah temannya, Alexa. Mereka saling bersandar layaknya pasangan yang sedang di mabuk asmara, sesekali tertawa bahagia.
Dengan tangan yang mengepal kuat; terlihat kemarahan yang mendidih di mata Evelyn. Jika ini seperti film maka akan terlihat mata hazel milik Eve menyala seperti api. Eve berjalan ke arah mereka satu langkah pada satu waktu, kakinya terasa berat, seperti ditimpa besi yang kuat. Padahal kenyataannya adalah berat untuk menerima sebuah kenyataan yang begitu pahit.
Mata Alexa adalah orang pertama yang menangkap keberadaan Eve, "Aku benar-benar minta maaf, Eve..." Kata Alexa dengan mata tipuannya, berpura-pura minta maaf.
Rean membalikkan badan dan melihat pacarnya berjalan ke arah mereka. Tanpa berpikir panjang secara spontan Rean mendorong Alexa menjauh dan berdiri dengan terburu-buru, sebelum Eve bahkan bisa mengatakan apa-apa. "Hai Eve," sapa Rean dengan senyum malu-malu. Senyum yang menurut Eve sangatlah memuakkan, harusnya dia tidak usah memasang senyum yang menjijikan seperti itu.
Rean tertangkap basah, berselingkuh dengan wanita lain tapi masih bisa menunjukkan ekspresi wajah seperti itu, " Bagaimana rasanya ketika petugas polisi menuduh kau sebagai p*****r? Jika ki tahu apa yang sebenarnya terjadi, aku tidak akan pernah datang kesini untuk menemui kalian." Eve menghapus air mata dari matanya yang memerah, disitu tergurat penuh kemarahan dan kekecewaan yang mendalam. Dikhianati oleh dua orang terpenting yang ada di kehidupan nya, bagaimana rasanya?
Mereka berdua cukup memiliki keberanian untuk memanggil polisi dan meminta Eve agar menjadi saksi dan menyelamatkannya, Eve merasa muak. Sepertinya mereka memang pantas mendapatkan apa yang telah mereka perbuat, untung saja polisi memanggilnya jika tidak mungkin sampai kapan pun Eve tidak akan mengetahui perselingkuhan di antara keduanya.
Karena cukup tertantang dengan kata-kata Eve Rean pun menjawabnya. "Ya, aku tidur dengan Alexa. Jadi kenapa?"
Setelah mendengar pengakuan itu, Eve merasa pusing dan hatinya seperti di tancap pisau ribuan kali lalu seperti sengaja ditenggelamkan di dasar Samudra bersama dengan luka-luka. Eve kini sedang berjuang untuk menjaga keseimbangan tubuhnya agar tidak luruh ke lantai. Rean mendekatinya untuk membantu, tetapi dengan gerakan cepat Eve menepis kasar dan mendorongnya menjauh seolah dia tidak ingin menyentuh sesuatu yang kotor dan menjijikan.
"Pergi saja. Jauhi aku!"
Rean terkejut. "Eve," Gumamnya dan akhirnya berubah menjadi nada yang lebih lembut, "Lupakan gadis-gadis lain. Aku hanya memuaskan nafsuku saja agar tidak merusak dirimu Eve, kau lah satu-satunya yang aku cintai. Satu-satunya ingat itu!"
Kata-kata Rean memicu kecemburuan Alexa. Tetapi dia berpura-pura mengerti dan mencoba membujuk Eve dengan suara lembut nya. "Dia benar Eve. Kau dan Rean ditakdirkan untuk bersama nantinya. Aku tidak pernah bisa mencuri dia darimu dan juga...."
"Diam!" Eve dengan keras memotong ucapan Alex, Lisha menggertakkan giginya tanda ia marah dan kesal.
"Kau tidak punya hak untuk mengatakan apa-apa, kau adalah p*****r yang tak tahu malu. Kita bukan lagi teman, aku kecewa padamu Alexa."
"Eve, tolong jangan katakan itu padaku... " Alexa memohon dengan nada sedih sementara matanya mendelik dan mengisyaratkan kemenangan, dengan kikuk mengungkapkan rasa puas diri dan kesombongannya.
Hmph, Jika bukan karena sebuah kecelakaan, dia tidak akan pernah berteman dengan seorang wanita seperti Eve. Sekarang dia telah menyelesaikan apa yang telah dia rencanakan, membuat upaya ekstra itu tampak tidak perlu. Karena baru segini saja Eve sudah menyerah untuk mencintai Rean.
"Eve, jangan seperti itu" Kata Rean, "Aku sudah berjanji bahwa aku hanya akan mencintaimu dan menikahimu. Apa lagi yang kau inginkan?"
"Menikah Dengan cinta? Maksudmu tidur dengan wanita lain dan membohongiku sepanjang waktu? Maaf, tapi aku tidak akan tahan untuk cinta seperti itu Rean!"
"Apakah selama ini tidak cukup menunjukkan bahwa aku hanya mencintaimu?"
"Itu tidak cukup. Cinta membutuhkan kesetiaan. Tapi kamu jelas tidak setia padaku!"
Rean tertawa terbahak-bahak karena dia mendengar perkataan Eve yang lucu dan sama naifnya seperti bayi yang baru lahir. Dia berkata kepadanya. "Eve, aku putra sulung dan satu-satunya putra ibu ku; Jeniper Howard. Kau tahu marga Howard kan? Aku tidak akan pernah memiliki hanya satu wanita di sisiku. Tidak peduli apakah aku lajang atau sudah menikah. Apakah kau mengerti?"
"Kau harus belajar untuk menerima itu sebelum kita menikah. Lebih cepat lebih baik."
"Tapi tempat istriku hanya akan dibiarkan untukmu. Wanita lain akan datang dan pergi, tetapi posisimu tidak akan pernah berubah."
Alexa mendelik bagaimana bisa Rean terdengar romantis dan terlihat menawan dengan kata-katanya. Rean menunggu Eve tergerak oleh kata-katanya dan segera melompat ke pelukannya, ia memasang senyum manisnya kala Eve berjalan lebih dekat ke arah nya.
Tamparan yang sangat keras mendarat di pipi kanan Rean. Setelah itu Eve berlari pergi meninggalkan mereka berdua di kantor polisi. Biarkan mereka yang mengurus semuanya, Eve tidak akan pernah peduli lagi. Lagipula Rean memiliki cukup banyak uang untuk membebaskan dirinya sendiri.
***
"Rean, aku merasa kedinginan." Alexa tersenyum dan melanjutkan rayuannya, mencoba memikat binatang buas agar menerkamnya. Suaranya memiliki kelembutan yang tak seorang pun laki-laki dapat menolaknya.
Rean memeluk pinggang Alexa posesif dan berkata, "ayo masuk ke dalam mobil dan aku akan menghangatkanmu."
beberapa menit yang lalu Alexa dan Rean dinyatakan bebas karena dengan akal Rean yang sangat licik, tentu semuanya dibantu dengan uang.
Untuk masalah Eve, Rean yakin setelah amarah wanita itu mereda Eve akan kembali lagi ke dalam pelukannya. Rean begitu yakin jika Eve tidak dapat hidup tanpanya.
Tidur dengan wanita menurut Rean sangatlah mudah dan hal biasa saja. Apalagi Rean adalah pria kayak dan tampan. Namun tetap dihatinya, Eve adalah cintanya meskipun dia sempat ingin memiliki Eve seutuhnya, dia kembali berperang dengan pikirannya dan menolak pikiran dunianya tidur bersama Eve karena dia ingin Eve sendiri lah yang menyerahkan badan itu pada dirinya.
*
Meskipun mereka baru bersama selama satu tahun, Eve telah memberinya cinta yang tulus. Mengguncang dirinya hingga mengalami pengkhianatan yang mengejutkan dari pacarnya dan sahabatnya pada waktu yang bersamaan. Dengan linglung, akhirnya Eve pergi ke bar untuk menenggelamkan kesedihannya dengan alkohol.
Sekitar jam dua pagi. Eve berjalan keluar dari bar sendirian, Eve benar-benar mabuk. Dia melepas sepatu hak tingginya dan jalan terhuyung-huyung di tengah jalan.
Lampu mobil yang terang benderang menarik perhatiannya. Eve membeku di jalan, bingung harus melakukan apa. Dia berdiri di sana, tanpa daya menyaksikan Mobil sport hitam melaju lurus ke arahnya.
"Aduh..." Mobil itu berhenti tepat di depannya. Dan Eve tidak sadarkan diri.
Sementara itu di dalam mobil, dampak dari rem mendadak menyebabkan orang di belakang yang sedang beristirahat dengan mata tertutup terperangah kaget dari tempat duduknya. Dia membuka matanya dengan kerutan tidak puas di wajahnya. Dia melirik Rival, orang yang mengendarai mobilnya.
"Apa yang terjadi?"
"Tuan, seseorang muncul di depan mobil entah dari mana, tapi saya menginjak rem sekeras yang saya bisa. Saya tidak menabrak orang itu, itu pasti pemeras."
"Pergi dan lihatlah."
"Ya tuan,"
Rival segera keluar dari mobil untuk memeriksa orang itu. Hal pertama yang terlihat di bawah lampu jalan adalah seorang wanita cantik yang berbaring di depan mobil mereka tidak sadarkan diri. Ketika Rival pergi untuk melihat lebih dekat, dia mencium aroma alkohol yang kuat pada dirinya. Dia sepertinya bukan pemeras, melainkan Mabuk" Pikir Rival
"Hei, Nona. Bangun!"
Rival sangat terkejut, ketika dia mengenali orang di depannya.
"Bukankah dia nona Evelyn, pacar tuan Rean? Bagaimana dia bisa sampai di sini? Di tempat seperti ini? '' Rival bertanya-tanya kebingungan
Untungnya, Rival yang menemukan Evelyn. Jika itu orang lain, dia mungkin akan ditabrak, Atau di manfaatkan sebagai pemuas nafsu lelaki hidung belang.
Rival tidak berani mengambil keputusan sendiri tanpa otorisasi yang tepat dari majikannya. Jadi dia bergegas kembali untuk memberitahukan perihal ini pada bosnya. "Tuan, orang yang terbaring tak sadarkan diri di depan mobil adalah pacar tuan Rean, Nona Evelyn Angelina Dia kelihatannya sangat mabuk ..."
Mata Richard terbuka lebar. Dia ingat, gadis itu adalah gadis yang pernah Rean kenalkan padanya. Dia adalah sosok wanita cantik dengan senyum yang manis. Dengan ragu-ragu, Richard menuntut, "Suruh dia masuk ke dalam mobil."
Begitu Rival menerima keputusan, dia segera mengangkat tubuh Eve ke mobil sekaligus mendudukkannya di kursi penumpang di samping Richard.
Evelyn merasakan berat pada sekujur badannya, dia berbaring di dalam mobil. Sesekali bergumam, membuka matanya dan kemudian menatap kosong pada pria yang duduk di sampingnya lalu menekan dahinya di antara alis matanya, "Siapa kau ..."
Pria itu berbalik untuk menatapnya, dengan ekspresi yang tetap datar di wajahnya.
Eve membelalakkan matanya dan akhirnya mengenali siapa pria yang berada di sebelahnya. Dia tergagap, "Rich-richard? In ... Itu kau!"
Richard mengabaikannya dan menyuruh Rival untuk langsung pergi ke rumah Rean.
Ucapan nama Rean dari mulut Richard membuat Eve menggeram tak suka, "Aku tidak ingin pergi ke rumahnya. Aku sudah putus dengannya!"
"Putus?" Richard mengulangi kata-katanya dengan santai dan mengangkat satu alisnya.
"Ya, kami sudah putus ..." Eve mendengus. Air mata memancar keluar dari matanya begitu dia mengingat apa yang terjadi sebelumnya hari itu. Eve menangis dan melanjutkan perkataannya, "Dia tidur dengan wanita lain... Dan ditahan di kantor polisi dengan tuduhan prostitusi dan narkotika."
Evelyn dengan sengaja menggambarkan masalah ini dengan nada serius. Tanpa menyadari bahwa dia seperti gadis kecil yang manja yang merengek minta di belikan mainan, seperti siswa sekolah dasar yang mengeluh kepada gurunya karena tak paham pelajaran.
Richard memicingkan matanya pada kata-kata Eve yang cukup menarik, "Prostitusi dan narkotika?"
Sebenarnya, Richard tidak pernah meminta terlalu banyak pada Rean, karena ia tidak benar-benar memiliki hubungan darah dengan nya. Dia tidak peduli dengan pergaulan Rean selama Rean tidak menyeret nama keluarga Howard ke lumpur dengan tuduhan seperti, "pelacuran?" Lirihnya pelan. Bertepatan dengan hari kematian kakeknya, Richard mengeraskan rahangnya. Bisa-bisanya Rean melakukan hal keji itu disaat keluarganya tengah berduka.
"Richard, kau perlu memberinya pelajaran serius!"
Richard sengaja mengabaikan ucapan Eve karena kali ini ia rasa cukup menjadi pendengar bukan penasehat. Eve pun berasumsi bahwa Richard tidak mendengar apa yang dia katakan. Jadi, Eve bergerak lebih dekat ke arah nya. Dia mengangkat kerah kemeja warna putih yang dipakai oleh Richard menariknya lebih dekat ke arahnya dan berkata, "Apakah kau mendengar apa yang saya katakan?"
Richard mengerutkan kening dan menarik tangannya, menyebabkan Eve kehilangan keseimbangan dan kepalanya jatuh terlebih dahulu ke pangkuannya, dekat ke daerah pribadinya.
Jelas, ketika Eve membuka mulut untuk bernafas, aroma alkohol dikombinasikan dengan napas hangatnya menyebar di sekitar area pribadinya, yang hanya ditutupi oleh dua lapis kain tipis.
Evelyn berusaha untuk mengatur napasnya sejenak.
"kau harus memberinya pelajaran!" Suara Eve lembut dan terkesan memikat
"Aku harus memberimu pelajaran dulu. Baru memberi pelajaran pada Rean." Richard mendorong kepala Eve dan berbisik dengan suara serak, "Bangun!"
Beraninya dia merayunya di mobilnya sendiri? Apakah Evelyn sengaja melakukan itu?
"Rean benar-benar b******n! Dan kau.. pasti b******n juga. Semua pria di dunia ini memang brengsek..." Celoteh Eve, dia malah bersandar pada tangan kokoh Richard dan menolak untuk duduk tegak. Dia bertingkah seperti anak manja yang berubah menjadi nakal.
Dalam keadaannya yang berbeda, mungkin dia tidak akan berani kepada Richard, karena dia takut akan kekejaman dan semua issue tentang Richard yang orang lain bicarakan. Namun pada saat ini, di bawah pengaruh alkohol. Evelyn benar-benar gegabah, dan dia memuntahkan omong kosong apa pun yang muncul di kepalanya, tanpa mempertimbangkan konsekuensinya.
"Rean bilang aku harus membiasakan diri dengan hubungan gelapnya dengan wanita lain selain diriku sendiri. Persetan dengannya, b******k tak tahu malu itu! " Evelyn mengumpat dengan marah, lalu dia mengalihkan amarahnya kepada Richard. "Kau mungkin sama seperti dia...dan kau sendiri adalah seorang CEO, jadi kau juga dikelilingi oleh kawanan wanita. Cukup untuk mengisi stadion sepak bola, yang selalu menjilati Anda sepanjang waktu... bukan? "
Richard mulai kehilangan kesabaran, lambat laun ekspresi tidak senang muncul di matanya. Dia menyadari betapa sulitnya menghadapi seorang wanita mabuk. Richard berusaha mendorong kepala Eve, Tetapi dia terus jatuh, dan kemudian berpegang lagi padanya dan bersandar di d**a bidangnya seperti permen karet yang melekat di baju. Eve telah kehilangan semua rasa malunya.
Kecerobohan Eve tidak berhenti di situ. Dia mengulurkan tangannya dan meletakkannya di paha pria itu. Dengan senyum konyol di wajahnya, dia berkata kepadanya. "Richard, apakah kau memiliki masalah pada ginjal kau yang menyebabkan anda kekurangan stamina? Ah sepertinya anda kuat untuk bermain?"
Itu adalah tarikan yang mematahkan sisi liar dari seorang jiwa Richard. Sekarang Evelyn telah mempermainkan kebanggaan dan kejantanannya. Dalam keadaan marah yang tidak dapat diatasi, Richard Langsung mencekal kasar lengan Eve.
Evelyn tidak menunjukkan tanda-tanda takut. Dia membalasnya dengan senyuman manis dan menatap mata Richard berani. Mata Eve yang indah menghipnotis, tetapi terlihat bengkak akibat menangis, karena perselingkuhan yang di buat oleh Alexa dan Rean masih terlalu tajam untuk menjadi kenyataan. Mata Richard berkelap-kelip dengan sinar tajam seperti berlian di bawah sinar bulan. Bintik-bintik refleksi Richard menari di irisnya, seolah-olah dia adalah biji matanya.
Ketika bibirnya yang subur dan berwarna merah ceri terbuka untuk berbicara, Evelyn sepertinya telah memikat seorang pria untuk berciuman yang penuh gairah.
Richard kembali memikirkan, bahwa itu adalah bibir yang menghembuskan aroma alkohol yang membakar di sekitar area pribadinya beberapa saat yang lalu. Wanita ini adalah succubus penuh nafsu.
"Sialan, kau wanita yang ceroboh. Kau menggodaku lebih dulu, kau telah membawa ini pada dirimu sendiri."
Richard mendadak kehilangan akal sehat ketika dia menggenggam bagian belakang kepala Eve atau lebih tepatnya menjambak rambut Eve dengan tangannya yang besar. Menarik wajahnya lebih dekat dan dengan bersemangat menekankan bibirnya ke bibir Eve, menelan kata-katanya yang mabuk.
"Uh ... " Semua celoteh mabuk Evelyn yang tak terucapkan ditelan oleh ciuman keduanya yang tak pernah puas. Suara yang tak asing itu sungguh menganggu Rival yang sedang menyetir.