7. Meeting

1032 Words
Perbedaan teman dan musuh sangat tipis. Ada saatnya dia mendukung berbagai hal yang kamu lakukan, tapi bisa saja dia menusuk dari belakang, bahkan menghancurkanmu. _ "Selamat datang, Mr aries dan Mrs Giana." ucap Noah menyambut sepasang kekasih itu dengan hangat. Mereka berdua tersenyum lalu menganggukkan kepala nya. "Ah kau tak seperti itu untuk menyambut kami yang bukan apa-apa." jawab Mr Aries sembari tertawa. "Tidak Aries! Kau adalah tami istimewa ku. Jadi harus ada penyambutan yang istimewa juga." "Kau sangat berlebihan, sehingga aku merasa jadi tidak enak." jawab Aries. Noah menyunggingkan senyuman, lalu mengajak sepasang suami istri itu untuk duduk di tempat duduk yang sudah di sediakan sebelum nya. "Ahh.. siapa dia?" tanya Giani sembari melirik ke arah Aluna yang sedari tadi hanya diam saja. "Kekasihku.." "Kau mempunyai banyak kekasih, bung!" timpal Aries. Ah ingin rasanya bertanya apa yang di ucapkan Aries adalah benar. Tetapi tanpa bertanya kepada Noah pun, harusnya Aluna sudah sadar jika diri nya bukan lah satu-satunya yang ada di hidup Noah. Benar memang, Noah banyak sekali wanita. Bahkan mungkin wanita itu lebih segala nya dari dirinya yang sekarang merasa menjadi sampah karena tidak mempunyai apa-apa lagi. "Tidak, aku sudah tidak seperti itu.. Sebentar lagi kita akan menikah." ucap Noah, membuat Aries sedikit terkejut. "Menikah? Kau tertarik untuk menikah? Itu sangat mustahil sekali." Noah tertawa kecil. "Itu dulu, sekarang sudah beda lagi." "Apakah aku harus mempercayai kami, Tuan?" Aluna tersenyum devil kepada Noah. menurutnya memang ia tak boleh percaya begitu saja kepada laki-laki, apalagi seperti Noah. "Apa tidak ada ruang percaya mu untukku, Baby?" Aluna tersenyum lalu menganggukkan kepala nya. "Seperti bukan kamu, jika menginginkan itu. Kau tak butuh semua kepercayaan orang pada mu, bukan?" Ucapan Aluna memang benar adanya, karena Noah tak pernah merepotkan orang lain. Keinginannya pun akan tercapai dengan muda hanya dengan kedipan mata saja. Lalu apa sekarang? Noah meminta dirinya untuk percaya. *** Mereka kini sudah balik ke hotel kembali, perjalanan meeting tadi sangat melelahkan. Ah bukan melelahkan fisik karena berjalan tetapi melelahkan pikiran karena Aluna terus menerus di tanya tentang pekerjaan bisnis oleh lawan bicaranya. Padahal untuk itu dia sangat awam sekali. Meskipun keluarganya dulu dari keluarga pebisnis tetapi sama sekali Aluna tak di ajarkan tentang itu, malah Aluna masuk ke dalam jurusan designer bukan Management. "Kau terlihat begitu lelah.. dan pucat Aluna." ucap Noah sembari melihat ke arah Aluna yang segera menghempaskan tubuh nya di sofa ketika sudah berada di dalam kamar nya. "Benar! Ini sangat menguras pikiranku yang tak seberapa." jawab Aluna membuat Noah tertawa kecil dengan jawaban wanita polos yang berada di hadapannya. "Apa kau tak mau lagi berpikir, baby?" tanya Noah sembari langkah lebar nya mendekat ke arah Aluna. Aluna yang memejamkan mata hanya mengangguk sebagai jawaban, tanpa tahu jika Noah sedang mendekat ke arah nya. "Oke kalau begitu.." ucap Noah kembali melanjutkan langkahnya untuk segera sampai pada Aluna. "Akan ku buat kau tak bisa berpikir." jawaban itu tepat di ucapkan oleh Noah di telinga Aluna membuat wanita itu segera tersadar dan membulatkan kan matanya lebar-lebar. Lihatlah, sekarang Noah berada tepat di depannya. "Ma.. mau apa kau kemari?" tanya Aluna terbata-bata. "Kau yang memintanya, sayang." jawab Noah dengan seringainya kecilnya. Aluna segera menggelengkan kepalanya. "Tidak!" jawabnya dengan cepat, membuat Noah tak bisa menahan tawa. Akhirnya Noah tertawa dengan tingkah Aluna yang menggemaskan bagi diri nya. "Noah, aku ingin tidur. Apa kau tidak akan membolehkan aku untuk tidur?" tanya Aluna dengan wajah puppy eyes andalannya. Noah tak bisa menolak ekspresi wajah itu. Noah menganggukkan kepala lalu menjauh dari Aluna. "Baiklah, untuk sekarang karena kau telah menemaniku meeting. Aku akan memberikanmu Waktu istirahat baby." jawab Noah membuat Aluna tersenyum senang. Noah selalu mempunyai cara untuk bisa membuat dirinya tersenyum. Rasa nyaman bersama dengan Noah mulai Aluna rasakan. Untuk pertama kalinya, aku tak perlu mencoba untuk bahagia. Karena saat bersamamu, hal itu terjadi begitu saja. Aluna membatin Bersama dengan Noah Aluna seperti jatuh cinta berkali-kali dengan orang sama. Pelukan Noah masih jadi yang paling nyaman untuk memintanya segera pulang. Bahkan pertengkaran yang mereka berdua alami sejauh ini sama sekali tak mampu membuat keduanya untuk beranjak satu sama lain. ** Rasa bahagia bisa muncul akibat cinta. Terkadang perasaan cinta itu abstrak dan susah dijelaskan. Ada yang bilang bak dunia milik berdua, bisa terbang bebas seperti kupu-kupu. Cinta tidak akan membuat alam berputar. Tapi dengan cinta, kebahagiaan terasa berputar seperti porosnya. Mata Aluna mengerjap beberapa kali guna menetralisir cahaya yang masuk ke dalam retina nya. Ia melirik ke sekitar ruangan yang sudah mulai terang akibat cahaya yang masuk lewat sela-sela gorden. Cahaya matahari itu mengintip dengan lancang kedua pasangan yang statusnya masih di pertanyakan. Mata Aluna beralih atensi pada pria yang tengab memeluknya, ia melihat ke arah samping dan mendapati wajah Noah yang begitu tampan walau sedang tertidur. Bahkan tatapan seram dan tajam nya tak ia lihat pada saat sedang seperti ini, sangat damai di hati Aluna. "Tuhan begitu sempurna menciptakan seseorang seperti kau, dan aku beruntung bisa memilikinya." ucap Aluna dengan senyum yang sangat manis di pagi hari ini. "Kau juga sempurna Aluna, hanya saja takdirmu yang kurang sempurna." jawab Noah membuat Aluna membulatkan matanya lebar-lebar. "Kau!" Aluna terkejut dengan Noah yang tiba-tiba menjawab ucapannya serta sekarang pria itu tersenyum tanpa membuka matanya sedikitpun. "Pagi cantik." Aluna menjadi gugup berada pada situasi seperti ini. Jika ia tahu, kalau Noah sudah terbangun mungkin ia tak akan pernah untuk berbicara seperti itu. Gengsi sekali. *** Melukiskanmu saat senja. Memanggil namamu ke ujung dunia. Tiada yang lebih pilu. Tiada yang menjawab ku. Selain hatiku dan ombak berderu. Sore hari itu, merupakan awak kehancuran kehidupan Aluna di mulai. Aluna sekarang tahu mengapa seseorang bisa dendam setengah mati kepada orang lain. Ternyata di dunia ini masih banyak kaum munafik yang membuat keluarganya mati dalam kesengsaraan. Sejak saat ini Aluna bertekad untuk membuat orang-orang yang telah membuat keluarganya meninggal akan ia balas dengan cara yang lebih sadis. Sembari menatap hamparan ombak, Aluna kembali meneteskan air mata, padahal beberapa saat yang lalu dia sudah berjanji untuk tidak menangis kembali. "DUNIA KENAPA KEJAM SEKALI!" Aluna tertunduk, menekuk lutut karena tak kuasa dengan kehidupannya. Saat matanya hampir terpejam, ia melihat ada seorang pria di belakangnya. Ia sangat tahu jika pria itu adalah.. Jacob! Itulah kedua kalinya Aluna bertemu dengan pria yang menjadikan dirinya sehancur-hancurnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD