Seorang laki-laki keluar dari mobil mewah dengan gaya angkuh, kaca mata hitam masih membungkus mata yang menyiratkan segala kesedihan dan kebencian. Kebencian pada keluarga yang sedari dulu selalu melakukan hal licik pada siapapun, termasuk pada dirinya dan juga kakeknya yang baru saja meninggal.
Kabar mengejutkan datang dari Rival, saat Richard sedang melakukan meeting penting dengan klien yang berasal dari Negara Korea, Ryan mengatakan jika Alan-Kakek kandungnya, baru saja menghembuskan nafas terakhir pada pukul 10:00 AM waktu Negara setempat. Keterkejutannya bukan hanya itu saja, karena setelah dua jam meeting selesai, dia mendapat kabar kembali jika kakeknya sudah selesai di makamkan. Hal itu membuat Richard sangat kesal dan marah dalam waktu yang bersamaan. Bisa-bisanya mereka memakamkan Alan-tanpa sepengetahuan nya, ia saja belum sempat melihat wajah terakhir kakeknya. Richard belum sempat menghadiri penghormatan terakhir untuk Kakek yang selama ini menjadi panutan hidup dan juga sangat menyayanginya setelah kedua orang tuanya tiada.
Wartawan mulai mengerubungi Andrew saat dia tengah berjalan di atas karpet hitam menuju gedung upacara penghormatan mendiang kakek nya. Namun dengan segera para bodyguard menghalangi para wartawan yang ingin bertanya pada Richard. Sungguh suara dan kilatan dari cahaya kamera adalah hal yang sangat Richard benci.
Dengan langkah yang angkuh, akhirnya Richard sampai ke dalam gedung. Banyak orang yang ia lihat terutama orang penting yang di kenalnya sampai yang tidak dikenalnya.
Pandangannya jatuh pada Nenek tirinya-Jennie. Nenek tiri yang sudah hampir sepuluh tahun menikah dengan Elan, tetapi sampai sekarang Richard tidak pernah menerima kehadirannya. Poin pertama mengapa Richard tidak menerima kehadirannya adalah usia Jennie yang masih terbilang muda. Kakeknya menginjak kepala tujuh, sedangkan, Jennie baru akan menginjak kepala empat. Ditambah dengan anaknya yang membuat Richard muak, Rean. Anak tiri kakeknya berarti adalah Pamannya. Richard tidak pernah mengakui Rean sebagai pamannya. Menurutnya Rean hanyalah orang asing yang beruntung mendapatkan marga Howard setelah ibunya menikah dengan kakeknya. Tetapi, Jauh di lubuk hati Richard dia tidak pernah membenci Rean melainkan hanya membenci Jennie yang memanfaatkan Rean hanya untuk kepentingan hidupnya saja. Poin kedua mengapa Richard tidak menyukai Jennie karena Richard pernah melihat Jennie berkencan dengan pria lain. Sudah sangat terpikirkan oleh pemikiran Richard jika Erlin menikah dengan kakeknya hanya ingin harta saja. Bayangkan saja, untuk apa Jennie menikah dengan kakeknya jika bukan karena harta. Percintaan yang panas dan keromantisan? Sepertinya bukan itu.
“Akhirnya kau datang juga nak, kakek mu telah berpulang. Kamu harus sabar ya,” Jennie telah berada di hadapan Richard dengan anaknya yang setia memegangi tangan kanannya . Matanya terlihat bengkak akibat menangis.
“Menangislah sekarang, untuk meyakinkan semua orang jika kematian kakekku murni karena takdir,” Richard berbicara dengan dingin tanpa melepas kaca mata hitamnya, Jennie terkejut dengan perkataan yang di lontarkan oleh cucu tirinya.
“Jaga bicara mu Richard. Jangan karena kau tidak terima kakekmu meninggal, maka kau menjelekkanku seolah-olah aku adalah dalang di balik kematian Presdir Elan.” Semua orang memandang Jennie dengan tatapan bertanya. Mencoba mencerna dengan baik perkataan nya. Jennie melirik ke arah sekitar lalu mulai menyadari kecerobohannya.
Jennie kembali menangis dengan histeris, “Ayolah Rich, aku adalah pengganti kakek mu. Kau bisa menjadikanku tempat sandaran dan juga tempat keluh kesahmu selama sisa hidup mu” Richard membuka kaca mata hitamnya lalu menyeringai pada Jennie, “Tentu saja nenek, aku akan menjadikan dirimu tempat keluh kesahku selama sisa hidupmu bukan selama sisa hidupku. Dan juga aku tidak menuduhmu menjadi dalang di balik kematian kakek ku. Bukan kah kau yang bilang kau bukan dalangnya?” Jawab Richard menaik turunkan alisnya. Bibirnya melengkung, membentuk seringaian.
Richard berjalan menghiraukan Jennie, segera menuju tembok kematian. Menaruh bunga di samping foto kakeknya, dan merenungi segala sesuatu yang beberapa hari ini ia bicarakan bersama kakeknya.
“Hidup itu layaknya sebuah puzle, Richard. Masih banyak potongan yang harus di selesaikan. Tetapi tidak boleh sembarangan memasukkan potongan tersebut” Ujar Elan. Mereka berdua sedang berada di kamar pribadi milik Elan, hanya untuk sekedar berbincang masalah penting sampai tidak penting sekalipun.
“Ada potongan puzle yang ukurannya pas tetapi tidak dengan bentuk gambarnya. Lebih seriuslah dalam memilah, agar tidak menyesal di kemudian hari seperti kakek mu ini.” sambungnya kembali, membuat Richard yang sedang menikmati secangkir kopi melirik ke arah kakeknya, Richard memiliki pemikiran yang cepat tetapi untuk kali ini dia tidak dapat mencerna perkataan kakeknya dengan baik.
“Apa kakek tidak bahagia?” Tanya Richard . Karena dia masih bingung harus menanyakan apa pada sang kakek.
Elan tertawa kecil tetapi beberapa detik kemudian tawanya tak lagi terdengar, membuat Richard tersenyum sumbang. “Richard, jangan percaya pada siapapun selain hati mu. Masih banyak orang yang berlaku baik tetapi saat di belakang mereka jahat. Tugasmu hanya satu mengumpulkan potongan puzzle yang hilang. Setelah puzzle itu sempurna. Kau tidak perlu melakukan hal extra untuk melawan para musuh”
Richard semakin bingung dengan perkataan kakek nya. Puzzle dan musuh. Namun, hal itu akan ia pikirkan nanti saat pulang ke mansionnya.
“Pulanglah, Kakek akan istirahat. Nanti temui kakek lagi jika kau sudah mengerti” Sambung Elan, dia kembali ke ranjang besarnya di bantu oleh Richard . Setelah berpamitan pada Elan, Richard keluar dari kamar tersebut, pergi begitu saja tanpa berpamitan kepada nenek tirinya yang berada di teras depan sedang menyiram bunga berwarna-warni. Terdapat banyak bunga Ranuculus, Lily dan mawar. Namun, Richard tidak peduli dengan semua bunga dan nenek tirinya itu.
Richard menggenggam kacamata nya dengan erat, masih belum percaya jika kakeknya akan pergi meninggalkannya begitu cepat. Sekarang siapa yang akan menjadi panutan bagi dirinya? Siapa yang akan menjadi penasihat dan pembimbing terbaik untuk nya? Hidupnya sendiri, Richard benar-benar merasa sendiri sekarang.
Ternyata arti dari perkataan kakeknya tempo hari adalah pengkhianatan, kecurangan dan kematian. Richard bertekad akan mengumpulkan semua puzzle nya, menegakkan keadilan atas kematian kakek dan juga orang tuanya. Richard tertawa sumbang air matanya ia tahan agar tidak menetes. Namun, tidak bisa. Disela-sela eratan tangan pada kacamata hitamnya dia menunduk, Menangis mengeluarkan air matanya dalam diam.
“Menangislah, sekarang waktu yang tepat untuk diri mu menangis.” Ujar seorang laki-laki paruh baya menepuk bahu Richard. Tanpa melihat siapa orang itu pun, Richard sudah tahu jika dia adalah orang kepercayaan kakeknya-Aderald. Orang yang selalu ia panggil paman sedari kecil, orang yang begitu baik pada keluarganya, dan orang yang begitu tahu seluk-beluk hidupnya. Mungkin Richard, termasuk pada potongan puzle yang sedang ia cari, dan sekarang hanya di isi oleh dirinya dan juga Rival saja. Ya, Rival adalah orang pertama yang Lian masukan ke dalam daftar orang yang tidak akan berkhianat dan juga orang yang akan selalu membantunya.
Richard mengangguk, dia menghela nafas kasar nya, mengusap air mata secara perlahan sampai tidak tersisa. Dia memakai kembali kaca mata hitamnya, berbalik arah melihat semua orang yang sedari tadi tengah melihatnya, “Saya akan menenggakkan keadilan untuk kakekku. Atas nama Pewaris Howard satu-satunya saya akan meng-Otopsi jasad Presdir Elan Howard” Ujarnya lantang membuat semua orang terkejut dan langsung berbisik-bisik tak jelas.
Jennie kembali menangis dengan histeris, “Kenapa kau setega itu pada kakek mu sendiri Rich. Biarkanlah kakek mu tenang di sana. Apa yang kamu cari? Bukankah kamu mendapatkan bagian warisan yang sangat besar dan wajar dari Howard. Aku atas dasar nama istri Presdir Elan Howard tidak setuju dengan keputusan dari Richard Marx William” Jennie berkata dengan suara lantang, tetapi air mata pengkhianat itu sangat meyakinkan sekali.
“Saya adalah orang yang paling berhak atas nama Howard. Tanpa kakek ku kau bukanlah apa-apa,” Jawab Richard dengan nada dinginnya.
“Akan tetapi suamiku pasti setuju dengan ku, percayalah Rich.”
Richard tidak menggubris perkataan Jennie, Richard segera bergegas pergi. Ada banyak hal yang akan ia urus bersama orang kepercayaan kakeknya dan juga orang kepercayaannya.
“Mr Howard. Apa maksud anda berbicara seperti itu?”
“Mr. Apakah benar anda akan melakukan Otopsi pada jenazah tuan Elan?”
“Mr Howard. Mengapa Anda ingin melakukan Otopsi? Apakah ada masalah serius yang berhubungan dengan semua aset.”
“Mr Jawablah sebentar. Kenapa...?”
Mobil yang di naiki oleh Richard akhirnya terbebas dari kerumunan wartawan. Richard menghela nafas leganya, melihat kearah jalanan dengan pandangan kosong. Kenapa kakeknya meninggalkan banyak sekali teka-teki, bahkan kematian orang tuanya yang terbilang tragis dua tahun yang lalu pun belum ia temukan kepastiannya. Kenapa kakeknya sangat tega membiarkan dirinya sendirian di dunia, Richard benar-benar sendiri tanpa kakek nya.
“Tuan Richard, Apa anda baik-baik saja? Mau pulang atau menghadiri rapat keluarga.” Ujar Rival dari balik kemudi.
Rich tersadar dengan lamunannya lalu mengusap wajahnya dengan kasar. Kematian satu orang membawa segudang teka-teki untuk hidupnya.
“Rapat!” Balasnya singkat membuat Rival mengangguk mengerti.
Tentang kematian kakeknya yang meninggal secara mendadak. Tentang kematian orang tuanya yang terbunuh secara tragis. Dan juga tentang potongan puzle yang harus segera ia kumpulkan sebelum ada korban lain yang datang. Akankah Richard mampu untuk memecahkan segala teka-teki yang ada di hidupnya? Akankah Richard mampu memenangkan semua pertandingan yang diciptakan oleh musuh-musuh nya?
“Perjalanan kehidupan manusia bagaikan sebuah puzle, selalu ada kepingan yang harus di satukan” Richard membatin.